* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Sori, saya jadi ngerepotin.” Kalimat sederhana berupa empat kata itu memecahkan keheningan di dalam mobil malam itu. Siapa lagi kalau bukan Gadis yang bebricara. Dava jadi menoleh sekilas sebelum pandangannya fokus ke depan lagi, ke jalanan yang sepi—seperti biasa, karena pandemi. Dava menggeleng kecil. “Biasa aja kali, Mbak. Aku gak ngerasa direpotin sama sekali. Lagian kayak yang Mbak Gadis denger dari mama tadi, aku lagi suntuk di rumah terus jadi emang pengen cari udara di luar.” “Hm, oke kalau gitu. Tapi by the way, jangan panggil saya dengan sebutan Mbak. Saya tahu sih saya lebih tua dari kamu, tapi risih aja dipanggil Mbak.” Dava terkekeh

