"kalau dilihat, loe sama Nayra itu, namanya mirip iya?" Ucap Doni.
"Mirip gimana maksud loe, Don?" Tanya Riko.
"Farzan Reyhan Shakeil, sama Nayra Reyhannisa Faza. Sama-sama ada Reyhannya. Terus Farzan sama Faza. Kalian jodoh, kayaknya "
Farzan hanya diam. Kenapa bisa sekebetulan itu?
"Kebetulan aja." Jawab Farzan.
Drtttttt...
Sura HP Farzan bergetar.
"Hallo. Iya mas, biar saya kesabaran aja." Ucap Farzan lalu segera pergi .
"Antar gue ke bengkel ya, Don." Ucap Farzan.
"Kan Loe bawa mobil." Ucap Doni.
"Maksud gue, Loe antar gue kebengkel pakai mobil gue." Kata Farzan.
"Terus mobil gue gimana?" Tanya Doni.
"Biar Riko yang bawa." Ucap Farzan.
Akhirnya, Doni mengantarkan Farzana kebengkel. Rupanya sepeda motor Nayra telah selesai diperbaiki.
"Anjirr.. gue ngerti, lie mau modusin si Naura paket cara ngembaliin motornya kan?" Ucap Doni.
Farzan memukul kepala Doni.
"Loe suudzon banget sih. Gue cuma mau ngembaliin aja kok. Gue lupa kemarin gak minta nomer teleponnya dia. "
Farzan segera membayar biayanya dan meninggalkan Doni yang terpaku sendiri. Dia segera mengendarai motor Nayra menuju Butik Faza.
Hari ini adalah hari Minggu. Dan tentu saja, Nayra libur kuliah . Ketika libur kuliah, dia selalu full day buat jaga butiknya.
Seseorang datang dengan membawa sepeda. Dia membunyikan klakson tiga kali. Mendengar ada suara, Risa, adik perempuan Nayra keluar.
"Kak, ada cowok didepan. Ganteng banget. Dia bawa motor kakak. Itu pacarnya kak Nay, iya? Ih, gak ngomong sih kalau udah punya pacar." Ucap Risa.
Nayra melotot. Adiknya itu memang tak pernah bisa mengontrol omongannya.
"Kak Farzan, masuk kak."
Nayra menyuruh Farzan duduk. Mengambilkannya beberapa cemilan dan juga memberikan sebotol air mineral.
"Makasih ya kak, udah nganterin motorku." Ucap Nayra.
"Sama-sama, Nay. "
Risa ikut nimbrung bersama mereka.
"Kak, kakak cakep banget sih?" Ujar Risa
"Kamu juga manis."
Risa tersenyum mendengar ucapan Farzan.
"Ini butik kamu sendiri?" Tanya Farzan.
"Iya kak, kakak Nay yang desain sendiri. " Bukannya Nayra, tapi malah Risa yang menjawab.
Nayra diam, tak tahu harus membahas apa lagi.
"Hebat iya, kamu bisa punya Butik sendiri?" Kata Farzan.
"Gak sehebat itu kak. Yang hebat itu justru orang tuaku. Mereka yang membuatku jadi mandiri seperti ini. Mereka juga yang mengajarkan aku untuk ikhtiyar, dan setelah itu tawakkal. Keluargaku bukan orang kaya , jadi aku harus bergerak maju untuk bisa meringankan hidup mereka."
Farzan kagum terhadap ucapan Nayra. Sepertinya dia benar-benar jatuh cinta. Cinta keduanya setelah Keysa, tapi dia adalah Wanita pertama yang berhasil masuk kedalam hati Farzan. Jika dulu, dia hanya berpacaran dengan Keysa karena dia hanya memandang kecantikan Keysa saja. Dan sekarang, barulah dia mengerti arti cinta sebenarnya. Mungkin ini terlalu cepat. Secepat Nayra yang telah mengambil hatinya.
Tit..tit...
Suara klakson mobil terdengar didepan butik Nayra.
Seseorang masuk kedalam. Melangkahkan kakinya menuju ketempat Farzan duduk.
"Ayo, zan. Cepetan pulang. " Ucap Doni.
Dasar Doni. Si tukang ngerusak moment PDKT gue. Batin Farzan.
"Maaf ya Nay, aku pulang dulu."
Nayra tersenyum.
"Sekali lagi terima kasih ya kak?"
"Iya. Sama-sama. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Farzan keluar dan merekapun pergi dari Butik itu.
••
"Kayaknya hati gue emang udah gak bisa bohong lagi, Don. GUE JATUH CINTA." Teriak Farzan di telinga Doni
"Loe mau bikin gue budeg iya?" Kata Doni.
"Enak dong. Budeg kan makanan khas kota yogyakarta." Gurau Farzan.
"Itu gudeg." Jawab Doni
Farzan terkekeh geli.
"Kalau loe beneran suka sama dia, cepetan lamar aja, zan." Kata Doni.
"Tapi, gue takut dia nolak gue."
"Kalau loe gak coba ungkapin, loe gak akan pernah tahu." Kata Doni.
"Emang harus, iya?" Kata Farzan.
"Iyalah. Apa perlu, gue bilang nyokap loe."
"Jangan, Don. Dia itu gak tahu apa-apa. Nanti bisa-bisa dia langsung ngelamar Nayra."
Farzan mulai memantapkan hatinya. Melupakan masalalunya dan melanjutkannya dengan cinta pertama. Cinta pertama karena Allah. Cinta pertama karena kekaguman, bukan karena paras dan fisik.
••
Zayra tersenyum sendiri sambil menonton tv. Lebih jelasnya, dia tak melihat kearah tv. Melainkan tersenyum mengingat kejadian saat Farzan menolongnya dari Dimas.
"Kenapa senyum-senyum sayang?" Tanya Bu Mirza, mama Zayra.
"Ih, enggak ma. Aku gak senyum kok."
"Udah, ngaku aja. Kamu lagi jatuh cinta kan? Jangan bohong. Mama juga pernah muda kayak kamu."
Zayra mengerucutkan bibirnya.
"Zayra gak jatuh cinta kok."
Zayra tersipu Malu. Dia segera berlari menuju kamarnya. Menutup pintu Rapat dan Berteriak sekeras-kerasnya.
"Aku memang sedang jatuh cinta. Cinta sama kamu kak Farzan." Teriak Zayra sambil tersenyum.
Dibawah sana, mamanya mendengar sebuah Nama yang diteriakkan Zayra.
"Aku harus mencari tahu tentang pria itu." Gumam Bu Mirza.
••
Nayra bangun tengah malam. Melaksanakan tahajjud. Berdiskusi dengan Rabb-Nya . Mendiskusikan tentang perasaannya yang beberapa hari ini tak Menentu. Yah, perasaan yang tak menentu ketika dia mulai mengagumi sosok Farzan. Pria Ringan tangan yang suka menolong.
Semua kembali mengingatkannya tentang kejadian beberapa hari yang lalu.
Seseorang mencoba mungusir orang gila yang ada didepan kampus. Orang gila yang pernah mereka berdua perhatikan. Seorang satpam mengusir orang gila itu dengan kasar.
Nayra hendak menolong orang gila itu. Tapi Farzan menghampirinya terlebih Dahulu.
"Pergi kamu. Mengganggu pemandangan." Usir si satpam.
Dia menyeret orang gila itu dengan kasar.
"Pak, maaf. Jangan kasar sama dia. Dia kan juga manusia." Ucap Farzan.
"Dia gak pantas disebut manusia. Dia sudah tidak waras. Tak ada gunanya lagi didunia ini. Dia hanya bikin rusuh saja. Dia tidak ubahnya sebagai kotoran saja. Mengotori pemandangan." Ucap Satpam.
Mata Farzan memerah.
"Anda Islam, kan?"
Satpam kebingungan mendengar pertanyaan Farzan.
"Iya. Tentu saja." Ucap satpam.
"Kalau anda islam, seharusnya anda hargai dia. Allah menciptakan semua mahluk itu pasti ada manfaatnya. Jangan anggap remeh orang gila. Siapa tahu orang gila ini hanya seorang ulama yang hendak meninggalkan dunianya hanya untuk mengingat Tuhan-Nya? Bisa saja dia ino tidak gila, tapi hanya berpura-pura melupakan dunia untuk mengejar akhiratnya. Saya heran, anda Muslim. Tapi perlakuan anda seperti ini."
Orang gila itu ketakutan. Farzan segera menenangkan orang gila itu. Setelah itu, dia menelpon seseorang. Tak lama kemudian, datanglah ambulance dan mengajak orang gila ith untuk dirawat dirumah sakit jiwa.
Saat itu, Nayra mulai kagum pada Farzan. Nayra juga pernah mendengar kisah seorang ulama besar yang berpura-pura gila karena dia takut akan dunia. Dia berlari meninggalkan duniawi dengan berpura-pura gila. Sehingga tak ada seorangpun yang tahu jika sang ulama itu telah dimuliakan Allah.
Nayra menangis dalam sujudnya. Menangisi Sikapnya. Dia merasa bersalah karena mulai memiliki rasa terhadap seorang pria yang bukan muhrimnya.
Tanpa dia sadari, Ayahnya Ismail melihat anaknya itu mengangis dalam doanya.
"Kamu pasti akan bahagia nak. Suatu saat nanti kebabagiaan pasti datang." Batin Pak Ismail