Farzan sedang memperhatikan tingkah Nayra yang sedari tadi sedang melihat kearah orang gila. Farzan tak habis pikir, apa Nayra tak pernah melihat orang gila sampai dia begitu serius melihat orang gila yang ada didepan kampus itu.
"Kamu lagi ngapain sih? Sampai segitunya ngeliatin orang gila itu." Kata Farzan menghampiri Nayra.
"Aku lagi ngelihatin kuasa Allah, kak." Ucap Nayra.
Farzan malah semakin bingung dengan ucapan Nayra.
"Coba perhatikan tingkah orang gila itu..!" Suruh Nayra.
Farzan memperhatikan sekilas tentang apa yang tengah dilakukan orang gila itu. Gerakan orang gila itu seperti halnya gerakan ruku' dan sujud.
"Iya, kak. Dia sedang shalat, walaupun dia lupa siapa dirinya, tapi dia tidak pernah lupa kepada pencipta-Nya. Dia lupa siapa namanha, tapi dia tetap ingat siapa Tuhan-Nya."
Jleb..
Kata-kata Nayra membuat Farzan menyadari sesuatu.
"Dia tidak ingat apapun, tapi dia tetap ingat kepada Allah. Tapi kita, yang sehat fisik maupun akal, sering lupa terhadap-Nya."
"Kamu benar banget. Bahkan kita dengan terang-terangan sering sengaja melupakan-Nya dengan meninggalkan kewajiban yang telah diperintahkan-Nya." Tambah Farzan.
Nayra pergi dan masuk kekampus. Dia tak ingin berlama-lama dengan Farzan seorang. Dia juga tak mau menimbulkan Fitnah.
"Zan, Ayo masuk. Udah cukup PDKT-nya." Teriak Doni dan Riko dari dalam mobil.
"Udah, kalian masuk aja. Parkir mobilnya. Gue jalan kaki aja." Balas Farzan.
Farzan melangkahkan kakinya menuju kampus, namun sudah tak terlihat lagi sosok Nayra dari Pandangannya.
"Cepetan banget sih. Kemana dia?" Gerutu Farzan.
Farzan meneruskan langkahnya , Namun terhenti ketika dia mendengar seseorang berteriak.
"Bang Dimas, jangan ganggu aku. Apa belum cukup penjelasan aku buat Abang. Kita udah putus, bang. Dan aku gak pernah cinta sama Abang."
Dimas menarik tangan Zayra. Namun Zayra mencoba melepaskan tangan Dimas.
"Pokoknya Abang gak mau ninggalin kamu. Abang cinta mati sama kamu, Zay."
"Lepasin tangan aku, bang. Aku mau pergi. Kita gak bisa bersama lagi." Zayra mulai merasa kesakitan dan menangis.
Farzan menghampiri Dimas dan langsung menampar pria itu.
Plak....
"Kamu gak bisa sedikit lembut iya sama cewek? Jangan kasar sama dia."
Akhirnya, Zayra mampu melepaskan tangannya dari genggaman Dimas.
"Kamu ngapain ikut campur urusanku? Zayra ini pacarku. Terserah aku mau ngapain aja."
Sekali lagi, Farzan menghajar Dimas.
"Dasar cowok gak tahu malu. Kamu gak dengar , dia tadi bilang apa? Putus, kan? Kamu jangan ganggu dia lagi. Mendingan kamu pergi aja. Daripada kamu tambah babak belur lagi."
Dimas pun akhirnya pergi. Dia tak ingin ada masalah dengan kakak alumni.
"Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Farzan pada Zayra.
"Iya kak. Makasih iya, udah nolongin aku." Ucap Zayra.
"Sama-sama." Ucap Farzan.
Zayra tersenyum. Kesan pertama begitu dalam. Farzan benar-benar pria Idaman setiap wanita.
••
Reuni kedua, Keysa tak datang. Itu membuat Farzan lega. Hari ini adalah reuni terakhir yang ia hadiri. Dan anehnya, Riko sudah mulai dekat dengan Aida. Padahal selisih usia mereka tujuh tahun. Namun Riko berhasil mendekati gadis manis itu.
Nayra masih disibukkan dengan acara reuni yang diadakan kampusnya. Tentu saja hal itu dilakukan bersama dengan Farzan. Tanpa ia tahu, jika lelaki itu mulai terkesan kepadanya. Farzan seringkali mencuri pandang kearah Nayra. Dan, kedua sahabatnya itu juga tahu.
Farzan memberikan segelas minuman pada Nayra, melihat gadis itu sampai berkeringat karena Lelah.
"Terima kasih kak." Hanya itu yang diucapkan Nayra.
"Kamu cuek banget sih, Nay" batin Farzan.
••
Farzan hendak pulang. Namun, ditengah jalan, dia bertemu dengan Nayra. Sepertinya, motor yang dia kendarai mogok.
Farzan menyuruh Doni untuk berhenti, lalu dia turun.
"Kenapa, Nay?" Tanya Farzan.
Nayra yang kebingungan hanya bisa diam.
"Mogok iya?" Ucap Farzan.
"Iya kak. Aku juga gak tahu , kenapa?"
"Aku juga gak ngerti soal mesin, Nay. Aku bantu bawa ke bengkel aja iya?"
Karena bingung, Nayra akhirnya mau. Farzan segera menelepon bengkel langganannya untuk mengambil motor Nayra.
"Kamu, aku antar aja iya?" Ucap Farzan.
"Gak usah, kak. Aku naik Tadi aja." Ucap Nayra menolak.
"Ini udah mau malam. Taxi juga jarang lewat. Aku takut kamu kenapa-kenapa." Ucap Farzan.
Nayra mendesah bingung. Dan pada akhirnya, diapun mau.
"Baiklah kak."
Nayra dan Farzan duduk dibelakang. Sedangkan Doni dan Riko didepan. Mereka berdua memandangi Farzan dan Nayra yang dari tadi hanya diam.
"Kamu kuliah udah semester berapa , Nay?" Tanya Riko.
"Semester enam, kak." Jawab Nayra.
"Kalau Zayra?" Tanya Doni.
"Sama. Cuma beda jurusan."
Doni hanya ber'oh saja.
"Kalau Aida?" Tanya Riko.
"Dia masih semester empat." Kata Nayra.
Setelah itu, mereka diam lagi. Farzan beberapa kali terlihat menatap Nayra.
"Kak, setelah itu belok kiri iya? Ada butik Faza. Aku turun di sana." Ucap Nayra.
"Itu Butik kamu sendiri iya?" Tanya Farzan.
"Iya, kok kak Farzan tahu?" Tanya Nayra.
Farzan jadi salah tingkah. Dia tidak ingin ketahuan kalau sudah stalking i********: Nayra.
"Zayra yang cerita." Ucap Farzan mengelak.
"Oh..?" Ucap Nayra.
Nayra turun dari mobil setelah sampai didepan butik.
"Terima kasih iya, kak. Assalamu'alaikum." Ucap Nayra.
"Sama-sama. Wa'alaikumsalam." Jawab Farzan.
Nayra masuk kedalam butik, tapi Farzan masih terus saja memandanginya.
"Loe suka dia , zan?" Tanya Doni.
"Enggak kok." Elak Farzan.
"Udah, ngaku aja. Loe suka, kan? Kalau gak suka, Loe gak akan mungkin ngelihatin dia sampel segitunya." Kata Doni
"Loe stalking ig-nya dia iya? Kok loe tahu dia punya Butik." Kata Riko.
"Kan, kemarin kalian yang bilang. Masak udah lupa."
Riko mengingatnya kembali.
"Iya, iya. Gue lupa." Kata Riko.
"Terus , kenapa loe tadi ngomongnya tahu dari Zayra, bukan dari kita?" Tanya Doni.
"Ya enggak enak-lah. Masa gue ngomong tahu dari kalian. Kalo dia tanya kalian tahu dari siapa Gimana? Masak gue bilang kalau kalian berdua habis stalking Ig-nya dia."
Alasan yang tepat. Farzan mengelak lagi.
"Betul juga sih." Ucap Doni.
Sementara itu, Riko sedang sibuk. Sibuk chat dengan Aida. Gadis yang dikenalnya kemarin.