20 (b)

3102 Words

Lord Robbespierre terngiang-ngiang oleh ucapan salah seorang kawan, juga sopir pribadinya. Matanya terpaut pada lukisan istri yang telah lama meninggalkannya, dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Kedua mata yang dianggap kebanyakan orang sebagai mata tajam predator, justru terlihat kuyu di hadapan lukisan Audrey. Tidak seorang pun pernah melihat seseorang seperti Lord Robbespierre yang menangis, meskipun hanya satu titik air mata saja. “Maafkan aku, Audrey,” isaknya pelan. “Maafkan aku sudah menjadi orang yang kejam. Kau dan Patricia benar. Aku berubah menjadi orang yang bengis.” Dua telapak tangannya menempel pada meja, masih dengan kepala yang menengadah. “Aku gagal, Audrey. Kau boleh membenciku.” Lord Robbespierre menundukkan kepalanya. Tubuhnya bergerak-gerak menahan isak tang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD