Ex Husband 4

1661 Words
“Sekar, ayok kita ke ruang rapat sekarang. Pak CEO sudah berada di ruangannya!” Ajak Winda. Sekar yang tengah melamun tidak mendengar ajakan Winda, hingga senggolan pada sikutnya menyadarkan wanita itu dari lamunannya. “Bu Winda manggil lo tuh!” Bisik Rara. Sekar pun menatap Winda lalu menganggukan kepalanya. “Ah, ya Bu. Maaf saya tidak dengar!” Sesal Sekar. “Kamu sakit, Sekar?” Tanya Bu Winda karena melihat wajah Sekar yang pucat tidak seperti biasanya. “Iya, muka lo pucat banget” timpal Rara. Sekar menormalkan raut wajahnya agar nampak biasa saja. “Ah, nggak kok Bu, saya baik-baik saja. Mungkin efek kepanasan tadi, jadi muka saya kelihatan agak pucat” elak Sekar, padahal pada kenyataannya dia merasa masih sedikit takut jika harus bertemu kembali dengan Devan mantan suaminya, dan sialnya ternyata pria itu adalah CEO di tempatnya bekerja. Namun karena Devan yang sibuk memantau seluruh perusahaannya menjadikan pria itu jarang berada di kantor pusat, pria itu akan lebih banyak di luar memantau semua anak perusahaannya. “Ya sudah, kamu ke toilet dulu kalau begitu cuci mukamu, biar lebih segar. Saya duluan ke ruang rapat” kata Bu Winda. Sekar pun hanya bisa menganggukan kepalanya dan berjalan menuju toilet lebih dahulu dengan beberapa dokumen yang berada di tangannya, sebagai bahan laporan ketika rapat nanti. Keadaan ruang rapat sudah ramai di penuhi oleh para penanggung jawab departemen yang di temani oleh perwakilannya masing-masing. Sekar terduduk di samping Winda. Suara derap langkah sepatu terdengar menggema di ruang rapat, dan nampaklah seorang pria gagah, tampan, juga mempesona bagi para kaum hawa yang melihatnya. Pria itu di temani oleh asisten pribadinya dari belakang, semua para karyawan berdiri dari duduknya dan menundukan kepala mereka menyambut kedatangan CEO perusahaan AJY ini. Yang tidak lain adalah Devan Atmajaya, CEO muda di perusahaan milik keluarganya ini AJY Group. Setelah Devan terduduk para karyawan pun terduduk kembali di atas kursi mereka masing-masing. Sekar tidak berani menatap wajah Devan yang duduk di kursi utama sana. Sedangkan untuk Devan, pria itu sudah memandangi Sekar, mantan istrinya yang sudah dia sia-siakan begitu saja dahulu. Deheman Devan terdengar mengintrupsi para peserta rapat sebelum dirinya membuka suara. “Langsung saja dengan laporan dari masing-masing departemen!” Kata Devan membuka rapat siang ini. Kedua tangan Sekar terkepal di atas pahanya ketika mendengar suara barito mantan suaminya itu, yang sudah bertahun-tahun lamanya dia lupakan, entah mengapa suara Devan mengingatkannya akan perkataan pria itu dahulu terhadap dirinya. Namun Sekar harus bisa terlihat biasa saja, dia tidak boleh menunjukkan rasa takut dan traumanya itu di hadapan mantan suaminya, karena itu hanya akan mmebuat Devan merasa senang karena berhasil membuat hidup Sekar hancur. Rapat siang ini pun berjalan dengan lancar, Samuel selaku asisten pribadi Devan menutup acara rapat siang ini. Para peserta rapat pun membubarkan diri mereka dan kembali ke departemen mereka masing-masing. Sekar buru-buru keluar dari ruangan ini, dia hanya tidka ingin melihat wajah pria yang sudah membuatnya hancur dan lebih sialnya lagi membuatnya jatuh cinta, mungkin hingga saat ini rasa cinta itu masih ada untuk pria itu. Berbeda dengan Devan dan Samuel yang masih setia terduduk di atas kursi di ruang meeting ini. “Sejak kapan Sekar ada di perusahaan kita?” Tanya Devan pada Samuel. Samuel menatap Devan penuh tanya, “dia baru sebulan disini, dan sebelumnya dia berada di kantor cabang kita di Bandung” jawab Samuel. Devan menaikan satu alisnya. “Kantor cabang Bandung?” Ulangnya, dan di jawab anggukan kepala oleh Samuel. “Cari tahu tentang Sekar!” Titah Devan, namun Samuel mengkerutkan keningnya mendengar perintah sahabatnya dan sialnya dia adalah atasannya di kantor. “Maksud lo?” Devan menatap serius Samuel. “Cari tahu dimana dia tinggal, dan yang pasti cari tahu apakah dia sudah memilki kekasih!” Samuel tersenyum malas mendengar perintah Devan. “Untuk apa?’ Satu alis Devan terangkat ketika mendengar pertanyaan Samuel, namun pria itu tidak berniat menjawabnya. “Jangan lo usik lagi hidupnya dia, dia mungkin sudah bahagia bersama dengan pasangannya sekarang!” Imbuh Samuel. “Sam, ini perintah! Gak usah banyak tanya dan kerjakan saja!” Tuntut Devan. Samuel pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, pria itu pun merapihkan berkas di atas meja membawanya dan keluar leih dahulu dari ruang rapat ini meninggalkan Devan yang masih setia terduduk di atas kursinya dengan pandangan yang tertuju pada kursi dimana tadi Sekar duduki. Nampaknya pria itu terpesona dengan mantan istrinya itu. Malam Sekar tengah terduduk melamun di kursi yang berada di depan kosannya, perkataan Devan dahulu kembali terngiang di benaknya. Flashback Sudah satu bulan ini Devan tidak pernah pulang dan tidur di apartemen, terakhir kalinya pria itu tidur di sini saat malam dimana Devan pulang dalam keadaan mabuk dan terjadilah malam pertama bagi mereka berdua yang membuat Sekar telat datang bulan hingga saat ini. Sekar pun mencoba melakukan test kehamilan dan ternyata benar dugaannya, bahwa dia tengah berbadan dua. Sekar sudah menyiapkan kejutan ini untuk Devan, namun sayangnya pria yang berstatus sebagai suaminya itu belum menampakan lagi batang hidungnya. Bagaiman dia bisa memberitahukan pada Devan jika dirinya tengah mengandung buah hatinay dengan Devan sang suami, jika pria itu saja tidak pernah pulang ke apartemen lagi. Entah ini dinamakan keberuntungan atau kesialan bagi Sekar, disaat dirinya tengah menunggu kedatangan sang suami, Devan pun pulang ke apartemen dan itu membuat hati Sekar bahagia dengan senyum lebar terlukis di wajahnya. Sekar sudah menyiapkan test pack yang dia gunakan ketika melakukan test kehamilan beberapa hari lalu. Dan dia akan menunjukkannya kepada Devan sang suami hari ini, dan mungkin itu akan membuat Devan senang juga bisa membuat pria itu perhatian dan mulai mencintai dirinya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai dnegan apa yang di bayangkan Sekar, Devan datang dan langsung memberikan sebuah amplop coklat yang Sekar sendiri tidak tahu apa isinya. “ini apa, Mas?” Tanyanya. “Baca!” Ketus Devan. Sekar pun mengambil amplop coklat yang tergeletak di ata meja, membukanya dengan hati-hati lalu mmebacanya dengan seksama, raut wajah sekar pun berubah shock, kedua matanya membulat sempurna ketika mengetahui isi dari surat itu. Hatinya tiba-tiba saja mencelos, badannya pun melemas. “Tanda tangani sekarang juga!” Titah Devan ketus. “Su-surat ce-cerai?” Satu alis Devan terangkat tidak berniat menjawab pertanyaan Sekar. “Tanda tangani dan hubungan kita akan selesai sampai disini!” “Ta-tapi ki..” belum sempat Sekar melanjutkan ucapannya sudah di potong lebih dulu oleh Devan. “Kita apa!” Cela Devan. “Oh ya, dan untuk kejadian malam itu, aku tidak sadar anggap saja itu tidak pernah terjadi, dan lupakan kejadian malam itu!” Sungutnya. Sontak saja membuat kedua mata Sekar mengeluarkan cairan beningnya, hatinya benar-benar sakit bak di remas oleh tangan dengan begitu kuat, seluruh badannya pun mendadak melemas. Bagaikan tersambar petir di siang hari. “Cepat tanda tangani. Aku tidak punya waktu banyak!” Titahnya tanpa memikirkan perasaan Sekar sama sekali. “Lama! Besok aku kembali dan aku mau surat ini sudah kamu tanda tangani. Paham!” Devan pun keluar dari apartemen tanpa memikirkan perasaan Sekar. Setelah kepergian Devan, tubuh Sekar pun meluluh ke atas lantai dengan surat yang masih berada di genggamannya, tangisnya pun pecah, dagu yang bergetar menandakan bahwa ini begitu menyakitkan baginya, tangan kanannya pun meremas bajunya dan mengeluskan pada dadanya. Sakit sekali rasanya, perih. Dia sudah memberikan mahkotanya untuk Devan suaminya, namun apa yang pria itu katakan tadi, untuk melupakan semuanya dan menganggap bahwa malam itu tidak terjadi apa-apa, bagaimana bisa sedangkan saat ini Sekar tengah mengandung benih Devan, anak Devan, pria yang sudah membuatnya sakit seperti ini. Sekar pun menandatangani surat cerai yang diberikan Devan tadi, lalu tanpa berpikir lagi wanita itu merapihkan pakaianya, memasukannya ke dalam koper lalu segera keluar meninggalkan apartemen ini. Sebelumnya Sekar sudah menyimpan amplop coklat yang tadi Devan berikan di atas meja dan wanita itu pun segera pergi dari sini menuju Kota Kembang dimana sahabatnya tinggal dan orang yang terdekat Sekar satu-satunya saat ini. Flasback off “Ehem..” Suara deheman membuat Sekar tersadar dari lamunan perih masa lalunya. “Kak Anrez!” Kaget sekar karena mendapati Anrez yang sudah berdiri di hadapannya. Anrez pun terduduk di kursi samping Sekar, setelah meletakkan paper bag ke atas meja. “Ngelamun aja, gak baik tahu!” Tegur Anrez. Sekar pun tersenyum mendengar omelan Anrez. “Tumben malam-malam kesini, ada apa Kak?” Tanya Sekar. “Gala tadi vn aku, dia lagi pengen makan nasi goreng buatan aku” jawab Anrez, karena tanpa sepengetahuan Selar, Galaxy membuka ponsel Sekar lalu menghubungi Anrez yang anak laki-laki itu anggap Ayahnya. “Gala?” Ulang Sekar, dan Anrez pun menganggukan kepalanya. Tidak lama anak laki-laki itu pun datang dari dalam rumah menghampiri Sekar dan Anrez yang tengah terduduk di depan. “Ayaaah!” Serunya lalu berlari menghampiri Anrez dan berhambur ke dalam pelukan Anrez, karen Anrez merentangkan tangannya begitu mendengar suara Galaxy. “Maaf ya nunggu lama” ujar Anrez pada Galaxy. Galaxy pun tersenyum dengan begitu tulus dan kepala yang dia gelengkam. “Nggak apa-apa kok, Yah” “Ini pesanan Bos kecil!” Kata Anrez seraya mengeluarkan satu kotak makan dan memberikannya kepada Galaxy. “Yeay, nasi goreng buatan Ayah!” Serunya begitu bahagia. “Gala, kok ngerepotin Ayah sih malam-malam, Ayah kan lagi istirahat besok harus kerja lagi” tegur Sekar. “Masa Gala gak boleh minta sesuatu sama Ayah Gala!” Rajuk Galaxy. “Ya, bukan gitu, maksud Mama ..” uacapan Sekar pun terpotong oleh Anrez. “Sst, sudah kalian berdebat mulu. Lagian kamu kaya sama siapa aja si, Kar.” Tegur Anrez. “Gimana kalau sekarang kita makan bareng-bareng di dalam, ok Gala!” Ajak Anrez dan di setujui oleh anak laki-laki itu dengan tos ala mereka lalu Anrez pun berdiri dengan menggendong gala. “Mama, tolong bawakan paper bagnya ke dalam ya, kita mau makan!” Ujar Anrez meminta tolong pada Sekar. Sekar pun hanya bisa menyunggingkan senyumannya, lalu meraih paper bag yang dibawa Anrez tadi dan membawanya ke dalam juga menyajikannya ke atas piring untu Anrez, Galaxy, dan juga dirinya. Karena nasi goreng buatan Anrez ini begitu enak dan membuat Gala juga Sekar ketagihan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD