3

1766 Words
CHAPTER 3 Kayla di gendong oleh bu Astrid menuju ruang makan, disana sudah ada Laras yang sedang memasak sarapan. Bu Astrid menjadi teringat akan Azzura, biasanya Azzura yang memasak sepagi ini.   “Kamu udah daritadi datangnya ras?” Tanya bu Astrid dan mendudukan Kayla di meja makan bayinya   “Belum lama kok ma” jawab Laras   “Ryan mana?” Tanya bu Astrid   “Ke kamar mandi” dan benar saja tak lama, Ryan keluar dari kamar mandi. Lalu mengelap kering tangannya. Kayla yang melihat Ryan mengangkat tangannya meminta gendong. Ryanpun menuju Kayla dengan membuka kedua tangannya dan langsung menggendong Kayla   Ryan meletakkan Kayla di atas meja makan, dan Kayla yang merasa bebaspun seringkali meloncat loncat dan selalu membuat Ryan kewalahan. “Anak papa udah mandi belum?” Tanya Ryan pada Kayla yang sudah tak melompat lagi. lalu Kayla menggeleng sambil menggosok matanya.   “Jangan di gosok sayang” Ryan menghidari tangan Kayla yang menggosok matanya. Ryan meniup mata Kayla dan membuat Kayla terkejut dan berulang kali tersentak kebelakang. Hal ini menjadi tontonan lucu di pagi hari bagi semuanya   Rayhan turun dari ruangannya dalam keadaan rapih   “Ma? Rayhan berangkat Assalamualaikum” Rayhan menyalimi tangan bu Astrid lalu berjalan pergi. Kayla yang melihat Rayhanpun bertepuk tangan girang dan kembali melompat lompat   “Papayaaa” sama halnya seperti kemarin, Kayla meneriaki Rayhan yang terus berjalan berusaha untuk tidak menoleh pada Kayla. “Han?” Ryan memanggil Rayhan dan membuat Rayhan berhenti.   “Kenapa mas?” Tanya Rayhan tanpa membalikan badannya. “Sarapan bareng bareng” ujar Ryan yang menggendong Kayla lalu berjalan menuju Rayhan. “Aku ada kerjaan” jawab Rayhan pada Ryan yang kini berada di hadapannya dengan Kayla di gendongannya.   Kayla langsung bergerak gerak dan mengangkat tangannya meminta di gendong oleh Rayhan. “Papayaaa” Kayla menggapai gapai di hadapan Rayhan   Ryan yang melihat itu memberikan Kayla pada Rayhan, namun Rayhan tidak mengambil alih Kayla dari gendongan Ryan. “Papaya ndong illa papaya” Kayla menggerak gerakan kakinya dan tangan yang masih setia menggapai kearah Rayhan.   Rayhan menutup matanya dan menghela nafas. Setelah itu iapun menggendong Kayla. Ryan tersenyum, lalu mendorong Rayhan menuju meja makan dan duduk di sebelah Rayhan,beberapa kali tampak Rayhan menggosok matanya. Setelah itu, bu Astrid mengambilkan makanan untuk Rayhan. Sebelah tangan Rayhan memegangi Kayla dan satu lagi menyambut piring yang diberikan bu Astrid padanya.   Kayla yang senang karena bisa di gendong Rayhanpun bergerak gerak tidak karuan lalu menepuk nepuk pipi Rayhan sesekali Kayla menggenggam hidung Rayhan dan Rayhan masih diam membisu tak memperdulikan Kayla yang terus mengusik wajahnya   Tiba tiba saja Kayla memeluk Rayhan dengan mengalungkan tangannya di leher Rayhan, lalu ia duduk dan meloncat dan terus bergumam tidak jelas sesekali Kayla menyebut Papaya. “Papayaaaa papayaaaa ayah” ujar Kayla membuat Rayhan tersenyum tipis, tidak ada yang menyadari itu selain bu Astrid yang terus memperhatikan anaknya itu.   Sering kali Rayhan tak jadi menyuapkan makanannya karena kesulitan yang diakibatkan oleh Kayla. Seandainya ada Azzura, mungkin Rayhan sudah disuapi olehnya.. Sampai akhirnya Kayla sudah tidak melompat lompat lagi dan berdiri lalu memeluk Rayhan namun tetap saja Kayla menggerak gerakkan kakinya, Rayhan memakan sarapannya   “ARA!!” pekik Rayhan terkejut karena Kayla menggigit telinganya   Rayhan yang terkejut langsung saja menjauhkan Kayla dari tubuhnya dan membuat Kayla menangis lalu Laraspun mengambil alih gendongan Kayla. Ia belum sadar bahwa yang di teriakinya tadi bukanlah nama Kayla melainkan panggilannya pada Azzura. Namun tidak dengan bu Astrid, ia sadar siapa yang di panggil Rayhan.   “Ma, Rayhan berangkat” ujar Rayhan lalu berdiri sambil memegangi telinganya   “Tapi sarapan kamu belum habis loh han” ucap bu Astrid berusaha menahan Rayhan lebih lama lagi   Rayhan mengambil tangan ibunya itu dan menyaliminya tanpa menjawab perkataan bu Astrid. Kayla sudah menangis dan menelusupkan kepalanya di leher Laras   “Ayaah... huhuhu ayahh hiks” gumam Kayla. Laras yang tidak tega menghentikan makannya dan menimang nimang Kayla sampai akhirnya Kayla tidak menangis lagi karena di gelitiki Laras. “Kayla sayang, papa pergi dulu ya” Ujar Ryan lalu menggendong Kayla sebentar dan menciuminya.   “d**a” Kaylapun d**a pada Ryan   “Kiss bye papanya” ucap Laras dan Kaylapun melakukannya membuat siapapun gemas. “Aku pergi dulu ya, nih kunci rumah kalau nanti kamu pulang” Rtan memberikan kunci rumah mereka pada Laras.   “Iya, hati hati mas” Laras mencium tangan Ryan lalu Ryanpun mencium Kayla. Setelah itu, iapun menyalami bu Astrid barulah ia keluar rumah dan menuju Rumah sakit dimana tempat ia bekerja. Dilain tempat, Rayhan sedang berada di ruangannya mengerjakan pekerjaan kantornya Tok Tok Tok   “Ya masuk!” Perintah Rayhan pada orang yang mengetuk pintu. Rayhan mengernyit bingung melihat Ethanlah yang mengetuk pintunya, tapi bukan itu yang membuatnya menatap Ethan melainkan bayi yang di gendongnya.   “Lu bawa Nisa ke kantor?” Tanya Rayhan pada Ethan yang sudah duduk di sofa kerjanya. “Ratna ga enak badan, mertua gua lagi di kampung. Ya udah, gua bawa aja daripada ga ada yang ngurus” jawab Ethan sambil menimang anak pertamanya itu.   Hati Rayhan seperti dicubit melihat Ethan yang gigih menjaga anaknya. “Oh iya han. Nih kado buat Kayla, gua ga bisa datang besok” ujar Ethan menunjukan sebuah kado pada Rayhan. Rayhan menatap kado tersebut.   Besok adalah tanggal dimana tiga peristiwa dalam hidup Rayhan yang tidak akan pernah di lupakannya. Pertama, besok adalah ulang tahun Kayla. Besok juga adalah 1 tahunnya kepergian Azzura. Dan besok, harusnya adalah dua tahun pernikahannya dengan Azzura. Rayhan menghela nafasnya yang sesak. Ethan berdiri dari duduknya karena melihat Rayhan yang tampak sedih.   “Gua paham gimana perasaan lu” ujar Ethan dan bersandar di meja Rayhan. “Gua mau gendong Nisa boleh?” Tanya Rayhan dan disambut senyuman oleh Ethan. Ethan melepaskan ikatan gendongan anaknya lalu memberikannya pada Rayhan.   Rayhan menyambutnya dengan antusias. Saat sedang dalam posisi Ethan memberikan anaknya dan Rayhan yang menyambut anak Ethan. Pintu terbuka membuat kedua pria dewasa itu menoleh dan mendapati sekretaris magang Rayhan melihat mereka dan menatap aneh.   “Mampus gua” ujar Ethan yang takut kalau sang sekretaris magang itu salah paham “Tarok di sana aja Lin” ucap Rayhan pada Linda yang mengantarkan beberapa berkas yang tadi dimintanya. Lindapun mengangguk dan tersenyum kikuk. “Maaf ganggu pak” ujar Linda, lalu berjalan keluar ruangan “Ngapa lu? Biasanya juga elu yang nemplok sama gua” ucap Rayhan sedikit terkekeh. “Beda cerita han, dulu gua belum punya  anak. Sekarang mah gua udah malu” jawab Ethan membuat Rayhan tertawa lalu mulai menimang anak Ethan yang baru memasuki usia dua bulan. “Mirip siapa han?” Ethan menanyakan pendapat Rayhan tentang anaknya   “Mirip elu, tapi sifatnya jangan deh ya” ucap Rayhan menciumi anak Ethan. Ethan tersenyum tipis melihat Rayhan yang menyiumi anaknya   “Siapa nama panjang anak lu than?” Tanya Rayhan   “Fairunisa putri Airlangga” jawab Ethan bangga. Rayhan mengangguk, sempat terdiam sejenak Ethan akhirnya membuka suara “Han? Gua saranin lu care sama Kayla. Dia anak kandung lu, lu pernah bilangkan sama gua kalau lu nyesel pernah kasar sama Azzura. Apa lu mau nyesel untuk yang kedua kalinya?”   Rayhan menatap Ethan sambil tersenyum tipis, ia tidak menjawab   “Kasian Kayla han” ujar Ethan kembali dan menghentikan aktifitas Rayhan yang sedang menciumi Nisa. “Jangan bahas itu sekarang than” Ethan yang diperingati seperti itupun tak lagi membicarakannya. Setelah itu, mereka berdua hanya bercanda dengan Nisa.   *** Rayhan berjongkok dikuburan Azzura, kuburan yang selama setahun ini tidak pernah absen ia kunjungi sekalipun hujan badai. Rayhan tersenyum namun airmata mengalir.   “Ra. Kayla udah bisa manggil saya Ayah, saya senang ra, senang banget. Kemaren dia ngusap jidat saya. Sama banget kan kayak kamu? Tapi setiap saya sadar kalau kamu udah ga ada. Disitu saya kadang susah untuk nerima Kayla” Rayhan mengusap airmatanya   “Saya ga benci sama dia ra. Sedikitpun enggak, tapi saya belum bisa ra. Dia terlalu mirip sama kamu”. Rayhan menghapus airmatanya dan mencium nisan Azzura. “Besok dia ulang tahun. Terlalu cepat ya ra. Beberapa tahun lagi dia udah sekolah” Rayhan menghela nafasnya.   “Saya pulang, besok saya ke sini lagi. Assalamualaikum” Rayhan berdiri lalu berjalan menjauh dan pergi pulang. Sesampainya di rumah Rayhan tak menemukan siapapun termasuk Kayla. Rayhan mencari ke dapur, taman belakang, dan ke kamar tapi ia tidak menemukan Kayla juga orang rumah lainnya.   Karena tidak juga bertemu siapapun, akhirnya Rayhan memilih masuk kedalam ruang kerjanya yang sekaligus kamarnya. Rayhan meletakkan jas dan tasnya di sembarang tempat. Lalu masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya, setelah itu ia keluar dan menuju dapur dan sudah ada bu Astrid disana.   “Udah pulang dari tadi?” Tanya bu Astrid yang sedang memasak sambil menggendong Kayla yang sedang tidur. “Udah, mama darimana?” Tanya Rayhan dan langsung mengambil alih Kayla karena takut terjadi apa-apa pada Kayla. Bu Astrid tersenyum namun juga bingung lalu dengan senang hati memberikan Kayla pada Rayhan.   “Dari minimarket depan” jawab bu Astrid, Rayhanpun mengangguk. Rayhan terus menatap Kayla yang tertidur di pahanya, sesekali Kayla mengusap wajahnya dan mengerucutkan bibirnya karena ada nyamuk. Rayhan yang melihat Kayla gelisah mengipas ngipaskan tangannya.   “Ma? Kalau Rayhan sewa baby sitter gimana?” Tanya Rayhan pada ibunya itu, ia takut bu Astrid akan seperti tadi saat tak ada siapapun di rumah. Bu Astrid menatap ke arah Rayhan yang sedang mengipasi Kayla “Kenapa? Bukannya kamu ga pernah suka kalau ada orang lain selain keluarga di rumah?” Tanya bu Astrid   “Aku ga mungkin repotin mba Laras terus ma” ujar Rayhan kaku, ia sudah memikirkan kalau ia akan mencoba untuk dekat dengan Kayla.   “Kamu peduli sama Kayla?” Tanya bu Astrid tak percaya dan senang bukan main. “Dia anak Rayhan ma. Seribu kalipun Rayhan ngehindar, darah Rayhan ga akan pernah berhenti ngalir di tubuh dia”   Bu Astrid mematikan kompornya lalu berjalan mendekati Rayhan. Bu Astrid sudah menitikan air mata bahagianya. Lalu iapun mengusap kepala Rayhan, langsung saja Rayhan menangis dan dipeluk oleh bu Astrid.   “Rayhan salah ma, Rayhan salah selama ini. Tapi sampai sekarangpun Rayhan belum bisa untuk terlalu dekat sama Kayla” bu Astrid menghapus airmata Rayhan   “Dicoba han!” Perintah bu Astrid   “Rayhan udah berkali kali nyoba ma, tapi ujung ujungnya Rayhan nangis lagi karena rasa bersalah Rayhan sama Kayla dan rasa kehilangan Rayhan”   “Nangis itu ga buat kita hina han, mama bakal bantu. Tapi kamu tolong jangan tinggalin sholat lagi, isi d**a kamu supaya kamu kuat dan bisa sepenuhnya ikhlas atas kepergian Azzura “ Rayhan mengangguk lalu mengambil tangan ibunya dan disaliminya berkali kali.   Kini Rayhan tau, sebaik baiknya tempat mengadu setelah Allah adalah ibu   ***                
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD