Kalau kata Sarah, rasanya kayak mau mati waktu kita dibawa ketemu calon mertua. Takut, gaya pakaian kita nggak sesuai sama standar keluarga pihak laki. Takut, gaya berbicara kita nggak sesuai budayanya. Intinya, takut nggak direstui. Namun, itu nggak berlaku buat aku. Oke, aku memang deg-dehan awal kali ke rumah Ongka, tapi begitu nerima sambutan pertama dari Tania, napasku lega karena aku yakin ke depannya semua bakalan mudah. Dan, beneran. Orang tua Ongka welcome banget. Mungkin, karena emang aku se-worth it itu ya. Hehehe. Sayang sungguh sayang, perasaan tenangku dulu nggak bekerja juga buat si Keriting ini. Sejak keluar dari Bandara Sultan Thaha tadi, masuk ke mobil Mas Barga—sepupuku yang datang jemput, karena Papa nggak sekuat itu harus nyupir kira-kira dua jam setengah sampai

