26. Satu Kenyataan

1752 Words

"Ca, Sayang ... udahan dong nangisnya." Moko kembali menepuk-nepuk punggung tangan Risa di hadapannya. Perempuan cantik itu masih bertahan dalam isak tangisnya meski terdengar sangat pelan. Salah satu tangannya sibuk menghapus jejak basah di pipinya dengan selembar tissue. Malu sebenarnya jika menangis di tempat umum seperti ini, tapi bagaimana lagi. Belakangan ini Risa tak bisa menahan emosinya yang sering naik turun sendiri. "Ko, kamu sendiri kan, aku tuh dulu terkenal pinter kalo di kelas. Dari SMP sampe SMA pasti masuk peringkat tiga besar. Kuliah juga gitu, gak pernah dapet C." ujar Risa masih menyeka air mata. Moko mendengar apa yang diutarakan sang istri dengan seksama tanpa menjeda. Ibu jarinya juga sesekali mengusap punggung tangan Risa. "Ta- tapi kalo soal cowok, kok ... aku

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD