“Terima kasih pak Nino. Sungguh Bapak tidak mau mampir dulu?” tanya Sekar setelah mobil Nino sampai di depan rumahnya.
“Sama-sama, Sekar. Kapan-kapan saja aku mampir. Saat ini lebih baik kamu istirahat saja. Kamu harus banyak-banyak istirahat untuk mengembalikan energimu. Besok kamu sudah kembali pada rutinitasmu, ‘kan. Fokuslah dengan kesehatan badanmu. Lupakan masalah kita kemarin. Kembalilah bekerja dengan penuh semangat seperti dulu. Oke,” tutur Nino cukup panjang membuat Sekar yang susah senyum jadi ingin tertawa.
“Baik, Pak. Terima kasih,” ucap Sekar menutup bibirnya dengan punggung tangan dan agak menoleh ke pintu mobil.
“Lho kok kamu malah menertawakan aku?” protes Nino.
“Tidak Pak. Hanya terdengar lucu karena detail dan panjang sekali nasehat Anda. Tapi terima kasih atas perhatiannya. Saya akan mengikuti saran Anda,” ujar Sekar menatap wakil CEO itu tersenyum lembut.
“Hmm, karena aku selalu ingin kamu baik-baik saja, Sekar. Kepergianmu selama satu minggu itu benar-benar membuatku cemas. Aku takut terjadi sesuatu denganmu. Sedangkan kamu tidak bisa kau hubungi,” balas Nino serius.
“Saya baik-baik saja, Pak. Hanya butuh waktu untuk menenangkan diri saja,” ungkap Sekar.
Memang seperti itu dan sepengertian itulah Nino Hardino. Orang yang ada di dekatnya akan mendapat perhatian, dukungan, semangat dan perlindungan. Nino selalu membawa ketenangan dan kenyamanan bagi siapa pun karena itulah dia disukai banyak orang. Andai tidak ada larangan dan sumpah agar tidak mendekati pria-pria di keluarga Amarta, mungkin Sekar akan mempertimbangkan lamaran itu sebab Nino adalah pria baik dan peduli dengan sesama. Tapi larangan dan sumpah itu membuatnya tidak sekali pun pernah membayangkan atau menginginkan menjadi pasangan Nino Hardini dan Axel Amarta. Dia lebih memilih menjalani karirnya saja.
Sekar melambaikan tangannya pada Nino yang perlahan membawa mobilnya pergi. Setelah itu dia berbalik masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam, Sekar segera mengambil ponsel di dalam tas yang terus berbunyi. Ada banyak pesan masuk dari bosnya.
“Aku senang kamu bisa pulang dengan selamat di antar Nino. Ingat jangan pernah berniat untuk kabur. Besok kamu harus kembali kerja dan aku jamin mobilmu akan bisa kamu pakai lagi,” ucap Axel di dalam teks yang dia tulis.
“Jadi mengawasi saya? Bapak juga yang mengempiskan ban mobil saya?” tuduh Sekar tanpa rasa takut.
“Itu adalah satu usahaku agar besok kamu mau kembali masuk ke kantor lagi karena mobilmu masih tertinggal di JM. Ada apa? Kamu mau marah?” balas Axel balik bertanya dengan teks seolah tidak merasa berdosa dan tidak gentar dengan kemungkinan akan mendapat amukan dari Sekar.
“Tentu saja saya tidak marah. Saya malah senang, Pak. Karena itu artinya saya bulan depan saya masih dapat gaji dari JM lagi dan Bapak harus menambahkan biaya perbaikan untuk mobil saya. Bapak puas?” tanya Sekar ketus.
“Hahaha…. Bagus! Jangan khawatir. Aku aku bahkan bersedia menggantinya dengan mobil yang lebih bagus kalau kamu mau. Apa sih yang nggak buat kamu Sekar?” goda Axel pada pesan teksnya.
“Dasar pengecut! Berani menggoda wanita hanya dengan pesan text seperti ini,” balas Sekar yang sudah sampai di dalam kamar lalu meletakkan tas dan telepon genggamnya di meja nakas. Kemudian dia tinggalkan begitu saja dan masuk ke dalam kamar mandi.
Badan Sekar terasa penat. Dengan mengguyur air panas setidaknya akan menghilangkan rasa lelah dan emosinya berkurang. Tubuhnya kembali bertenaga setelah semangkuk ramen berhasil mengisi perutnya. Begitu juga segelas es matcha dari pak Nino tadi juga ampuh membuat kepalanya terasa lebih ringan. Walaupun hari ini tidak sesuai keinginan dan tujuannya setidaknya dia sudah mengambil keputusan. Sekar akan berjuang dan bertahan. Dia akan mencoba menerima dan berdamai dengan keadaan. Setidaknya aibnya masih terjaga. Dia berharap tidak ada masalah yang lebih besar lagi setelah ini.
Sekar keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk di kepala dan jubah mandi. Telepon genggamnya masih saja terdengar banyak notifikasi masuk. Dia ingat tadi bicara dengan bosnya. Sekar melangkah ke nakas lagi di mana ponselnya dia taruh tadi.
“Apa maksudmu mengatakan aku pengecut? Jaga bicaramu Sekar!” tulis Axel marah.
“Walau kita pernah tidur bersama itu tidak berarti kamu bisa mengatai aku seenaknya. Aku ini masih atasanmu! Kamu wajib menghormati aku!” tulis Axel lagi.
“Kenapa tidak balas? Cepat beri penjelasan! Atau kamu akan aku beri pelajaran yang tidak akan kamu lupakan seumur hidup!” ancam Axel pada chat yang dia tulis selanjutnya.
“Selalu saja mengancam. Memang dasar pengecut! Sikap Anda saja suka seenaknya tapi ingin dihormati,” gerutu Sekar, kesal sambil mengetik membalas pesan Axel.
“Kalau Anda bukan pengecut Anda tidak akan mengancam saya, tidak mengempiskan ban mobil saya dan tidak hanya bicara melalui chat seperti ini hanya karena takut dengan mbak Feli!,” balas Sekar lalu menaruh HP-nya di nakas lagi.
“Oh, jadi kamu ingin menantangku?” tanya Axel. Namun tidak dibalas lagi oleh Sekar.
Lalu melangkah ke ruang kecil di dalam kamarnya, tempat menyimpan baju dan barang-barang untuk menunjang penampilannya. Dia ambil baju tidur untuk mengganti jubah mandi yang terasa agak basah. Setelah itu Sekar berjalan menuju meja rias ingin mengeringkan rambut. Dengan balutan terusan pendek dan berbahan lembut warna hitam dia terlihat cantik. Kulitnya yang putih bersih tampak kontras dengan warna bajunya malam ini.
Sekar baru akan mengambil hair dryer, saat kedua matanya melihat guratan-guratan bekas luka di dadanya, pundak dan lengan di cermin. Sebenarnya masih banyak guratan-guratan luka yang sudah mengering seperti itu di bagian tubuh lain. Perlahan dia sentuh guratan-guratan luka itu. Dia sudah lupa rasanya. Tapi dia masih ingat bagaimana luka itu terjadi. Saat itu Sekar sangat marah dan merasa jijik dengan dirinya sendiri. Dia bersihkan tubuhnya yang dia anggap kotor setelah menghabiskan malam dengan Axel. Dia gosok dan cakar-cakar badannya. Sekar tidak ingin tubuhnya terlihat menarik. Sekar benci dengan tubuhnya yang indah dan telah mengundang hasrat Axel Amarta.
Sekar tiba-tiba berubah pikiran dan tidak ingin mengeringkan rambut lagi. Kemudian dia bergegas membaringkan diri di ranjang. Sekar meringkuk dan menyelimuti tubuhnya kemudian memejamkan kedua mata rapat-rapat. Bayangan-bayangan gila itu muncul begitu saja di cermin. Bayangan di mana Axel mulai menyentuh seluruh tubuhnya dan dia biarkan begitu saja. Sekar menyesal mengapa waktu itu dia tidak menolak namun justru menikmatinya tanpa perlawanan.
“Tidak! Aku tidak menyukainya,” ujar Sekar di dalam selimut, mulai merasa cemas. “Aku tidak menginginkannya. Aku tidak masuk ke dalam permainannya,” ujarnya lagi.
Tidak tahu mengapa? Sekar merasa ada iblis yang mulai merasuki dirinya dan mempengaruhinya. Dia tidak mengerti. Saat ini dia justru sering teringat kenangan-kenangan panas saat dia bersama Axel Amarta malam itu. Padahal beberapa hari ini dia sudah mulai bisa melupakannya. Dalam situasi ini, dia juga mulai takut dengan dirinya sendiri. Sekar takut goyah dan masuk ke dalam jeratan hasrat yang salah dengan bosnya. Sekar sendiri tak bisa mengingkari pesona Axel yang nyaris sempurna. Dia juga tidak memungkiri malam itu dirinya benar-benar terhanyut dalam permainan yang diciptakan bosnya.
***
Keesokan harinya. Sekar memilih masuk kantor lebih pagi dari dia biasa masuk antara pukul delapan sampai pukul sembilan pagi. Tadi Sekar berangkat ke kantor sekitar pukul enam pagi. Dia perkirakan akan sampai gedung JM sekitar hampir jam tujuh pagi. Dan benar saja, pukul tujuh dia sudah sampai di depan gedung JM. Sekar tak lupa menyempatkan diri melihat mobilnya yang ternyata masih berada di depan gedung JM dalam keadaan ban masih kempes semua seperti kemarin.
“Katanya akan dia urus. Mengapa masih di sini dan ban masih kempes semua?” tanya Sekar kesal.
“Orang itu. Mulutnya memang tidak bisa dipegang dan hanya suka cari enaknya saja,” gerutu Sekar lalu bergegas naik ke teras gedung JM yang megah. Hanya ada satpam penjaga di depan pintu lobi. Para pegawai belum banyak yang datang hanya beberapa gelintir orang saja. Itu pun sebagian besar petugas kebersihan.
Pagi ini perasaan Sekar lebih tenang dan nyaman saat berjalan menunju ruang kantornya. Dia tidak perlu menghadapi tatapan karyawan lain. Sekar keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan CEO yang masih sepi. Tidak ada teman-temannya yang menghadang seperti kemarin. Sekar masuk ke dalam kantor dengan santai.
“Selamat pagi, Sekretarisku sayang yang menyebutku pengecut,” sapa Axel yang tiba-tiba menangkap dan memeluk Sekar dari belakang dengan suara geram tertahan.
“Aaargh!” teriak Sekar, terkejut setengah mati. “Astaga pak Axel! Anda sudah sampai di sini?” tanyanya lagi. Sungguh, dia tidak menduga bosnya akan datang ke kantor lebih dulu darinya.
“Pak Axel lepaskan!” ucap Sekar menarik tangan bosnya yang melangkah di perutnya dan mencium lehernya.
“Tidak akan aku lepaskan! Sebelum kamu mempertanggung jawabkan ucapanmu semalam. Aku sudah buktikan aku bukan pengecut. Aku berangkat pagi-pagi meninggalkan Felisa di ranjang untuk berangkat ke sini menemanimu,” ucap Axel lembut di telinga Sekar. Sungguh Sekar tidak menyukai hal ini. Sekar takut benar-benar akan ada iblis yang merasukinya dan membuat dia terlena.
“Bagaimana Anda bisa tahu saya akan datang lebih pagi?” tanya Sekar sedikit melunak. Dia tidak lagi berusaha melepaskan pelukan Axel.
“Sudah aku bilang, aku hanya ingin menunjukkan padamu, aku bukanlah pengecut. Aku serius menyukai dan menginginkanmu Sekar. Aku datang lebih pagi dan menyiapkan sarapan pagi untuk kita. Lihatlah itu!” ucap Axel melepaskan pelukannya dan menunjuk ke arah sofa.
Sekar menoleh ke sofa dan melihat beberapa menu makanan dan kopi sudah tersedia di sana. Dia yakin itu paket makanan yang dia beli dari restoran tadi saat bosnya berangkat ke sini. Tapi perhatian dan usaha bosnya itu diam-diam membuat hatinya melunak dan tidak marah lagi.
“Ayo kita sarapan. Sebentar lagi kita harus pergi. Isi perutmu dengan kenyang karena kita akan melakukan perjalanan jauh,” ajak Axel kemudian melangkah terpincang ke pintu dan menguncinya.
Sekar terkejut dan langsung menoleh ke belakang. “Jangan macam-macam lagi, Pak. Saya akan melawan kalau Anda berbuat kurang ajar seperti kemarin.”
“Aku hanya ingin menikmati sarapan dengan tenang bersamamu tanpa ada gangguan seperti kemarin. Felisa, Nino atau elma bisa masuk begitu saja,” ujar Axel lalu melangkah ke sofa.
Sekar memperhatikan kaki kiri bosnya yang belum sembuh dan berjalan terpincang. Di sofa ada sebuah tongkat tersandar di sandaran. Sekar yakin itu pasti alat bantu yang digunakan bosnya.
“Bagaimana kaki Anda? Apa yang dikatakan dokter di klinik JM kemarin?” tanya Sekar lalu duduk di sofa seberang Axel duduk.
“Hanya cedera biasa. Akan sembuh pelan-pelan. Hanya butuh waktu,” jawab Axel santai sambil mengambil gelas kopi lalu meneguknya pelan. “Cepat nikmati sarapanmu. Kita harus segera pergi,” perintahnya kemudian meletakkan kopinya di meja dan mengambil sepotong roti bakar.
“Kita mau pergi kemana, Pak, hari ini kita tidak ada jadwal bertemu kilen di luar?” tanya Sekar. Tadi dalam perjalanan ke sini, dia sudah memeriksa jadwal kerja bosnya hari ini. Axel hanya menerima dua tamu saja hari ini di kantornya.
“Papa semalam marah besar padaku. Dia sudah tahu minggu kemarin kita tidak mendapatkan proyek satu pun. Dia minta kita coba mengajukan tawaran lagi. Kita akan berangkat ke luar kota. Aku akan tunjukkan lahan yang lebih bagus lagi untuk pembangunan hotel dan resort pada PT Alam Maju. Aku yakin setelah melihat lahan itu, PT Alam Maju akan memeriksa ulang proposal kita kemarin,” ucap Axel.
“Tapi kaki Anda masih sakit. Lebih baik saya pergi dengan pak Nino saja. Anda di kantor saja,” usul Sekar.
“Tidak bisa! Jangan bawa-bawa Nino dalam proyek ini. Proyek ini urusanku. Tugas dia hanya mengurus jalannya perusahan-perusahaan JM Group. Bukan mengurusi rencana kerjasama bisnis seperti ini kita bisa bangkrut. Dia itu hatinya lembut dan mudah kasihan dengan orang. Yang ada kita akan rugi besar,” tolak Axel cepat dan terlihat agak emosi. Tentu saja dia tidak rela Sekar pergi dengan sepupunya itu sendirian. Axel tidak akan pernah memberi peluang pada Nino untuk mendekati Sekar lagi.
“Saya hanya mencemaskan kaki Anda, Pak. Bagaimana kalau kita tunda sampai kaki Anda sembuh?” Sekar coba menawarkan solusi lagi.
“Sekar! Kamu masih ingin mengaturku?” Suara Axel meninggi menatap Sekar, dengan raut tidak sabar
Sekar tidak menggelengkan kepala tapi dia tidak bicara lagi dan memilih mengambil kopi dan mencomot sepotong kue untuk dinikmati. Kalau sudah seperti itu, dia tahu Axel tidak bisa dibantah lagi. Walaupun maksud dan tujuannya baik, bosnya yang keras kepala tidak mau tahu.