Para sekretaris dan para staf yang bekerja di luar ruangan terkejut ketika melihat Sekar dan Axel keluar dari ruang kantor CEO dan pamit akan melihat lahan proyek di luar kota. Dalam hati mereka bertanya-tanya kapan dua orang itu datang dan masuk ruangan CEO? Karena sejak mereka tiba di situ tidak melihat kedatangan Sekar atau Axel.
“Kamu tahu kapan mereka datang? Mengapa mereka tiba-tiba keluar bersama-sama? Kapan masuknya, El?” tanya Windy penasaran, setelah dia berjalan cepat dengan sepatu hak tingginya ke meja Elma tak lama setelah Sekar dan Axel menjauh.
“Entahlah. Mungkin mereka datang lebih pagi dari kita. Aku juga tidak tahu,” jawab Elma cuek dan masih fokus dengan laptopnya.
“Tadi setelah kamu datang, apa mereka pernah menghubungimu dari dalam sana?” tanya Windy menoleh ke pintu ruang CEO.
“Aku baru tahu mereka ada di dalam setelah mereka barusan keluar tadi,” jawab Elma menghentikan pekerjaannya untuk menjawab pertanyaan Windy.
“Jangan-jangan mereka menginap di sini semalam?” kata Windy, curiga.
. “Kamu juga sepemikiran denganku Win,” sahut Cintya yang baru saja datang dan langsung nimbrung.
“Ya, nggak mungkinlah. Pak Axel kemarin pulang dengan mbak Feli. Tunangannya ada di Jakarta, untuk apa dia menginap di kantor bersama mbak Sekar?” sahut Elma ketus.
“Eh, kamu benar juga. Kemarin Sekar pulang lebih dulu bersama pak Nino dan pak Axel pulang dengan mbak Felisa. Itu artinya Sekar dan pak Axel datang ke kantor ini tadi pagi,” sahut Cintya.
“Iya. Sepertinya mereka memang sengaja datang lebih awal karena siap-siap mau ke luar kota,” timpal Elma.
“Hmm, mungkin saja begitu dan mungkin juga tidak. Tapi aku yakin ada sesuatu yang terjadi antara Sekar dan pak Axel. Cedera kakinya itu, bukanlah tersandung meja begitu saja. Pasti ada penyebabnya,” ungkap Windy menyipitkan kedua matanya seolah sedang membayangkan kejadian misterius yang terjadi pada Axel Amarta kemarin di dalam ruang kantornya bersama Sekar.
“Aku juga merasa ada yang berbeda dengan sikap Sekar pada pak Axel. Kemarin kalian lihat nggak, saat mereka ada di sini membicarakan rencana Elma yang mau pindah? Sekar seperti malas melihat ke arah pak Axel. Cara bicaranya pada pak Bos juga dingin dan kadang terdengar ketus,” timpal Cintya.
Windy coba mengingat kejadian itu lalu mengangguk. “Eh, iya kamu benar. Aku ingat itu. Nah, kamu juga merasa ada sesuatu di antar mereka, ‘kan?”
“Ah, itu hanya perasaan kalian saja. Menurutku sikap mereka seperti biasanya. Jangan mengada-ada dan bikin gosip baru,” tutur Elma mengibaskan tangannya, menolak kecurigaan Windy dan Cintya.
“El, kamu kenapa, seperti tidak setuju dengan pendapat kita? Kamu takut dipecat?” usut Windy, menatap Elma penuh selidik.
“Ya, jelaslah aku tidak setuju. Karena menurutku kecurigaan kalian itu ngawur. Sudah! Jangan bikin gosip! Kalau ketahuan big bos bisa bahaya kita. Cepat kembali ke meja kalian,” tutur Elma, memilih jalur aman dan kembali fokus dengan laptopnya.
Namun Windy dan Cintya masih enggan untuk pergi. Elma menatap kedua temannya itu dengan tidak sabar.
Windy terlihat kesal melihat tingkah Elma yang sudah tidak ikhlas menerima keberadaan dirinya dan Cintya di tempat itu.
“Apaan sih kamu El? Nggak asyik tahu! Diajak ngegosip malah bertingkah seperti satuan pengaman preman saja, Suka main usir!” protes Windy bersungut.
“Iya, tuh. Padahal mumpung pak Axel dan Sekar nggak ada, kita bisa puas membahas mereka. Kamu malah main usir kita,” timpal Cintya, cemberut.
“Aku hanya mengingatkan kalian saja. Kalau mau curiga itu ya pakai logika juga dong. Jangan asal begitu,” jawab Elma semakin jelas dan tegas menyangkal kecurigaan teman-temannya.
“Oh, kamu pikir pak Axel tidak mungkin tertarik pada Sekar? Kamu salah, Elma. Bosku, pak Nino saja jatuh cinta dengan dia. Jadi bisa saja pak Axel suka sama Sekar juga,” tutur Windy, mengingatkan Elma yang menurut pengamatannya dia pikir mustahil bosnya suka dengan Sekar.
“Ya, bisa saja kalau pak Axel belum punya pasangan seperti pak Nino. Tapi pak Axel itu sudah punya tunangan seorang ratu kecantikan internasional, Miss Oceania Felisa Romario. Masa sih, dia tertarik dengan mbak Sekar, seorang janda satu dekade yang usianya lebih tua sepuluh tahun dibandingkan mbak Feli yang masih dua puluh lima tahun?” tanya Elma tegas dan yakin dengan argumennya.
“Sudahlah Win! Percuma kasih tahu Elma. Dia pikir cinta dan hubungan itu terjadi harus selalu pake logika kaya dia. Kita pergi saja yuk!” ajak Cintya menarik tangan teman kerja satu mejanya itu pergi dari meja Elma.
“Kamu benar. Kali ini kita tidak satu Mazhab sama dia. Akan susah dijelasin juga,” sahut Windy menimpali sambil berjalan mengikuti tarikan tangan Cintya
***
Sementara itu Sekar dan Axel sudah di jalanan dengan mobil yang dikemudikan sopir pribadinya, pak Hendrik. Sekar dan Axel duduk di belakang berdua saja. Mereka tidak banyak bicara sejak mereka keluar gedung. Axel sedang serius memperhatikan lahan proyek dan rencana model bangunan hotel dan resort yang akan dia tunjukkan pada investor yang menolaknya minggu lalu. Sedangkan Sekar justru asyik menikmati pemandangan di luar melalui jendela mobil. Tidak seperti dulu bila melakukan perjalanan bisnis, sepanjang jalan mereka bisa habiskan untuk berbincang apa saja. Tapi sekarang Sekar merasa sangat berat untuk membuka bibirnya.
Axel teringat kalau tadi dia belum minum obat dan mengolesi salep pada kakinya yang cedera. Pria itu mengalihkan fokusnya dari laptop untuk mencari keberadaan tasnya.
“Sekar. Tolong kamu ambilkan salep dan obat di dalam tasku. Aku lupa belum minum obat dan mengoleskan salep di kakiku,” perintah Axel yang masih memangku laptopnya.
Sekar menoleh pada bosnya sebentar lalu segera melaksanakan perintahnya.
“Baik, Pak.” Sekar mengambil tas Axel yang berada di dekatnya. Sejak tadi memang tas itu dia yang bawa. Saat berjalan bosnya harus berpegangan tongkat jadi akan ribet kalau harus membawa tas juga.
Sekar mengambil air minum dan dua pil untuk diberikan pada Axel. Setelah itu dia mengambil salep untuk mengolesi cedera kaki kiri bosnya.
“Tolong geser kaki Anda lebih dekat Pak,” ucap Sekar lalu membungkukkan badan tanpa turun dari kursi.
Axel yang baru saja menenggak obatnya menoleh pada Sekar. “Tidak perlu. Akan aku oleskan sendiri saja. Mana? Berikan salep itu padaku!”
“Tidak apa-apa, Pak. Ini tinggal oles saja,” ucap Sekar masih membungkuk dengan salep di tangannya.
“Sekar, mengapa sekarang kamu sangat suka membantah perintahku?” tanya Axel menjauhkan kakinya yang cedera.
Mendengar itu, Sekar segera menegakkan badannya kembali lalu memberikan salep itu pada Axel tanpa bicara sedikit pun. Sebenarnya dia sudah biasa dengan sikap Axel yang keras kepala. Tapi kali ini tidak tahu kenapa dia merasa kesal dengan bosnya. Tinggal mendekatkan kaki. Oles sebentar sudah selesai. Tapi dia malah keras kepala ingin mengolesi sendiri. Sekar bingung dengan sikap Axel. Kadang dia ingin dirinya mendekat tapi di saat lain dia melarang dirinya peduli dengan pria itu.
“Lain kali jangan seperti tadi, Pak,” ucap Sekar dingin, tepat saat Axel membungkuk.
“Maaf. Aku tidak bermaksud menolak niat baikmu. Tapi aku rasa akulah yang lebih tahu bagian mana yang perlu dioles,” balas Axel setelah menegakkan badan. Sebenarnya tadi dia menolak karena merasa tidak nyaman saja bila Sekar mengolesi kakinya.
“Iya, saya mengerti. Tapi bukan itu maksud saya,” ucap Sekar, melihat ke arah bosnya sebentar.
Axel menoleh. Sementara tangannya menutup salep. “Kamu ingin bicara apa?”
“Ini soal kejutan pagi tadi. Jangan lakukan itu lagi. Mereka akan curiga. Para karyawan akan menduga ada sesuatu dengan kita,” ungkap Sekar, ketus tanpa melihat bosnya lagi.
“Kamu tenang saja. Mereka tidak akan berani mengatakan apa pun tentang kita. Tadi kita memang akan pergi keluar kota kan. Jadi kita punya alasan tepat yang tidak terkesan dibuat-buat,” ujar Axel tenang tapi dia juga bisa memahami kecemasan yang dirasakan Sekar.
“Kita? Kejutan itu Anda yang buat Pak!” sahut Sekar kesal menoleh pada Axel.
“Aaaah! Iya aku! Sorry, aku salah ucap!” balas Axel tak kalah kesal.
“Pak Axel harus janji pada saya. Mulai sekarang tidak lagi melakukan apa pun yang membuat orang-orang di JM berpikir ada sesuatu dengan kita. Selama ini mereka pikir, saya tiba-tiba pergi kemarin karena ada dengan masalah pak Nino,” ucap Sekar, berharap Axel mengerti dan setuju dengan keinginannya.
Axel tidak menjawab. Dia justru menoleh ke jendela. Dan itu membuat hati Sekar cemas. Axel sangat keras kepala. Dia tahu akan perlu waktu cukup lama untuk memberi pengertian pada bosnya itu. Tapi dia harus berusaha dan bisa menekan bosnya itu untuk menghentikan kegilaan ini. Kalau tidak, mereka berdua bisa hancur dan berubah menjadi skandal besar di JM bila kejadian malam itu terkuak.
“Mengapa Bapak diam saja? Anda harus setuju dengan permintaan saya. Kalau Anda terus berpikir akan terus mengejar saya dan ingin menceburkan saya ke dalam hubungan yang salah maka saya akan mengundurkan diri akhir bulan ini,” ancam Sekar tegas agar keinginannya di dengar.
Sebaliknya, ancaman itu justru membuat Axel kembali emosi.
“Lakukan saja! Maka aku akan membuktikan ucapanku!” ujar Axel dengan suara lembut tertahan mendekat di dekat telinga Sekar dan balik mengancam.
Axel menjauhkan diri dari Sekar. Tapi pandangannya masih tertuju pada Sekretarisnya itu.
“Saya tidak takut, Pak. Rezeki Tuhan yang mengatur. Kalau masih diberi umur pasti akan ada saja rezeki dari Tuhan untuk saya,” balas Sekar tanpa menoleh dengan bosnya lagi.
“Oke! Kalau begitu akhir bulan ini ajukan saja pengunduran dirimu. Maka kamu akan lihat apa yang akan aku perbuat!” ucap Axel serius.
“Baik, saya akan siapkan surat pengunduran diri saya segera,” balas Sekar tak gentar lagi. Dia yakin inilah keputusan tepat yang harus segera dia ambil. Sekar tidak mau mengambil resiko. Nama baiknya dipertaruhkan di JM. Dia memang telah melakukan kesalahan. Tapi dia juga tidak ingin melakukan kesalahan lagi dengan membiarkan kesalahannya diketahui orang.
***
Lokasi lahan proyek yang mereka tuju, berada di atas bukit pertanian dengan panorama pantai di bawahnya. Jalan menuju ke sana cukup mudah. Hanya saja setelah sampai diperbukitan itu, mereka harus menjelajah untuk mencari view yang bagus untuk menentukan lokasi-lokasi bangunan. Dan itu membuat kaki Axel yang cedera semakin membengkak karena terus berjalan dan berdiri cukup lama. Melihat itu Sekar merasa cemas dan meminta Axel turun lebih dulu, menunggu di mobil. Tapi Axel menolak. Dia tetap ingin menemani kliennya sampai selesai.
Menjelang sore, hujan tiba-tiba saja turun. Axel meminta rekan bisnisnya turun lebih dulu dari bukit dan kembali ke mobil. Karena kakinya tidak bisa berjalan cepat, terpaksa dia harus berteduh di sebuah gubuk kecil di tengah sawah.
“Pak Hendrik tolong naik dan bawa payung juga lampu senter kemari,” perintah Sekar menelpon sopir yang berada di bawah dan menunggu di dalam mobil. Tak lupa dia juga mengirim pesan memberi informasi di mana lokasinya berada.
“Kita tunggu hujan reda saja. Untuk apa kamu panggil pak Hendrik kemari?” tanya Axel yang sedang duduk dengan berselonjor supaya kakinya lebih rileks.
“Mendung semakin tebal. Sepertinya masih lama hujan ini akan reda. Sekarang sudah hampir sore. Takutnya kalau kita tidak segera turun dan keluar dari area ini, kita bisa kemalaman di sini,” jawab Sekar beserta segala pertimbangannya namun tidak memuaskan Axel.
“Kalau sudah tidak memungkinkan pulang kita cari penginapan di sini saja. Mengapa harus memaksa pulang? Jalanan di sini kalau malam sangat gelap akan berbahaya kalau melintas dalam kondisi seperti itu. Apalagi ada jalan dengan sisinya jurang yang cukup dalam. Malam ini lebih baik kita menginap di sekitar sini saja,” ujar Axel meringis menahan nyeri di kakinya yang cedera.
“Kalau belum dicoba kita tidak tahu situasi jalanan itu. Kita coba dulu saja. Nanti kalau memang tidak memungkinkan kita balik lagi cari penginapan di sekitar sini,” kata Sekar, coba menyampaikan pendapatnya.
Jujur, sejak kejadian malam panas itu, dia ingin menghindari pergi ke luar kota apalagi menginap bersama Axel. Nanti bila ada tugas dinas ke luar kota bersama Axel Amarta, dia berencana agar diganti Elma saja. Sekar sudah bertekad akan berusaha menghindari gosip atau hal-hal yang menimbulkan kecurigaan para karyawan JM Group mengenai dirinya dan Axel.
“Oke. Tidak masalah. Kita coba dulu saja,” ujar Axel setuju agar sekretarisnya itu tidak menduga dia memang sengaja ingin bermalam di daerah ini dengannya. Walau itu benar, Axel tidak ingin Sekar merasa dipaksa. Semuanya harus terjadi secara natural. Dia tahu Sekar saat ini masih trauma. Kalau selalu dia paksa, Axel Sekar justru akan benar-benar lari darinya. Tadi saja dia sudah kembali mengancam akan mengundurkan diri lagi akhir bulan ini.
Setelah menunggu cukup lama, pak Hendrik datang membawa dua payung dan dua jas hujan untuk Sekar dan Axel. Lalu mereka meninggalkan gubuk itu dengan hati-hati dan perlahan menyesuaikan dengan kesanggupan kaki Axel.
“Jangan terlalu cepat, Pak. Anda bisa terpeleset. Kalau lelah kita istirahat sebentar,” tutur Sekar mencemaskan kondisi kaki Axel karena bosnya itu berjalan tergesa.
“Nggak perlu menasehati aku. Aku bisa mengukur kemampuanku sendiri. Bukankah tadi kamu ingin kita bisa segera pulang?” tanya Axel, ketus.
Sekar hanya menarik napas dalam-dalam dan membuangnya pelan. Dia tidak ingin terpancing emosi dan membalas ucapan itu. Sekar tahu saat ini Axel mudah marah karena sedang menahan sakit di kakinya.
Sampai di mobil hujan semakin deras dan hari sudah memasuki waktu sore. Hanya tinggal satu mobil saja di tempat itu. Para investor sudah pergi beberapa saat yang lalu dan pamit melalui pesan singkat di handphone Axel dan Sekar. Pak sopir segera membawa mereka meninggalkan tempat itu. Suasana sudah mulai gelap karena awan tebal dan waktu menjelang malam. Mobil berjalan pelan menyusuri jalanan yang licin di tengah jalanan yang gelap. Namun tiba-tiba saja sebuah bongkahan batu besar menggelinding di tengah jalan dari atas bukit. Sopir segera mengerem secara mendadak. Setelah itu jatuh lagi dua batu besar. Lalu beberapa bongkah tanah longsor.
“Astaga! Bukit ini longsor!” sebut pak Hendrik, terkejut.
“Astaga! Stop, Pak! Berhenti!” ucap Sekar panik.
“Jangan! Langsung mundur saja! Sepertinya bukit di samping ini memang akan longsor,” perintah Axel tegang.
“Baik, Pak!” sahut pak Hendrik sang sopir segera mengundurkan mobilnya.