Bab 8. Terpaksa Menginap Bersama

1985 Words
Perasaan tegang dan takut menyelimuti Sekar, Axel juga pak Hendrik yang sedang berusaha menjauhi bukit. Mobil yang mereka tumpangi harus berjalan mundur dalam keadaan gelap dengan penerangan hanya dari lampu mobil saja. Bukan hanya di depan mobil, bebatuan yang mulai jatuh tapi di belakang mobil mereka juga menemukan bongkahan batu. Untung mobil masih bisa lewat dan terus berjalan mundur. Kebetulan jalanan juga sedang sepi. Tidak ada kendaraan apalagi orang lewat. Sekar menjadi takut dan ngeri sendiri. Andai mereka tertimbun tanah longsoran bukit ini mungkin tidak ada orang yang cepat bisa menolong mereka. “Tenanglah! Kita akan selamat dan baik-baik saja. Teruslah berdoa. Yakinlah Tuhan pasti menyelamatkan kita,” tutur Axel, mengejutkan Sekar karena tiba-tiba menggenggam tangannya yang gemetar dan dingin. Sekar menarik tangannya, dingin dan sok angkuh. “Saya baik-baik saja, Pak. Hanya sedikit tegang saja.” Axel mengedikkan bahu. “Syukurlah kalau begitu.” Tapi baru saja Axel selesai bicara sebuah bongkahan batu jatuh dan menyenggol bagian depan mobil hingga membuat mobil yang mereka tumpangi itu oleng bergerak mundur tak terarah. “Ya, Tuhan!” seru Sekar spontan langsung memeluk lengan Axel ketakutan. Axel tahu itu dan hanya melihat sebentar saja. “Tenanglah. Mobil kita masih aman,” ucap Axel, tak tahan dia sentuh jemari Sekar yang masih mencengkram lengannya. Sekar baru menyadarinya dan melihat tangannya di lengan Axel. Dengan perasaan malu dan canggung dia segera melepas cengkramannya. “Maaf,” ucap Sekar lirih namun Axel hanya mengedipkan kedua matanya pelan untuk menenangkan Sekar. “Terus saja mundur, Pak. Kurang sedikit lagi kita bisa menjauhi bukit ini,” perintah Axel perhatiannya kembali pada pak Hendrik. “Baik, Pak,” ucap pak Hendrik. Suara pria itu juga terdengar tegang sambil terus fokus melihat ke belakang dan kadang ke arah depan mobil. Akhirnya perasaan mereka bisa lebih tenang setelah mobil mulai menjauhi bagian bukit yang tinggi. Beberapa orang datang dengan motor dan mobil dari arah belakang. Pak Hendrik segera keluar dari mobil dan menyapa mereka. “Sepertinya itu warga desa di bawah bukit tadi,” ucap Sekar memperhatikan mereka dengan sedikit memutar badan melihat ke arah belakang mobil. “Iya. Sepertinya begitu,” timpal Axel, kemudian membuka kaca mobilnya. “Pak Hendrik, tanyakan pada mereka! Adakah penginapan di sekitar sini?” perintah Axel, mengeraskan suaranya. “Baik, Pak,” jawab pak Hendrik menoleh sebentar pada bosnya. “Biar saya turun saja dan bertanya pada mereka,” ucap Sekar menoleh pada Axel. “Tidak perlu. Kamu tetap di sini,” tolak Axel singkat. Tak lama setelah itu, pak Hendrik masuk ke dalam mobil. “Bagaimana pak Hendrik? Apa ada penginapan di sekitar sini?” tanya Sekar. “Tidak ada, bu Sekar. Tapi kata warga, ada kepala desa yang mengizinkan rumah kosong milik putrinya untuk dijadikan tempat menginap sementara,” jawab pak Hendrik. “Lebih baik kita pulang saja melalui desa itu. Saya yakin ada jalan lain untuk keluar desa ini,” saran Sekar pada bosnya. “Kata mereka sangat berbahaya, Bu. Kalau kita keluar lewat desa ini kita harus melewati jembatan di atas sungai yang cukup besar dan deras. Setiap hujan seperti ini sungai mudah meluap dan arusnya cukup deras. Jembatan bisa hanyut terbawa arus deras sungai kapan saja. Saran mereka, kita lebih baik istirahat dulu di desa itu. Baru besok pagi kita lihat bagaimana situasinya,” sahut pak Hendrik, coba memberikan pengertian pada Sekar setelah mendengarkan keterangan yang baru saja dia dapat dari penduduk desa itu. “Kamu dengar itu? Kalau kamu mau pulang, pulang sendiri sana dengan cari orang yang mau mengantarmu pulang. Aku akan menginap di desa itu bersama pak Hendrik,” ketus Axel pada Sekar. “Mengapa pak Axel berkata begitu? Saya tidak bermaksud memaksa pulang malam ini juga. Saya hanya bertanya saja. Siapa tahu, masih ada kemungkinan keluar desa ini dan bisa pulang sekarang,” ucap Sekar membela diri sendiri. “Ya. Perempuan memang selalu benar dan punya pembelaan. Oke! Oke!,” ucap Axel mengangkat tangannya. Tanda dia tak ingin berdebat lagi dengan Sekar. Padahal dia dan Sekar tahu betul, apa alasan Sekar tetap ngotot ingin pulang sekarang. Melihat itu Sekar membuang napas agak keras lalu mengalihkan pandangan ke luar mobil yang gelam temaram. “Pak Hendrik, kalau begitu kita menginap di desa itu saja. Cari rumah itu. Aku sudah sangat capek sekali,” perintah Axel segera mengambil keputusan. “Baik, Pak,” sahut pak Hendrik kemudian memutar mobilnya dengan dibantu warga yang masih berada di situ. Tak lupa Axel minta tolong seorang warga yang bersedia mengantarnya ke rumah kepala desa. Tak lama kemudian mereka pun berangkat memasuki desa dekat perbukitan tadi. Hujan sudah tidak sederas tadi. Namun masih gerimis dan cukup mengganggu pemandangan di jalanan desa yang sangat minim penerangan. Setelah hampir setengah jam, mereka sampai di depan dua buah rumah yang tidak terlalu besar. Satu model modern minimalis dan satunya lagi model klasik modern. Warga yang mengantar mereka mengantar mereka ke rumah yang bermodel modern klasik milik kepala desa. Di sana Axel sebagai kepala rombongan menyampaikan masalah dan tujuan pada pria seusia papanya itu. Tidak butuh waktu lama, kepala desa mengajak mereka ke rumah model minimalis yang berada di samping depan rumahnya. “Ini rumah putri kami. Saat ini dia sedang ikut suaminya yang bertugas di kota. Jadi untuk sementara kosong. Tapi kami selalu membersihkan rumah ini setiap hari. Anda tidak perlu khawatir. Rumah ini dijamin bersih,” ucap pak kepala desa sambil masuk ke dalam rumah dan diikuti mereka semua. Setelah basa-basi sebentar pak kepala desa mengajak warga yang mengantar mereka pulang. Dia meminta tamu-tamunya untuk istirahat atau membersihkan diri. Namun tak lama, pria itu datang kembali dan membawa bahan makanan berupa mi instan, telur, sayur, kopi, teh, gula. Dia mengatakan kalau istrinya kurang enak badan dan asisten rumah tangganya sudah pulang. Pak kepala desa minta maaf tidak bisa menyediakan makan malam. Dia minta tamu-tamunya untuk masak sendiri untuk makan malam mereka. “Terima kasih banyak, Pak. Ini sudah lebih dari cukup. Maaf kami sudah merepotkan Bapak. Saya akan memasak bahan makanan ini sendiri. Saya sudah terbiasa masak juga di rumah,” ucap Sekar ramah. “Sama-sama, Bu. Nanti kalau masih ada yang dibutuhkan silahkan ketuk pintu kami. Saya akan bantu semampu saya,” ucap pak kepala desa tulus. “Baik. Terima kasih, Pak,” ucap Sekar lagi. Setelah pak kepala desa pergi. Sekar segera memeriksa dan memilih satu kamar untuk Axel. Dia bersyukur ada satu kamar utama dengan kamar mandi dalam. Lalu dia memberitahu Axel supaya segera istirahat di sana. Sementara Sekar bergegas ke kamarnya untuk menaruh tas dan HP. Setelah itu ke dapur dan bersiap membuat makan malam. Sekar juga meminta pak Hendrik untuk mandi dan istirahat setelah mengantar bahan makanannya ke dapur. Dia mengatakan pada sopir Axel itu menjaga bosnya dan tanya apa yang dia butuhkan sementara dirinya memasak. Mengingat kaki Axel masih sakit dan mungkin membutuhkan bantuan. Bagi Sekar ini pekerjaan ringan. Hanya memasak mi instan dicampur sayur dan telur tentu tidak membutuhkan waktu lama. Makanan itu terasa sangat mewah di saat seperti ini. Apalagi sejak siang mereka belum makan. Sekar membawa satu panci agak besar mi instan rebus ke meja makan. Lalu dia melangkah ke kamar Axel. “Makanan sudah siap, Pak. Silakan keluar sekarang. Mumpung mi rebusnya masih panas,” ucap Sekar. “Oke. Aku akan segera keluar,” jawab Axel dari dalam. Sekar juga memanggil pak Hendrik. Pria itu keluar hampir bersamaan dengan Axel. Sementara Sekar sudah menyajikan sebagian mi rebusnya ke dalam tiga mangkuk. Dia mengatakan kalau kurang mi-nya masih banyak dan harus dihabiskan. “Lho, pak Hendrik mau kemana?” tanya Sekar saat melihat pria itu berdiri dan mengangkat mangkuknya. “Saya mau ke kamar, Bu. Mau telepon istri saya. Dari tadi saya belum kasih kabar dia,” jawab pak Hendrik. “Oh, ya sudah. Nanti kembali lagi ya. Mi ini harus dihabiskan, Pak,” pesan Sekar. “Tenang, Bu. Pasti saya kembali lagi. Saya lapar sekali,” balas pak Hendrik tertawa kecil sambil berjalan membawa mangkuk dan secangkir kopi di tangannya. Setelah pak Hendrik masuk kamar, Sekar kembali duduk. Sementara dia lirik Axel yang terlihat asyik menikmati mi di mangkuknya yang hampir habis. Sekar mengedipkan kedua matanya berkali-kali. Seolah tak percaya mi itu begitu cepat habis masuk ke perut bosnya. “Tolong ambilkan lagi. Rasanya sangat lezat dan aku masih belum kenyang,” ucap Axel, mengulurkan mangkuknya pada Sekar. Sekar yang sedang melongo menatap bosnya, agak tersentak saat menerima perintah itu. “Baik, Pak,” ucap Sekar, segera mengisi lagi mangkuk bosnya dengan mi rebus buatannya. “Kalau seperti ini kita seperti sepasang suami istri ya,” celetuk Axel yang ternyata sedang memperhatikan Sekar sambil senyum-senyum nakal menggoda. “Anda sudah punya calon istri. Jangan berkhayal dengan wanita lain,” ketus Sekar saat dia berikan mangkuk pada Axel lagi. Kemudian dia segera fokus pada mi-nya yang sudah mengembang agar Axel tidak bicara lagi yang selalu manis. Melihat itu Axel tidak bicara lagi dan kembali menyantap mi rebusnya. Tapi dia lirik Sekar yang terlihat datar tak seperti sikapnya pada pak Hendrik. “Kamu harus temani aku makan di sini. Awas kalau kamu masuk ke kamar, aku akan menyusul ke sana,” ancam Axel mulai melihat tanda-tanda ketidaknyamanan Sekar. “Tenang saja, Pak,” jawab Sekar singkat dan dingin namun justru membuat Axel merasa tensinya meningkat dengan cepat. Tapi lagi-lagi Axel berusaha mengontrol emosi. Saat ini Sekar harus diperlakukan dengan lembut dan sabar. Karena itu dia coba mencairkan suasana mengganti topik pembicaraan. “Kamu tahu, terakhir aku makan mi instan rebus setahun lalu saat ikut Nino camping . Tapi aku rasa, mi rebus buatan kamu jauh lebih lezat,” puji Axel. “Oh begitu ya? Terima kasih,” sahut Sekar lagi-lagi sangat dingin. Untuk sesaat suasana kembali hening dan kaku. Axel merasa kesal karena masih belum mampu mencairkan suasana. Tapi si penghangat suasana datang. Pak Hendrik keluar dari kamar kembali ke meja makan. “Pak Hendrik mi ini masih banyak. Ayo, ambil lagi,” ucap Axel begitu melihat pak Hendrik keluar. “Ayo, Pak. Tadi sudah janji mau menghabiskan mi ini, ‘kan.” Sekar ikut menimpali. “Siap pak Axel, bu Sekar. Saya akan habiskan mi rebusnya. Mau telpon istri nggak ada sinyal. Ya sudah makan mi saja biar kenyang agar nanti tidur nyenyak,” ujar pak Hendrik menaruh mangkuknya di meja lalu mengambil tempat duduk di dekat Axel sambil tertawa kecil. “Kalau begitu silakan habiskan mi ini, Pak. Saya mau mandi dulu,” pamit Sekar setelah dia habiskan mi di mangkukknya. Lalu dia bawa mangkuk yang sudah kosong pergi ke dapur dan mencucinya. “Oh siap, Bu. Nanti dijamin bersih dengan panci-pancinya,” pak Hendrik bercanda. “Nggak usah, Pak. Nanti biar saya saja yang bersihkan semuanya. Sekarang saya mandi dulu,” sahut Sekar tanpa melihat ke arah bosnya lagi. Sementara Axel masih saja dongkol dengan perlakukan dingin sekertarisnya itu. *** Sekar mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang dia siapkan sendiri setelah merebusnya selama dia makan. Karena di dalam kamar mandi tidak ada alat pemanas air sementara cuaca terasa sangat dingin. Selesai mandi Sekar mampir ke meja makan untuk membersihkan meja. Axel dan pak Hendrik pindah ke sofa yang berada satu ruangan dengan ruang makan. Mereka asyik menyaksikan televisi. “Sekar, tolong buatkan kopi hitam lagi,” perintah Axel setelah menyadari kehadiran Sekar di ruangan itu. “Baik, Pak,” jawab Sekar sambil membawa beberapa peralatan yang masih kotor. Berselang lima belas menit Sekar membawa kopi pesanan Axel. Sekar yang sudah berganti baju tidur berlengan pendek milik putri pak kepala desa, cukup menyita perhatian Axel. Bukan keindahan tubuhnya. Tapi dia melihat guratan-guratan bekas luka di beberapa bagian tubuh Sekar yang sudah mengering. d**a, punggung bagian atas dan kedua lengan. Guratan itu terus saja mengusik pikiran Axel sampai dia dan yang lain masuk ke kamar masing-masing. Sampai larut malam Axel masih gelisah dan hanya membolak-balikkan badan saja tidak bisa merasakan kantuk. Axel merasa tidak sabar bila harus menunggu sampai pagi. Dia putuskan untuk bangun lalu berjalan menuju kamar Sekar. Axel ingin tahu bekas luka apa itu? Kapan itu terjadi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD