bantuan untuk desa

2582 Words
beginning after end 9. "A-apa maksudnya ini?" Abigail bisa menebak saat dirinya menginjakan kaki di rumah kepala desa. Apalagi saat dia menyerahkan satu kantong koin emas dengan jumlah yang sangat banyak. Sangat tidak mungkin kepala desa akan percaya begitu saja dengan pemberian Abigail. "Apa maksudmu memberikan koin sebanyak ini untuk desa?" Abigail tentu saja sudah menebak hal ini akan terjadi, maka dengan itu, keberadaan Osman sangat berpengaruh untuk sekarang. Dia bisa dengan leluasa mengatasnamakan pria bertubuh besar ini sebagai donatur yang memberi bantuan untuk desa Abigail menyenggol lengan Osman, lalu memberi lirikan tajam sebagai tanda agar pria itu tidak salah berbicara. "Ehem!" Osman berdeham sebentar untuk menarik perhatian para tetua di desa itu. "Maaf tuan, saya tidak bermaksud buruk dengan memberi koin ini pada desa ini, saya hanya ingin membantu desa dengan segenap hati dan kemampuan yang saya miliki." Dia me jeda kalimatnya, lalu menatap Abigail dengan sendu. "Jujur saat saya melihat bagaimana anak-anak di desa ini, saya teringat pada kampung halaman saya yang jauh dan sudah hilang dari peradaban. Melihat kalian, saya jadi ingat desa saya yang dulu, dan saat ini saya tidak memiliki tempat untuk berpulang, maka terimalah sedikit uang ini untuk membantu pembangunan desa dan memberi beberapa warga kebutuhan sehari-hari." Ucapan yang terdengar sangat tulus, berbanding terbalik dengan raut yang menyeramkan dan tubuh besar yang bisa menghancurkan apa saja hanya dengan sekali pukul. Mereka semua terdiam, menatap Osman dengan tatapan terenyuh. Dalam hati mereka tidak menyangka jika pria bertubuh besar dan menyeramkan itu memiliki hati yang murni dan tulus. Terkadang tampang tidak serta Merta memiliki isi yang sama, seperti itulah penggambaran Osman di mata para tetua desa. Hanya saja mereka tidak tahu yang sebenarnya, Osman setengah mati menahan keram di kebagian kaki karena sedari tadi duduk bersila, tubuh yang besar tentu saja menjadi hambatan untuk dirinya memilih gaya duduk, dia lebih senang berdiri dari pada harus duduk sopan seperti ini, seperti tidak ada gaya lain saja. Hanya saja semua dia lakukan karena tuan cilik yang memiliki semangat ibu akal cerdik untuk mengecoh semua orang di desa ini. Benar-benar memanfaatkan sebuah keadaan. "Jika memang niat baik dari tuan pengembara seperti itu. Maka saya sebagai kepala desa di desa ini akan menerima bantuan dari tuan, maaf jika seandainya saya menyinggung atau ada kata yang tidak membuat anda berkenan." Sungguh sangat sopan sekali bapak kepala desa ini. Abigail tersenyum kecil. Sepertinya ada gunanya menjadikan Osman sebagai seseorang yang dia andalkan dalam hal ini. Jika dia tidak bertemu Osman di pasar gelap itu. Entah cara apa yang akan Abigail lakukan untuk memberikan uang itu ke desa. Setidaknya satu masalah selesai. Dan sekarang dia akan memikirkan langkah selanjutnya, masih banyak hal yang harus dia pikirkan untuk kedepan. Hidup tidak setenang yang dia kira, banyak tragedi dan lika-liku yang akan dia hadapi di kemudian hari. "Tidak, tidak masalah tuan. Saya hanya ingin memberikan bantuan ini kepada bapak. Sekalian saya juga ingin mengatakan jika saya ingin mengajak dua anak dari desa ini untuk saya jadikan murid. Apakah boleh?" Satu taktik yang di lakukan oleh Abigail. Di usianya yang sekarang tentu saja dia akan kesulitan untuk keluar masuk desa dengan sesuka hatinya, karena bagaimana pun juga desa akan membatasi kepergiannya. Terang saja, saat dirinya kembali setelah satu hari menghilang bersama Frey, kepala desa langsung memanggil dan memarahinya, itulah ke apa alasan dia ada di sini. Lagi-lagi dia beruntung, jika bukan karena keberadaan Osman sekarang. Sepertinya dirinya sudah mendapat hukuman yang layak. "M-maksud tuan?" "Begini. Saya sudah terlalu lama menjadi penyendiri, melakukan. Segala hal seorang diri. Mungkin sekarang saatnya saya mencari seorang anak untuk saya angkat sebagai murid saya. Menuruni ilmu bela diri dan sihir yang saya miliki untuk mendidik mereka." Osman berhenti sejenak, rasanya lidahnya d olah kamu dan terselip saat mengatakan hal semacam ini. Sungguh. Segala hal yang paling dia benci selama ini adalah bersandiwara, sesuatu yang memaksa dirinya untuk menjadi orang lain. S umur hidup, hal ini adalah kali pertama dia berbuat demikian. Jika bukan karena keinginan Abigail. Dia tidak akan pernah Sudi. Osman melirik Abigail dengan cemas, karena ucapannya barusan membuat para tetua desa terdiam beberapa saat, salah satu dari mereka saling berhadapan, terlihat ragu dan seperti masih belum percaya dengan ucapan. Osman. Dia berdeham sejenak untuk menarik perhatian para tetua, lalu menatap salah satu tetua dengan tatapan serius. "Maaf jika seandainya kepala desa keberatan. Saya tidak akan memaksa." Dia memaksa senyum lebar tersungging di kedua sudut bibirnya. "Mungkin memang sayang tidak pantas untuk memiliki seorang murid, jadi lupakan saja permintaan saya barusan." Merendah untuk meroket. Menolak untuk mendapatkan, hal seperti ini yang dikatakan oleh Abigail sebelum mereka sampai di desa ini. Mencegah jika seandainya tetua desa benar-benar menolah permintaannya. "Pa-paman." Abigail angkat suara, sepertinya keadaan sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Osman tidak terlalu pandai bersandiwara, maka biarkan Abigail mengambil perannya saat ini. "Apakah aku tidak bisa ikut bersama paman?" Suara memelas khas anak yang masih memiliki rasa penasaran sangat tinggi. Merengek dan meminta sesuatu yang terlihat mustahil. "Aku ingin belajar ilmu beladiri agar bisa melindungi desa dari monster paman, apakah aku tidak mungkin belajar dengan paman?" Osman mengerti kemana alur sandiwara ini. Karena dia sudah berlatih sebelumnya. "Maaf, nak sepertinya kau tidak bisa menjadi anak murid ku, aku bukan orang yang baik. Kepala desa jelas mengerti hal itu, ada halnya yang lebih baik untuk dirimu di masa depan." Osman memasang senyumnya, senyum kebohongan yang tersirat keterpaksaan. "Maafkan paman, nak." Melihat hal itu. Seperti ada yang menyentuh hati para tetua, mereka terdiam beberapa saat sebelum menghela napas panjang. Sepertinya mereka bisa mempercayai pria ini, walau bagaimanapun Abigail jelas menginginkan hal itu, dan bantuan yang diberikan Osman tidaklah sedikit. Jika dia menolak bisa saja pria itu merasa sakit hati dan menganggap mereka menghina dirinya. Pertikaian jelas akan terjadi jika pria itu berpikir demikian. "Maaf jika ada perkataan yang membuat tuan tersinggung." Kepala desa kembali membuka suara. "Bukan maksud hati ingin menghina atau tidak percaya pada tuan, hanya saja kami berpikir jika anak seperti Abigail masih terlalu kecil untuk pergi ke dunia luar, kami hanya takut jika mereka merepotkan tuan nantinya." Osman Langsung menggeleng pelan. "Tidak, saya yang harusnya meminta maaf karena sudah meminta hal yang memalukan seperti ini." Osman melarikan tatapannya pada Abigail. "Anda benar, Abigail masih terlalu kecil untuk mengembara, sepertinya saya hanya terlalu egois karena berpikir sendiri tanpa memikirkan bagaimana kondisi Abigail saat di luar desa nanti." "Pa-paman." "Maaf nak...." Abigail menggeleng pelan "Tuan." Kepala desa menyela ucapan Osman. Dan saat itu juga Abigail menahan senyumnya seketika. Sepertinya kepala desa akan terpancing oleh kata-kata Osman. "Maaf sebelumya jika saya lancang." Kepala desa menjeda ucapannya. "Jika anda berjanji satu hal kepada saya, untuk menjaga anak-anaknya yang akan anda bawa dan membiarkan mereka pulang jika mereka ingin. Saya tidak keberatan. Hanya saja, sekali lagi saya minta maaf. Jika Anda ingin membawa mereka, setidaknya kita dengarkan bagaimana pendapat mereka untuk hal ini. Saya tidak bisa memaksa kehendak, jika mereka ingin pergi dan berlatih, maka saya akan mengizinkan." Rencana berjalan sangat lancar. Dengan demikian semua yang mereka rencanakan selama perjalanan kemari sesuai prediksi Abigail. Dia memang sudah menduga jika kepala desa akan berusaha menahan dan melarang mereka pergi. Hanya saja sedikit drama bisa membuat kepala desa luluh. Jika tidak seperti ini. Maka Abigail akan kesulitan untuk mengumpulkan stone yang ada. Satu-satunya jalan hanyalah kabur dari desa dengan catatan, dia tidak akan pernah diterima lagi di tempat ini. Kini Osman bisa bernapas lega, mereka berdua berjalan ke arah rumah kosong yang dijadikan tempat berlatih oleh Abigail dan Frey. Juga tempat di mana Frey menyerap kekuatan stone untuk pertama kali. Setelah drama yang cukup panjang. Akhirnya dia bisa berjalan bebas. "Akhirnya, aku benar-benar bebas." Abigail melirik sekilas pada sosok Osman yang kini tengah merentangkan tangannya, menghirup udara segar dengan bebas dan leluasa. Seolah baru terbebas dari belenggu yang mencekik dirinya. "Paman Osman memang keren!" Ujar Frey dengan senyum mengambang. "Benarkah?" "Hem! Jika tidak ada paman, kami pasti akan kesulitan memikirkan cara bagaimana memberikan semua using itu." "Haha, kau terlalu banyak memuji bocah kecil!" Jawab Osman dengan raut malu. Abigail hanya terkekeh pelan. Dia sudah memperkirakan semua ini. Dan dia yakin, berpikir bagaimana memberikan sejumlah uang kepada kepala desa adalah hal yang sudah lama dia pikirkan. Bahkan sempat terlintas dalam benaknya untuk meletakkan begitu saja uang yang dia dapat di aula desa, dengan resiko kehilangan uang itu tentu saja. Mungkin saja akan ada tangan jahil dan rasa tamak yang muncul saat melihat sejumlah uang yang banyak itu. Abigail menghindari hal itu terjadi, maka dengan memanfaatkan Osman satu urusan sudah tercapai, tinggal urusan yang lain lagi setelah ini. "Tunggu, kita akan ke mana?" Tanya Osman saat melihat sebuah rumah tua di hadapan mereka, lalu secepat itu dia menoleh kearah Abigail untuk memastikan sesuatu. "Kita hanya akan mengambil barang keperluan sebelum pergi keluar." "Apa ini rumah milik tuan?" Abigail menggeleng pelan. "Bukan, hanya rumah tua yang sudah lama tak terpakai." "Dan sekarang menjadi markas persembunyian kami berdua." Sahut Frey cepat. Benar-benar seperti anak-anak yang masih suka bermain, dia tak menyangka jika mereka akan bertingkah seperti ini. "Sudahlah dari pada penasaran, kita masuk saja." Frey berjalan lebih dulu. Diikuti Abigail lalu Osman di belakangnya. Pria besar itu sedikit membungkuk saat masih ke sebuah pintu yang cukup kecil jika dibandingkan dengan tubuhnya. Rumah tua yang berukuran sangat kecil dan sempit, bahkan kondisinya saja terbilang tidak layak untuk sebuah rumah. Lalu di mana barang yang Abigail katakan tadi. Bahkan ruangan itu terlihat sangat berantakan dan tidak ada benda yang bisa di katakan barang bawaan mereka. "Sebelah sini paman." Osman menoleh. Menatap kearah Frey yang berdiri di sebuah lemari kecil. Perlahan Osman mendekat begitu juga dengan Abigail. "Dorong lemari ini ke samping, paman." Ucap Frey setelahnya. Mendengar ucapan itu tentu saja Osman mengerutkan keningnya karena bingung, sebenarnya apa yang anak ini katakan. "Turuti saja, paman." Dia menoleh cepat, menatap Abigail yang juga menyuruh hal yang sama kepadanya. Mau tak mau Osman mengikuti ucapan sang tuan, dia bergerak maju dan mendorong lemari ke sisi kiri, dan setelahnya pancaran aura yang cukup kuat keluar dari ruangan itu. Osman baru menyadari jika di balik lemari itu ada sebuah lorong yang terhubung oleh sebuah tangga, benar-benar hal yang tak terduga. Lalu pancaran aura yang dia rasakan. Entah ke apa terasa sangat kental dan tak asing baginya. "Ini adalah ruangan tempat kami berlatih." Frey mulai menjelaskan sembari melangkah masuk, tubuh mereka ya g kecil tentu saja memudahkan mereka berjalan. Sedangkan Osman harus merangkak agar dia bisa masuk kedalam ruangan itu. Sungguh sesuatu yang membutuhkan kesabaran, jika tidak mungkin kepalanya akan tertantuk atap lorong. "Paman sudah merasakan sendiri bagaimana kekuatan kami. Jika tidak menggunakan tempat ini, pasti seluruh desa akan geger karena ledakan kekuatan itu." Jelas Frey, anak itu berjalan lebih dulu dan sampai lebih dulu sembari menunggu Osman benar-benar turun. Setelah sampai, Osman berdiri dengan perlahan, dia takut jika tubuhnya akan menatap langit-langit, hanya hanya tidak seperti yang dia perkirakan. Ruangan itu lebih besar dari ruangan yang ada di t Atas, bahkan dua kali lebih besar dari yang dia kira. "Di tempat ini paman bisa melatih energi dalam diri paman tanpa perlu takut. Dan kita akan di sini untuk beberapa hari kedepan, aku ingin paman benar-benar melatih kekuatan paman sebelum kita pergi." Ujar Abigail. Dia berucap tanpa menatap Osman dan masih menatap kosong sesuatu yang ada di hadapannya. "Frey, mulailah berlatih. Aku akan mengawasi mu, dan paman ikuti saja apa yang Frey lakukan. Fokuskan energi dalam diri paman pada satu titik dan coba kembangkan, aku ingin. Melihat bagaimana paman mengembangkan kekuatan dalam diri paman." Dan lagi dia ingin melihat. Abigail ingin melihat. Jika mereka berlatih dan mampu mengembangkan energi dalam diri mereka, apakah itu akan berpengaruh untuk dirinya sendiri seperti yang sistem katakan tadi. Jika benar adanya, maka Abigail akan memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin. Terlebih karena segel sumpah setia itu, mereka berdua tentu tidak akan mengkhianati dirinya. Dan Abigail akan lebih leluasa untuk memberikan kekuatan pada dua orang itu Frey sudah mulai memfokuskan kekuatannya pada satu titik. Lalu di susul Osman, pria itu mengikuti instruksi dan cara Frey berlatih tenaga dalam. Sepertinya hal yang mudah untuk dia lakukan. Berbeda saat Abigail harus membantu Frey untuk menyerap kekuatan stone pertama kali. Hanya saja. Apakah karena Osman belum menyerap kekuatan stone. Makanya dia bisa dengan mudah mengikuti pelatihan tenaga dalam yang dilakukan oleh Frey? Sepertinya Abigail harus segera mendapatkan stone untuk membuktikannya sendiri, hanya saja sebelum itu dia harus benar-benar memastikan Frey dan juga Osman sudah bisa mengendalikan kekuatannya. Jika tidak, mereka hanya akan menjadi beban untuk dirinya. Beberapa jam berlalu dan Frey sudah mulai menunjukkan hasil latihannya. Ledakan kekuatan itu dia rasakan sebentar lagi. Lalu status yang terpantau di layar menunjukkan peningkatan pesat pada Frey. Dan dampaknya, dia dapat merasakan sebagian kekuatan meluap dalam dirinya. Tak lama setelahnya, gelombang ledakan kekuatan itu akan datang pada Osman, pria itu sepertinya sudah mulai terbiasa dengan kekuatan yang baru saja dia dapat. Bahkan ledakan kekuatan untuk pertama kali itu lebih besar dari milik Frey. Sungguh kekuatan yang luar biasa. Dan Abigail bisa merasakan energi mengalir dalam dirinya, sungguh sesuatu yang luar biasa. Inilah keuntungan yang sebenarnya dalam sebuah ikatan yang benar-benar tak dia duga. Jika seperti ini. Maka mereka bertiga saja sudah cukup untuk mengumpulkan stone yang ada. "Bagiamana, paman?" Frey tersenyum saat melihat Osman membuka matanya perlahan. Pria itu terlihat terkejut dengan apa yang sudah dia dapatkan. Dia menggerakkan tangannya lalu mengepal jari-jari tangan itu. Merasakan tiap aliran kekuatan yang me.galir dalam darah ya. "Luar biasa." Ucap Osman sembari menggerakkan tangannya. Pergerakan yang sangat ringan, dan dia merasa kecepatan dirinya bertambah dua kali lipat dari sebelumnya. Abigail tersenyum tipis. "Coba saja paman." "Tuan yakin?" "Tidak masalah." Karena Abigail percaya jika barel pelindung yang dia pasang tidak akan bisa dihancurkan dengan mudah. Teknik yang dia gunakan bukanlah teknik perlindungan biasa. Melainkan teknik kuno yang masih dia ingat dari kehidupan sebelumnya. Osman mengangguk pelan, lalu beranjak berdiri, dia mengangkat tangannya memfokuskan kekuatan di telapak tangannya, lalu setelahnya dia melepaskan kekuatan itu hingga menyebabkan sebuah ledakan yang cukup besar. Osman memandangi tangannya, ini sungguh kekuatan yang sangat luar biasa, dia tak menyangka jika dirinya memiliki kekuatan yang luar biasa ini. Dia menoleh pelan kearah Abigail menatap anak itu dengan tatapan penuh tanya, sedangkan Abigail hanya tersenyum di tempatnya. Osman belum puas sampai di situ saja. Dia ingin memastikan sesuatu yang sejak tadi membuat dirinya penasaran. Selama ini selama pengalaman bertarung dan berburu, dia selalu lemah soal kecepatan, tapi saat ini entah kenapa pergerakan tangannya sangat ringan dan Osman ingin segera memastikannya. Dia mengambil kuda-kuda, lalu segera berlari. Melompat pada dinding. Dan melompat lagi ke sisi yang lain, begitu seterusnya hingga dia benar-benar puas. Osman berhenti, dengan napas tersengal dia menoleh. Menatap Abigail yang sudah memberi dirinya kekuatan yang luar biasa ini. Tidak salah memang mengikuti pria kecil ini, sejuta kemampuan dan pengalamannya tidak bisa dianggap remeh. Bukankah ini sesuatu keberuntungan untuk dirinya? Yah, inilah keberuntungan yang dia dapatkan sekarang. Dengan kekuatan ini dia bisa berbuat apapun yang selama ini belum sempat dia lakukan. Bukan hanya Osman. Abigail juga merasa puas dengan kemauan yang pria itu tunjukkan, pengalaman bertarung dan teknik yang dia miliki tentu saja sangat jauh berbeda dengan Frey yang masih anak-anak, tapi tidak masalah dia yakin Osman bisa menjadi guru yang baik untuk Frey. Abigail benar-benar puas dengan teknik dan kekuatan diperlihatkan Osman, apalagi saat bertarung melawannya, hal itu membuat dia yakin jika Osman adalah pria yang tepat untuk menjadi seseorang yang bisa dia andalkan, apalagi kekuatan pria itu. Walau belum menyentuh kekuatan stone, tapi dia sudah bisa mencapai energi tingkat dua, jika tidak gigih kekuatan itu tidak akan bisa dia miliki. Setelah ini, Abigail akan benar-benar memberikan kekuatan buang Osman dan Frey butuhkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD