sebuah kepercayaan

2932 Words
beginning after end 13 "Oh ayolah! kau bisa makan dengan tenang, kan?" Sonya mendengkus kasar saat melihat cara makan Osman yang terlihat buru-buru dan kasar, dia bahkan hampir hilang selera makan saat pria itu menunjukkan sisi yang kurang sopan saat makan. Terlebih saat melihat daging panggang yang ada di piringnya saat ini, dia sama sekali tidak menyangka jika dirinya akan terjebak dalam situasi ini, situsi di mana dirinya harus melayani setia seorang anak kecil, yang entah tujuan melakukan semua ini untuk apa. "Memang kenapa? Kau makan saja makananmu tak usah mengusik cara jalanku." "Masalahnya cara mu makan membuat selera makan ku rusak!" "Rusak tinggal perbaiki saja. Kenapa harus dipersulit?" Ucap Osman tanpa rasa bersalah sedikit pun, bahkan dia kembali memakan daging beruang itu dengan lahap, seolah tidak ada hari untuk esok. Sungguh menjijikkan. Sonya membanting piringnya, laku meraih tingkat sihir dan akan menyerang Osman saat itu juga, hanya saja pria bertubuh besar itu terlihat sangat santai menghadapi wanita yang hampir membunuhnya beberapa saat yang lalu. "Kenapa?" Tanya Osman, berusaha menelan makanan di dalam mulutnya. "Mau mencoba kekuatan?" Tanya pria itu lagi. Sonya menggenggam erat tongkat sihirnya, dia bisa saja meledakkan kepala pria itu, hanya saja baru dia mengeluarkan aura dalam dirinya. Abigail tiba-tiba datang dan duduk tepat di sebelahnya. Dia duduk dan makan dengan tenang, seolah tak pernah memperdulikan keributan yang terjadi. "Makan saja dengan tenang, urus hidup masing-masing. Jangan terlalu peduli dengan apa yang mereka perbuat, karena kau hanya akan lelah tanpa mereka peduli." Ujar Abigail sembari melahap makanannya dengan tenang. Sonya mendesis tajam, melirik kearah Abigail dengan tatapan tak suka. membantah ucapan Abigail sama saja bunuh diri, dasar segel sialan! Mereka diam setelahnya, Abigail yang sibuk menikmati makanannya, dan Sonya yang berusaha menelan daging yang tidak dia sukai itu. "Lumayan bukan?" Tanya Abigail sembari menoleh. "Hem!" Sonya mendengkus lalu beranjak setelah menghabiskan dagingnya, dan meletakkan begitu saja piring kotor dan langsung beristirahat di tempat yang sudah dia siapkan sebelum ini. Melihat itu Abigail hanya menggeleng pelan, lalu melanjutkan makannya dengan tenang. "Tuan." Dia mendongak sebentar saat Osman mendekat kearahnya lalu duduk di sebelahnya. "Kenapa?" "Ad sesuatu yang ingin aku tanyakan." "Katakan saja." Osman sedikit terdiam, ada hal yang memang sejak awal mengganggu hatinya, hanya saja dia tidak tahu bagaimana mengatakannya. "Maaf kalau seandainya pertanyaanku ini terkesan lancang. Aku hanya penasaran, kenapa tuan memberikan kekuatan sebesar ini kepada ku orang yang sejatinya baru anda kenal, dan kenapa juga anda menerima orang lain yang jelas-jelas mereka adalah musuh?" Osman menjeda kalimatnya. "Maaf, tapi apa sebenarnya tujuan tuan?" Yah Abigail bisa menebak jika pertanyaan seperti ini akan dia dapat ya secepatnya, tentu saja, siapa yang tidak akan penasaran dengan semua hal yang dia lakukan, bahkan anak kecil saja bisa penasaran apalagi untuk orang tua seperti Osman. Pria itu jelas memikirkan banyak hal, dan tentang apa yang sudah Abigail berikan jelas bukan hal yang sesederhana itu, karena kekuatan yang Abigail berikan benar-benar luar biasa, dia bahkan bisa bertindak semaunya dengan kekuatan itu. Hanya saja Abigail jelas yakin. Osman tidak akan melakukan hal seburuk itu, walau dia mantan penjahat sekalipun tapi Osman selaku memegang kata-katanya. Abigail terkekeh pelan, dia tidak ingin menjawab secara langsung, dia hanya meraih sebuah ranting lalu memainkan api di di perapian hingga beberapa saat. Membuat Osman terdiam seribu bahasa, sepertinya pertanyaannya sudah membuat Abigail agak tersinggung. Sebelum Abigail menghela napas pelan, laku menoleh para pria besar itu. "Satu alasan yang bisa mencakup semua alsan yang ada kenapa aku berbuat semua hak ini." Osman dengan sabar diam menunggu. "Kekuatan, dan orang-orang setia," ucap Abigail santai. "Hanya itu?" Abigail menggeleng pelan lalu berdiri di tempat. "Bukan hanya itu, aku akan berusaha mengumpulkan semua stone yang ada dan mencegah orang yang tak bertanggung jawab mendapatkan kekuatan itu." Osman terdiam, sepertinya alasan yang diberikan Abigail bukan sesuatu yang sederhana dan bisa dimengerti oleh dirinya, bahkan hal itu terkesan ambisius dan serakah, hanya saja dia yakin Abigail pasti memiliki alasan yang belum bisa dia ucapkan untuk dirinya. "Alasan kenapa dengan mudah aku memberi kalian kekuatan, bukan hanya karena aku ingin kalian kuat saja, tapi aku ingin kalian bisa membantuku." "Kenapa harus kami? Maksud ku ke apa anda tidak takut dikhianati oleh salah satu dari kami?" Osman benar-benar tak habis pikir dengan cara Abigail berpikir. Mereka baru saja bertemu dan kejadian seperti itu jelas bisa terjadi kapan saja, apakah dia tidak berpikir sejauh itu. Di khianati dan ditusuk dari belakang, hal itu benar-benar sesuatu yang menyakitkan jika diingat kembali. "Tenang saja, aku tidak sebodoh itu. Alasan kenapa aku memberi kalian segel sumpah setia, karena jika kalian berkhianat aku bisa membunuh kalian dengan mudah, bahkan hanya dengan satu kali jentikan jari aku yakin kalian semua akan mati." Ucap Abigail dengan santai, lalu berjalan meninggalkan Osman yang masih terdiam dengan tatapan tak percaya. "Kau tahu?" Abigail berhenti lalu menoleh menatap kearah Osman, aku sebenarnya bukan orang baik yang memberikan kekuatan hanya dengan cuma-cuma. Dulu aku pernah di khianati oleh seseorang yang membuatku harus berhati-hati dalam bertindak, aku tidak akan ceroboh dan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, aku akan bertindak dengan semua hal yang sudah aku pertimbangan. Contohnya mengikat kalian semua dengan segel yang tak akan hilang sebelum aku mati." Dia menyeringai, seorang anak dengan tatapan yang dingin dan begitu mengerikan. Osman bisa dengan jelas melihat tatapan kebencian di kedua bola mata itu. Bola mata yang terlihat polos tapi menyimpan sejuta hal yang menakutkan. "Jadi, jangan pernah coba-coba untuk menikamku dari belakang, ataupun mati tanpa seizin ku. Nyaman kalian sudah ada di dalam kendaliku, sejauh apapun kalian lari, aku akan dengan mudah menjangkau kalian!" Ucapnya lalu berlalu. Walau Abigail yakin, di tempat itu bukan hanya Osman saja yang mendengar percakapannya, tapi ada sosok lain yang juga mendengar percakapan mereka, bersembunyi di balik pepohonan dengan beribu pertanyaan yang tersimpan di benaknya. "Ah iya, aku hampir saja melupakan sesuatu." Abigail menoleh lalu menatap Osman dengan seringai di wajahnya. Dia mengeluarkan site atribut cahaya dari dalam ruang penyimpanannya dan melempar begitu saja kearah Osman. "Berikan itu pada Sonya, katakan itu hadiah untuk dirinya dan segera mungkin serap kekuatan stone itu, sebelum kita melanjutkan perjalanan kita lusa." "Tu-tuan, apa anda yakin?" Abigail tak menjawab, dia hanya mengangkat tangan kirinya dan berlalu pergi. Benar-benar pergi dan masuk ke dalam tenda untuk beristirahat. ---- "Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan orang-orang kalian!" Bentak seorang pria dengan jubah hitam yang duduk di sebuah kursi kerjanya, dia menatap dua orang di hadapannya yang hanya bisa menunduk dalam tanpa berani mengangkat kepalanya. Di sebuah ruangan gelap, hanya cahaya bulan dan lilin yang menerangi mereka, pria berjubah hitam itu berdiri lalu menghadap keluar jendela, tatapannya tertuju pada bulan malam yang terlihat penuh malam itu, mata merah dengan wajah yang terlihat tegas dan menyeramkan membuat dua orangriang tak bisa membantah sedikit saja. "Lebih baik dari mereka sampai dapat, atau kalian yang akan menerima akibatnya!" "Baik tuan!" Pria itu mendengkus kasar lalu berlalu meninggalkan dia orang yang berdiri ketakutan tadi. Membuat dua orang itu bernapas lega karena tekanan yang dikeluarkan oleh pria berjubah hitam tadi sangat mengerikan dan membuat mereka tak bisa bernapas dengan lega. Hari ini mereka selamat, entah esok saat dirinya gagal membawa pulang empat orang yang dinyatakan hilang saat mereka berburu baru suci itu. ---- Pagi menjelang, Abigail dibangunkan oleh kerangan energi yang sangat luar biasa, dia bahkan langsung melompat dari tempatnya karena keterkejutannya. Segera saja dia meraih pakaiannya dan segera keluar setelah mengenakan pakaiannya. Dia berlari kearah ledakan energi itu. Tepat di tengah hutan tak jauh dari tempat dirinya bermalam tadi. Perlahan kakinya berhenti melangkah saat sepasang matanya menemukan Sonya tengah duduk di atas batu dengan mata terpejam. Abigail tersenyum lebar saat menyadari jika Sonya baru saja mendapatkan atribut cahaya di balik atribut kegelapan yang dia miliki. Hanya saja senyum itu hilang saat melihat tubuh wanita itu perlahan ambruk ke sisi kiri, dengan sigap Abigail berlari dan menangkap wanita itu, dan setelahnya dia melihat darah mengalir dari hidung Sonya. Sungguh, inilah yang ditakuti oleh Abigail saat memaksa Sonya melakukan tindakan gegabah ini, bodohnya dia malah memberikan stone cahaya itu pada dirinya. Padahal dia hanya ingin mengetes apakah wanita itu akan menggunakannya atau tidak. Dia tak percaya jika Sonya akan senekat ini hanya demi sebuah kekuatan. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi Abigail langsung mendudukkan Sonya kembali, setelahnya dia duduk bersila di belakang tubuh wanita itu, dan membantu seluruh aliran energi yang tengah berperang di dalam tubuhnya. Atribut kegelapan dan cahaya, adalah sebuah energi yang saling bertentangan dan itu bisa membunuh Sonya jika kekuatan itu dibiarkan begitu saja. Belum lagi atribut kegelapan yang ada di tubuh wanita ini belum dimurnikan sepenuhnya, jelas saja jika terjadi penyumbatan energi pada tubuhnya, dan wanita ini sungguh bodoh karena bertindak seceroboh ini. Abigail harus fokus, menyalurkan energiknya kedalam tubuh Sonya untuk membantunya memurnikan dan memberi sedikit energi agar dia energi itu tidak saling bersimpangan. Harus ada satu inti yang dapat mengendalikan dua atribut di dalam tubuh Sonya. Dan untuk melakukan itu bukankah hal yang mudah, Abigail harus konsentrasi penuh dalam membantu agar semua tidak terlambat. Dia mulai memfokuskan tenaga dalamnya, menyalurkan energi petir kedalam tubuh Sonya, berusaha untuk membuka penyumbatan yang membuat kekacauan ini terjadi. Semua jelas menguras tenaga, tapi Abigail tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Sonya jelas sudah berhasil menyerap tenaga itu tinggal bagaimana dirinya membantu dan mengalirkan semuanya dengan normal. Jika berhasil, maka Abigail akan mendapat seseorang yang sangat berguna untuk dirinya. "Tu-tuan!" Osman datang dengan raut khawatir, bukan hanya pria bertubuh besar itu saja. Grimu dan juga Frey ikut menyusul pria itu dan terdiam sejenak saat melihat Abigail tengah berusaha membantu Sonya. Mereka sadar akan ledakan yang terjadi tadi, dan segera datang karena takut jika sesuatu hal buruk terjadi. Sayangnya, begitu mereka sampai, mereka langsung bisa bernapas lega, hanya Grimu saja yang masih menatap takut kearah rekannya itu. "Apa yang terjadi di sini!" Ucapnya dengan suara bergetar apalagi saya melihat Sonya mulai muntah darah dia langsung benar-benar panik di tempatnya. "Tenang saja, Gal pasti setengah berusaha untuk membantu temanmu itu, kau tak perlu risau." "Kau ...." "Dengarkan saja ucapan Frey, kau cukup diam lihat saja." Osman mencegah Grimu yang akan membuat keributan dengan Frey. "Aku pernah berada di posisi itu, dan sekali lagi, Gail akan datang menyelamatkan ku." Frey berucap dengan tatapan tertuju pada Abigail yang tengah mengerahkan kemampuannya. Anak itu terlihat sungguh-sungguh bahkan sedikit kesulitan saat mencoba untuk menetralkan kekuatan dalam dirinya. Berhadapan dengan dua atribut yang berlawanan dalam satu tubuh benar-benar membuat dirinya kerepotan, jika saja dia atribut itu bersampingan mungkin Abigail tidak akan sesulit ini. "Jika kau ingin rekanmu mati, maka silahkan saja kau datang dan merusak semua perjuangan Gail untuk menyelamatkan temanmu itu." Frey terdiam lalu menoleh kearah Grimu. "Tapi kau mengancam keselamatan dari Gail, maka aku tidak akan tinggal diam." Lanjutnya lagi. "Bukan hanya Frey, tapi aku juga tidak akan tinggal diam. Nyawa akan aku pertaruhkan jika memang itu perlu untuk melindungi tuan!" Grimu benar-benar terpojok, dia tak bisa berbuat banyak, selain Frey yang sudah mendapat kekuatannya, Osman juga sudah meningkatkan kekuatannya dengan pesat, bahkan pria itu lebih kuat dari terakhir mereka bertemu. Jika berhadapan dengan dua orang itu, Grimu yakin, dia tidak akan bisa bertahan dari serangan mereka berdua. Satu-satunya jalan yang bisa dia lakukan hanya menunggu hingga anak itu selesai membantu rekannya. Hingga tak lama berlalu, ledakan kekuatan dari Sonya mulai meningkat, tekanan kuat yang terasa begitu hangat dan dingin secara tiba-tiba, suhu yang terjadi berubah-ubah seiring ledakan yang terus terjadi, hingga membuat mereka kesulitan untuk beradaptasi. Berbeda untuk Frey dan Osman, mereka berdua bisa melindungi diri mereka dengan aura yang mereka keluarkan, hanya saja untuk Grimu, pria itu hanya bisa menahan dengan susah payah karena kekuatan dalam dirinya belum sekalipun di murnikan. Dia benar-benar kesulitan untuk menghadapi tekanan dari Sonya. Kekuatan yang luar biasa, hingga membuat dirinya tak berkutik hanya karena ledakan kekuatan ini. Hingga Grimu merasakan cekalan di tangannya, dia menoleh cepat, ternyata Osman berusaha untuk melindungi dirinya dari ledakan energi ini. Grimu terdiam, dia tidak menyangka jika Osman akan berpikir demikian, bahkan menarik tubuhnya agar berlindung di belakang tubuh pria itu. Hingga ledakan energi terakhir terjadi dan membuat tekanan di sekitar semakin sesak dan dingin benar-benar aura hitam yang mengerikan, bahkan membuat bahaya disekitar menggelap seketika, yang kemudian disusul ledakan energi cahaya yang membuat udara di gin tadi perlahan menghangat. Grimu sama sekali tidak mengerti kenapa tekanan udara dari rekannya bisa berubah-ubah sepertinya ini, padahal saat berlatih bersama dulu. Mereka berdua lebih dominan dengan energi gelap. Apakah Sonya mendapat kekuatan baru untuknya? Dia masih bertanya-tanya hingga saat melihat Sonya muntah darah dia benar-benar terkejut dan langsung berlari kearah rekannya itu. "Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Grimu panik, padahal Abigail sama sekali belum menarik napas dan masih merasa lelah karena energinya yang terkuras habis. "Biarkan tuan Abigail beristirahat dulu, lebih baik kau bawa Sonya kembali ke tenda dan biarkan dia beristirahat." Ucap Osman yang tiba-tiba datang dan membantu Abigail berdiri dari sana. Grimu tak banyak berkomentar dan langsung pergi membawa rekannya itu untuk beristirahat, sedangkan Osman membawa Abigail ke perapian yang ada di depan tenda. "Apa anda baik-baik saja tuan." Tanya Osman dengan raut khawatir. "Aku baik-baik saja, hanya sedikit lapar." Dia tersenyum kecil. "Bisa kau biarkan sarapan untukku?" "Tentu tuan." Osman berlalu meninggalkan Abigail setelahnya. Tak lama berselang Frey duduk dengan menghembus napas panjang di sebelah pria itu. "Apa yang kau pikirkan?" "Hanya membantu menyelamatkan nyawa." "Bahkan orang yang baru pertama kau kenal?" "Tentu saja, dia rekanku, sama seperti mu dan juga Osman, kalian terikat denganku dan sebisa mungkin aku akan menyelamatkan kalian walau seperti apapun kondisinya." "Aku tahu, hanya saja, kita baru mengenal mereka, dan kau sudah berbuat banyak pada mereka?" Sebenarnya Frey agak keberatan saat Abigail berusaha menarik mereka untuk bergabung bersama kelompok. Apalagi saat mengingat bagaimana wanita itu hampir membunuhnya hari kemarin, dendam dan sakit hati itu masih dia rasakan. "Bahkan untuk mereka yang hampir membunuhku?" "Semua orang tentu pernah membuat kesalahan, kau tidak bisa menghujat satu orang hanya karena kesalahan masa lalunya lihat sisi baik dari apa yang dia lakukan." Sebenarnya Abigail tidak pernah mau berdebat tentang ini, hanya saja dia harus sedikit membuat saudaranya ini mengerti. "Berkatnya kau sudah mendapat kekuatan sejatinya, hanya tinggal mengembangkan itu dan kau sudah menjadi sangat kuat sekarang." "Apa gunanya kekuatan jika kau malah memelihara duri di dalam dagingnya!" Sungguh, seperti Frey belum mengerti cara berpikir dirinya. Dia hanya tersenyum kecil sembari terkekeh. "Kau tahu? Orang baik tidak selamanya mereka baik ada satu sisi di mana mereka akan terlihat busuk dan munafik, di depan kita mereka baik belum tentu di belakang kita mereka semua baik." Abigail menjeda kalimatnya. Dia melirik saudaranya barang sejenak. "Begitu juga sebaliknya, ke apa aku lebih peduli kepada mereka yang memiliki sisi jahat dan pernah berbuat jahat. Karen di satu sisi aku yakin, mereka berbuat jahat karena mereka memiliki alasan sediri. Mereka tidak akan pernah berbuat jahat tanpa sebuah alasan yang pasti." Abigail menghela napas pelan, pengalaman yang pernah dia dapatkan sebelumnya tentu membuat dirinya mengerti, sebagian banyak orang selalu memiliki topeng mereka sendiri-sendiri, topeng baik untuk menutup kejahatannya, dan ada pula topeng jahat hanya untuk menutupi sisi lemah mereka. Semua orang jelas memiliki alasan mereka masing-masing. Begitupun Abigail sekarang dia melakukan semua ini karena dia memiliki alasan tersendiri. Dia harus lebih berhati-hati lagi mulai sekarang, jika tidak. Kejadian yang dulu mungkin akan terulang lagi. "Dan alasan ke apa aku menerima mereka dan mempercayai mereka." Abigail menunjuk simbol sumpah setia di pergelangan tangan Frey. "Karena kian bagian dari diriku, kalian tidak akan bisa menikam ku, dan kalian juga tidak akan bisa menyerang satu sama lain. Karena bagaimanapun juga kalian ada satu keluarga yang terikat simbol setia dengan ku. Apa yang terjadi pada kalian adalah tanggung jawab untukku!" Frey Terdiam seketika, dia tak pernah berpikir jika Abigail akan memiliki pemikiran seperti itu seorang anak yang sudah berpikir jauh kedepan dan memiliki ucapan yang membuat dirinya tak bisa berkata-kata lagi. Bukan hanya Frey, di sisi lain, Grimu yang baru saja luar dari tenda untuk mengambil air pun di buat bungkam oleh percakapan Abigail. Semua perkataan dari anak itu benar-benar membuat dirinya tak bisa berkutik di tempatnya. Hingga kedatangan Osman membuat pria itu sedikit tersentak. Osman tersenyum sembari membawa hidangan untuk Abigail. "Alasan kenapa aku memilih setia pada anak kecil itu. Kau tahu tubuhnya memang seorang anak-anak, tapi jauh di dalam hati dia adalah orang yang selama ini aku cari. Dia adalah orang yang tidak akan pernah meninggalkan orang-orang yang dia anggap sebagai rekan." Setelahnya Osman berlalu sembari menepuk pundak Grimu dengan senyum yang mengembang. Meninggalkan pria yang masih bimbang dengan pikirannya sendiri, dia tidak yakin jika dirinya akan mengabdi pada seorang anak itu hanya saja, simbol di pergelangan tangannya sama sekali tidak bisa dia abaikan begitu saja. Dengan adanya simbol itu, dirinya sudah benar-benar terikat dengan anak itu dan hanya kematian dari anak itulah yang bisa melepaskan dirinya dari belenggu itu. Membunuh anak itu? Sedangkan dirinya saja tidak bisa menyentuh anak itu, bukankah ini benar-benar tindakan yang konyol? Ah entahlah, Grimu dibuat pusing hanya karena memikirkan hal ini saja, dia beranjak lalu untuk mengambilkan air minum untuk rekannya, wanita yang baru saja diselamatkan oleh Abigail, bahkan anak itu juga membantu rekannya dalam pelatihan tenaga dalam. Jika bukan Abigail jelas hal itu tidak akan pernah terjadi, bahkan saat dirinya di dalam organisasi pun, mereka berdua hanya berlatih sendiri tanpa bantuan orang lain. Itulah kenapa mereka mereka memiliki atribut yang sama, karena mereka hanya mengerti tentang kekuatan kegelapan, dan berusaha untuk mendapatkan kekuatan mereka tanpa bantuan orang lain. Sedangkan yang dilakukan Abigail, malah membuat dirinya benar-benar tidak percaya dan bimbang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD