kembali ke kota.

1739 Words
14. Kembali ke kota. "Baiklah, semuanya aku harap kalian sudah bersiap, karena kita akan pergi setelah ini." Abigail sudah menyelesaikan semuanya, stone yang dia cari sudah dia dapatkan, dan sekarang tinggal pergi ke tempat selanjutnya. Namun sebelum itu, dia ingin kembali ke kota, tempat di mana dia pernah berdiri di puncak. Yah setidaknya itu sudah beberapa waktu lalu. Atau itu jauh berada di masa depan, entahlah Abigail merasa bingung dengan itu. Karena sekarang dia berada di masa saat di mana dia masih sebagai anak kecil. Terlahir kembali setelah kematian, benar-benar membuat dia merasa bingung. Udara dan suara kicau burung terdengar saling bertaut. Menambah keramaian di pagi yang cerah ini. Sejenak Abigail menguap dan merentangkan tangannya. Dia masih merasa lelah dan ngantuk. Wajar saja fisiknya saat ini yang masih anak-anak sangat berbeda seperti dia yang dulu. "Tuan, apa kita perlu sarapan untuk pagi ini?" Osman yang sudah membereskan persiapan segera menghampirinya. Abigail segera menoleh, lalu menimbang-nimbang untuk sesaat. "Yah. Sepertinya kita akan sarapan sebelum pergi." Lalu dia melihat sekeliling dan mengerut kening, karena dari apa yang dia lihat, hanya ada Frey di sana. Sedangkan Grimu dan juga Sonya entah di mana. "Di mana yang lain?" Osman mengedarkan pandangannya sejenak sebelum menjawab. "Entahlah, tuan. Tadi aku melihat wanita itu pergi ke arah sungai, tapi entah di mana pria bodoh satunya." Abigail berdecak pelan. Lalu menggeleng kepalanya sejenak. "Sudahlah abaikan mereka. Jika mereka tidak butuh sarapan makan biarkan saja." "Baiklah." Abigail mengangguk, lalu segera beranjak, semua perkemahan sudah di rapihkan oleh Osman, hanya perapian yang tersisa. Setelah mengatakan itu, Osman segera bergegas untuk mengambil ikan sisa malam tadi dan segera membersihkannya, lalu memanggang di sisi perapian. "Apa yang kamu lakukan?" Abigail duduk di sebelah Frey. Sembari menunggu ikan matan, dia memilih untuk membuka obrolan kali ini. "Tidak ada...." Abigail mengangguk, wajar baginya juga Frey akan sangat jarang membuka suara, karena dia memang memiliki sikap yang seperti itu. "Gail...." "Hem...?" Abigail mengangkat wajahnya. "Apa kamu benar-benar ingin pergi ke kota?" "Tentu saja. Apa ada yang salah dengan itu?" Frey menggeleng pelan, terlihat ada sesuatu buang di sembunyikan di sana, tapi Abigail tidak akan memaksa pria itu untuk mengatakannya. "Jujur saja, tuan. Aku sudah sangat lama tidak kembali ke kota...." Osman tiba-tiba saja membuka suara, membuat Abigail merasa tertarik dengan itu. "Oh ya... Kenapa?" "Lama sebelum aku meninggalkan kota, aku adalah seorang berandalan yang merampok untuk bisa tetap hidup, tapi ketika sesuatu hal buruk itu menjadi kebiasaan. Aku mulai menjadi gila, dan semakin gila dalam merampok, hingga akhirnya aku menjadi buronan kota, yang membuatku memilih untuk kabur." Dia terkekeh sejenak saat menceritakan masa lalunya itu. "Dan tuan tahu.... Ketika aku kabur. Aku malah bergabung dengan bandit, dan menjadi penjahat yang ditakuti banyak orang." Mendengar itu Abigail hanya berekspresi biasa saja. Bahkan dia terkekeh pelan di sana. Menganggap apa yang diceritakan oleh Osman hanyalah cerita masa lalu yang bisa saja semua orang mengalaminya. Semua orang memiliki jalan masing-masing, tapi terkadang orang-orang juga memiliki niat untuk berubah di saat mereka memiliki kesempatan untuk melakukan itu. Dan Abigail percaya, orang-orang seperti mereka adalah orang yang berkata jujur dengan pengalaman hidup masing-masing. Jujur saja, Osman adalah orang yang tidak pernah ditemui oleh Abigail di masa depan. Tapi Frey, Sonya dan Grimu, adalah orang yang pernah dia temui, dan mereka bertiga adalah orang-orang yang setia kepadanya. Itulah kenapa dia memilih untuk mengambil mereka kembali dan menjadikan bawahannya. "Aku hanyalah penjahat kecil yang berusaha bertahan di tengah-tengah kejamnya kota, mereka tidak berpikir bagaimana kamu bertahan, tapi selalu menghujat kami dan menganggap kamu jahat." Osman tertawa kecil setelahnya. "namun itulah yang terjadi, mereka yang memiliki kekayaan akan selalu merasa dirinya diatas dan tidak peduli dengan kami yang di bawah." "Bandit...." Abigail bergumam pelan, lalu melirik nke arah Frey sejenak, melihat pria itu yang terlihat biasa saja ketika mendengar cerita dari Osman. Tentu saja, karena Frey juga salah satu pria yang memiliki masa lalu yang kelam. Dan Abigail tentu tidak akan membocorkan hal itu. "Kamu tahu .... Semua orang memiliki takdir dan jalan hidup mereka masing-masing. Jadi masa lalu bukanlah sebuah patokan untuk menilai seseorang." "Tapi tidak semua orang memiliki pemikiran seperti anda, tuan." Yah, memang, karena sejatinya Manus memiliki pemikiran dan sikap mereka masing-masing, jadi untuk menyamakan satu orang dengan orang lain tentu akan sangat sulit. "Sudahlah, jangan bahas itu. Ayo sarapan lalu kita akan bergegas." Osman menurut lalu setelahnya mereka mulai sarapan, dan tak lama setelah itu Sonya datang, hanya saja dia datang seorang diri tanpa adanya Grimu di sisinya. Setelah bersiap-siap mereka langsung bergegas untuk kembali. Sudah sekian lama Abigail tidak kembali ke kota, dan itu sedikit membuatnya gugup. Ada rasa yang tidak bisa dia tebak untuk menantikan momen ini. Yah biarlah, aku akan melihat sisi kota dari sudut pandang yang berbeda mulai sekarang. Dengan keyakinan itulah yang membuat Abigail memutus tekadnya untuk segera datang ke kota. Di ikuti ketiga rekannya barunya yang mana Grimu masih belum menunjukkan batang hidungnya sedari tadi. Namun Abigail mengabaikan pria itu. Mungkin dia masih resah dan bimbingan untuk mengikuti bdirinya atau malah berkhianat, tapi satu hal yang diyakini boleh Abigail, Grimu tetap akan berpihak kepada dirinya. Mereka menyusuri hutan dengan berjalan kaki, bertemu beberapa hewan buas dan juga beberapa monster yang tiba-tiba saja menghadang. Namun, karena kemampuan Osman dan juga Frey yang sudah meningkat dengan pesat, maka Abigail tidak perlu turun tangan untuk membereskan masalah kecil. "Ghahaha, kau lihat itu Frey! Kemampuan ku benar-benar meningkatk sekarang!" "Cih! Jangan terlalu bangga, kau hanya menghabisi beberapa mosnter saja, sedangkan sisanya aku yang membereskan!" "Tetap saja, ini adalah rekor terbaik ku." Osman berdiri di atas tumpukan para goblin di sana. Dengan jumlah 15 goblin yang dia kalahkan tentu saja itu adalah rekor terbaik untuknya. "Karena kau lemah, makanya kau tidak bisa mengalahkan mereka sebelumnya." "Gahaha, terserah apa katamu! Setidaknya aku akan lebih berguna sekarang!" Abigail hanya terkekeh pelan melihat tingkah kekanak-kanakan dari dua bawahannya itu. Yah, ini lebih baik dari pada melakukan perjalanan monoton yang hanya di isi dengan kesunyian saja. "Sudahlah, bereskan semua mayat itu dan kita lanjutkan perjalanan!" Abigail berlalu setelah mengatakan itu. Sedangkan Frey hanya membalas dengan anggukan. Dan Osman berteriak dengan semangat seperti tipikal dirinya. Tidak sampai satu hari, mereka telah sampai di gerbang pusat kota. Kota kerajaan suci. Di mana tempat Abigail tinggal di masa mendatang, seperti apa yang ada di dalam ingatannya. Namun kali ini agak sedikit berbeda dari ingatan terakhir kalinya, di merasa jika ada begitu banyak hal yang berbuah dari tempat ini. "Setelah sekian lama... Aku tidak percaya aku akan kembali..." Osman bergumam pelan, sedangkan Frey hanya mendengkus kasar ketika melihat hal itu. Sedangkan Sonya masih memilih untuk membisu sejak perjalanan mereka tadi. "Tu ... Tuan ...!" "Huh?" Kening Abigail mengernyit lalu setelahnya dia menoleh dan mendapati Grimu datang dengan tergopoh-gopoh. "Ada apa?" Tanya Abigail santai, seolah dia sudah tahu jika Grimu sejak awal memang mengikuti kelompoknya dari belakang, dan baru kali ini dia berlari untuk menyusulnya. "Itu.... Em ..." Napasnya masih terengah-engah. "Jangan tinggalkan aku, dan maaf karena aku sedikit meragukan mu." Alis Abigail langsung mengernyit, dia mengerjap pelan ketika melihat raut Grimu yang terlihat senang tegang dan tak percaya tergambar di wajahnya. "Ada apa?" "Ti... Tidak... Aku hanya berpikir, mulai saat ini aku akan mengikuti mu, seperti yang Osman dan Frey katakan." Abigail tidak tahu apa yang terlah terjadi selama mereka berpisah, tapi ketika Grimu memiliki niat tulus maka Abigail tidak akan mempermasalahkan itu. "Tentu saja, bukankah aku sudah memberimu pilihan sejak awal? Jika kamu memang ingin bergabung, maka selamat datang." Dengan senyum lebar, Abigail menyambut kedatangan Grimu. "Dan lebih baik kita bergegas sekarang sebelum gelap datang." "Baik tuan." Kehadiran mereka di gerbang utama tentu saja menimbulkan perhatian dari banyak orang, terutamanya para penduduk yang akan masuk dan juga beberapa prajurit dan juga pemburu dari serikat. Yah... Wajar saja jika mereka mendapatkan perhatian seperti itu. Karena bagaimanapun juga penampilan mereka saat ini yang terlihat compang-camping itu memperlihatkan bagaimana jelatanya mereka. "Tuan...." Osman yang mendapat perhatian seperti itu tentu saja menjadi gugup. "Apa ada yang aneh dengan wajah ku, kenapa mereka melihatku seperti melihat orang aneh?" Abigail tentu langsung terkekeh ketika mendengar pertanyaan itu dari Osman. "Tidak ada ... Mungkin mereka hanya heran saat melihat orang asing seperti kita." "Cih!" Frey yang mengetahui kebenarannya tentu langsung herdecih di sana, di susul tawa Abigail yang menggelegar. Dan itu malah membuat perhatian banyak orang tertuju kepadanya. "Seperinya kita akan pergi ke toko pakaian setelah ini, tapi sebelum itu. Kita akan ke pusat kota untuk menjual apa yang kita dapatkan." "Toko pakaian?" Tanya Osman pada Abigail yang di balas anggukan oleh anak itu. "Untuk apa tuan? Apakah tuan ingin membeli pakaian?" "Yah seperti itulah, karena kalian sudah menjadi keluarga ku. Jadi aku akan membelikan pakaian untuk kalian, yah anggap saja itu untuk merubah sedikit penampilan kalian." "Huh?" Osman yang tidak mengerti langsung mengernyitksn dahi, setelahnya dia melihat ke arah pakaian yang dia kenakan sekarang. Tidak ada yang salah dengan pakaiannya, lalu kenapa dia harus repot-repot untuk mengganti penampilan mereka. "Tapi ... Sepertinya tidak perlu, tuan. Kau tahu. Pakaian ku masih layak untuk di pakai, dan ini masih terasa nyaman...." "Tidak, tidak. Aku akan tetap membelikan pakaian untuk kalian dan setelah itu kita akan mencari tempat tinggal, mungkin sebuah rumah dengan harga murah." Lalu setelahnya Abigail menatap Frey yang mana ketika melihat tatapan darinya. Frey langsung paham akan arti tatapan itu. "Jangan libatkan aku. Aku terlalu malas berurusan dengan hal semacam itu." "Oh ayolah Frey. Apa kamu tega meninggalkan ku pergi sendiri? Apa yang akan mereka lakukan jika ada seorang anak kecil membeli sebuah tempat tinggal. Apakah mereka akan percaya?" "Bukan urusan ku!" "Frey...." Abigail tidak menyerah. Dia memberikan tatapan memohon khas anak kecil yang membuat beberapa orang yang melihat kehadiran mereka langsung terpukau di sana. "Ku mohon...." "Cek! Baiklah baiklah! Aku akan mengurusnya untukmu, tapi jangan salahkan aku apapun pilihanku nantinya." Mendengar itu Abigail langsung tersenyum di sana. "Tidak, aku tidak akan menyalahkan mu, hanya saja aku akan memesan sesuatu padamu." "Apa?" "Beli rumah di bagian selatan kota, rumah yang berada tepat di sebuah danau kecil. Jika kamu bisa mendapatkan rumah itu. Maka aku akan memberimu sesuatu." "Ck! Baiklah! Terserah kau saja." Frey pergi setelahnya dan hal itu tentu mengundang perhatian dari Osman. "Tuan... Apa tidak apa-apa mempercayakan semuanya pada Frey?" "Tidak apa. Aku percaya padanya." Abigail berlalu setelahnya. "Ayi pergi. Aku sudah lapar. Setelah membeli pakaian kita akan makan sebentar." "Yosh! Baiklah!" Sonya dan Grimu tidak berkata-kata setelah kedatangan Grimu, mereka berdua hanya saling tatap tanpa ada yang membuka suara, tapi melihat gelagat mereka, seperti ada yang di sembunyikan....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD