"Hey Frey!"
"Apa!"
"Apa yang kami pikirkan tentang seseorang yang memiliki keterampilan bayangan?"
"Apa hal semacam itu ada?"
Frey menatapku yang masih bersantai di bawah pohon rindang dengan tatapan menatap birunya langit cerah siang ini.
"Entahlah, aku juga penasaran."
Apalagi setelah kejadian di mana pria berjubah biru diselamatkan oleh sosok yang menyerupai bayangan dan mampu menembus bayangan dengan cepat, itu seperti sihir jaman kuno yang sering di gunakan oleh orang-orang jaman dulu. Dan jujur saja, aku masih penasaran dengan keterampilan itu.
Jika sihir semacam itu masih ada hingga sekarang, bukankah sihir semacam itu membutuhkan media seperti stone untuk memperkuat daya kerjanya.
Lalu apa jadinya jika ada seseorang yang mampu mengembangkan sihir semacam itu tanpa bantuan Dari stone, bukankah itu mungkin?
Jika ya, maka perbedaan itu jelas terlihat, jaman di mana aku berada di posisi raja, dan masa di mana aku kembali ke masa lalu.
Seolah ada sejarah yang berubah ketika aku bangkit kembali.
Dan aku pikir itu mungkin saja terjadi. Dan bisa saja, aku bangkit bukan di dimensi ku yang lalu, dan malah bangkit di dimensi lain. Hal semacam.itu bisa saja terjadi bukan? Apalagi aku yang sudah mati dan terlahir kembali.
"Jika memang sihir semacam itu ada, maka itu akan sangat merepotkan."
"Benar, tapi justru akan sangat menguntungkan jika kita bisa mendapatkannya."
"Apa kamu yakin? Jujur aku bahkan tidak tahu sihir seperti apa itu."
Aku terdiam sesaat dan, yah, itu wajah jika feat tidak tahu tentang banyak sihir. Karena dia baru tumbuh di generasi ini. Berbeda denganku yang nyatanya sudah pernah menguasai banyak sihir dan teknik terlarang, jadi tidak heran.
"Lupakan saja."
"Hem."
Kamu sama-sama diam setelahnya, lalu memandangi awan dan menunggu semua pekerjaan para shadow Undead selesai, dan aku juga sendang menunggu Osman menyelesaikan makanan yang dia siapkan.
Ini sudah masuk jam makan siang. Dan jujur saja aku sudah lapar karenanya.
"Em. Sepertinya aku melupakan sesuatu."
Secepat itu aku menoleh menatap Frey ketika dia berkata demikian, tentu saja, perkataannya membuatku merasa penasaran.
"Apa?"
"Tentang informasi yang aku dapatkan saat aku mencari lokasi tempat ini."
"Apa itu?"
"Info yang aku dapatkan dari padat warga. Mereka mengatakan jika di lokasi yang tak jauh dari tempat ini ada monster api yang mengganggu ketentraman mereka, bahkan sebagian dari mereka mengatakan jika monster itu bisa sewaktu-waktu datang dan menyerang mereka, lalu membakar semua desa yang dia lewati."
"Monster dengan sihir api?"
"Yah .... Kurang lebih seperti itu."
"Aku tidak pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya, tapi jika memang ada monster yang bisa menggunakan sihir. Maka bisa dipastikan jika dia memiliki stone yang sangat berguna untuk kita."
"Lalu."
"Tidak untuk sekarang." Aku tahu arah pembicaraan ini, tapi aku tidak akan seceroboh itu dan langsung mencari lokasi monster yang mungkin saja menjadi incaran para pemburu lain.
Dan mungkin. Organisasi gelap juga mengincar Monster itu. Jadi alangkah baiknya jika aku tidak tergesa-gesa sekarang.
"Apakah kamu akan membiarkan hal sepenting bini berlalu begitu saja?"
"Tidak."
"Lalu."
Aku menghela napas pelan, sepertinya Frey sangat penasaran dengan monster ini. Apakah biru karena kemampuan api yang dimiliki oleh monster tersebut. Entahlah. Jika memang iya, mungkin juga akan berguna Bagir Frey.
"Karena informasi yang belum jelas, aku pikir kita jangan terlalu gegabah untuk bergerak, cukup kumpulkan lebih banyak informasi untuk melakukan serangan."
"Em.... Baiklah, jika seperti itu. Aku akan mencarikan informasinya untukmu."
"Cih. Kenapa kalian sangat bersemangat untuk ini. Apa kalian benar-benar tidak ingin makan sebelum pergi."
"Tidak perlu. Aku bisa menemukan banyak makanan di perjalanan nanti."
"Ck! Terserah kau saja."
Dan benar saja. Tanpa menjawab, Frey langsung berlalu begitu saja.
Pria itu selalu bersemangat jika penasaran akan suatu hal. Yah, biarkan saja lah. Asal itu tidak menganggu yang lain aku tidak akan melarangnya.
Biarkan mereka bergerak sesuka hati mereka dan berkembang seperti yang diharapkan, aku tidak akan mempermasalahkan hal oti
===
Sonya
Berdiri, Aku berbalik untuk berjalan ke dalam hutan dan mulai membunuh monster. Yah setidaknya aku akan kembali dengan membawa hasil daripada tidak sama sekali.
Sementara Beruang Liar Hutan memiliki kekuatan serangan yang hebat, Aku memiliki keuntungan besar dalam kecepatan dan kemampuan manuver. Sihir angin yang aku miliki juga sangat membantu untuk meningkatkan potensi yang ada dalam diriku. Tingkat sihir yang aku dapatkan tentu saja berasal dari 50% dari stat Agility dan 50% dari skill dan mekanik yang bisa aku kembangkan seperti apa yang aku inginkan. Hanya saja Agility ku tidak tinggi, bahkan jika dibandingkan dengan Grimu, dia tentu memiliki agility yang lebih baik, tapi jika dibandingkan dengan pengalaman bertempur dari kami, tentu saja aku tidak akan kalah darinya.
Aku terus bergerak, menggunakan sihir angin untuk menghabisi semua musuh dengan mudah. Beruang liar memang memiliki dayabtahan tubuh yang sangat kuat, bahkan kulit dan bulunya mampu memberikan perlindungan kepadanya.
Namun, itu bukanlah sebuah masalah bagiku. Dengan sihir angin. Aku bisa menciptakan banyak senjata seperti yang aku inginkan. Belati, tombak, bahkan pedang sekalipun bisa aku ciptakan hanya dengan menjentikkan jari saja.
Jadi, monster seperti beruang liar bukanlah sebuah masalah.
Malah dengan banyak membunuh mereka aku bisa mendapat keuntungan yang berlimpah.
Jadi, untuk apa aku menahan diri.
Setelah membunuh beberapa beruang dan mendapatkan cukup banyak kulit serta biru, Aku akhirnya mendapatkan salah satu item yang sangat bagus, Hati Beruang Liar, sebuah item yang bisa digunakan untuk menambah stamina serta meningkatkan level pemburu, yah, ini akan sangat berguna di kemudian hari. Warnanya yang merah dan sepertinya masih berdetak kencang akan menjadi penanda seberapa mahal benda ini nsnrinya. Selain itu, Aku aku juga mendapat tulang emas dan taring Tunggal milik beruang liar, yah walau itu tidak terlalu berguna, tapi jika digabungkan dengan teknik sihir pengikat maka itu bisa menjadi senjata yang lumayan bagus, dan itu aka berguna untuk Grimu.
Setelah menyimpan semua barang yang aku dapatkan aku memilih untuk melanjutkan perjalanan.
Aku berkeliaran di hutan sendirian. Hal semacam ini memang sering aku lakukan ketika berada di dalam organisasi kegelapan, jadi aku tidak terlalu heran dan terbiasa dengan semua ini, jadi aku merasa cukup menikmatinya.
Dalam sekejap mata, lebih dari tiga jam telah berlalu. Aku telah membunuh lebih dari 300 Beruang Liar Hutan dan mengumpulkan 250 Kulit Beruang. Namun, dari sekian banyak aku melakukan perburuan, aku hanya mendapatkan satu hari beruang, sungguh di sayangkan. Padahal jika aku mendapatkan lebih banyak ktu akan sangat berguna untukku.
Lalu ketika aku melanjutkan perjalanan aku menemukan satu beruang yang terlihat berbeda dari yang lain, tampangnya benar-benar aneh dan tidak seperti beruang sebelumnya. Jadi aku tidak membuang-buang waktu lagi dan segera melakukan serangan, aku menciptakan puluhan belati yang di perkuat dan segera melesatkan setiap belati ke arah beruang itu.
Seperti biasa, tidak ada perlawanan dari para beruang liar, yang melihat bagaimana tingkat kekuatan yang aku miliki saat ini tentu mereka bukanlah apa-apa.
Serangan yang ditingkatkan dengan dua keterampilan benar-benar kuat untuk membunuh beruang ini dalam satu serangan.
Perbandingan kekuatan yang sangat berbeda ketika aku berada di dalam organisasi kegelapan, dan aku pikir, aku mengerti kenapa ketua dulu sangat membutuhkan batu suci untuk dirinya sendiri. Begitu aku mengetahui kekuatan yang ada di dalamnya, sekarang aku paham.
Jadi inilah yang dikejar oleh ketua.
Hanya saja, aku pikir tidak akan sembarang orang yang bisa menggunakan ataupun mengekstrak kekuatan dari batu suci itu. Bahkan beberapa yang aku temui, mereka tidak benar-benar menyerap semua kekuatannya.
Sejauh ini yang aku tahu hanya anak itu yang bisa melakukan semuanya dengan mudah. Lalu siapa sebenarnya anak itu. Dia benar-benar misterius dan sangat aneh.
Aku menghela napas pelan, menghilangkan semua belati yang ada dan setelahnya aku melihat Hati Beruang Liar merah cerah jatuh ke tanah, bersama dengan Kulit Beruang lainnya. Selesai!
Aku sudah mendapatkan apa yang aku perlukan, jadi sepertinya aku hanya perlu kembali sekarang.
Aku memeriksa situasi pribadi ku. Aku hanya selangkah lagi dari Level 20. Aku telah menggunakan hampir semua ramuanku, stamina ku juga sudah mulai berkurang. Bahkan ramuan pemulihan dan sihir pemulihan sudah tidak bisa aku gunakan untuk sekarang, yah itu adalah bayaran yang sesuai dengan apa yang aku dapatkan. 300 lebih beruang liar, siapa yang berpikir bisa membunuh sebanyak itu. Namun, Aku mendapatkan keuntungan besar. Beruang Liar Hutan telah menjatuhkan 3 Batu Ajaib Besar dan 9 Batu Ajaib Kecil. Dengan ini setidaknya aku bisa membawa buah tangan untuk anak itu, yah walau aku berpikir untuk menjualnya, tapi aku tidak seburuk itu. Setidaknya sebagai ucapan terima kasih kepadanya.
Jika kalian berpikir aku akan luluh, maka lupakan, aku tidak benar-benar percaya kepadanya, tapi melihat bagaimana dia bekerja sampai detik ini, aku tidak akan khawatir akan hal itu.
Yang menjadi pertanyaan ku hingga sekarang adalah, apa tujuan sebenarnya dari anak itu
Cih, memikirkan hal itu hanya membuatku merasa pusing, aku tidak ingin menambah beban pikiran lagi untuk itu. Jadi luoakan saja, selama dia tidak merugikan ku maka aku akan mengikutinya.
Setelah mendapat apa yang diperlukan, aku memutuskan untuk pergi ke pemburu tua dan mengeluarkan 20 Hati Beruang Liar dari tas ku untuk diserahkan. Aku berkata dengan tulus, “Pak Tua, Aku telah membawa apa yang Kamu butuhkan!”
Orang tua itu mengambil barang itu dengan bersemangat. Wajahnya menunjukkan ketertarikan yang luar bias, jadi aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Kamu benar-benar bisa diandalkan,njsdi terimalah ini sebagai hadiah."
Pria tua mengulurkan lima batu ajaib dengan ukuran yang cukup besar, itu adalah hadiah yang terlihat berlebihan, tapi aku tidak bisa menolaknya, jadi aku memutuskan untuk menerimanya.
"Terima kasih."
"Tidak, seharunya akulah yang berterimakasih."
Aku tersenyum dan mengangguk.
……
Sial! Memberi ku lima Batu Ajaib Besar sekaligus?!
Itu adalah hadiah yang cukup bagus dan bisa dikatakan adalah keuntungan untukku, jadi ini adalah pekerjaan yang sangat bagus, selain aku mendapat bahan lainnya, aku juga mendapat tambahan batu ajaib dari pria tua itu.
Aku melihat lima Batu Ajaib Besar yang tergeletak di tas Aku. Kualitasnya bervariasi dari 80 hingga 100. Mereka bisa dijual dengan harga sekitar satu emas!
Orang tua itu gemetar saat dia memegang Hati Beruang Liar dan membuat permintaan lain. “hey anak muda, apakah kamu mau membantuku sekali lagi?"
Aku mengerutkan kening dan bertanya.
"Apa itu?"
"Saat ini aku juga membutuhkan Jahe Segar!”
Aku terkejut. “Jahe segar?”
“Ya, itu adalah bagian dari resepnya.”
“lalu di mana aku bisa mendapatkan Jahe Segar?”
Orang tua itu berpikir sejenak dan berkata, “Di hutan dua mil sebelah tenggara dari sini, seharusnya ada jahe liar. Kamu bisa mengumpulkannya di sana. Tapi sebelum itu, seperinya kamu perlu belajar cara menggunakan teknik untuk mendapatkan jahe segar.”
Saat dia berbicara, lelaki tua itu melambaikan tangannya dan cahaya biru menutupi tubuhku—
……
Tentu saja aku tidak bisa menolak. Karena ini adalah suatu hal yang akan aku butuhkan di kemudian hari kelak.
Mendapatkan skill tambahan badalah sesuatu yang sangat penting dan berguna. Salah satunya adalah cara bertahan hidup di tengah hutan, itu adalah skill pertama yang harus dipelajari oleh para pemburu, mereka harus belajar mengenal tumbuhan, bunga, dan tanaman apa saja. Yang lainnya berburu, yang memungkinkan seseorang mendapatkan daging dari hewan buruan. Itu sangat berguna.
Aku segera berjalan melewati hutan, mencoba menghindari monster kali ini. Aku tidak memiliki banyak ramuan pemulihan yang tersisa, dan jika aku bertarung dalam keadaan seperti ini, itu akan menjadi akhir dari ku. Aku tidak memiliki banyak stamina. Aku bahkan tidak bisa lari.
Sepuluh menit kemudian, aku memasuki Hundred Leaf Forest yang legendaris dan terus berjalan dengan mengendap, tujuannya adalah untuk menghindari area serangan dari kawanan Serigala Liar Level 30. Ketika Aku mendekat, Aku menemukan beberapa jahe yang tumbuh liar di hutan. Aku adalah seorang anak yang dibesarkan di desa pedesaan. Aku telah melihat jahe sebelumnya. Yang dijual di pasar adalah akar bawah tanah. Menonjol dari tanah, daun jahe tampak seperti daun bambu.
Aku berjalan ke depan dan menggunakan skill Foraging ku pada Fresh Ginger—
Jahe Segar, Bahan peringkat 4.
Aku mengumpulkan bahan yang cukup sampai akhirnya, aku mendapatkan mereka semua.
Aku segera kembali ke rute semula, dan menyerahkan tumpukan Jahe Segar kepada lelaki tua itu. Dia segera memerah dan mengeluarkan sebotol kecil garam dari sakunya. Dia akan segera menggunakan skill Memasak di tempat. Dia memasukkan potongan jahe ke dalam Wild Bear Hearts dan menaburkan garam di atasnya. Kemudian dia menyalakan api dan perlahan memanggang hati di atasnya. Tak lama kemudian, sepotong daging harum muncul di tangannya.
Orang tua itu mengeluarkan belati dan memotong daging menjadi potongan-potongan untuk dicicipi perlahan.
Aku berdiri di samping, tidak terburu-buru. Setelah beberapa saat, orang tua itu menoleh ke arah Aku dan berkata, “Kamu wanita muda yang berbakat, bahkan kamu tidak berpikir boanianh untuk mau menolongku, Aku tersentuh oleh ketulusan mu. Jadi ambilah, ini hadiahmu!”
Aku mendapat gulungan yang bagus, dan talenta yang luar biasa. Jadi ini adalah hadiah yang sesuai dengan apa yang aku kerjakan.
Jadi tidak mengapa, seperinya. Ini adalah hadiah yang setimpal dengan apa yang aku kerjakan.
"Lalu. Ambilah ini, makan sebanyak yang kamu bisaz itu akan mengembalikan stamina dan kekuatan mu." Dia mengulurkan semangkuk kecil makanan yang dia buat ke padaku.
"Baiklah..." Aku menerimanya dan makan dengan lahap, itu tidak buruk. Bahkan aku bisa merasakan stamina ku mulai pulih kembali. Ini sama dengan ramuan pemulih yang aku miliki.
Orang tua itu selesai makan dan perlahan berdiri. “Anak muda, bawa aku keluar dari Hutan Liar ini, dan aku akan sangat berterima kasih kepada mu!”
Aku mengangguk. “baiklah!”
Setidaknya itu sejalan dengan tujuan ku. Jadi tidak ada salahnya aku mengikutinya.
Dan juga, itu untuk ucapan terima kasih karena dia sudah memberikan ramuan pemulih kepadaku.
Kami bersiap-siap lalu kami mulai bergegas untuk keluar dari dalam hutan. Perjalanan masuk ke dalam memang tidak sesulit ketika keluar, tapi tetap saja di setiap oerjalan pasti akan ada hambatan yang menghalangi. Seperti contohnya para goblin dan juga orc. Walau tidak banyak, tapi aku bisa membereskan mereka semua.
Aku keluar dari hutan, dan bisa melihat kota di kejauhan. Orang tua itu tampaknya telah hidup kembali, dan tertawa gembira. “Anak muda, kamu sangat berani dan memiliki rasa keadilan. Itu bagus, dan aku harap kamu terus memegang keteguhan itu."
Keadilan.
Aku sama sekali tidak mengerti apa itu keadilan, aku hanya hidup dan tumbuh untuk bekerja, menolong. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli akan hal semac itu.
Namun sekarang, amu merasa ad sesuatu yang aneh di dalam diriku saat dia mengatakan itu.
Baik....
Hah.
Apakah aku sudah menjadi orang baik sekarang?
Setelah apa yang sudah aku lakukan sebelum.
Entah berapa banyak nyawa yang sudah melayang di tanganku, dan sekarang, orang tua ini menganggap diriku baik?
Rasanya tidak adil jika dia berkata seperti itu hanya karena satu perbuatan kecil yang sudah aku lakukan.
"Apa kamu ragu?"
Aku mengangkat wajah dan menemukan sorot tenang yang sama seperti anak kecil itu.
Lalu setelahnya dia terkekeh pelan di sana. "Jangan pedulikan hal kecil. Dengarkan apapun yang kamu pikirkan, entah itu masalalu yang kelam ataupun sesuatu yang buruk. Setiap manusia memiliki sisi yang bisa berubah, entah itu berubah menjadi lebih baik atau bahkan berubah menjadi lebih buruk. Semua ada di tanganmu, jadi lupakan apa yang pernah kamu alami sebelumnya."
Aku termenung, dia seolah mengerti apa yang aku pikirkan sekarang. Dan anehnya, aku merasa dadaku hangat hanya karena mendengar perkataan darinya.
Entah kenapa, begitu aku melihat sorot mata darinya, mengingatkan ku pada sosok Abigail. Mereka seperti orang yang sama hanya berbeda generasi. Lalu kenapa anak kecil semacam Abigail bisa memiliki pemikiran seperti itu.
Jujur aku penasaran.
Aku mengangguk pelan setelahnya, entah itu petuah yang bagus atau apapun, aku hanya menerima ucapan dan mencernanya dengan baik.
"Ingatlah, sebuah kebaikan, tentu akan di balas dengan beribu kebaikan, tapi sebaliknya, jika kamu melakukan hal buruk. Maka kamu akan mengalami masa-masa sulit selama hidupmu, tapi tentu tidak semua orang akan mengalami nasib seperti itu, tapi setidaknya mereka akan mendapatkan ganjaran sebelum mereka mendapatkan sebuah pilihan." Dia tersenyum, lalu menepuk pundak ku beberapa kali sebelum akhirnya dia berjalan mendahului ku.
……
Aku mematung dalam diam dan menunggu apa yang harus aku lakukan.
Perbuatan jahat akan di balas dengan hal buruk. Tapi apa yang terjadi padaku sangat berbanding terbalik.
Aku merasa jika aku tidak mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan, aku sudah melakukan banyak hal buruk sebelum ini, tapi alam seperinya masih berpihak kepadaku.
Lalu bagaimana nasib orang-orang yang sudah ku bunuh, apakah ini adil. Apakah ini pantas untukku.
Aku menggenggam erat tanganku, lalu dengan perasaan marah aku berlari masuk ke dalam hutan dengan kondisi yang tidak menentu
Aku mengeluarkan seluruh kemampuan ku. Pisau belati dan juga segala peralatan yang dibutuhkan, aku berusaha untuk meluapkan semuanya. Mendapatkan banyak hasil serta uang untuk menebus apa yang sudah aku perbuat selama ini.
Aku, aku akan membalikan keadaan menjadi lebih baik. Aku akan membayar semua perbuatannya buruk yang sudah aku lakukan sebelumnya.
Seperti yang diharapkan, hutan ini adalah tempat yang sesuai untuk meluapkan bkemarahan, aku bisa meledak dan melibas semua monster yang berdiri di hadapanku.
"Aarhggg!!"
Aku dengan membabi-buta menyerang semua target dan para orc yang datang. Tidak peduli jika itu orc ataupun goblin bahkan monster huas lainnya. Mereka menjadi sasaran ku.
Dalam sekejap, aku mengahbisi banyak monster yang ada di hutan ini. Bspasku terengah, dan ada begitu banyak baru ajaib yang tergeletak di atas tanah. Sejenak aku diam.
Apa...
Apa yang sebenarnya sudah kulakukan....
Aku mendongak. Menatap dedaunan yang menghalangi cahaya matahari menerjang langsung tubuh.
Suasana tiba-tiba sunyi, dan perasaan asing menyusup masuk ke dalam diriku.
Ini sangat aneh dan rasanya sangat berbeda. Aku benci suasana ini.
Segera aku menggunakan sihir angin untuk melindungi tubuhku, dengan ini suara bising uang dihasilkan mampu mengisi keheningan yang ada.