anggota baru 2

2600 Words
beginning after end 11 Ledakan dari tombak bayangan itu benar-benar sangat kuat hingga membuat debu berterbangan di sekitar, tak ada yang terlihat di sana, hanya kabut debu yang menghalangi tatapannya. "Kau yakin berhasil dengan serangan mu?" Wanita itu menoleh kearah rekannya. "Apa kau bisa merasakan aura anak itu?" Pria itu menggeleng pelan. Karena nyatanya dia tidak merasakan aura itu, hanya saja ada aura lain yang tercium sangat jelas di hidungnya. "Tapi aku mencium aroma lain di sini." "Sosok lain?" "Sepertinya begitu." Mereka diam setelahnya, memperhatikan kabut debu yang belum menghilangkan di depannya. Lalu setelah perlahan kabut debu itu menghilang, dia bisa melihat sesosok anak yang tengah berjalan kearah pria besar itu. "Siapa di sana!" Wanita itu langsung membentuk tombak dengan auranya. Dan melesatkan serangan pada anak yang terbagi membopong anak es tadi. Tombak itu mel sat dengan cepat. Menerjang tubuh anak itu dengan telak, hanya saja tidak itu terpental jauh saat hampir menyentuh tubuh si anak. "A-apa yang terjadi?" Tanya wanita itu terkejut. "Apa kalian sudah selesai bermain?" Abigail membuka suara, dia meletakan tubuh Frey yang tak berdaya di atas tanah, lalu berdiri menghadap Osman, dan hanya dengan satu kibasan tangan. Dia berhasil menghilangkan belenggu yang mengikat Osman. "Tu-tuan! Maafkan aku yang terlalu lemah ini." Osman langsung berlutut di hadapan Abigail. "Tak usah dipikirin, aku tahu kau masih sangat lemah untuk mengahadapi mereka." Abigail menatap Frey yang tak berdaya di sana. "Hanya saja aku tidak menyangka jika Frey akan melakukan sejauh ini." Ada rasa bangga dalam diri Abigail saat melihat saudaranya begitu berjuang mempertahankan tempatnya dan mengukur waktu sedikit lebih lama untuk dirinya. Hanya saja dia terlalu memaksakan diri hingga membuat dirinya berada dalam bahaya. "Jaga dia sebentar, aku akan menyelesaikan masalah ini." "Ba-baik tuan." Abigail berdiri, lalu menatap dua orang berjubah hitam di sana, dari aura yang terpancar di sana dia yakin jika mereka adalah rekan dari dua orang yang sudah dia kalahkan dulu. Sepertinya mereka memang berada di dalam satu organisasi yang mencari keberadaan stone, dan sudah menggunakan stone itu untuk memperkuat mereka sendiri. "Siapa kau! Berani-beraninya mencampuri urusan kami!" Wanita itu berteriak dengan tatapan nyalang. Abigail menyeringai, dia sengaja mengeluarkan auranya untuk memancing dua orang itu. Dan benar saja. Aura yang keluar dari dalam diri ya membuat mereka waspada akan sebuah serangan. "Sudah cukup lah kalian bermain?" "Cukup? Kau bilang cukup?" Wanita itu masih saja bersikap congkak di hadapan Abigail, sungguh sesuatu yang sangat bodoh. "Bahkan aku baru saja ingin memulainya!" Dia menggunakan skillnya lagi. Menciptakan puluhan tombak dan langsung menyerang Abigail. Sayangnya, pembentukan skill dan tempo yang diperlukan untuk mempersiapkan serangan itu tergolong sangat lambat. Bahkan sebelum wanita itu menyerang, Abigail sudah bergerak sangat cepat dan menyerang wanita itu dengan pedangnya. Sayangnya. Serangan Abigail mampu ditepis oleh rekan wanita, dan membuat Abigail harus melompat mundur. "Kau cepat." "Tentu saja, aku tidak akan membiarkan bocah sepertimu berani menyentuh rekanku!" "Sungguh perilaku yang terpuji." Abigail menyeringai, lalu kembali meli.pat dan berlari kearah pria itu. Memberi serangan demi serangan dengan kecepatan yang luar biasa. Jika dalam segi kecepatan, tentu saja pria itu mampu mengimbangi pergerakan Abigail. Hanya saja beberapa kali serangan kecepatannya perlahan menurun. Sedangkan Abigail malah semakin menambah kecepatannya. "Apa stamina mu sudah terkuras habis?" Tanya Abigail saat tebasan pedangnya ditepis oleh pria itu. Dia terlihat sangat santai, padahal pria di hadapannya setengah mati menahan kekuatan dari Abigail. "Jika kau kehabisan stamina, maka berisitirahat lah!" Satu tendangan berhasil mengenai pinggangnya dan membuat pria itu terpental jauh ke depan, laku tersungkur di atas tanah dan menghantam pohon yang membuat dirinya berhenti. Wanita berjubah hitam itu terhenyak satu melihat kecepatan dari bocah yang baru saja datang itu. "Lihat ke mana kau?" Abigail tiba-tiba berada di belakang tubuh wanita itu. Dia memang senang dengan serang kejutan seperti itu. Dan membuat mereka tak bisa berkutik. Hanya saja Abigail tak ingin terburu-buru kali ini. Dia penasaran dengan sesuatu. "Ka-kau!" Wanita itu melompat mundur. Berusaha menjauh dari jangkauan Abigail, bahkan dia langsung mendekati rekannya dan melindungi pria itu dari serangan Abigail. "Kenapa? Apa kau takut?" "Jangan meremehkan kami!" "Tidak, aku tidak pernah meremehkan musuhku. Apalagi orang yang sudah membuat saudaraku terluka!" Abigail menatap kaki pria di belakang wanita itu, lalu setelahnya sebuah kilatan menyerang pria itu dengan cepat.. "Arg!" Pria itu menjerit kuat kau menatap bagian kaki yang sudah terluka itu. "Ka-kau!" Pria itu menoleh kearah Abigail. Menatap nyalang bocah yang sudah melukai kakinya. "Beraninya kau sialan!" Dia menjerit kesakitan saat kakinya terus saja mengeluarkan darah. Luka yang dihasilkan dari serangan Abigail benar-benar membuat pria itu terluka parah. Terlebih, kaki adalah titik terlemah pria itu. "Oh ayolah, itu hanya luka kecil yang ku berikan, apa kau lupa bagaimana kau melukai saudaraku, bahkan mereka tidak pernah mengganggu kalian?" "b******n!" Wanita itu menjerit marah saat rekannya mulai tak sadarkan diri, dia menggunakan sekillnya untuk menciptakan sebuah kabut kegelapan hingga membuat sekitarnya tertutup cahaya gelap yang mengerikan. Untuk orang awam seperti Osman ataupun Frey. Mungkin hal ini akan sangat mengancam, tapi untuk Abigail. Hal seperti ini sudah menjadi hal yang sangat wajar untuk dirinya. Dia sudah terbiasa dengan kondisi di mana dirinya terpojok. Dan saat seperti ini. Hanya insting yang dia gunakan. Terlebih kabut hitam ini bisa saja menyerang dirinya kapan saja. Karena sejatinya kabur hitam ini adalah jebakan yang sudah wanita itu aktifkan. Skill jebakan yang bisa membunuh siapa saja dengan mudah. Sayangnya. Abigail bisa mengatasi itu semudah menjentikkan jarinya. Dia mulai menambah kemampuan inderanya, dari rangsangan dan suara laku dari penglihatan. Dia berusaha untuk mencari titik di mana wanita itu bersembunyi. Dan satu hal yang sangat fatal di lakukan oleh wanita itu. Saat dia mengaktifkan skill jebakan, dia malah mengeluarkan skill penyembuh yang di tujukan untuk rekannya. Sungguh bodoh, dan gegabah. Dengan mengeluarkan skill seperti itu. Maka keberadaanya sangat mudah diketahui oleh Abigail. Tak perlu repot, karena Abigail hanya perlu mengeluarkan skill yang sama yang dia gunakan untuk melukai pria tadi, dia menggunakan skill yang baru saja dia dapatkan. Skill petir, dan hanya dengan melihat saja dia bisa mengaktifkan skill itu dan berhasil melukai kaki wanita sialan itu. "Jangan mencoba-coba bermain petak umpet jika kau terlalu ceroboh dalam bertindak." Abigail bergerak selayaknya bayangan. Dia dengan cepat berada dibelakang wanita itu, laku memberi tendangan pada wanita sialan itu. "Kau terlalu ceroboh dan terlalu khawatir dengan rekanmu, hingga melupakan hal penting dalam bertarung." Abigail menyeringai laku berjalan mendekat kearah wanita itu. "Jangan pernah mengalihkan pandangan mu dari lawan yang tengah kau hadapi!" Abigail bergerak cepat dan kini sudah berlutut dihadapan wanita itu. "Atau kau akan mati!" Ucapnya pelan dengan pedang yang sudah terletak di leher si wanita. Dia terkekeh pelan saat melihat wanita itu tak bisa berkutik. "Aku penasaran, apa hubungannya kau dengan seseorang yang bernama y12 dan y8." Mendengar nama rekan yang sudah mati, pria itu langsung melirik ke sisi kanannya. Menatap bocah kurang ajar yang berani-beraninya menekan dirinya. "Ka-kau!" "Tak usah terkejut, aku juga tak ingin mendengar u*****n mu." Abigail berucap dengan suara dingin. "Lebih baik katakan apa yang kau ketahui dari pada mata pedang ini menembus leher cantikmu ini." Wanita tak bisa berkutik, dia melirik kearah rekannya, si pria yang saat ini tergeletak di atas tanah dengan raut kesakitan yang begitu kentara. "Ayolah. Aku tak memiliki waktu lama untuk menunggu." Dengan tidak sabar, Abigail memajukan pedangnya hingga mata pedang itu menggores sedikit kulit leher wanita itu dan mengeluarkan darah. Dia tersenyum dan berhenti di sana. "Katakan saja, apa gue hungan mu dengan dua orang yang kusebut tadi." "Sebelum itu. Apa kau akan melepaskan kamu setelah aku menjawab semua pertanyaannya?" "Aku tidak bisa berjanji. Cukup katakan saja. Karena aku tidak sedang dalam kondisi bernegosiasi denganmu." Wanita itu terdiam, benar juga, kondisinya saat ini benar-benar tidak menguntungkan, dia terpojok dan nyawa menjadi taruhannya. Jika dia berbohong mungkin dia akan mati. Jika dia berkata jujur, jelas dia juga akan mati. "Baiklah. Aku akan memberi tawaran menarik untuk kalian, berikan saja jawaban yang bisa membuatku puas, dan aku akan mempertimbangkan nanti." "Mereka rekanmu." "Organisasi?" "Ya." "Apa kalian mengetahui tentang kekuatan stone?" "Stone?" Tanya wanita itu bingung. Abigail terdiam, apakah wanita ini tidak mengetahui kekuatan yang ada di dalam stone? Lalu kenapa dia terasa begitu familiar dan aura yang dia keluarkan terasa seperti pengguna stone? "Lupakan, apa tujuanmu ketempat ini. Dan kenapa kau menyerang saudaraku?" "Aku mencari sesuatu di tempat ini." "Apa itu?" Wanita itu terdiam, dia menatap rekannya dengan tatapan nanar, terlihat di sana pria itu hampir kehilangan banyak darah dan hampir tak bisa bergerak, dia yakin jika tak diberikan sihir penyembuh, bisa-bisa pria itu akan mati sebentar lagi. "Selamatkan rekanku dulu dan aku akan mengatakan semuaya padamu." "Kenapa aku harus melakukan itu? Bukankah sudah ku katakan kita tidak dalam posisi bernegosiasi." "Ayolah. Aku berjanji akan mengatakan semuanya. Tapi selamatkan rekanku." Abigail menatap sejenak pria itu. Lalu mengangkat tangan kirinya kearah sang pria dan memberikan aura yang bisa menyembuhkan sedikit luka pada pria itu. "Apa itu cukup?" "Setidaknya lebih baik dari pada dia mati." "Sekarang katakan. Apa tujuanmu datang ke tempat ini." "Untuk mencari batu suci." "Batu suci?" Apakah itu termasuk dengan stone? Kenapa mereka menyebut baru suci? Apakah mereka memliki kepercayaan lain pada stone? "Ya, batu yang bisa memberimu kekuatan. Memurnikan dan menguatkan sihir yang kau miliki. Bahkan bisa menambah kekuatan element pada dirimu." Dan benar saja, baru suci yang meraka maksud adalah baru stone yang ditengah Abigail kumpulkan. Seperti yang Abigail tebak, sepetinya mereka tengah mengumpulkan hal yang sama seperti dirinya. "Apa kau memiliki organisasi." "Ya." "Apa tujuan kalian sebenarnya." "Kau terlalu banyak bertanya tentang hal itu, kau tahu. Membocorkan rahasia organisasi sama saja aku mengkhianati organisasi ku sendiri!" Wanita itu melirik kearah Abigail. "Lebih baik bunuh saja aku sekarang!" Tidak, Abigail tidak bisa melakukan hal itu. Dia tidak akan membunuh tangkapan yang begitu berharga ini, dua orang dengan kekuatan yang luar biasa, apakah dia akan melepaskan mereka begitu saja. Tentu saja tidak. Abigail memiliki rencana lain untuk hal ini. Dia membuka layar sistemnya, kamu mencari sebuah skill yang beberapa saat lalu dia curi dari seorang. Sungguh, skill yang sangat menguntungkan. Dia melihat layar sistem dengan seksama dan membaca persyaratan Skill yang ada di sana. [Skill sumpah setia : dewa menggunakan sumpah setia kepada pengikutnya dengan tujuan memberi berkah, dan mendapat timbal balik yang setara. Memberikan 50% kekuatan pengikut kepada pemilik skill. Memberikan 30% kekuatan pemilik kepada pengikut.] [Syarat penggunaan skill : tidak ada] [Batas penggunaan : 20 orang] Abigail menyeringai, sepertinya dia bisa menggunakan skill ini untuk mengikat wanita yang bisa menjadi budaknya, sekarang dan kemudian hari. Bukan hanya wanita ini. Dia juga bisa mengikat rekan dari wanita ini. Jika dulu dia membiarkan dia orang berharga mati di tangan blue dragon, kini dia akan memanfaatkan dua orang ini untuk kepentingannya sendiri. "Kau tahu." Abigail menghela napas pelan. "Aku suka dengan kesetiaanmu pada organisasi itu, hanya saja. Cukup sampai di sini saja kesetiaan mu itu. Karena kau." Dia menatap wanita itu, lalu mulai mengaktifkan skill sumpah setia yang dia miliki. "Akan setia kepadaku mulai sekarang." "A ... Apa yang akan kau lakukan padaku?!" Abigail terkekeh, lalu berdiri dan melepas pedang di leher wanita itu tepat setelah gambar simbol sumpah setia itu terbentuk. Bukan hanya di bawah nya saja, melainkan di bawah pria yang saat ini masih berusaha untuk bernapas itu. "Tidak ada. Aku hanya mencoba mengambil kesetiaanmu itu dan menjadikan kalian berdua bonekaku!" "Apa maksudmu dengan Boneka?" Abigail melirik dengan seringai tipis. "Kau akan tahu setelah ini." Dan proses pun terjadi, simbol yang tergambar di atas tanah mulai mengeluarkan cahanya, lalu perlahan menghilang, dan timbul simbol sayap di pergelangan tangan tepat di nadi dua orang itu. [Sistem : ada telah berhasil melakukan ikatan pada dua orang. Melakukan sumpah setia sama saja menyerahkan hidup mereka untuk anda. Ada bisa melihat status. Kekuatan dan skill dari dua orang yang melakukan sumpah setia pada anada.] [Anda telah memiliki pengikut baru. Status kekuatan dan kenaikan level akan dikalkulasi setelah beberapa jam ikatan terjalin] Pesan sistem kembali dia dapatkan setelah melakukan ikatan pada dua orang ini. [Sonya : atribut kegelapan. Level 37. Memiliki inti stone kabut hiyam yang belum dimurnikan.] [Grimu : atribut kegelapan. Level 35. Memiliki inti stone cahaya kegelapan] Cukup lumayan, tidak ada yang mengecewakan dari kemampuan dia orang ini. Mereka memiliki skill dan inti stone yang lumayan, hanya saja mereka sama sekali belum memurnikan inti kekuatan itu. "A-apa yang kau lakukan pada kamu?!" Sonya berteriak panik. apalagi saat tubuhnya terasa terbakar dan kekuatan seolah mengalir dalam dirinya saat itu juga. Abigail terkekeh pelan, dia berjongkok tepat di hadapan wanita itu. "Kau baru saja melakukan kontak b***k dengan ku, kau sudah menjadi bonekaku sekarang. Dan apa yang kau rasakan itu adalah sebagian kekuatanku yang kau dapatkan karena melakukan kontrak ini." "Ka-kau!" Sonya menatap marah kearah Abigail. "b******n! Kau mengambil keuntungan dari kami b*****t!" "Keuntungan?" Abigail bertanya dengan tatapan dingin. "Aku malah memberi kalian keuntungan dengan kekuatan yang kalian dapatkan itu." Ucap Abigail dengan santai. "Hanya saja sekarang kalian tak bisa berbuat semau kalian, jika aku mau aku bisa menyiksa kalian dengan rasa sakit yang luar biasa. Bahkan lebih sakit dan lebih putus asa dari sebuah kematian sekalipun!" "b******n!" Abigail terkekeh pelan. Mendengar makian dari Sonya. "Berhenti lah memaki dan cobalah untuk patuh!" "Tidak sudi!" "Kau yakin?" Sonya membuang wajahnya, hal itu tentu saja membuat Abigail jengah, jika b***k yang belum mengerti posisi mereka sendiri memang terkadang suka tak terkendali. Tidak masalah. Karena mengatasi hal semacam ini cukup mudah. Abigail tinggal memberikan sedikit tekanan pada kekuatan yang ada di dalam tubuh dua orang ini. Dan .... "Argh...! Apa yang kau lakukan, b******k!" Wanita itu meremas dadanya yang terasa sesak, sakura dan bertalu sangat cepat. Belum lagi energi yang memberontak dalam dirinya begitu membuat dia tersiksa, dia tidak bisa mengontrol kekuatan di dalam dirinya, dan membuatnya tersungkur di atas tanah karena rasa sakit itu. "Masih ingin. Melawan." "Hah ... Hah ... Hah ... Breng-sek k-kau!" Abigail tersenyum kecil, sepetinya mainan barunya ini masih perlu sedikit pelajaran lagi. Dengan sedikit menambah tekanan kekuatan sudah membuat Sonya kesakitan lagi. Wanita itu kembali meremas dadanya dengan sangat kuat, seolah jantungnya bertalu tak beraturan hingga membuat napasnya sesak saat itu juga. "Ingin menurut atau masih ingin merasakan penyiksaan ini lebih lama lagi?" "Kenapa kau tak membunuhku saja!" Abigail terkekeh pelan. "Sudah ku katakan bukan, kalian berdua bisa menguntungkanku di kemudian hari. Lalu kenapa aku harus membunuh kalian jika kalian bisa berguna untukku?" "Breng-sek!" "Oh ayolah. Hentikan perlawanan ini dan mulailah paruh. Atau kau ingin melihat rekanmu mati karena rasa putus asa ini?" Abigail menggeser tubuhnya agar Sonya bisa melihat keadaan Grimu yang terlihat putus asa di sana. Rasa sakit yang dia rasakan karena kekuatan Abigail, dan juga merasa sakit pada kakinya, hal itu benar-benar membuat dia terguncang. "Menyerah atau rekanmu akan menjadi gila sebentar lagi." "Ka-" Sonya menghentikan perbuatannya. Percuma saja. Jika dia menentang dengan memaki ataupun mencerca anak ini dengan k********r, semua jelas tak berguna, karena bagaimanapun simbol di pergelangan tangannya adalah bukti nyata jika dia sudah melakukan kontrak paksa kepada anak ini. "Berubah pikiran, Hem." "Sembuhkan Grimu, dan aku akan mendengarkanmu." "Seperti permintaan mu." Abigail beranjak dari sana. Berjalan mendekat kearah Grimu dan memberikan sihir penyembuh untuk pria itu, salah satu orang yang akan menyokong kekuatannya sebentar lagi, dan orang yang akan memberikan informasi kepadanya setelah ini. Segel sumpah setia, adalah satu skill di mana dia bisa mengendalikan orang dengan sesuka hatinya, tanpa harus takut di khianati ataupun di tinggalkan. Dia bisa mengendalikan mereka dan membunuh mereka kapan saja dengan skillnya itu. Ikatan yang terjalin tak akan hilang sebelum dirinya sendiri yang mati. Bukankan permainan ini akan semakin seru. Dia bisa mengumpulkan semua stone yang ada dengan bantuan orang-orang ini. Dia juga akan mengerti tentang organisasi di balik orang-orang ini, dan dua orang yang mati terlebih dahulu saat melawan blue dragon itu. Ah ... Membayangnua saja Abigail sudah tidak sabar untuk itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD