"Kenapa ini ini mbah?! Sekarang suasana semakin tidak baik dan juga apa pun kejadian semakin tidak baik pula." Tanya Urdha dengan panik juga.
"Bos, tenang saja saat ini semuanya bisa di ataskan lagi di dalam diri memang begitu menjadi semakin mendalam juga." Ucap Abraham kepada Urdha yang saat ini memang begitu tanpa keyakinan juga bisa di lakukan begitu mendalam satu sama lainnya.
"Kalian tenang saja! Jangan banyak berbicara dan saat ini semuanya bisa di katakan lagi demi keyakinan diri satu sama lainnya. Harapan demi harapan terjadi perlahan begitu mendalam juga, sekarang tidak ada begitu berjalan sampai begitu menderita saja dan harapan begitu tanpa keyakinan saja dan harapan demi harapan terjadi telah begitu menderita juga." Ucap Mbah Parno.
Bunga itu langsung saja hilang layu begitu saja dan saat ini tidak ada lagi yang di harapkan sampai begitu saja.
Begitu saat ini berjalan begitu membaik juga, kalau sekarang bisa di lakukan begitu tanpa kejadian satu sama lainnya. Jangan berubah dan saat ini masih bisa di katakan sebagai beban saja dan harapan terus saja membuat semakin pasrah saja.
"AAARRGGGHH.... PERGIIII LAH KAU ARWAH!!!!" Teriak Mbah Parno.
Seketika suasana yang mencekam itu tiba-tiba hilang begitu saja dan saat itu entah apa yang membuat masalah terjadi satu sama lainnya begitu tanpa kejadian satu perubahan di sini juga bisa di andalkan satu sama lainnya. Saat itu Abraham sangat tercengang dan juga dia berpikir tidak ada yang lagi di lakukan saat ini.
Di dalam rumah suasana sangat begitu mengerikan entah apa yang saat itu menjadi masalah saja di dalam diri ini berjalan dengan baik pula kejadian tersebut akan begitu menjadi perubahan satu sama lainnya.
"Entah kenapa begitu mendapatkan perubahan diri, jangan sampai keyakinan satu perjalanan begitu akan berakhir dengan segalanya. Sekarang kita harus tenang dan juga jangan berpikir akan terus berjalan sampai begitu membuat penderitaan kita akan jelas selesai juga dan di sini begitu tanpa keyakinan juga." Ucap Anjani kepada Emeli.
"Nyonya apa kita harus mengunci pintu?" Tanya Bu Sri.
"Jangan! Biarkan saja bu. Sekarang tenang jangan memikirkan apa yang sudah terjadi sekarang ini semuanya bisa di andalkan sampai membuat penderitaan terjadi satu sama lainnya. Sekarang semuanya akan terus berakhir begitu saja dan setiap ada masalah berjalan begitu saja juga." Ucap Anjani kepada Bu Sri.
"Mbak, kenapa suasana ini juga bisa di lakukan begitu tanpa memikirkan kejadian telah mendapatkan begitu mendalam, sekarang setelah itu semuanya begitu berakhir dengan baik pula, perjalanan di sini bisa dianggap ketuntasan begitu tanpa kehidupan perjalanan hidup." Ucap Emeli kepada Anjani.
"Tenang saja, jangan memikirkan kejadian tersebut telah ada beberapa kejadian ini bisa di lakukan sampai membuat telah ada kehidupan juga berada di sini. Telah banyak sekali yang di harapkan begitu tanpa juga bisa di dalam diri ini juga." Ucap Anjani kepada Emeli saat ini bisa di lakukan begitu mendalam jadi bisa berjalan juga.
"Baik lah, kita pokoknya berada di dalam kamar saja saat ini pasti tidak akan ada mengganggu lagi, sekarang tidur gih. Ibu Sri juga langsung tidur dan di dalam diri ini begitu tanpa menjadi telah ada." Ucap Emeli.
"Iya sudah seperti ini begitu ada kekuatan tanpa perjalanan diri sendiri dan harapan begitu, tanpa menjadi semakin mendalam. Sekarang kita menunggu kepulangan saja." Ucap Anjani.
Akhirnya mereka tertidur dan berpikir akan berakhir esok paginya.
Di sungai itu terdengar suara jeritan yang sangat keras dan membuat dirinya semakin tidak tenang juga.
"Sekarang semua kiriman dan Arwah itu sudah terbakar beserta bunga mawar ini, Urdha sekarang kau kumpulkan abu bakaran buang ke sungai mengalir tersebut." Ucap Mbah Parno.
Urdah membuang semuanya dan tidak sadar pria tersebut seperti melihat sosok yang menyeramkan sedang melayang di sungai itu. Urdha dengan cepat berlari menuju Mbak Parno dan Abraham juga.
"Sudah, malam ini kita hanya berdoa semoga saja arwah itu tidak mengganggu kalian sekeluarga. Ayo sekarang kita pulang jangan mengkhawatirkan hal apa pun lagi." Jelas Mbah Parno kepada Abraham dan Urdha.
"Syukurlah kita cepat bertindak kalau tidak, entahlah apa yang yang terjadi kedepannya." Ucap Abraham.
Akhirnya mereka pulang dengan hati yang sangat lega dan di saat ini semuanya bisa di katakan sebagai beban terjadi semuanya berharap lebih tenang juga.
Keesokan paginya Anjani melihat wajah Emeli begitu tenang, pucat itu hilang seketika dan banyak sekali yang di harapkan tanpa memikirkan kejadian yang ada mereka seperti melihat suasana rumah begitu bercahaya kembali.
Noah yang masih belum menyadari apa yang di lakukannya sudah gagal total dan dukun di percayainya sudah kalah, saat itu lah Noah mendapatkan teror dari Arwah yang begitu membuat tidak tenang dan juga banyak sekali membuat perubahan di dalam hari-harinya.
"Berhenti!!! Jangan mengganggu aku, aku mau tenang...." Teriak Noah tidak henti-hentinya.
Dia seperti orang tidak terkontrol lagi, begitu membuat menderita bisikan dari arwah itu terus mengganggunya.
"Noahh... KAU HARUS MATI!!!!"
"Tolong!!! Ampun, aku tidak mau mati..." Noah terus berteriak.
Salah satu tetangga mendengarkan teriak itu dan melihat tingkah laku Noah sangat berbeda langsung membawa dia ke rumah sakit jiwa.
"Kenapa kalian membawa aku?! Lepaskan!!!"
"Mas Noah, kita harus berobat di sini tidak ada apa-apa apa lagi arwah." Ucap Tetangganya.
"Itu benar arwah itu ingin membunuh aku!" Teriak Noah.
Semua tetangga melihat tingkahnya sudah tidak mau menghiraukan halusinasi Noah yang di anggap sudah dalam gangguan jiwa. Padahal Noah tidak mengalami gangguan jiwa hanya memang belum siap untuk di ganggu oleh Arwah Caenas yang meminta tumbal berulang kali.
Akhirnya Keluarga Urdha kembali norma kembali dan semua teror telah hilang begitu saja tanpa mereka sadari, Emeli kembali beraktivitas normal seperti biasa tidak ada yang membuat dirinya ketakutan lagi.
"Aku sangat bersyukur apa yang selama ini kita jalani sudah berakhir." Ucap Anjani.
"Benar sayang, aku merasa tenang dan di sini telah banyak sekali yang kita jalani tetap terus berfokus dalam beribadah juga." Jelas Urdha kepada Anjani.
Perjuangan mereka berakhir dengan baik, Anjani yang di katakan sakit sudah merasa dirinya sangat sehat begitu lah semua orang termasuk Ibu Sri dan Abraham tidak pernah mendapatkan teror kembali. Mereka semuanya menjalani kehidupan dengan bahagia.