Raya meringis saat melihat pertempuran Cyber School dengan The Haunted, kemudian matanya menangkap salah satu lelaki di sana, siapalagi kalau bukan Aksa, wajahnya lebam, terdapat luka pada tepi bibirnya.
Aksa tengah memukul lawannya habis-habisan. Pupil mata Raya melebar.
"Astaga itu! Arrgh kenapa gak ada yang melerai sih?!" Gerutu Raya kesal, ia meredam emosinya.
Raya melangkah untuk pergi dengan niatan melerai, tapi segera di tahan oleh Mikaila dan juga Kirana, kedua sahabatnya itu melotot pada Raya.
"Gila ya lo Ray! Lo bisa gak cantik lagi di sana nanti, udah deh jadi penonton aja," peringat Mikaila padanya, gadis mendengus ia memutar bola matanya malas, mereka seperti tidak tau Raya saja, biasanya juga Raya yang sangat menentang keras tawuran ini.
Raya menyentakkan kedua tangannya ia melotot,"Jangan larang gue!" Sinis Raya, kemudian ia berlari menuju lokasi tawuran, hadirny Raya di sana membuahi perhatian lebih sekua murid, terlebih Aksa.
Pupil mata Aksa melebar, tidak percaya dengan gadis yang sudah berdiri dengan wajah sombongnya di sana.
Tak ingin membuang kesempatan emas, sesorang lelaki berseragam acak-acakan, dengan beberapa luka lebam di wajahnya langsung saja mengalungkan tangannya pada leher Raya dari belakang.
Kedua tangan Aksa mengepal erat, kedua rahangnya mengeras, Raksa-saudara Aksa dan juga yang lainnya tak kalah kaget, pasalnya Rino salah satu anak The Haunted telah menemukan titik kelemahan Aksa.
"Semua anak Cyber mundur kecuali Aksa atau gadis ini saya habiskan!" Ancam Rino.
Raze musuh bebuyutan Aksa itu menyeringai, urat Aksa tercetak jelas sekarang, tapi pasukan Aksa tak juga mundur mereka tetap ingin berada dan melindungi ketua mereka.
"Mundur semuanya," peringat Aksa.
Mata Raya terbuka lebar,"Aksa lo gila ya?! Gue gak papa! Jangan mundur! Lawan ah!" Pekik Raya tidak setuju.
Tapi Aksa tetap pada pendiriannya,"MUNDUR SEKARANG!"
Akibatnya, semua anak Cyber menepi, begitu juga dengan Raksa, Aroon, Saka, Zano dan juga Dzulfan.
Raya memberontak, tapi semakin ia memberontak orang itu semakin menguatkan cekikannya.
"Lo diam apa gadis itu gue cekik!" Ancam Rino.
Aksa sekarang hanya diam, semua murid Cyber juga yang lainnya ikut hening, tak ada yang berani mendekat karena perintah Aksa tadi.
Raze tertawa puas, ia mendorong tubuh Aksa hingga terbentur ke aspal, Aksa hanya diam tak melawan. Raze mulai mencengkram kerah seragam Aksa, kemudian lelaki itu menyeret Aksa hingga berlutut pada kakinya, Aksa hanya diam.
Raze terkekeh, ia mengangkat kepala Aksa hingga Aksa mendongak padanya, Raze langsung melayangkan tinju bertubi-tubi, melihat itu membuat mata Raya memerah, gadis itu menutup kedua wajahnya dengan telapak tangannya.
Aksa benar-benar tidak melawan saat itu, Raksa tak ingin diam ia ingin membantu tapi Aksa sudah memperingati untuk semuanya mundur.
Aksa hanya pasrah saja anak The Haunted ingin melakukan apa padanya, hingga bunyi mobil polisi menghentikan aksi mereka semua, anak The Haunted langsung ngacir meninggalkan lokasi, dan juga meninggalkan Aksa yang sudah terbaring dengan beberapa luka di wajahnya, baju Aksa sudah kotor bahkan celana abu-abu miliknya saja sudah sobek.
Tampaklah wajah sumringah dari Zano saat ia memperlihatkan ponselnya yang berdering, untung saja Zano mengatur bunyi deringnya persis seperti bunyi mobil polisi.
Raya akhirnya dapat bernapas lega,saat tangan kekar tersebut telah lepas dari lehernya.
Gadis itu terbatuk sejenak, kemudian mendekati Aksa, Aksa berusaha berdiri, lalu ia berjakan tertatih seraya memegang perutnya yang terasa sangat sakit.
Raya menatap Aksa cemas,"Lo ... lo---"
"Lo kenapa keras kepala banget sih? Gue bilang jangan lewat sini! Gue haran deh sebenarnya lo punya otak atau enggak? Atau lo emang sebegitu jahatnya sampe lo tega liat gue kayak gini?"
Mata Raya memerah, semua pasang mata menatap mereka berdua penuh tanda tanya.
Raya menahan tangisnya,"Kenapa lo nyalahin gue? Lo bisa aja melawan kalau lo mau!"
Aksa berdecih,"Lo pikir gue mau jadi orang bodoh yang biarin wanitanya tersakiti? Mikir bego!" Telunjuknya mendorong dahi Raya.
Gadis itu terdiam,"Wanitanya?" Kedua dahinya mengernyit.
Lelaki itu menyeringai,"Wanita Cyber! Gue udah larang lo lewat sini kenapa lo masih lewat Ray? Lo mau banget ya berantem sama gue? Lo liat kan gimana jadinya sekarang? Kepala lo terbuat dari batu ya?"
Raya hanya terdiam merasa bersalah sekarang.
Aksa menggeleng kecil,"Gak usah nangis gue jijik!" Saat mata Aksa menangkap kedua kelopak mata Raya yang mulao berair.
Kemudian tangan Aksa meraih tangan Raya,"Pulang!" Ia melangkah pergi menyeret Raya menuju motor ninja hitam miliknya.
Semua para kaum hawa meredam teriakan mereka, dan beberapa muris Cyber mulai mengabadikan moment tersebut.
"Gue bisa pulang sendiri!" Raya menyentakkan tangannya sampai pegangan Aksa terlepas.
"Lo budek ya? Gue ajak pulang ya pulang!" Bentak Aksa dengan garangnya.
"Gara lo wajah gue luka kayak gini! Apa lo gakada niatan pengen ngobatin? Jahat amat lo ya!"
Raya menegak salivanya kasar, ia melenguh,"Tapi kan--"
Tak ingin membuang waktu Aksa langsung menunggangi motornya di ikuti oleh Rani yang duduk di belakang motor Aksa.
"Lo masih kuat?"
"Gue gak lemah kayak lo!"
"Eh biasa aja dong! Emosi mulu perasaan lo!"
"Lo tuh yang buat gue emosi!"
"Dasar muka kaku!"
"Lo cabe kering!"
Dan pertengkaran itu terus saja terjadi selama perjalanan menuju rumah Raya.