Happy reading.
Arjuna menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan amarah yang membara di dalam dirinya. Ia tidak bisa percaya apa yang baru saja ia lihat. Dara, istrinya, berpelukan dengan Bobby, kekasihnya di depan toilet gedung pesta. Bahkan Bobby hampir saja mencium bibir Dara saat itu.
Ia merasa seperti diserang, seperti ada yang menusuk hatinya dengan pisau. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi ia tahu bahwa ia harus membawa Dara pergi dari sana.
Arjuna menarik Dara dengan kasar, membuat Dara mengikuti langkah kakinya dari belakang. "Aku bawa kamu ke kamar hotel," katanya, suaranya yang dingin membuat Dara merasa tidak nyaman.
Dara mencoba untuk melepaskan diri, tapi Arjuna memegangnya dengan erat. "Mas Juna, untuk apa ke kamar hotel? Bukankah lebih baik pulang ke rumah saja" Dara bertanya, suaranya yang bergetar membuat Arjuna merasa sedikit sadar.
Tapi, Arjuna tidak peduli. Ia terus menarik Dara ke arah lift, dan ketika pintu lift terbuka, ia mendorong Dara masuk. "Kamu akan tahu apa yang aku lakukan," katanya, suaranya yang dingin membuat Dara merasa tidak nyaman.
Dara merasa seperti sedang berada di dalam mimpi buruk. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam kamar hotel, tapi ia tahu bahwa harus berhati-hati ketika sampai di dalam sana. Arjuna bisa saja melakukan apapun ketika mereka berada di dalam kamar hotel, Dara bisa membayangkan semua itu detik ini juga.
"Mas Juna mau bawa aku ke dalam kamar hotel malam ini, aku harus tetap waspada."
Pintu lift terbuka, dan Arjuna menarik Dara ke dalam kamar hotel. "Kamu akan tahu apa yang aku lakukan kepada istriku di dalam sana, bukankah kita memang belum melakukan hubungan suami istri seperti yang lainnya," katanya, suaranya yang dingin membuat Dara merasa tidak nyaman.
Dara merasa seperti sedang berada di dalam perangkap, ia ingin pergi dari hotel ini dengan cepat. Namun, Arjuna lebih sigap dari biasanya.
"Siapapun tolong aku, aku ingin pergi dari hotel ini."
Arjuna melempar Dara ke atas tempat tidur, membuat Dara terjatuh dengan keras. Dara mencoba untuk bangun, tapi Arjuna sudah berdiri di atasnya, memandangnya dengan mata yang membara.
"Kamu berani-beraninya berpelukan dengan dia?" Arjuna bertanya, suaranya yang dingin membuat Dara merasa tidak nyaman.
Dara mencoba untuk menjelaskan, tapi Arjuna tidak memberinya kesempatan. "Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa," katanya, suaranya yang dingin membuat Dara merasa tidak nyaman. "Aku sudah tahu apa yang terjadi ketika kamu berada di depan toilet itu."
"Aku bisa jelaskan kepada mu, tapi tolong lepaskan aku sekarang juga."
"Melepaskan mu begitu saja malam ini, tidak Dara. Aku akan melakukan apapun malam ini untuk membuat kamu berpikir hanya aku yang berhak atas seluruh tubuh mu."
Arjuna memandangnya dengan mata yang membara, lalu tiba-tiba ia membungkuk dan mencium Dara dengan kasar. Dara mencoba untuk melepaskan diri, tapi Arjuna memegangnya dengan erat.
"Ah, sial. Kenapa Mas Juna begitu kuat menciumi ku, aku terkurung di dalam tubuh besarnya."
Ciuman Arjuna semakin kasar, membuat Dara merasa tidak nyaman. Tapi, di tengah-tengah kekacauan itu, Dara merasa ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat ia merasa bahwa Arjuna memang menginginkan nya, tubuhnya merespon apa yang dilakukan oleh Arjuna saat ini.
"Ah, Mas Juna. Lepaskan aku, aku nggak-"
"Aku nggak akan melepaskan mu malam ini, sayang. Kamu milikku seutuhnya, nggak ada yang bisa memiliki mu selain aku," bisik Arjuna.
***
Dara terbangun dengan rasa sakit dan pegal di seluruh badannya. Ia mencoba untuk bangun, tapi tubuhnya terasa lemah dan tidak bisa digerakkan. Ia memandang sekeliling kamar, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
Lalu, ia ingat. Arjuna, pesta, Bobby, dan... oh tidak.
Dara merasa malu dan takut ketika ia mengingat apa yang terjadi semalam. Ia tidak tahu apa yang Arjuna lakukan padanya, tapi ia tahu bahwa itu tidak baik.
Dara mencoba untuk bangun lagi, tapi tubuhnya masih terasa lemah. Ia memandang ke samping, dan melihat Arjuna yang masih tidur di sebelahnya. Dara merasa sedikit lega ketika ia melihat Arjuna masih tidur, karena ia tidak tahu apa yang akan ia katakan padanya.
Tiba-tiba, Arjuna membuka mata dan memandang Dara. Dara merasa jantungnya berdetak lebih cepat ketika Arjuna memandangnya dengan mata yang tajam.
"Bagaimana perasaanmu?" Arjuna bertanya, suaranya yang lembut membuat Dara merasa kembali ketakutan.
Dara mencoba untuk menjawab, tapi suaranya tidak keluar. Entah mengapa pesona Arjuna pagi begitu berbeda, wajah suaminya terlihat tampan setelah tadi malam.
"Kenapa wajah Mas Juna semakin tampan? Apa selama ini Mas Juna mempunyai bare Pace yang sangat menarik?"
"Aku akan memanggil room service untuk membawakan sarapan," Arjuna berkata, lalu bangun dari tempat tidur.
Dara memandangnya dengan mata yang lebar, seluruh tubuh Arjuna yang sangat bagus. Selama enam bulan pernikahan ia benar-benar tidak pernah melihat Arjuna tanpa sehelai baju, dan pagi ini Dara terpesona dengan keindahan tubuh Arjuna.
"Six pack, proporsional sekali tubuhnya. Selama ini aku kemana saja?" tanya Dara dalam hatinya.
"Kamu mau mandi lebih dulu? atau kita mandi bersama saja."
"No, aku bisa sendiri. Dan aku nggak perlu kamu ada di satu ruangan sama-"
Dara meringis kesakitan, bagian bawah inti miliknya terasa sakit ketika ia ingin berdiri. Dan, lebih sakit lagi ketika ia melihat ada noda merah tepat Dara duduk.
"Kenapa sesakit ini? Kenapa harus Mas Juna yang telah merenggut kesucian aku?"
"Dara? Aku minta maaf, aku telah memaksa mu untuk melayani ku tadi malam."
Arjuna mendekati Dara dan mengangkatnya dengan lembut. Dara merasa seperti sedang berada di dalam mimpi, karena Arjuna mengendong nya dengan hati-hati dan membawanya ke kamar mandi.
Dara merasa sedikit malu, karena ia tidak biasa diperlakukan seperti ini oleh Arjuna. Tapi, ia juga merasa sedikit lega, karena Arjuna tidak tampak marah atau menyakitinya.
Arjuna membawanya ke kamar mandi dan meletakkannya di atas meja. Dara memandangnya dengan mata yang lebar, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Aku akan membantu kamu mandi," Arjuna berkata, suaranya yang lembut membuat Dara merasa sedikit lega.
"Aku bisa sendiri, lebih baik kamu keluar dari kamar ini-"
Cup.
"Tenang sayang, aku nggak akan melakukan lagi di dalam kamar mandi. Nggak pagi ini, mungkin lain waktu saat kamu sudah merasa nyaman." ucap Arjuna pelan.
Dara merasa sedikit malu, karena ia tidak biasa mandi di depan Arjuna. Tapi, Arjuna hanya tersenyum dan mulai melepas baju Dara dengan hati-hati.
Setelah selesai mandi, Arjuna membalut Dara dengan handuk dan membawanya kembali ke kamar. Dara merasa seperti sedang berada di dalam mimpi, karena Arjuna memperlakukannya seperti ini.
"Aku akan membawakan kamu sarapan, dan setelah makan kita pulang ke rumah." Arjuna berkata, suaranya yang lembut membuat Dara merasa sedikit lega.