“Dia pendarahan dan aku perlu melakukan operasi kecil untuknya. Tolong siapkan semuanya di sini saja. Kau bisa memanggil mereka ke sini?” “Apa yang tidak bisa aku lakukan, kawan?” “BANYAK!” jawabnya dengan nada sinis. Rangga Admajaya menahan diri, sebaiknya dia mengalah daripada melihat Addison emosional dan menghajar habis-habisan. Rangga Admajaya mengangkat ponselnya dan menelpon seseorang. Tidak lama setelah itu, salah satu kamar yang berada patheouse tersebut di sulap menjadi kamar operasi kecil. Satu jam, waktu yang cukup lama untuk menunggu hingga Addison keluar dari kamar tersebut. “Aku rasa dia tidak akan sadarkan diri! Kau harus mengawasinya atau sewa satu perawat yang bisa di percaya untuk menjaga gadis itu.” Rangga Admajaya yang tengah termenung terkejut mendengar suara Addi

