28

629 Words

Waktu semakin bergulir dengan cepat, detik yang tersepelekan lama-lama menjadi sekumpulan waktu yang tak terasa oleh manusia. Burung-burung berkicau dengan risau, mungkin mereka ikut merasakan duka yang terlampau menyeru. Desa yang asri dengan banyak tumbuhan hijau dimana mata memandang masih seindah dulu, namun ada beberapa hal yang sudah berubah. Pagi hari yang seharusnya terlihat cerah nan damai tak lagi secantik itu, langit berwarna kehitaman muncul sebagai tanda akan ada datangnya hujan. Alam pun menangis melihat kekejaman dan keserakahan manusia, tapi belum ada rintik yang menetes. "Kak, kamu nyimpan potongan koran yang dibawa sama pengawalnya Om Troyandi?" Ara yang sedang membaca novelnya di kursi teras rumah mendongak, Aris menunjukkan wajah seriusnya. "Ya, ada apa?"

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD