Malam tiba, Grizelle duduk di meja belajarnya. Mempelajari tiap materi yang ada di buku. Merasa sudah bosan, dia mengambil lembaran kertas kosong dan mulai menggambar beberapa sketsa. Merasa tidak cocok dengan satu sketsa, Grizelle langsung mencoret-coret sketsa tersebut dan mengambil selembar kertas lagi.
Grizelle mulai menggaris perlahan tiap goresan dengan pensilnya. Merasa sudah selesai, Grizelle mengangkat selembar kertas itu tepat di depan wajahnya.
‘Wah, aku memang sangat pandai dalam hal menggambar’ batin Grizelle memuji dirinya sendiri
Grizelle bangkit dari tempat duduknya dan mulai berbaring di tempat tidur miliknya. Dia merasa bosan. Grizelle mengambil handphone miliknya dan membuka sebuah aplikasi nonton video. Grizelle membuka satu video dan setelah selesai dia mengganti ke video lainnya.
Ting!
Sebuah pesan masuk berhasil mengusik ketenangan Grizelle yang sedang menikmati menonton video. Grizelle membuka pesan tersebut.
Shella : Ay, kau sedang apa?
Grizelle : Menonton video
Shella : Sudah dengar kabar?
Grizelle : Kabar apa?
Shella : Gigi besok ulang tahun
Grizelle : Jadi?
Shella : Kita beri kejutan?
Grizelle : Hahaa boleh
Shella : Baiklah, sampai ketemu besok pagi
Grizelle : Oke
Grizelle mematikan handphonenya dan melirik jam yang berada di dinding kamarnya. Jam itu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
Grizelle menarik selimutnya dan segera menutup matanya untuk tidur.
*****
Gerald menutup pelan pintu kamarnya. Sekarang sudah pukul setengah dua belas malam dan dia baru pulang. Dia terkejut saat lampu kamarnya hidup sendiri dan menampakkan sesosok perempuan sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya didadanya.
“Belum tidur?” tanya Gerald
Perempuan itu menggeleng.
“Kenapa?” tanya Gerald
“Menurutmu kenapa? Aku menunggumu pulang” ujar perempuan itu
“Ayah dan bunda sudah tidur?” tanya Gerald
“Bunda sudah tidur dan ayah tadi siang berangkat ke luar kota untuk urusan kerja” jawab Kaila
Gerald ber-oh saja mendengar jawaban Kaila.
“Kau masih anak-anak, pergi tidur sana!” usir Gerald
“Anak-anak apanya? Aku seorang mahasiswi sekarang” ucap perempuan itu sambil mengerucutkan bibirnya tanda tak terima disebut masih anak-anak
Gerald tertawa kecil karena gemas melihat ekspresi kesal adiknya itu. Adiknya yang bernama Kaila Zeline ini memang sangat menggemaskan kalau sedang kesal.
“Kenapa kau baru pulang?” tanya Kaila
“Ada tugas kelompok” jawab Gerald
“Bohong” ucap Kaila
“Aku tidak bohong” ujar Gerald
“Aku sudah tanya tadi sama kak Gio, katanya kalian bermain game di rumah kak Vino” ucap Kaila
‘Gio sialan’ batin Gerald kesal
“Jangan dekat-dekat dengan temanku” ucap Gerald
“Kenapa?” tanya Kaila
“Mereka itu playboy, aku tidak mau kau ikutan jadi korban” jawab Gerald
Kaila memukul pundak Gerald hingga Gerald meringis kesakitan.
“Kak, kau pikir aku bodoh? Kenapa aku harus menyukai temanmu yang bodoh itu? Aku tidak akan menyukai mereka, jadi kau tenang saja” jelas Kaila
“Baiklah, kau tidak perlu memukulku” ucap Gerald
Kaila memutar bola matanya malas.
“Oh iya, kak. Kak Kiara kapan ke sini lagi?” tanya Kaila
Gerald mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.
“Oh ayolah! Kakak itu baik, jangan bersikap dingin terus padanya” ucap Kaila
Gerald diam.
Kaila menghembus nafas kasar melihat Gerald yang menjadi dingin jika sudah membicarakan tentang perempuan.
“Kakak suka laki-laki?” tanya Kaila
Mata Gerald seperti mau keluar saat mendengar pertanyaan dari adiknya itu.
“Tentu saja tidak!” seru Gerald
“Pergilah tidur! Ini sudah jam berapa dan berhenti membicarakan soal itu” sambung Gerald
“Pokoknya aku hanya mau kak Kiara yang menjadi kakak iparku. Aku tidak mau perempuan manapun” ucap Kaila dan segera berlari ke luar dari kamar Gerald
Gerald menggeleng-gelengkan kepalanya heran melihat adiknya yang sudah berpikir sejauh itu tentang dirinya dan Kiara.
*****
Matahari bersinar terang memasuki jendela kamar Grizelle yang sudah terbuka. Grizelle sudah siap untuk berangkat ke kampus.
“Loh bukannya kamu kelas siang hari ini?” tanya Natasya
“Iya ma, Ay udah ada janji sama teman Ay pagi ini” jawab Grizelle
“Emang janji apa?” tanya Natasya
“Udah ah, Ay berangkat dulu ya ma” pamit Grizelle sambil berlari
Natasya menatap kepergian Grizelle dengan pandangan khawatir.
*****
“Surprise!” seru Shella saat melihat kedatangan Gigi
Mereka sekarang berada di belakang aula kampus jurusan mereka.
“Ini apa kak?” tanya Gigi
“Kejutan ulang tahun” jawab Shella
Bukannya senang, perasaan Gigi malah tidak enak saat mendengar jawaban Shella.
“Ayo ke karaoke! Traktir kami” ajak Shella
“Pagi ini aku ada kelas kak” tolak Gigi
“Tinggal bolos saja apa susahnya sih?!” ucap Shella kesal
“Enggak kak, minggu kemarin aku udah bolos karena harus mentraktir kalian ke cafe” ucap Gigi
Mereka mendengar suara langkah kaki yang melangkah mendekati mereka. Mereka menunjukkan diri dan ternyata dua orang perempuan yang ternyata teman Gigi.
“Kau membawa teman rupanya” ujar Bintang
“Gi, kau tak apa?” tanya Yeri bersamaan dengan satu teman perempuan lain yang juga teman Gigi
Gigi menggeleng tanda dia baik-baik saja.
“Kak, nanti malam aja ya? Aku janji akan mentraktir kalian” ucap Gigi
“Tidak. Kami mau sekarang” tolak Bintang
“Tapi kak-“
“Kau mau teman-temanmu ini juga berada di posisi mu?” tanya Bintang
Gigi menggeleng.
“Kalian pergilah” ucap Gigi pada teman-temannya
Teman-temannya menggeleng.
“Kak, tolong lepaskan Gigi” ujar Yeri
“Sebenarnya Gigi salah apa sampai kalian berbuat seperti ini sama dia?” tanya Kaila, teman Gigi
“Salah dia banyak, tak usah tanyakan” jawab Shella
“Kalau begitu sebutkan salah satunya” ucap Kaila
“Kau ini berani sekali ya” ucap Bintang
“Tidak ada kan kak? Pasti Gigi tidak melakukan kesalahan apapun. Berhenti membulinya seperti ini” ucap Kaila
“Kai, udah” lerai Gigi
Tanpa mereka sadari, seorang laki-laki yang baru datang memperhatikan mereka. Laki-laki itu Gerald. Tadinya dia ingin menuju gudang yang berada di samping aula itu, tapi saat dia mendengar keributan dan mendengar suara yang sepertinya dia kenal membuat dia tertarik kearah suara itu.
Dia terus melangkah mengikuti di mana suara itu berada. Dia menghentikan langkah kakinya saat melihat beberapa orang yang sedang berkumpul.
“Hei! Jangan mentang-mentang kami diam saja, kau pikir bisa bicara seenaknya begitu pada kami?” tanya Shella kesal sambil menjambak rambut belakang Kaila
Mata Gerald membesar, dia terkejut saat melihat adiknya dijambak seperti itu.
“Kalian yang kurang kerjaan melakukan hal kayak gini” ucap Kaila
“Hei, anak kecil! Sudah dijambak pun kau masih berani bicara? Apa perlu aku menendang perutmu?” tanya Grizelle dan menghentikan aktivitasnya bermain ponsel.
Kaila tidak berani bicara lagi. Bagi Kaila, Grizelle lah yang sangat seram baginya.
“Kan bagus diam seperti itu, kenapa kau membuatku bicara sih?” tanya Grizelle kesal
Kaila dan teman-temannya menundukkan kepala mereka.
Nafas Gerald sesak karena marah, nafasnya naik turun. Saat Gerald ingin menghampiri mereka, mereka sudah berjalan pergi. Gerald mencoba menyusul mereka.
“Ger, kau ngapain di situ?” tanya Vivi
Gerald menoleh dan mendapati Vivi sedang menatapnya dengan heran. Saat melihat kembali ke arah adiknya, mereka sudah terlalu jauh.
‘Grizelle, kau benar-benar akan berurusan denganku’ batin Gerald
“Ger?” panggil Vivi lagi
“Kau sudah ambil barangnya dari gudang?” tanya Vivi
Gerald menggeleng.
“Kalau begitu, ayo kita ambil” ucap Vivi
Gerald diam, pikirannya masih soal tadi.
“Ger? Kau ada masalah? Kenapa diam saja?” tanya Vivi sambil memanggil Gerald
“Tidak. Bukan apa-apa” jawab Gerald
“Kalau begitu, ayo ambil barangnya! Semua orang di kelas pasti sudah menunggu kita” ajak Vivi
Gerald hanya melihat Vivi sambil menganggukkan kepalanya. Dan mereka pun segera menuju gudang untuk mengambil barang yang mereka butuhkan.