Kaila tiba di rumahnya malam hari dan segera menuju kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya dan menemukan Gerald sedang duduk di pojok tempat tidurnya sambil memainkan handphonenya.
“Kakak ngapain di kamarku?” tanya Kaila
“Hanya melihat-lihat” jawab Gerald dengan nada dingin
‘Kenapa nadanya dingin gitu?’ batin Kaila
“Keluarlah! Aku ingin mandi dan ganti pakaian” usir Kaila
Gerald mengangguk dan segera pergi menuju keluar kamar. Namun setelah beberapa langkah, dia berhenti.
Sadar Gerald tidak jadi keluar, Kaila kembali melihat Gerald dengan pandangan heran.
“Kenapa? Ada yang ketinggalan?” tanya Kaila
“Enggak” jawab Gerald sambil menggelengkan kepalanya
“Lalu kenapa gak jadi pergi?” tanya Kaila
“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” tanya Gerald
Kaila menyerngitkan dahinya.
“Mengatakan apa?” tanya Kaila balik
“Menceritakan sesuatu mungkin” jawab Gerald
“Soal apa?” tanya Kaila
Gerald diam.
“Kau ingin mengatakan apa sih-“
“Grizelle” potong Gerald
Mata Kaila terbuka lebar.
“Memangnya apa yang ingin aku ceritakan tentang dia?” tanya Kaila
Gerald melipat kedua tangannya didadanya.
“Aku melihatmu tadi di belakang aula bersama dengan dia dan teman-temannya serta teman-temanmu” jawab Gerald
Kaila diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
“Kalian ngapain disana?” tanya Gerald
“Apa maksudmu? Kami hanya bermain serta bercanda saja” jawab Kaila
Gerald tertawa kecil.
“Apa menjambak rambut juga salah satu permainan kalian?” tanya Gerald
Mata Kaila kembali terbuka lebar karena terkejut.
“Jangan berbohong padaku” ujar Gerald
“Siapa yang berbohong?” tanya Kaila
“Dia membulimu kan?” tanya Gerald
“Enggak kok kak, kan aku ud-“
“Kaila, jangan berbohong padaku! Dia membulimu kan?” tanya Gerald
Kaila menundukkan kepalanya dan mengangguk.
“Sejak kapan?” tanya Gerald
“Sejak tadi” jawab Kaila
“Apa? Kau yakin? Kau gak berbohong?” tanya Gerald
Kaila menggeleng.
“Mereka membuli Gigi, aku hanya mencoba membantu temanku. Tapi mereka malah membuli ku juga tadi” jelas Kaila
Gerald menghembus nafas kasar.
“Aku akan menemuinya besok” ucap Gerald sambil melangkahkan kakinya pergi dari kamar Kaila
Namun Kaila menghentikannya.
“Kau mau menemui siapa?” tanya Kaila
“Grizelle dan teman-temannya” jawab Gerald
Kaila menggeleng.
“Enggak, jangan menemuinya” ucap Kaila
“Apa maksudmu?” tanya Gerald
“Kau tahu kak Grizelle orangnya akan melakukan apapun yang dia mau, kalau kau menemuinya dia juga akan semakin menemuiku. Dia tidak suka diatur. Semakin kau mengaturnya, dia akan semakin melanggar aturan itu. Jadi, kumohon jangan temui dia” jelas Kaila
“Jadi maksudmu aku harus diam saja setelah melihat adikku dibuli di depan mataku?” tanya Gerald
“Aku akan menyelesaikan masalahku, jadi tolong kakak jangan ikut campur” jawab Kaila
“Apa? Ikut campur? Kaila, aku ini mencoba untuk menolongmu” ujar Gerald
“Pokoknya jangan ikut campur! Kau menemuinya hanya akan memperburuk suasana. Kalau kau menemuinya, aku tidak akan mau bicara lagi padamu” ucap Kaila tegas
“Padahal aku ingin membantumu, tapi kau malah mengancamku?” tanya Gerald
“Oke. Selesaikan urusanmu sendiri” sambung Gerald sambil pergi melangkahkan kakinya keluar kamar Kaila
Kaila hanya menatap kepergian kakaknya itu tanpa melakukan apapun.
*****
Grizelle tiba di kampusnya, hari ini dia kembali masuk kelas siang. Shella dan Bintang tidak datang karena mereka kosong hari ini.
‘Enak sekali, pasti mereka santai di rumah sekarang’ batin Grizelle
Grizelle segera menuju kelasnya dan berpas-pasan dengan seorang laki-laki yang ternyata adalah Gerald. Gerald menatap sebentar Grizelle dengan pandangan sinis lalu segera masuk ke dalam kelas.
‘Apa aku melakukan kesalahan padanya? Kenapa sinis sekali?’ batin Grizelle
Tak mau berpikir panjang, Grizelle segera masuk ke dalam kelas dan mengambil tempat duduk paling pojok. Dia kembali menatap Gerald yang duduk di urutan depan. Grizelle kembali menyerngitkan dahinya.
Beberapa menit kemudian dosen masuk ke ruangan tersebut dan segera memulai pembelajaran. Sesekali saat dosen melempar pertanyaan, Gerald yang menjawab pertanyaan itu.
‘Wah, dia pintar juga’ batin Grizelle
‘Tunggu! Sejak kapan dia mengambil kelas dosen ini?’ batin Grizelle lagi
‘Apa aku gak memperhatikan ya selama ini?’ batin Grizelle lagi
Diakhir materi, dosen memberikan sebuah tugas kelompok.
‘Ah sial. Kenapa harus kelompok sih?’ Batin Grizelle kesal
“Kelompoknya bapak yang bagi, karena semester kemarin ada yang tidak dapat kelompok karena kalian hanya memilih teman kalian” ujar dosen
“Bapak tempel di sini, kalian lihat nanti setelah bapak keluar” ucap dosen itu
Setelah itu, dosen itu keluar dan semua orang yang berada di kelas itu melihat daftar kelompok yang sudah dibagikan.
Tak mau ambil pusing, Grizelle tetap di tempat duduknya. Dia akan melihat daftar itu setelah sudah tidak ramai lagi. Dia melihat-lihat sekitar dan akhirnya berkontak mata dengan Gerald yang masih memandangnya dengan tatapan sinis.
‘Apaan sih!’ batin Grizelle kesal
Dia melihat Gerald yang menatap daftar itu dan setelah itu menatap dirinya.
‘Kenapa sih?’ batin Grizelle
‘Ha? Jangan-jangan?!’ batin Grizelle dan segera berlari menuju daftar yang ditempel itu. Dia mencari namanya dan dia melihat dia sekelompok dengan Gerald.
Grizelle menatap Gerald yang sudah hendak ingin pergi.
‘Ah kenapa harus dengannya sih?’ batin Grizelle sambil memukul pelan kepalanya
Melihat Gerald yang sudah menjauh, Grizelle segera mengejar Gerald.
“Woi!” panggil Grizelle
Gerald tetap berjalan.
“Gerald!” seru Grizelle memanggil Gerald
Merasa namanya dipanggil, Gerald menoleh kea rah belakang dan menemukan Grizelle yang terengah-engah karena mengejarnya.
“Apa?” tanya Gerald dingin
“Itu” Grizelle berhenti bicara dan masih mengatur nafasnya yang masih terengah-engah
“Tidak ada kan? Aku pergi” pamit Gerald
“T-tunggu!” ucap Grizelle sambil menghentikan Gerald
“Aku ingin bertanya tentang tugas kita” ujar Grizelle
“Itukan bisa dibicarakan nanti” ucap Gerald
“Nanti?” tanya Grizelle
Gerald mengangguk.
“Deadlinenya tiga hari loh. Masih ada kata nanti?” tanya Grizelle
“Bukannya dua minggu ya?” tanya Gerald
“Ha? Masa?” tanya Grizelle sambil mencoba melihat kertas tugas tadi
Dan benar saja, deadlinenya dua minggu lagi.
“Oh iya” ucap Grizelle
Gerald segera melangkah pergi meninggalkan Grizelle.
Grizelle menatap kesal kepergian Gerald.
‘Aduh! Aku ke toilet dulu deh’ batin Grizelle
Grizelle segera pergi ke toilet dan menemukan toilet kosong. Dia masuk di salah satu toiletnya. Setelah selesai, saat ingin keluar dia mendengar ada beberapa perempuan yang juga masuk ke toilet.
‘Aku keluar tunggu mereka pergi ajalah’ batin Grizelle
“Aku baru membeli lipstick ini kemarin, mau mencobanya?” tanya seorang perempuan
“Boleh” jawab perempuan lain sambil mencoba lipstick tersebut
“Kau sudah dengar?” tanya seorang perempuan
“Soal apa?” tanya perempuan satu lagi
“Grizelle sekelompok dengan Gerald” jawab perempuan itu
“Serius?” tanya perempuan yang satu lagi
Perempuan itu mengangguk.
‘Kenapa mereka selalu membicarakan aku sih?’ batin Grizelle kesal
“Sial! Beruntung banget dia” umpat perempuan lainnya
“Iyakan? Bisa deh dia genit dengan Gerald” ujar perempuan itu
“Hahaa benar! Dia kan memang seperti itu” ucap perempuan satunya
“Dia merasa paling berkuasa hanya karena dia memiliki uang” ucap perempuan satu lagi
“Andai aku yang punya banyak uang, aku tidak akan bertingkah seperti itu” ucap perempuan satunya
“Ayah dan ibunya pun sudah menyerah dengan sikapnya” ujar perempuan itu lagi
“Tidak heran, orangtuanya juga terlalu memanjakan dia” ujar perempuan satu lagi
“Aku sudah selesai, kau sudah?”
“Iya, ayo keluar”
Sebelum perempuan-perempuan itu ke luar, Grizelle memotong mereka dan ke luar lebih dulu.
“Dari tadi dia di dalam?” tanya perempuan itu
“Kurasa iya” jawab perempuan satunya
“Tumben dia tidak marah” ujar perempuan itu
Mereka tertawa.
“Dia pasti malu” ujar perempuan itu
“Iyalah! Biar aja, biar tahu diri” ucap perempuan lain
Perempuan-perempuan itu pun meninggalkan toilet itu.
Gerald yang hanya ingin lewat, jadi mendengar semua pembicaraan mereka.
‘Kenapa aku terus yang mendengar secara tidak sengaja seperti ini sih?’ batin Gerald dan segera melanjutkan langkahnya
Langkahnya terhenti saat melihat seorang perempuan yang sedang menangis di pojok dinding yang gelap.
‘Apasih! Kukira hantu’ batin Gerald
Dia ingin melanjutkan langkahnya namun tidak jadi saat merasa seperti mengenal perempuan yang sedang menangis itu. Dia memperhatikan secara teliti. Dia tidak salah, itu memang Grizelle.
‘Dia menangis?’ batin Gerald
‘Apa karena pembicaraan perempuan-perempuan tadi ya?’ batin Gerald lagi
‘Ngapain juga aku peduli?!’ batin Gerald dan segera melangkah pergi meninggalkan Grizelle yang masih menangis
‘Apa mereka selalu menganggapku seperti itu?’ batin Grizelle