Pagi telah tiba, Grizelle keluar dari kamarnya dan segera pergi ke kampusnya. Saat melewati ruang tamu, Grizelle melihat dua orang yang tidak asing dimatanya sedang berbicara dengan kedua orangtuanya. Kedua orang itu adalah paman dan bibinya.
“Eh Ay, sini salam dulu sama paman dan bibimu” ujar Natasya
Grizelle mengangguk dan segera memberi salam pada paman dan bibinya.
“Tumben paman dan bibi kerumah, mau ngapain?” tanya Grizelle
“Oh papa dan pamanmu ini akan bekerja sama dan membuka bisnis baru” jawab Romi
Grizelle ber-oh saja.
“Aku pergi dulu ya pa, ma, paman dan bibi” pamit Grizelle
Mereka mengangguk.
“Hati-hati ya sayang” ucap Natasya
Grizelle mengangguk dan segera pergi menuju kampusnya.
“Grizelle makin cantik ya” puji bibi Grizelle
Romi dan Natasya hanya tersenyum senang mendengar hal itu.
*****
Grizelle tiba di kampusnya tepat waktu. Dia segera menuju ruang kelasnya. Saat dalam perjalanan dia melihat Kiara yang sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang Grizelle kenal yaitu Gerald.
Grizelle menyerngitkan dahinya.
Tak mau ambil pusing, Grizelle menggelengkan kepalanya dan kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju kelas.
*****
“Ada apa?” tanya Gerald setelah melihat Kiara yang datang menghampirinya
“Aku mau tanya sesuatu” jawab Kiara
“Soal apa?” tanya Gerald
“Sebenarnya saat mencari Kaila di area permainan, waktu itu aku tidak sengaja melihatmu dengan Grizelle” jawab Kiara
“Jadi?” tanya Gerald meminta penjelasan lebih lanjut
“Kau benar-benar tidak dekat dengan Grizelle, kan?” tanya Kiara
Gerald mengangguk.
“Jadi kalian kemarin itu ngapain?” tanya Kiara
“Aku hanya menolongnya, ada yang mau mencuri uangnya waktu itu” jawab Gerald
“Mencuri? Di Mall?” tanya Kiara
Gerald kembali mengangguk.
“Yang benar?” tanya Kiara ragu
“Iya, menurutmu aku bohong?” tanya Gerald dingin
“Bukan begitu” jawab Kiara
“Aku hanya tidak suka melihatmu dengan dia” sambung Kiara
“Kenapa?” tanya Gerald
“Hanya tidak suka” jawab Kiara
Gerald memutar bola matanya malas.
“Kau kenal dengan dia?” tanya Gerald
“Iya” jawab Kiara
“Kami satu sekolah saat SMP dan SMA” sambung Kiara
“Dia dulu sifatnya tidak seperti sekarang, dia berubah sejak SMA” sambung Kiara lagi
Gerald diam.
“Sedang apa sendiri disini?” tanya Kiara mengganti topik
‘Padahal aku mau dengar cerita selanjutnya’ batin Gerald kesal
“Tidak ada apa-apa” jawab Gerald
“Aku melihatmu termenung tadi, sungguh tidak ada apa-apa?” tanya Kiara
“Aku hanya memikirkan Kaila” jawab Gerald
“Kaila? Emang Kaila kenapa?” tanya Kiara
“Ada yang membulinya” jawab Gerald
“Ha? Siapa?” tanya Kiara
“Kau mengenalnya” jawab Gerald
“Maksudmu Grizelle?” tanya Kiara
Gerald mengangguk.
Kiara tersenyum.
“Hmm apa aku harus bicara dengan Grizelle?” tanya Kiara
Gerald menggeleng.
“Jangan!” larang Gerald
“Loh kenapa?” tanya Kiara
“Kaila melarang dan jangan beri tahu siapapun tentang ini, kau paham?” tanya Gerald
Kiara mengangguk.
“Aku akan tetap bicara pada Grizelle, tapi aku akan tidak akan menyebut nama Kaila” ujar Kiara
“Hm terserahmu” ucap Gerald
“Kalau begitu aku pergi dulu ya” pamit Kiara
Gerald mengangguk dan kembali fokus pada handphonenya.
Kiara menghentikan langkahnya dan kembali berbicara pada Gerald.
“Ger” panggil Kiara
“Apa?” tanya Gerald yang masih melihat handphonenya
“Hati-hati dengan Grizelle” jawab Kiara memperingatkan
Gerald yang tadinya fokus ke handphonenya melihat ke arah Kiara.
“Aku sarankan jangan terlalu dekat dengannya” ujar Kiara lagi
Gerald menyerngitkan dahinya.
“Aku pergi dulu” pamit Kiara dan segera pergi meninggalkan Gerald yang masih menyerngitkan dahinya
*****
“Pelajaran pertama selesai” ucap Grizelle senang
Grizelle berjalan menuju taman sekolah dan menemukan seorang laki-laki yang sedang duduk sendirian di sana.
‘Kenapa aku harus melihatnya lagi?’ batin Grizelle kesal saat mengetahui kalau laki-laki itu adalah Gerald
“Oh iya tugas” ucap Grizelle pada dirinya sendiri dan segera mendatangi Gerald
“Kau tidak punya pacar ya?” tanya Grizelle membuka percakapan setelah berada tepat di depan Gerald dan duduk di samping Gerald
“Apa urusanmu?” tanya Gerald balik dengan dingin
“Ya jelas sekali, kau duduk sendiri, kemarin aku juga melihatmu sendiri, sudah jelas kau tidak mempunyai pacar. Atau jangan-jangan kau belum pernah pacaran?” tanya Grizelle
“Kenapa? Kau mau jadi pacar pertamaku?” tanya Gerald
Hening. Grizelle tidak menyangka Gerald akan membalas ucapannya dengan pertanyaan itu.
“Kapan kita akan mengerjakan tugas kelompok itu?” tanya Grizelle mengganti topik
“Terserah” jawab Gerald dingin
“Jangan seperti perempuan yang selalu menjawab terserah jika ditanya” ujar Grizelle kesal
Gerald tidak menggubris perkataan Grizelle dan fokus ke handphonenya.
Grizelle menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Kalau begitu minta nomor handphone mu” pinta Grizelle sambil memberikan handphone miliknya
“Untuk?” tanya Gerald
“Kau bilang tadi terserahku, jadi berikan nomor handphone mu biar aku kabari saat aku ingin mengerjakannya” jawab Grizelle
Gerald mengambil handphone Grizelle dan segera mengetikkan nomornya dan menyimpannya di handphone Grizelle lalu mengembalikannya pada pemiliknya.
“Kalau begitu aku pergi” pamit Grizelle
“Oh iya” ucap Grizelle sambil
Gerald melirik sekilas ke arah Grizelle lalu kembali melirik handphone miliknya.
“Kau sepertinya dekat dengan Kiara” ujar Grizelle
“Siapa yang bilang?” tanya Gerald
“Aku sering melihatmu dengan dia” jawab Grizelle
“Memangnya kenapa? Kau cemburu?” tanya Gerald santai
“Cemburu? Kau gila ya? Ngapain aku cemburu?” tanya Grizelle kesal
Gerald diam tidak menggubris ucapan Grizelle.
‘Kami satu sekolah saat SMP dan SMA’
Ucapan Kiara kembali terlintas di pikiran Gerald.
“Kau kenal dengan dia?” tanya Gerald
“Kiara maksudmu?” tanya Grizelle balik
Gerald mengangguk.
“Kami pernah satu sekolah saat SMP dan SMA” jawab Grizelle
Gerald menoleh melihat Grizelle.
“Kenapa?” tanya Grizelle
Gerald diam dan kembali fokus melihat handphonenya.
‘Dasar es’ batin Grizelle
“Berhati-hatilah dengan Kiara. Kau tidak tahu siapa dia” ucap Grizelle memperingatkan
Gerald kembali melihat Grizelle sambil menyerngitkan dahinya.
“Kenapa? Apa dia juga memperingatkanmu tentang aku?” tanya Grizelle
Gerald diam.
“Sepertinya memang benar, apa katanya? Dia bilang kau harus berhati-hati denganku?” tanya Grizelle
Gerald masih diam.
“Wah kurasa memang itu yang dikatakannya” ucap Grizelle kesal
“Jadi kau percaya pada siapa?” tanya Grizelle
Gerald kembali melihat Grizelle. Gerald menatap mata Grizelle, begitu juga dengan Grizelle.
“Terserah padaku” jawab Gerald
“Apa?” tanya Grizelle
“Aku akan melihat sendiri, dengan siapa aku harus berhati-hati” jawab Gerald
Grizelle memutuskan kontak mata mereka.
“Kalau begitu percayalah padanya” ujar Grizelle
“Apa?” tanya Gerald
“Seperti katamu, itu semua terserah padamu. Lagi pula kita tidak berada di posisi harus saling percaya kan?” tanya Grizelle
Gerald tidak mengatakan apapun.
“Aku pergi dulu, aku akan menghubungimu soal kerja kelompok itu” pamit Grizelle dan segera pergi menjauh dari Gerald
Gerald masih menatap kepergian Grizelle.
‘Lagi pula kita tidak berada di posisi harus saling percaya kan?’
Kata-kata itu terlintas lagi dalam pikiran Gerald. Entah kenapa dia agak kecewa mendengar hal itu dari Grizelle.
*****
Grizelle berjalan dengan perasaan kesal.
‘Sebenarnya apa yang aku harapkan?’ batin Grizelle bertanya
‘Apa aku tadi berharap dia percaya padaku?’ batin Grizelle lagi
“Ay” panggil seorang perempuan
Grizelle melihat ke belakang dan menemukan Kiara yang memanggilnya.
‘Perempuan ini lagi’ batin Grizelle kesal
“Berhenti memanggilku dengan sebutan Ay” ucap Grizelle kesal
“Kenapa? Aku dari dulu memanggilmu seperti itu” ujar Kiara
“Tapi kurasa semenjak kejadian itu kau gak perlu memanggilku dengan sebutan Ay lagi” ucap Grizelle
“Kejadian apa ya?” tanya Kiara
“Oo kau sudah lupa?” tanya Grizelle
“Atau pura-pura lupa?” tanya Grizelle lagi sambil memiringkan sudut bibirnya
“Berhenti berkata omong kosong” ucap Kiara
“Ya, kau benar. Lagi pula itu sudah bertahun-tahun yang lalu” ucap Grizelle
“Jadi apa yang ingin kau katakan? Aku tidak bisa lama-lama karena harus masuk kelas lagi” ucap Grizelle
“Kau tidak lelah?” tanya Kiara
“Maksudmu?” tanya Grizelle balik
“Membuli orang. Kau tidak lelah?” tanya Kiara lagi
Grizelle tertawa.
“Kalau aku bilang tidak, kau mau apa?” tanya Grizelle
“Sebaiknya hentikan perbuatanmu itu, kasihan orang yang kau buli” jawab Kiara
Grizelle kembali tertawa.
“Wah, kau hebat sekali Kiara” ujar Grizelle sambil tertawa
Kiara memperhatikan Grizelle yang masih terus tertawa dan akhirnya berhenti sambil menatapnya dengan tajam.
“Hei, kau pikir siapa yang membuatku jadi seperti ini?” tanya Grizelle
“Kau tidak sadar seperti apa kau dulu?” tanya Grizelle lagi sambil mendorong bahu Kiara dengan jari telunjuknya
“Pergilah! Aku benar-benar muak melihatmu” ucap Grizelle
Kiara diam dan masih tetap berdiri di situ.
“Kau tidak mau pergi? Oke, aku yang pergi kalau gitu” ujar Grizelle
“Aku masih ada kelas” sambung Grizelle dan segera pergi dari hadapan Kiara
‘Dia benar-benar sudah berubah’ batin Kiara
*****
Dering panggilan terdengar dari handphone Grizelle. Grizelle mengambil handphonenya dan melihat kalau itu panggilan dari ibunya. Grizelle segera mengangkat panggilan itu.
“Halo”
“Halo sayang”
“Kenapa ma?”
“Gini, siang ini mama harus pergi ke luar negeri”
“Loh ngapain?”
“Itu loh, urusan bisnis dengan pamanmu”
“Ohh itu, berapa hari?”
“Tiga hari kayaknya”
“Oke, hati-hati”
“Iya sayang”
Grizelle mematikan panggilan itu dan segera pergi menuju kelas.