BAB 50

2048 Words
“Ya, lalu mintakan tanda tangan ibu di sini dan di sini. Sampaikan juga bahwa aku ingin membicarakan kasus Felsham lagi, tanyakan kapan aku bisa menemuinya.” Lizzy bingung. Sangat bingung. Dia mengamati Ian yang masih menggarap tugas-tugasnya bersama Johan. Ian tidak memedulikan Lizzy, membiarkan. Tapi terkadang iris merahnya bertemu dengan iris biru Lizzy. Mengantarkan perasaan aneh dalam diri Lizzy. Namun, hal itu tidak cukup untuk mengenyahkan adegan Ian memberi peringatan kepada Count Flow terkait putri beliau, Alysa Flow. Tentu saja Lizzy bingung. Ian yang tidak pernah peduli dan berkata tidak akan mencampuri kehidupan Lizzy, tiba-tiba membela dan bertindak sejauh itu kepada Count Flow. Jika sesuai apa yang Ian ucapkan, maka seharusnya ia tidak ikut campur. Seharusnya, Ian tidak peduli. Ia tidak akan membawa debut sosial Lizzy kepada Count dan hanya membicarakan permasalahan investasi. Namun kemudian, semua itu terjadi. Ian membela Lizzy dan memberi peringatan keras terhadap Count Flow terkait Alysa. Ian bertindak sebagai lelaki yang mencintai tunangannya. Aneh, bagi Lizzy. Ian tidak perlu berakting demikian, bukan? Permasalahan Alysa dan Lizzy merupakan masalah pribadi Lizzy, bukan Ian. Tapi, Ian ikut campur. Mau dipikirkan berapa kali pun, pikiran Lizzy buntu. Tidak menemukan alasan yang tepat atas tindakan Ian. Dia terus-terusan melihatku secara gamblang selama lima belas menit penuh sejak Count pergi. Apa yang dia pikirkan? batin Ian heran ketika irisnya kembali bertemu dengan iris Lizzy. Tentu saja Ian menyadari kelakuan Lizzy. Walau dia fokus menggarap tugas, dia bisa merasakan sorot mata Lizzy mengarah sangat kuat kepadanya. Selama lima belas menit sejak Count pergi, sudah sekian kali mata Ian bertemu dengan mata Lizzy. Ketika tatapan mereka bertemu pun Lizzy tidak berusaha menyembunyikannya sama sekali. Gadis itu sungguh gamblang menatap Ian tanpa menyuarakan apa-apa. Awalnya, Ian mengabaikan. Ian pikir, Lizzy merasa bosan menatap taman bunga dan tidak melakukan apa-apa selain minum teh dan menyantap kue. Sehingga gadis itu mencari objek lain untuk ditatap, yakni Ian. Ian pun tidak masalah. Asalkan gadis itu tidak mengganggunya mengerjakan tugas, maka tidak masalah mau ditatap sampai kapan pun. Namun kemudian, Ian mulai merasa tidak nyaman menerima sorot mata Lizzy. Harus Ian akui, sorot mata Lizzy benar-benar kuat hingga mampu mengantarkan perasaan tidak nyaman. Ian terlalu meremehkan. Dia pikir gadis kecil itu tidak lebih dari sekedar gadis manja dan kekanakan seperti perempuan bangsawan pada umumnya. Terlebih faktanya Lizzy dibesarkan berbeda dari kakak-kakaknya, jadi Ian pikir Lizzy tidak ada apa-apanya. Sungguh senjata makan tuan. “Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Ian tak tahan lagi. Memutuskan untuk membicarakan apa-apa yang tampaknya perlu dibicarakan bersama Lizzy. Tampaknya gadis itu memiliki suatu masalah terkait Count Flow karena ia menatap Ian demikian usai Count pergi. “Aku tidak mengerti,” ujar Lizzy dengan kening sedikit mengerut. Raut bingung terpasang di paras cantiknya. “Apa?” “Kenapa kau tiba-tiba ikut campur masalah hidupku?” Pertanyaan Lizzy spontan membuat alis Ian menukik tajam. Raut datar Ian berubah menjadi raut kesal, tidak terima. “Apa maksudmu? Kapan aku mencampuri masalah hidupmu?” Nada defensif Ian membuat Lizzy ikut memasang raut kesal. “Lima belas menit yang lalu. Kau menyinggung debut sosialku kepada Count Flow di saat kalian sedang mendebatkan masalah perusahaan.” Ian menahan decakannya, mengerti arah pembicaraan. Dia menutup buku, meletakkannya. Lalu menyuruh Johan pergi. Seloyal apa pun Johan kepada Ian, Johan tetap lebih loyal kepada Marquis dan Victorique. Bila Johan mengetahui adanya duri dalam hubungan Ian dan Lizzy, pria itu pasti akan membeberkannya. Ian tidak akan membiarkan itu terjadi. Usai kepergian Johan, Ian menyandarkan punggung sembari menghela napas panjang. Bersedekap dan melipat kaki, Ian membalas tatapan Lizzy yang cukup tajam. “Kau harus belajar membaca situasi sebelum berbicara,” keluh Ian kesal, nada suaranya cukup tajam tapi tak membuat Lizzy gentar. “Kenapa? Bukankah hal yang bagus bila Tuan Johan tahu dan melaporkannya kepada Yang Mulia Raja?” tanya Lizzy tidak takut, terkesan menantang. “Kau bodoh? Raja Bodoh itu tidak akan pernah membatalkannya. Jika dia tahu, akulah yang terkena getahnya, bukan kau,” jawab Ian penuh kesinisan. Lizzy menipiskan bibir. “Ya, itulah niatku.” “Apa katamu?” “Lima belas menit lalu, tampaknya kau sedang tidak berada dalam jalan pikir yang bagus. Aku bertanya, kenapa kau tiba-tiba menyinggung debut sosialku di saat kau sedang mempermasalahkan perusahaan. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri kehidupan satu sama lain, huh? Tapi, lihatlah, kau ikut campur.” Ian mendecak. “Aku tidak ikut campur. Aku hanya berakting. Count termasuk ke faksi aristokrat. Dia akan curiga bila melihatku tidak menyinggung masalah bodohmu dengan putrinya.” “Apa? Masalah bodoh?” beo Lizzy tidak terima, mulai terpancing emosi. “Ya, masalah bodoh. Kau mendengarnya dengan benar. Ada masalah?” Lizzy mencebik kesal. “Kau pikir aku ingin membuat kerusuhan di debut sosialku sendiri, huh?” Alis Ian makin menukik membuatnya seolah akan menyatu. “Semua itu tidak akan terjadi jika kau tidak melakukan hal bodoh.” Lizzy tersentak kaget. Terperangah tak habis pikir melihat Ian mengklaim semua itu adalah kesalahannya. “Hal bodoh? Jadi, kau juga berpikir aku berteman dengan Gideon adalah sebuah hal bodoh?” “Baguslah kau mengerti, nona-yang-berteman-dengan-keluarga-kriminal-kerajaan,” olok Ian membuat Lizzy mengerjap emosi. “Kupikir kita sudah sepakat untuk tidak ikut campur urusan hidup masing-masing. Kau tidak punya hak untuk ikut memermasalahkan lingkaran pertemananku.” “Memangnya aku akan diam saja melihat kau-yang-sayangnya-adalah-tunanganku berteman dengan anggota keluarga kriminal kerajaan? Kau pikir apa yang akan semua orang pikirkan, huh?” “Bahkan Raja dan Ratu tidak memermasalahkannya. Mereka tidak menyinggung hal itu sama sekali, artinya tidak ada larangan dari mereka untukku berteman dengan Gi—“ Ian mendecak keras, tidak mampu menahan luapan amarah aneh yang telah lama bersarang dalam dirinya. “Jangan menyebut nama bocah itu lagi di hadapanku!” Nada suara Ian yang tiba-tiba naik satu oktaf sedikit membuat Lizzy terkejut. Tidak menyangka Ian akan sekasar itu. Rasa takut mulai merayap dalam diri Lizzy. Setelah sekian menit tidak gentar berdebat dengan Ian, kini perasaan takut itu muncul. Elizabeth de Gilbert tidak pernah dibentak. Nada datar, dingin, sinis, dan tidak berperasaan? Hal biasa bagi Lizzy. Namun tidak dengan bentakan. Diamnya Lizzy membuat Ian sadar dengan apa yang telah dia lakukan. Ian mengerjap cepat sambil mengatur aliran napasnya yang terasa sesak. Berusaha mengendalikan luapan amarahnya agar berhenti menguasai diri Ian. Lelaki berambut hitam itu mengembuskan napas panjang beberapa kali guna menenangkan diri. Kelopak matanya menutup dengan tangan kanan menyentuh keningnya, merasa pening. Bagus, Ivander de Bloich. Lagi-lagi kau membuat perempuan menangis dan akan segera meladeni omelan memuakkan ayah. Betapa indahnya hari ini, batin Ian lelah luar biasa, pasrah menghadapi masalah lain yang akan datang. Lagipula, kenapa aku semarah ini hanya karena dia menyebut nama bocah Weasley itu? “Kau benar.” Suara lirih Lizzy membuat kelopak mata Ian membuka. Ian berhenti mengelus kening, kini menatap Lizzy yang tidak memasang kekesalan di wajahnya. Gadis itu berwajah datar tanpa emosi. Tidak ada raut di paras cantiknya seolah tidak ada perdebatan yang telah terjadi. Namun, Ian menemukannya, alih-alih datar, secara tak kasat mata, wajah Lizzy menyiratkan kesedihan. Langsung saja, secara aneh dan membingungkan, terdapat satu sisi dalam diri Ian seolah terhujam pisau, menimbulkan sakit. Membuat lidah Ian kelu tak mampu bersuara karena rasa sakit itu sungguh menyakitkan. Padahal tidak ada yang menusuk tubuhnya. Tidak ada yang menyakitinya. Tapi anehnya, rasa sakit itu menjalar nyata dalam tubuhnya. A—Apa yang barusan terjadi? Kenapa aku merasa sakit padahal tidak ada yang menyakitiku? batin Ian kebingungan dengan tatapan tidak terputus dari mata biru berlian Lizzy. Lizzy tersenyum tipis, tidak tahu bahwa senyumannya membuat rasa sakit Ian bertambah. “Kau benar. Bodohnya aku. Itu semua hanya akting. Berhubung Count Flow termasuk anggota faksi, wajar saja kau memainkan peran pertamamu kepadanya yang kebetulan juga orang faksi pertama yang mendatangimu usai pertunangan. Maafkan aku, aku berlebihan.” Wajah Lizzy tidak berubah. Terpasang senyum simpul yang selalu dia sunggingkan. Wajah tenang itu masih terpakai seolah tidak tersakiti oleh bentakan Ian. Tidak ada air mata pun tanda-tanda akan menangis. Tapi, kenapa Ian merasa tersakiti? Apakah bila Lizzy menangis, Ian akan lebih lega? Tidak, bukan menangis. Apakah bila Lizzy memarahi atau menamparnya karena tidak terima dengan bentakan Ian, Ian akan merasa lebih lega? Tunggu, kenapa Ian berpikir demikian? Kenapa dia malah mengharapkan Lizzy memarahi dan menamparnya? Bagaimana bisa Ian akan merasa lega bila Lizzy melakukan hal semacam itu? Astaga, hal aneh selalu saja terjadi bila dia berada di dekatku, rutuk Ian jengkel. Ian mendengus pelan sambil memerbaiki duduk. Merasa jauh lebih tenang dibanding sebelumnya meski kini banyak sekali yang berkecamuk dalam pikirannya. “Lupakan. Anggap tidak ada yang terjadi.” ujar Ian datar kepada Lizzy. Lizzy mengangguk kecil tanpa memudarkan senyum kecilnya. “Baik.” Ian memutus kontak tatap dari Lizzy. Memilih untuk kembali mengerjakan tugas-tugasnya. Berharap dengan begitu pikirannya kembali tenang. Merasa sudah cukup menjadi korban dari takdir yang tidak pernah memerlakukannya secara adil. Sudah pusing merasakan amarah aneh tanpa alasan jelas, ditambah pula dengan perasaan sakit yang tak kalah aneh. Lizzy, perempuan yang belum pernah dibentak, merasa sakit hati atas perlakuan Ian. Dia tidak mengerti kenapa Ian membentaknya hanya karena dia menyebut nama Gideon. Ian sungguh semarah itu hingga Lizzy tidak mampu memikirkan alasan yang tepat. Bagi Lizzy, Ian terlalu berlebihan dan tidak beralasan. Ian marah karena Lizzy menyebut nama Gideon, bukan karena hubungan pertemanan mereka. Berlebihan, bukan? Lizzy akan mengerti bila Ian menyuruhnya secara baik-baik untuk memanggil Gideon dengan nama keluarganya di hadapan Ian. Lizzy akan mengerti dan melakukannya, sungguh. Tapi, Ian justru menyemburkan amarahnya tanpa mengatakan apa yang sebenarnya salah. Terlalu banyak hal membingungkan dalam diri Ian dan Lizzy. Tanpa mengetahui apa-apa yang jelas, keduanya terjebak bingung dan tidak mampu membicarakannya satu sama lain. Komunikasi mereka buruk. Salju turun semakin deras. Saking derasnya hingga tidak mampu untuk melihat sekitar karena volumenya sungguh banyak. Hal ini menyebabkan kurangnya cahaya. Lebih dari cukup untuk mengganggu Ian dalam mengerjakan tugasnya karena terlalu gelap. Ian menoleh ke sekitar, mengamati hujan salju menderas. Hembusan angin mengencang. Mengantarkan udara dingin menusuk tulang. Ian mengecek arloji saku. Dia mendengus pelan mengetahui masih tersisa satu jam untuk menemani Lizzy. Tampaknya, sudah saatnya bagi mereka untuk berpindah tempat. Ian menoleh ke Lizzy usai memasukkan arloji. “Kita harus pindah.” Lizzy memeluk diri merasakan udara dingin menusuk tubuhnya. “Ya…, tampaknya begitu.” Suara lirih nan lemah Lizzy membuat Ian sedikit mengernyit. Dia mengamati Lizzy dengan lebih teliti. Mata merahnya menangkap paras Lizzy memucat. Bibir tipis gadis itu tampak sedikit kering. Sorot mata biru berlian Lizzy tampak kosong dan tidak fokus. Kelopak matanya berusaha terjaga, berkali-kali hendak menutup. Tubuh Lizzy cukup bergetar. Ini membuat Ian mulai panik. Untuk pertama kalinya, dia melihat Lizzy serapuh itu. “Hei, kau baik-baik saja?” tanya Ian dikuasai khawatir melihat Lizzy seolah hendak pingsan. Susah payah Lizzy mendongak guna menatap Ian. Napasnya memburu merasakan sesak tiap kali menghirup udara. Berkali-kali Lizzy berusaha memfokuskan pandangannya, namun sia-sia karena semakin buram. Figur Ian mengabur dalam pandangannya. Lizzy merasa seluruh tenaganya terkuras habis hingga mendongakkan kepala saja terasa amat berat dan menyakitkan. Namun, dia masih berusaha menyunggingkan senyum tipis. “Ya, aku baik-baik saja.” “Apa yang baik-baik saja, bodoh,” sahut Ian kesal seraya bangkit berdiri melihat kepala Lizzy kembali oleng. Lizzy kembali membenarkan posisinya. Alih-alih kesal disebut bodoh, dia terkekeh pelan. “Aku baik-baik saja, sungguh….” Dan terjadilah. Kalimat itu menjadi kalimat terakhir Lizzy sebelum kelopak matanya tidak mampu terjaga lagi. Ian membulatkan mata melihat mata Lizzy menutup dan badannya terhuyung lemas. Secepat kilat tubuh Ian bergerak menghampiri Lizzy. Sebelum kepala Lizzy membentur meja dan terjatuh dari kursi, Ian berhasil menangkapnya. Lelaki itu terkejut merasakan tubuh Lizzy sedingin es dengan wajah semakin pucat. “Hei, hei! Buka matamu!” ujar Ian seraya sedikit menggoyangkan pundak Lizzy. Rasa panik dan takut menjalari d**a Ian kala melihat Lizzy terkulai lemah dalam dekapannya. Tidak ada tanda-tanda kelopak mata gadis itu akan membuka. Ian meraih pergelangan tangan kanan Lizzy untuk mengecek detak jantungnya. Ian tersentak merasakan detak jantung gadis itu sangat lemah, terlalu lemah seolah hendak berhenti berdetak. “Hei, apa-apaan kau? Apa maksudmu tiba-tiba selemah ini padahal tadi kau berdebat denganku! Hei, buka matamu, sialan!” racau Ian dengan gigi beradu geram, menatap wajah pucat Lizzy dan merasakan tubuh gadis itu semakin dingin. Berusaha bertindak logis, Ian berhenti meracau dan meratapi kondisi Lizzy. Dia membenarkan dekapannya sebelum tangan kirinya meraih lonceng di sisi meja teh. Usai menggapainya, dengan membabi buta Ian mendentangkan lonceng tersebut. Tidak peduli suaranya akan terdengar seisi istana. Merasakan tubuh dingin Lizzy, Ian melempar lonceng ke arah koridor agar siapa pun dapat melihatnya dan segera menghampiri gazebo. Ian memindahkan tubuh Lizzy dari kursi teh. Dia bersimpuh di lantai gazebo dengan memeluk tubuh gadis itu seerat mungkin agar tidak diserang udara dingin. Untuk pertama kali dalam hidup Ian, Ian merasa sangat ketakutan. TO BE CONTINUED[Ya ampun, mohon maaf banget! Semalam aku ketiduran hingga tidak bisa update, astaga! Maaf banget, huhu :( ]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD