Canggung. Canggung sekali. Suasana serta udara yang menyelimuti terasa sangat canggung hingga Lizzy tidak berani bersuara maupun bergerak. Mata gadis itu pun tak berani melirik lawan bicaranya. Sesekali gerakan Ian tertangkap olehnya. Pangeran Mahkota itu hanya minum teh sembari menyantap kue kering buatan Lizzy. Tidak mengeluarkan suara sejak Lizzy menjelaskan kue tradisional yang tampaknya asing bagi Ian.
Sebelumnya, Lizzy sudah menduga situasi secanggung inilah yang akan terjadi. Jadi, dia tidak begitu bingung. Hanya saja Lizzy sudah memikirkan apa-apa yang harus dia lakukan jika Ian melakukan sesuatu. Tidak Lizzy sangka, Ian juga memilih tutup mulut. Kalau begini, tidak ada yang akan terjadi di antara mereka. Baik itu percakapan maupun celetukan kecil.
Lizzy sudah memutuskan bahwa dia tidak akan memulai percakapan apa pun kepada Ian. Biarlah dianggap tidak sopan atau pun tidak hormat, Lizzy tidak peduli. Lizzy hanya tidak mau terus-menerus menanggung luka dan sakit karena berinteraksi dengan Ian.
Ian tidak peduli, seperti biasa. Lelaki itu menyandarkan punggung sembari sesekali menyesap teh. Tatapannya mengarah ke taman bunga dan kolam ikan yang tersampul musim dingin. Tidak ada warna, seluruhnya berwarna putih. Tidak ada burung-burung kecil yang suka hinggap. Pemandangan yang begitu dingin, namun tetap menjadi favorit Ian.
Salju turun sejak tiga puluh menit lalu. Tepat ketika Ian dan Lizzy bertemu, memulai temu rutin sesuai kemauan Marquis. Awalnya, salju turun tidak deras. Hanya beberapa menuruni langit menuju hamparan bumi. Tak ada angin yang mengiringi. Namun, semakin lama, salju turun berbondong-bondong diiringi sedikit hembusan angin.
Cuaca mulai tidak berkompromi dengan aktivitas Ian dan Lizzy. Tapi, tidak ada satu pun dari keduanya yang mengeluh. Pertanda, keduanya baik-baik saja dengan kondisi cuaca tiba-tiba berubah tidak nyaman.
Dia tidak akan berbicara, aku yakin itu. Pada akhirnya, pertemuan ini jadi omong kosong sesuai dugaanku, keluh Ian sedikit kesal tanpa mengalihkan perhatian dari taman bunga.
Merasa buang-buang waktu, Ian meraih lonceng, membunyikannya guna memanggil pelayan. Bunyi lonceng sedikit mengagetkan Lizzy yang sedang menyantap scone. Gadis itu menoleh ke kiri, menangkap figur dua pelayan menghampiri. Tidak ingin tahu apa yang akan Ian lakukan, Lizzy kembali fokus memakan scone.
Apa pun yang Ian lakukan, tidak ada hubungannya dengan Lizzy, begitu pula sebaliknya.
“Katakan pada Johan untuk membawa beberapa tugas yang ada ruang kerjaku. Aku akan menggarapnya di sini,” perintah Ian kepada dua pelayan yang datang.
“Baik, Yang Mulia,” tanggap kedua pelayan dengan patuh, lantas pergi melaksanakan perintah sang pangeran.
Ian menegakkan punggung usai kepergian pelayan. Dia meraih cangkir teh, menyesapnya pelan, merasakan kafein pada teh sedikit menenangkannya. Kali ini, Ian menatap Lizzy. Kepala gadis itu menunduk, sedang menyantap scone tanpa memedulikan sekitar. Jadi, Lizzy tidak tahu dirinya sedang menjadi objek mata merah Ian.
Tiap kali melihat Lizzy, entah mengapa rasa marah selalu hinggap di d**a Ian. Hal ini terjadi di hari ulang tahun Lizzy, pertemuan kedua dengan gadis itu. Di pertemuan pertama, Ian tidak merasakan apa pun. Normal saja. Akan tetapi, di pertemuan kedua, perasaan ambigu itu muncul dan membuat Ian cukup jengkel sendiri karena tidak nyaman.
Maksudnya, untuk apa Ian marah kepada Lizzy tanpa tahu alasannya? Ian merasa itu sangat konyol hingga membuatnya jengkel.
Dan tanpa sadar, Ian melontarkan kalimat yang tampaknya tidak pantas. Nada suaranya terlalu ketus. Ekspresi wajahnya pun tidak pantas.
Memangnya tidak pantas? Apakah itu alasan dari kenapa dia selalu tampak takut kepadaku? batin Ian mulai bingung sendiri. Tapi, aku selalu merasa marah padanya, entah apa alasannya. Apa perlu kutanyakan? Tidak, nanti dia menganggapku orang bodoh.
Walau Ian berpikir perempuan adalah manusia paling merepotkan di dunia, Ian tahu dia tidak boleh membuat seorang perempuan menangis. Victorique sangat gencar mengajarkan bahwa membuat perempuan menangis, maka sama saja dengan membuat Victorique menangis. Jadi, ketika tanpa sadar Ian membuat Elesis menangis, dia memberikan Royal Treasure sebagai bentuk permintaan maaf.
Akibat memikirkan hal ini baik-baik, Ian mulai menduga-duga apakah Lizzy menangis setelah Ian mengatakan tidak akan mencintainya. Apakah gadis itu sungguh rela menyetujui keinginan Ian? Apakah lagi-lagi tanpa disadarinya, dirinya membuat perempuan menangis lagi?
Ah, memusingkan.
“Yang Mulia, saya membawakan beberapa tugas Anda,” ujar Johan kala sampai di gazebo.
Ian mengesampingkan hal memusingkan tersebut sejenak. Dia menyuruh Johan mendekat dan memberikan tugas-tugas yang tertunda. Johan berdiri di samping Ian, menemaninya bertugas. Sesekali Johan melemparkan senyum kepada Lizzy agar Lizzy tidak merasa terasingkan. Padahal, tidak perlu repot-repot, Lizzy sangat bersyukur dirinya diabaikan.
“Masalah perpajakan lagi di Broadway? Kukira Tuan Holloway sudah mengatasi pegawai pajak bodoh di sana. Mereka dipecat dan diganti dengan pegawai baru, bukan?” tanya Ian kepada Johan tanpa beralih dari lembar laporan.
“Benar, mereka sudah digantikan dengan pegawai-pegawai baru yang lebih berkompeten. Hanya saja, permasalahan kali ini adalah warga Broadway susah membayar pajak hingga menunggak tiga tahun.”
Alis Ian naik sebelah. “Kenapa begitu? Ada kasus lain di Broadway selain pajak?”
“Mungkin ini berkaitan dengan masalah kekeringan hingga mengalami paceklik di Broadway. Wilayah Broadway sudah lama tidak dituruni hujan sehingga pertanian di sana terganggu. Paceklik sudah muncul sejak setahun lalu. Sejauh ini, Viscount Helmera telah mengatasinya dengan baik. Namun tampaknya kini mulai di luar kendalinya karena kekeringan Broadway tidak kunjung selesai. Mayoritas warga Broadway adalah petani, jadi tidak heran jika mereka susah membayar pajak.”
“Ajukan rapatku dengan ayah, Viscount Helmera, Count Alistair, Tuan Holloway, Tuan Catarino, Tuan Mikhail, Tuan Oropheus, dan Tuan Thompson. Pertama-tama, masalah paceklik mereka harus diatasi. Setelah itu, akan kuajukan untuk membangun sungai yang berhubungan langsung dengan sungai besar di wilayah Hexion. Sampaikan ideku kepada ayah.”
Johan mengangguk. “Dimengerti, Yang Mulia.”
Ian beralih ke tugas selanjutnya. Di jeda sepersekian detik itu, matanya melirik Lizzy. Giliran gadis itu yang menatap hamparan taman bunga. Ia telah menghabiskan dua scone dan dua kue welsh. Tersisa setengah teh dalam cangkir Lizzy. Dapat Ian simpulkan, Lizzy tidak masalah diabaikan.
Seorang pelayan datang tanpa dipinta oleh Ian maupun Lizzy. Pelayan istana itu membungkuk sejenak sebelum menyampaikan, “Anda kedatangan seorang tamu, Yang Mulia.”
Ucapan pelayan membuat Ian dan Johan mengerutkan kening dalam-dalam. Mereka telah diberitahu dengan jelas oleh Marquis bahwa setiap tanggal dua puluh, Ian tidak akan menerima tamu karena harus bertemu dan menemani Lizzy. Lantas, ini membuat Ian bingung dan cukup terkejut. Bisa-bisanya ada tamu yang datang tanpa membuat janji temu dan ngotot ingin bertemu dengannya.
“Siapa?” tanya Ian setelah mengendalikan rasa terkejutnya.
“Count Flow, Yang Mulia.”
Mendengar nama Flow membuat Lizzy menoleh, tersentak. Tatapannya ke taman bunga spontan terputus, berganti menatap pelayan yang masih setia berdiri di depan gazebo. Lizzy langsung mengingat insiden kecil di pesta teh Battenberg, debut sosialnya.
Alysa Flow.
Tidak hanya Lizzy yang tersentak, Ian juga. Percikan emosi langsung membara dalam dadanya, lagi-lagi entah apa alasannya. Amarah yang terjadi sejak pertemuan kedua dengan Lizzy seolah membesar hanya karena mendengar nama Count Flow.
Apa, ya? Apa yang dilewatkan oleh Ian? Jika terus-menerus begini, Ian merasa semakin konyol sendiri.
“Yang Mulia,” panggil Johan menginterupsi benak Ian, membuat Ian menoleh padanya. “Count Flow telah bertindak lancang kepada Anda. Beliau tidak mengajukan janji temu dan langsung bertamu.”
Ian mengembuskan napas sejenak. “Ya.”
“Apa yang akan Anda lakukan?”
Ian menyandarkan punggung, melipat kaki, dan bersedekap. Matanya menatap Lizzy yang masih melamun ke arah pelayan istana. “Bawa dia kemari. Akan kudengarkan apa maunya.”
Johan mengerjap kaget. “Di sini?”
“Ya, di sini.”
“Tapi, Anda sedang bersama—“
Ian mendecak pelan. “Jangan membuatku mengulangi perintah, Johan.”
Ragu-ragu Johan melirik Lizzy. Tersirat khawatir dalam sorot mata dan wajahnya. Lizzy menoleh, membalas tatapan khawatir Johan dengan senyum dan angguk kecil, pertanda tidak merasa keberatan.
Empat puluh lima menit yang terasa sangat dingin. Bukan karena cuaca, namun sikap satu sama lain.
***
“Mohon maafkan kelancangan saya, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud tidak menghormati Anda, namun ada beberapa hal genting yang perlu saya bicarakan dengan Anda,” ujar Count Flow usai dipersilahkan berdiri oleh Ian.
Dengan tidak menatap Count Flow, Ian menyesap teh. “Hal genting apa yang perlu kau bicarakan padaku sampai mengganggu waktuku bersama tunanganku?”
Ew, aku takjub dia bisa mengatakan hal semacam itu dengan ekspresi biasa-biasa saja, hujat Lizzy kesal di sela mencomot kue jaffa.
“Baik, ini terkait investasi Anda di perusahaan saya, Yang Mulia. Kemarin, saya sangat terkejut mengetahui Anda menarik kembali investasi Anda tanpa ada pembicaraan apa pun dengan saya. Saya khawatir saya telah melakukan kesalahan yang tidak saya sadari hingga Anda bertindak demikian,” tutur Count Flow dengan wajah tersenyum hangat seolah tidak berdosa.
Ian meletakkan cangkir, kemudian menoleh ke Count Flow yang berdiri di depan gazebo menatap Ian dari bawah. “Jika investor menarik sahamnya kembali, bukankah sudah jelas alasannya adalah perusahaan tersebut mengalami penurunan terus-menerus? Aku hanya mengamankan uangku agar tidak terbuang sia-sia, Count.”
Count Flow mengerjap kaget. “Penurunan? Maafkan saya, arus keuangan perusahaan saya sangat bagus, Yang Mulia. Saya tidak mengerti penurunan mana yang Anda maksudkan.”
“Oh, tidak, jangan berbohong padaku, Count Flow,” kekeh Ian terkesan bersahabat namun menyalurkan aura mengerikan kepada Count. “Penjualan minyakmu dengan perusahaan minyak milik Countess Efran di Kerajaan Douphens berbanding sangat jauh. Kau adalah satu-satunya pengusaha minyak di Ophelia sehingga aku mendukungmu dengan memberi sokongan investasi selama bertahun-tahun. Namun tampaknya, setelah sekian lama, tidak ada perkembangan signifikan yang terjadi. Lalu, untuk apa aku harus tetap menyokongmu?”
“Yang Mulia, akhir-akhir ini saya sudah merencanakan pengembangan baru untuk mengatasi ketertinggalan tersebut. Saya percaya metode yang telah saya rencanakan akan membuahkan hasil yang bagus. Jadi, dengan sepenuh hormat saya, bisakah Anda mempercayakan saya kembali, Yang Mulia?”
Ian menyeringai lebar, meremehkan. “Aku sudah mendengar kalimat itu berkali-kali darimu, Count Flow. Kau pasti ingat, sudah bukan sekali dua kali aku mengatakan padamu bahwa aku ingin menarik sahamku. Lalu, kau akan selalu mengatakan kalimat membosankan itu. Sekarang, aku merasa sudah cukup mendengarkannya.”
Count Flow sangat terkejut. Pria tambun itu langsung membungkuk sedalam-dalamnya, namun Ian mengalihkan tatapannya pertanda tak mau meladeni lagi. “Yang Mulia, saya bersalah! Saya memohon kepercayaan Anda kembali! Kali ini, saya akan berusaha keras memenuhi harapan Anda sebagai satu-satunya pengusaha minyak di Ophelia agar komoditas minyak Ophelia tidak kalah dari kerajaan mana pun, Yang Mulia!”
Ian mendengus muak. Dia tahu mengapa Count Flow sangat memohon kepadanya untuk kembali berinvestasi di perusahaannya. Count sungguh membanggakan perusahaannya sebagai perusahaan yang mendapatkan investasi dari Pangeran Mahkota. Perusahaan-perusahaan Ophelia yang mendapatkan investasi dari Ian merupakan perusahaan terpilih yang menjadi kiblat seluruh pengusaha di Ophelia. Secara tidak langsung, Pangeran Mahkota mengakui perusahaan tersebut sebagai perusahaan berkompeten yang menjadi pilar perekonomian kerajaan.
Ian mendukung Count Flow karena ia satu-satunya pengusaha minyak di Ophelia. Sudah sewajarnya Ian menyokong perusahaan minyak itu agar Count senantiasa termotivasi untuk terus memajukan usahanya. Namun tidak. Setelah bertahun-tahun, tidak ada kemajuan yang berarti. Count menyombongkan perusahaannya sebagai perusahaan terpilih oleh Ian, namun tidak pernah berusaha memajukannya. Sampai-sampai perusahaan Count Flow tertinggal jauh dari perusahaan minyak milik kerajaan tetangga.
Ian rasa, inilah saat yang tepat untuk berhenti menyokong Count Flow. Ian telah muak mendengar bualan pria tambun tersebut.
Ah, Ian teringat sesuatu.
“Count Flow, aku ingat kau memiliki putri bungsu,” ujar Ian membuat Count tersentak.
Masih dalam posisi membungkuk, Count menyahut. “Benar, Yang Mulia. Namanya Alysa Flow.”
Perasaan Lizzy mulai tidak enak.
“Aku tahu, Count. Tahun lalu aku mendengar namanya melalui kabar yang tidak enak didengar.”
Mata Lizzy sedikit membulat menatap Ian. Memahami apa yang Ian maksud dan akan ke mana arah percakapan ini. Tangan Lizzy yang menggenggam garpu spontan turun, tidak jadi memasukkan sepotong kue jaffa ke mulutnya. Sorot kaget gadis itu bertemu dengan sorot datar Ian.
Entah mengapa, Ian merasa sorot mata Lizzy seolah berkata, “Apa yang ingin kau lakukan dengan tiba-tiba membawa insiden debut sosialku?”
Dalam bungkuknya, Count sangat mengerti arah pembicaraan Ian. Pria itu menggigit bibir dalam-dalam dengan tubuh gemetar takut. Batinnya menyumpah dan mengumpati putrinya sendiri. Merasa ini semua adalah kesalahannya karena telah menyinggung tunangan Pangeran Mahkota. Tidak, ini bukan salah putrinya. Ini salah Elizabeth de Gilbert, putri Eugene de Gilbert, pria menjengkelkan yang membuat hidup foya-foyanya di dunia hitam berakhir.
“Saya menyayangkannya, Yang Mulia. Saya terlalu memanjakan putri saya hingga dia bersikap tidak pantas kepada tunangan Anda alias Nona Gilbert. Yang Mulia dan Nona Gilbert, saya memohon maaf atas kesalahan Alysa.”
Lizzy menoleh, bersuara. “Tidak apa—“
“Keputusanku sudah final, Count Flow. Aku tidak akan berinvestasi lagi di perusahaanmu. Sebaiknya kau menggunakan waktumu dengan baik untuk menata kehidupanmu dan kehidupan keluargamu,” sahut Ian langsung memotong suara Lizzy.
Count Flow tidak kuasa lagi menahan tubuhnya untuk terus membungkuk. Pria itu menegak dengan wajah pias. “Yang Mulia, saya bersalah! Tolong, berikan belas kasih—“
Ian menyesap teh, melirik tidak minat. “Jangan buat aku mengulangi perkataanku.”
“Tidak, saya mohon, Yang Mulia! Tolong Anda mempertimbangkannya lagi! Saya—“
Ian berhenti menyesap teh. Dengan seringai lebar yang terkesan bersahabat, dia menoleh ke Count Flow. “Ah, aku memiliki pesan untuk putrimu.”
“P—Putri saya?” beo Count terkejut, dugaan harapan mulai melintasi benaknya. “A—Apakah itu, Yang Mulia? Saya akan menyampaikannya dengan baik.”
Jika Ian berhenti berinvestasi di perusahaannya, namun tertarik dengan Alysa, bukankah itu pertukaran yang setimpal?
Seringai Ian melebar, mengantarkan kengerian. “Jauhi tunanganku. Jika aku mendengar dia mengganggu Elizabeth lagi di pergaulan sosial, aku tidak akan segan.”
Dan begitulah, harapan Count Flow pecah berantakan di tanah.
TO BE CONTINUED[Untuk sementara, lebih tepatnya sampai tanggal 31 Oktober, TQQ akan update malam hari sekitaran jam sembilan begini, guys. Nah untuk bulan November, akan kembali update pagi jam sembilan. Anyway, kue jaffa, scone dan kue welsh itu beneran ada. Kue-kue itu adalah kue tradisional Inggris. Seandainya Dreame ada fitur penambahan foto dalam tiap chapter, pasti mudah nunjukinnya, huhuhu]