Beban pikiran Lizzy bertambah akibat kelakuan Theo. Sudah selesai dengan masalah Ian dan Peter, sekarang diberatkan lagi oleh Arthur. Lizzy tidak habis pikir. Dia paham watak Arthur seburuk dan segelap apa. Dia juga paham segila apa pria itu, berikut juga dengan Alice dan Theo. Sebagai anak bungsu, Lizzy bagaikan kelinci dalam kawanan serigala yang tidak bisa memahami cara hidup mereka. Kini, belum genap berusia 13 tahun, beban pikiran Lizzy sudah seperti menandingi beban pikiran orang dewasa. “Kau kenapa?” tanya Ian menyeletuk, menginterupsi Lizzy yang sedang melamun sambil mengaduk gelas parfait. “Jangan menjadikan makanan sebagai mainan, memangnya kau anak kecil?” Lizzy melirik sekilas, kembali mengaduk parfait yang tersisa di dalam gelas. Hembus napas lelah keluar dari bibir tipi

