BAB 62

2038 Words
“Yang Mulia, ini… kita mau ke mana?” tanya Lizzy kebingungan di sela tangannya digenggam oleh Ian, entah dirinya hendak dibawa ke mana oleh pangeran itu. “Kau ingin parfait, bukan?” sahut Ian membuat Lizzy semakin bingung. Di belakang Ian, Lizzy mengangguk kecil. “Ya, aku sedikit ingin. Tapi, tapi… ini—“ Ian menyeringai lebar. “Sudahlah, diam dan ikuti saja.” Lizzy mengerjap pelan dengan bibir menipis, penuh keraguan. Dia melihat ke sekitar, tidak ada yang mengikuti mereka. Baik pelayan maupun ksatria, tidak ada yang mengikuti langkah Ian dan Lizzy. Sementara, Ian menggandeng Lizzy, melangkah entah ke mana. Semua ini bermula setelah Ian tiba-tiba melempar tawaran pergi ke sebuah restoran yang menyajikan parfait di ibu kota. “Apa?” respon Lizzy usai melongo sekian detik. Alis Ian naik sebelah. “Ya, restoran dengan parfait terbaik di ibukota.” “Benar ada restoran seperti itu di ibukota, aku tahu,” Lizzy mengerjap cepat, “tapi, kenapa kau tiba-tiba menyinggung restoran itu? Kenapa… tiba-tiba parfait?” Jemari Ian menggerakkan sendok memutar di mangkuk oatmeal. Sorot mata Ian sama bingungnya dengan Lizzy menyebabkan gadis itu keheranan. “Damaresh menyuruhmu makan buah-buahan dan melarangmu makan makanan manis, bukan? Apa pun boleh selama ada buah di dalamnya. Kau suka makanan manis, jadi jawabannya adalah parfait.” Lizzy meletakkan roti panggang yang baru dia lahap tiga kali ke piring. Hela napas pelan keluar dari bibir tipisnya, mulai tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ian yang tidak tertebak. “Aku mengucapkan terima kasih banyak atas perhatianmu, Yang Mulia. Tapi, yang kumaksud adalah… kenapa tiba-tiba kau mengajakku pergi ke sana? Ini terlalu… mendadak.” Ya dan Noah juga terlalu mendadak mengajakmu pergi ke ibu kota tapi kau tetap mengiyakannya, batin Ian tercubit kesal mengingat kejadian semalam. “Aku hanya ingin pergi ke ibu kota,” dengus Ian sambil menyendokkan oatmeal ke dalam mulutnya. Perubahan rautnya yang menjadi sedikit kesal membuat Lizzy tersentak kecil. Jawaban Ian tidak menuntaskan kebingungan Lizzy, justru menimbulkan kebingungan yang lain. Lizzy tahu Ian belum pernah pergi ke luar istana walau tidak ada yang akan melarangnya. Menurut informasi dari Hera, Ian tidak suka pergi ke tempat yang ramai. Jadi, Ian tidak pernah merasa jenuh di dalam istana selama sebelas tahun tinggal di sana. Berbeda dari Lizzy yang selalu menantikan tibanya Arthur mengizinkannya keluar dari kediaman Gilbert. Kini melihat Ian tiba-tiba ingin pergi ibu kota tidaklah aneh bagi Lizzy. Ian pasti telah mencapai titik jenuhnya di istana dan ingin mencari suasana baru. Sangat wajar bagi Ian. Tapi, yang tidak Lizzy mengerti adalah mengapa sangat tiba-tiba? Mengapa Ian mengajaknya? Jika demi pencitraan itu semua jadi terlalu berlebihan. “Apa? Ada masalah?” tanya Ian usai menelan kunyahan oatmeal. Lizzy menatap Ian masih dalam sorot keraguan. “Kenapa… kau mengajakku?” Pertanyaan Lizzy cukup di luar dugaan Ian. Ian pikir gadis itu akan lebih menanyakan alasan Ian mendadak ingin pergi ke ibu kota. Keraguan dan bingung yang berpadu di wajah cantik Lizzy tercetak jelas dalam iris merah Ian yang senantiasa menyorotkan kedataran. “Kau tidak mungkin kutinggalkan di istana. Entah apa yang akan Raja bodoh itu ocehkan jika tahu aku meninggalkanmu di istana,” jawab Ian apa adanya, “kau tidak mungkin bisa melahap banyak parfait di istana karena Damaresh akan siap menegurmu. Jadi kupikir ini menguntungkan dua belah pihak.” Lizzy masih dipenuhi keraguan. Dia baru saja sembuh dari demam. Tampaknya, langsung jalan-jalan di ibu kota bukan ide yang bagus. Terlebih, Dokter Damaresh masih menganjurkan Lizzy untuk banyak beristirahat walau beliau telah menyatakan kesembuhan Lizzy. Lizzy berusaha tersenyum senormal mungkin, tapi sayangnya Ian mampu menangkap kecanggungan dalam senyum tersebut. “Tampaknya ide yang bagus, Yang Mulia. Tapi, maaf, Dokter menganjurkanku untuk banyak beristirahat—“ “Jalan-jalan di ibu kota tidak akan membunuhmu. Cuacanya cerah dan udaranya hangat. Percayalah padaku,” sangkal Ian tidak mau mengalah begitu saja membuat Lizzy tersentak. Lizzy mengerjap cepat. “T—Tapi—“ Ian menyeringai. “Percayalah padaku. Kau akan menyukainya.” Begitulah akhir dari penyebab sekarang Lizzy digandeng oleh Ian entah ke mana usai menghabiskan sarapan. Setelah Lizzy menghabiskan tiga lembar roti panggang dan Ian menghabiskan semangkuk oatmeal, Ian langsung membawa Lizzy pergi dari rumah kaca tanpa mengatakan apa-apa. Lizzy pun pasrah digandeng oleh Ian, lagi-lagi tidak habis pikir dengan pangeran itu. Tidak hanya membuat Lizzy kebingungan, Ian juga membingungkan seluruh ksatria dan dayang yang mengawal mereka. Secara lantang Ian menyuruh mereka untuk tidak mengikuti langkahnya, terutama pengawal pribadi Ian, Caesar, Johan, dan Hera. Dengan wajah datarnya, Ian bilang alasannya adalah ingin menikmati waktu berdua bersama Lizzy. Ini memicu pikiran Lizzy kosong karena efek ledakan malu sehingga tidak punya kesempatan untuk menentang Ian. Alhasil kini tidak ada siapa pun di dekat Ian dan Lizzy. Mereka semua mematuhi Ian dengan rasa syukur melihat sang pangeran dan tunangannya semakin dekat. Pada akhirnya, Lizzy pasrah-pasrah saja mengikuti Ian. Pokoknya, jika Lizzy terbunuh di ibu kota, Lizzy bersumpah akan menghantui Ian selama sisa hidup lelaki itu. Ian berhenti di sebuah pintu kayu. Pintu kayu itu berada dalam dinding batu yang memagari wilayah istana kerajaan. Lokasinya tidak jauh dari Istana Ruby. Dekat dengan kandang kuda dan perkebunan sayur. Sangat terpencil dari istana mana pun di wilayah istana kerajaan.   Lizzy cukup kaget melihat adanya pintu celah di wilayah istana. Dari lokasi dan situasi sekitarnya saja Lizzy dapat menyimpulkan pintu ini bagaikan dua mata pedang. Dapat menjadi keuntungan bagi pihak luar istana dan dalam istana. Namun sekaligus menjadi marabahaya bagi pihak dalam istana. Tanpa mengalami kesusahan, Ian menarik pintu kayu tersebut lalu menoleh ke Lizzy. “Ayo.” Lizzy tidak berkutik. Dia masih mengemban keraguan dalam dirinya. Walau takjub melihat rimbunan pepohonan yang menanti di luar, firasat Lizzy berkata tidak. Ian pun menyadari keraguan gadis itu, lantas menggenggam tangannya kembali. Kali ini lebih erat dari sebelumnya hingga membuat Lizzy menoleh. Tatapan mereka bertemu. Sorot mata merah Ian seolah meyakinkan Lizzy tanpa bibirnya perlu bersuara. Mata biru Lizzy menyadari keseriusan Ian. Dia jadi berpikir lebih kritis lagi dengan mengesampingkan firasat buruknya yang tidak berdasar. Mencoba berpikir positif. Mungkin saja benar Ian beralasan tidak mau diomeli Marquis sehingga mengajak Lizzy ikut serta. Tapi, sesungguhnya lelaki berambut hitam itu lagi-lagi perhatian kepada Lizzy. Lizzy akan kesepian bila ditinggalkan di istana. Ya, Lizzy berusaha berpikir positif dengan gagasan penuh percaya diri tersebut. Lizzy memutus kontak matanya dari Ian. Gadis kecil itu mengambil langkahnya melewati pintu. Hembusan angin langsung menerpa tubuh Lizzy membuatnya menutup mata karena hembusannya begitu kencang. Ketika hembusan itu mereda, pelan-pelan Lizzy membuka kelopak matanya. Dan spontan saja, matanya berbinar melihat pepohonan rimbun dan semak-semak di hadapannya. Sejauh mata memandang, hanya ada pohon-pohon besar dan semak-semak rimbun. Tampaknya sebuah hutan. Walau tertimbun salju, sinar hangat matahari mampu menelusup masuk melalui celah-celah pepohonan. Menciptakan sebuah keindahan tersendiri. Lizzy sangat takjub. “Indah, bukan?” celetuk Ian usai menutup pintu, berdiri di samping Lizzy. Lizzy mengangguk kecil, bergumam saking terlalu takjub. “Ya, indah sekali.” Ian mengambil tangan kiri Lizzy. “Kita berada di wilayah barat istana. Hanya ada hutan yang terhubung ke gunung Helvellyn. Setelah keluar dari hutan, kita akan langsung sampai perkotaan.” Lizzy menoleh ke Ian. “Kau yakin kita tidak akan berpapasan dengan ksatria yang berpatroli?” “Jam segini para ksatria masih latihan pagi, sebagiannya lagi sedang apel pagi. Yeah, kita tidak punya banyak waktu.” “Tapi, dengan penampilan seperti ini, kita akan mudah ditemukan di perkotaan. Lagipula, pertama-tama, kenapa kau tidak ingin mereka mengawal kita?” Ian mendengus pelan. “Ini pengalaman pertamaku keluar istana selama sebelas tahun hidup. Aku ingin suasana baru.” Lizzy sedikit cemberut. “Baiklah, aku mengerti, aku melaluinya juga. Tapi, sekarang kita terlalu mencolok. Ksatria maupun bangsawan akan langsung mengenalimu di kota.” “Santailah sedikit. Kau pikir aku tidak ada persiapan?” “Huh?” Tanpa aba-aba, kaki jenjang Ian melangkah. Secara otomatis kaki Lizzy mengikuti dengan canggung. Lizzy sedikit kewalahan mengikuti langkah Ian yang cukup cepat, membuatnya kembali berada di belakang. Mau tidak mau, Lizzy kembali pasrah. Lizzy menghela napas panjang, berharap jalan-jalan mendadak di ibu kota ini berjalan selancar Ian mengutarakannya. *** Ian kembali mengetuk pintu, kehabisan kesabaran. “Masih lama, kah?” “Sebentar lagi. Bersabarlah sedikit, Yang Mulia,” jawab Lizzy dari balik pintu bernada sama kesalnya dengan Ian. Ian melengos seraya kembali bersedekap. Netra merahnya menatap jauh ke depan, menemukan gemerlap perkotaan tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Bising perkotaan pun sayup-sayup terdengar. Mengantarkan euforia tersendiri bagi Ian yang tidak pernah pergi ke ibu kota. Walau terkesan tidak tertarik, sesungguhnya Ian cukup gugup sekarang. Ian lebih mengkhawatirkan Lizzy yang pastinya antusias melangkah di perkotaan. Keantusiasan gadis itu cukup di luar nalar Ian. Ian khawatir dirinya tak mampu menjaga gadis itu selama berada di Ophele. Sudah tidak memiliki pengawal, tidak ada satu pun orang dewasa yang menemani mereka. Ian harus serba siaga di Ophele. Pintu terbuka membuat tubuh Ian berdiri tegak. Figur tunangannya keluar dari balik pintu. Mengenakan gaun sederhana berwarna peach sebatas lutut, syal rajut putih, dan flat shoes hitam yang tidak cantik sama sekali. Rambut pirang bergelombangnya dikepang longgar dan disampirkan ke depan melalui pundak kirinya. Jujur saja, walau Lizzy tampil sederhana, gadis itu tetap jelita. Aura bangsawannya tetap memancar kuat. Tidak jauh berbeda dengan Ian. Dalam sudut pandang Lizzy, lelaki itu tetap luar biasa tampan walau hanya mengenakan kemeja putih longgar berlengan sampai siku, celana hitam selutut, dan sepatu cokelat biasa. Lizzy mulai khawatir penyamaran Ian sia-sia saja. “Lama sekali,” keluh Ian lengkap dengan dengus sebal membuat Lizzy sedikit cemberut tidak terima. “Maaf saja karena tidak ada yang bisa membantuku menyiapkan diri,” tanggap Lizzy sebal. Ian melengos seraya melangkah duluan menuruni anak tangga teras pondok kayu. “Cepatlah sebelum ksatria itu mulai berpatroli.” “Aku takjub melihat ada pondok kecil kosong di sini,” ujar Lizzy mengikuti langkah Ian, “lebih takjub lagi di dalamnya ada lemari dengan setumpuk pakaian biasa seukuran kau maupun aku.” Ian menoleh diikuti seringai sombong. “Sudah kubilang, kau pikir aku tidak ada persiapan, huh?” Lizzy mendengus sebal, berhenti di samping Ian. “Aku paham. Maaf saja jika aku terkesan meragukanmu, Yang Mulia Terhormat.” “Selama di ibu kota jangan memanggilku begitu.” Lizzy menoleh. “Ah, benar juga. Akan terlihat aneh memanggilmu Yang Mulia di saat kau tampil sesederhana ini.” Ian meraih tangan kanan Lizzy, menggandengnya. “Ya, panggil saja Ivander.” Lizzy membulatkan mata. “N—Nama aslimu?” “Ya.” Lizzy melongo. “Apa? Memangnya kau ingin memanggilku apa?” Bibir Lizzy mengatup rapat. “Kukira kau akan mengajukan nama samaran….” Ian melengos pelan. “Merepotkan memikirkan nama lain. Aku mengantisipasi banyak hal di ibu kota. Jika pakai nama samaran, ada kalanya aku tidak akan menoleh karena lupa.” Lizzy menoleh ke depan karena merasakan pipinya terasa sedikit panas. “Ah, aku mengerti.” “Aku juga akan tetap memanggilmu Elizabeth. Ivander dan Elizabeth adalah nama yang umum, jadi ksatria yang berpatroli maupun bangsawan tidak akan menyadari kita.” Lizzy hanya mampu mengangguk kecil seiring merasa rasa panas itu menjalar. “Percobaan pertama,” Ian meraih dagu Lizzy, tanpa permisi mengarahkan wajah gadis itu agar menatapnya, “coba panggil namaku.” “A—Apa?” sahut Lizzy terlalu kaget dengan perlakuan Ian yang menyebabkan jarak wajah di antara mereka sangat dekat. Tak dapat dihindarkan lagi, wajah Lizzy bersemu penuh semerah tomat. “Coba panggil namaku,” suruh Ian lagi mengabaikan betapa kaget dan merahnya wajah tunangannya sekarang. Lizzy merasa jantungnya akan meledak akibat memompa terlalu keras. Terpaan napas Ian menyapu wajahnya. Membuktikan betapa dekatnya wajah lelaki itu dengannya. Tinggi badan Lizzy yang hanya sebatas telinga Ian menyebabkannya terpaksa mendongak tinggi dan itu sangat membayakan jantungnya. Ini adalah kedua kalinya Lizzy sedekat itu dengan Ian.  Ian tidak berekspresi apa-apa seolah tak terganggu dengan jarak tipis tersebut. Iris merahnya menatap intens ke mata biru Lizzy. Aroma vanila tertangkap oleh rongga hidung Ian saking dekatnya tubuh gadis itu dengannya. Dan Ian cukup menyukainya. Walau termasuk aromanya seperti kue manis yang dia tidak sukai, Ian tetap menyukai aroma vanila Lizzy yang khas. “Ayolah, coba satu kali,” desak Ian usai hening yang mendebarkan. Bibir tipis Lizzy bergerak kaku. Dari mengatup, menipis, terbuka sedikit, lalu kembali mengatup. Gadis itu sungguh kesusahan memanggil nama asli Ian seolah menyebutnya adalah hal tabu. Tidak hanya bibir tipisnya, mata biru Lizzy juga menghindar dari tatapan Ian. Dapat Ian simpulkan, tunangannya terlalu malu memanggil nama aslinya. Ian mengembuskan napas pelan, kembali mengarahkan wajah Lizzy agar menatapnya. “Jika tidak cepat, kita akan ketahuan ksatria.” “Aku tahu,” cicit Lizzy kesal sendiri karena terus-menerus didesak. Dia mengambil napas panjang guna menenangkan debar jantung serta meyakinkan diri. Ini tidak seperti dia akan mati hanya karena memanggil nama asli tunangannya. Lizzy berdehem kecil lalu menyuarakannya. “Ivander.” Tak dapat dielakkan lagi. Momen ketika suara lembut Lizzy menyebut nama aslinya telah menancap kuat dalam memori Ian. Mengantarkan perasaan puas dan senang tersendiri bagi lelaki itu, entah mengapa. “Bagus, Elizabeth,” balas Ian, lagi-lagi menyeringai. TO BE CONTINUED Ampun, anak-anak piyik aja udah ngedate. Aku kapan, Ya Allah :">
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD