“Apa? Dia tidak ada di perpustakaan istana?” cetus Marquis tersulut amarah sesaat setelah Johan melaporkan sesuatu kepadanya. “Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya anak itu lakukan, astaga.”
Victorique menoleh menatap raut emosi terpasang di wajah suaminya. “Ada apa, Johan?”
“Pangeran tidak ada di perpustakaan istana, Yang Mulia.” jawab Johan penuh penyesalan. “Saya ceroboh, pangeran masih bersama Tuan Holloway dan Tuan Lapepuff ketika pangeran meminta diseduhkan teh dan sandwich. Ketika saya kembali, pangeran sudah tidak ada, sementara Tuan Holloway dan Tuan Lapepuff pun tidak menyadari kepergiannya setelah mereka selesai membicarakan masalah perpajakan dan biaya rekonstruksi.”
“Aku sudah menduga dia sangat lancang, tapi tidak kusangka akan selancang ini,” geram Marquis, “dia berniat melarikan diri, huh?!”
Victorique menyentuh pundak Marquis, menenangkannya. “Ian bukan anak tidak bertanggungjawab seperti itu, Marquis. Beri dia kepercayaan.”
“Aku sudah memakluminya ketika dia keras kepala untuk menyelesaikan permasalahan bodoh itu sebelum menghadiri pertemuan penting ini. Sekarang dia pergi entah ke mana rimbanya, Victorique, dia ingin melarikan diri!”
Arthur mendengus pelan. “Ya, kurasa begitu, Raja Bodoh. Aku tidak menyangka bocah itu akan tumbuh menjadi seperti itu, tidak rasional dan tidak bertanggungjawab.”
“Arthur, dia bukan anak yang seperti itu,” sangkal Victorique tenang membuat Arthur kembali mendengus. “Elizabeth pun sedang berkeliling istana. Ada kemungkinan mereka akan berpapasan entah di sudut istana sebelah mana.”
Asumsi Victorique membuat Marquis dan Arthur menoleh kepadanya dengan raut sedikit syok. Sama-sama baru menyadari ada kemungkinan semacam itu. Mereka melupakan fakta ketiadaan Lizzy di samping mereka. Dalam sekejap, raut emosi Marquis berganti menjadi wajah khasnya, penuh seringai jahat.
“Jika sudah begitu, kita tidak perlu khawatir lagi. Sekali dia bertemu Ronald, Ronald tidak akan melepaskannya begitu saja,” tandas Marquis penuh percaya diri. Dia menoleh ke Johan, “Siapkan kue-kue manis dan seduh teh s**u. Aku yakin sebentar lagi mereka akan datang.”
“Baik, Yang Mulia.” balas Johan, lantas menyingkir untuk melaksanakan perintah Marquis.
“Jujur saja, aku cukup kecewa atas sikap bocah itu,” cetus Arthur membuat Marquis dan Victorique menghela napas berat.
“Benar-benar. Sudah membuat Putri Kerajaan menangis, bersikap seenaknya, memberi kalung Royal Treasure kepada perempuan yang bukan tunangannya, sekarang seenaknya sendiri mengulur waktu,” timpal Marquis setuju, “belum kutambah dengan dia juga sempat mengutarakan tidak setuju untuk bertunangan hanya dengan alasan, “perempuan itu merepotkan”.”
Arthur menyeringai lebar dan mendengus geli. “Kenapa tidak kau kabulkan permintaannya, huh? Bukankah dengan begitu faksi aristokrat tidak akan mengganggumu lagi?”
“Kau bodoh? Justru dengan begitu, mereka akan semakin mengganggu dengan menyodorkan perempuan-perempuan tidak jelas untuk ditunangkan dengan Ian. Kau pikir aku sudi menjodohkannya dengan perempuan sembarangan?”
“Aku sangat tersanjung selaku kakak Lizzy, tapi sayang sekali tidak ada satu pun dari kami yang benar-benar merelakannya bertunangan dengan putra lancangmu.”
Victorique mendecak kesal, tidak tahan lagi. “Bisakah kalian satu kali saja tidak berdebat setiap kali bertemu?”
“Entahlah, tampaknya aku dan Eugene sudah ditakdirkan untuk bermusuhan sampai akhir hayatku,” Marquis melengos kasar, “tidak ada dia, jadilah putranya. Kutukan macam apa ini.”
“Cari anjing lainnya untuk kerajaan bodohmu ini, Marquis.” balas Arthur sewot membuat Marquis melotot tajam padanya.
“Kau makhluk tidak tahu berterimakasih. Kuberi kau wadah untuk melampiaskan hasrat darahmu dan inikah balasanmu padaku?”
“Aku tidak butuh wadah bodoh itu, aku bisa melakukannya dengan caraku sendiri.”
Ah, kepala Victorique pening.
***
“Elizabeth.”
Kepala Lizzy spontan menoleh. Tubuhnya kaku, hatinya mencelos, lidahnya kelu tak mampu bersuara.
“Pangeran?”
Lizzy tidak mampu bergerak. Kakinya seolah tertancap kuat. Jantungnya yang telah menderu, kini semakin terpacu cepat seolah akan meledak. Lidahnya tidak lagi mampu berkata setelah menyuarakan satu kata. Tanpa Lizzy sadari, mata biru berliannya mulai basah oleh air mata, entah untuk alasan apa.
Padahal Ivander de Bloich hanya berdiri di hadapannya tanpa melakukan apa pun.
Rambut hitam acak-acakan, mata semerah darah, kulit putih, bibir tipis, hidung mancung, dan postur tubuh yang ideal. Penampilan luar biasa tampan seperti pangeran di dunia dongeng, sesuai kata Hera. Ian menjulang di hadapan Lizzy, menatap gadis itu dengan wajah datar yang terkesan tidak suka melihat Lizzy berada di taman Istana Ratu.
Dia… dia pasti Pangeran Ivander, bukan? Rambut hitam dan mata merah darah, hanya pangeran yang memiliki penampilan seperti itu, batin Lizzy gugup, sepenuhnya kaku di tempat. Bagaimana ini? Aku… aku tidak bisa bergerak, tidak bisa bersuara juga. Aku harus memberikan salam, ya, salam!
Penuh kekakuan seperti robot, tubuh Lizzy membungkuk dengan kedua tangan mengangkat gaunnya guna memberi salam, “Sa—salam pada Sang Matahari Kerajaan Ophelia, Yang Mulia Pangeran Mahkota Ivander. Nama saya…, Elizabeth de Gilbert. Sebuah kehormatan bagi saya untuk bertemu Anda. M—Maafkan ketidaksopanan saya sebelumnya, Yang Mulia.”
Apa-apaan dia? cibir Ian dalam hati seraya mengamati Lizzy dari atas kepala sampai ujung kaki. Sikap lancang memang sudah mengalir dalam darah mereka, huh?
Beberapa saat yang lalu, Ian menyelesaikan urusannya mengatasi masalah kerajaan. Perbincangan alot itu akhirnya selesai setelah lima jam. Menguras tenaga Ian sehingga dia meminta dibawakan teh dan sandwich. Akan tetapi, dia tidak bisa diam ketika mata merahnya menangkap sosok seorang perempuan pirang berlari kecil memasuki taman Istana Ratu. Kepalanya langsung tertuju pada satu nama dan tubuhnya bergerak begitu saja keluar dari perpustakaan.
Ian tidak lupa, dia ingat hari ini merupakan hari pertemuannya dengan keluarga Gilbert. Hanya saja ayahnya benar-benar tidak bertanggungjawab atas masalah kerajaan yang seharusnya sudah dia selesaikan sejak lama. Pria itu lebih fokus mengurus pertunangan Ian dibanding meladeni masalah perpajakan dan biaya rekonstruksi jalan. Marquis pun baru memberitahu Ian sehari sebelum hari acara. Mau bagaimanapun dan situasi apa pun, Ian akan lebih mementingkan tugas kerajaan.
Padahal Ian sudah mengulur waktu lama agar tidak segera bertemu dengan Lizzy, namun lihatlah, secara lancang gadis itu tiba-tiba saja muncul di taman favoritnya.
“Apa yang kau lakukan? Kau tahu ini area pribadi keluarga kerajaan?” tanya Ian sedikit tajam membuat Lizzy terkesiap.
Lizzy yang masih membungkuk karena tidak mendapat izin Ian pun diam-diam menggigit bibir bawahnya. “Dengan penuh kerendahan hati, saya memohon maaf Anda atas kelancangan saya, Yang Mulia. Saya sepenuhnya mengetahui taman bunga Istana Ratu merupakan area pribadi keluarga kerajaan. Akan tetapi, saya mendapatkan izin dari Yang Mulia Ratu, bahkan beliau yang meminta Ronald membawa saya ke sini. Saya mohon maaf bila tidak berkenan bagi Anda.”
“Ibu mengizinkanmu, huh?” tanya Ian terkesan tak percaya.
Lizzy menelan ludah. “Benar, Yang Mulia.”
Menurut sudut pandang Ian, hal semacam itu tidak mustahil untuk terjadi. Mengingat Lizzy merupakan calon tunangannya, wajar-wajar saja bagi Victorique untuk memperbolehkan Lizzy memasuki taman Istana Ratu. Ditambah pula keterlambatannya yang cukup lama, para orang tua itu pasti menyuruh Lizzy berkeliling istana untuk menghabiskan waktu. Tapi bagaimanapun juga, Ian sedikit tidak menyukai gagasan itu.
Lizzy belum resmi menjadi tunangan Ian, statusnya masih sebatas Nona Gilbert. Bagi Ian, terlalu cepat untuk mengizinkan Lizzy menginvasi taman Istana Ratu.
Itulah pandangan Ian sebelum berhadapan dengan Lizzy. Ketika dia berhadapan dengan gadis kecil itu, secara aneh, gadis itu seolah melihat suatu hal mengerikan hingga hampir pingsan. Jika saja Ian tidak memanggil namanya, Lizzy benar-benar akan jatuh pingsan karena serangan panik. Sekali lagi bagi Ian itu cukup mengejutkan. Setelah lama tidak bertemu, Ian tidak menyangka Lizzy mempunyai gangguan serangan panik.
“Apa yang kau lakukan barusan?” tanya Ian datar setelah hening beberapa menit.
“Saya melihat pemandangan taman dan berkeliling sejenak memutari meja teh untuk mendapatkan sudut pandang lainnya, Yang Mulia,” jawab Lizzy berubah menjadi lebih lancar dan tenang. “Maafkan saya, saya terlalu terpesona dengan keindahan taman sehingga tanpa sadar bersikap sedikit tidak berkenan bagi Anda.”
Alis Ian menukik tajam, keningnya mengerut menatap Lizzy. Bahkan alasan ibu dan anak ini sama.
“Kau memang akan menjadi tunanganku, tapi aku tidak melihat ada alasan untuk memperbolehkanmu memasuki area ini,” cetus Ian bernada dingin, membuat Lizzy sedikit bergemetar takut. Ian berbalik badan seraya berkata, “berdiri.”
Pangeran Mahkota itu beranjak pergi begitu saja tanpa memedulikan Lizzy. Tidak berkata apa-apa lagi setelah memberikan izin atas salam hormat gadis itu. Lizzy bernapas lega setelah tubuhnya menegak. Nyeri menyerah tubuhnya akibat membungkuk terlalu lama. Dia sedikit terbatuk selama memperlancar sirkulasi pernapasannya. Keringat dingin sudah memenuhi kening Lizzy, membuat penampilannya sedikit berantakan.
Lizzy, seorang korban, menatap punggung Ian semakin menjauh dengan tatapan sedih bercampur marah. Ketika dia sudah menduga pertemuannya dengan Ian tidak akan berjalan bagus, Lizzy tidak menduga akan menjadi seburuk ini. Maksud Lizzy, laki-laki mana yang membiarkan perempuan membungkuk terlalu lama padanya. Bukankah itu menunjukkan betapa tidak berperasaannya Ian?
“Sudahlah, aku juga sudah menduga hal seperti ini yang akan terjadi,” gumam Lizzy pasrah seraya menyeka keringat di keningnya.
Saat Lizzy hendak menyusul langkah Ian, mata birunya menangkap sebuah saputangan hitam tergeletak di meja teh. Gadis itu dilanda bingung seketika. Dia sangat yakin tidak ada benda apa pun di meja ketika dia datang. Ragu-ragu, Lizzy meraih saputangan tersebut, mengamatinya. Berbahan kain berkualitas tinggi dengan sulaman corak berwarna merah pada tiap tepiannya. Sayang sekali tidak ada inisial pemilik tersulam pada saputangan itu.
Jika ini berada di sini, artinya milik salah satu orang istana kerajaan, batin Lizzy masih memerhatikan saputangan.
Suara gumpalan salju terjatuh dari atap gazebo pun menyadarkan Lizzy. Mata birunya mengerjap cepat, menangkap figur Ian sudah cukup jauh darinya. Buru-buru dia memasukkan saputangan hitam tersebut ke kantung gaun, lalu berlari menyusul Ian.
TO BE CONTINUED[Tuh, baik kan aku :"]