BAB 25

1606 Words
Hera cukup khawatir. Sedari usai melalui acara pertemuan hingga kereta kuda telah berjalan menjauh dari istana kerajaan, raut Lizzy muram. Nona kecil itu tampak tidak senang sama sekali setelah bertemu keluarga kerajaan. Tubuh Lizzy lemas dan berwajah sedikit pucat seolah telah melalui hal paling buruk dalam hidupnya. Padahal tidak ada hal buruk terjadi selama di istana kerajaan. Atau, jangan-jangan telah terjadi sesuatu? “Nona,” panggil Hera hangat membuat Lizzy menoleh lemas, “apakah ada masalah? Anda merasa tidak enak badan?” Bibir Lizzy menipis sejenak sebelum membentuk senyum kecil. “Aku baik-baik saja, tidak ada masalah.” “Tolong jangan berbohong.” desak Hera khawatir. “Kita bisa mengambil waktu lain untuk mengelilingi perkotaan. Jangan memaksakan diri Anda.” Lizzy menggeleng cukup keras. “Aku benar-benar baik-baik saja. Hanya sedikit lega setelah dapat melalui pertemuan dengan lancar. Aku sungguh berhasil menahan kegugupanku.” “Benarkah?” Lizzy mengangguk, wajah lemasnya mulai bersemangat. “Benar. Setelah berkeliling kota, memakan sate barbeque dan parfait, aku pasti akan kembali seperti sedia kala. Aku sedikit lapar.” Raut khawatir Hera spontan berganti menjadi penuh kehangatan. “Baiklah, kita akan membeli apa pun yang Anda inginkan tanpa melewatkan apa-apa.” “Ya, aku ingin membeli jajanan pasar. Kau pasti mengingatnya, bukan? Aku sudah mengatakannya saat kita sampai di Ophele. Sekarang aku juga ingin membeli beberapa pita satin.” Hera mengangguk paham. “Baik, ada banyak toko yang menjual pita satin berkualitas tinggi. Anda tidak perlu khawatir. Apakah Anda juga ingin membeli beberapa gaun dan sepatu?” Mata berlian Lizzy mengarah ke atas, menimang-nimang. “Entahlah, mungkin aku memerlukan gaun baru berhubung aku akan memasuki kehidupan sosial bangsawan. Sebentar lagi Kak Alice pasti akan membawaku menghadiri beberapa pesta teh.” “Benar, tampaknya Anda perlu memberi beberapa gaun. Sejauh ini Anda hanya memiliki gaun sehari-hari dan sedikit sekali gaun formal.” Lizzy sedikit manyun. “Tapi entahlah, Hera. Aku tidak yakin apakah akan ada desainer lain yang memiliki gaun sesuai seleraku. Selama ini aku sangat nyaman memakai gaun buatan Madam Red.” “Benar, seluruh gaun Anda adalah buatan Madam Red,” Hera tersenyum lebar, “apakah Anda ingin mengunjungi butik Madam Red?” Lizza membelalak kaget bercampur kagum. “Kita bisa mengunjungi butiknya? Apakah ada di Ophele?” “Tentu saja, nona. Madam Red merupakan desainer nomor satu di Kerajaan Ophelia. Beliau memiliki banyak cabang butik di seluruh penjuru Ophelia dan beberapa kerajaan tetangga.” Lizzy mengangguk semangat. “Baiklah, kita harus mengunjungi butiknya.” Hera bernapas lega melihat Lizzy telah kembali seperti sedia kala. Wajah pucat dan tubuh terkesan lemas sontak sirna setelah Hera membahas rencana berkeliling di Ophele. Walau Hera masih sedikit meragu, Lizzy pasti menahan diri dengan memasang sikap bersemangat agar Hera tidak khawatir. Jika Lizzy tidak mau membahasnya sekarang, Hera tidak akan memaksanya. Cepat atau lambat Lizzy pasti akan mencurahkan keluh kesahnya pada Hera, jadi Hera tidak perlu buru-buru. Yang terpenting Lizzy sudah kembali ceria. “Wow!” seru Lizzy membulat kagum sesaat setelah turun dari kereta kuda. Matanya mengerjap seraya mengedarkan pandangan ke segala arah, lantas semakin kagum melihat keramaian perkotaan. “Hera, ini menakjubkan!” serunya lagi sambil meraih pergelangan tangan Hera. Hera terkekeh kecil. “Benar, nona. Syukurlah sore ini salju tidak turun deras.” Lizzy tidak membalas. Dia fokus menatap pasar yang menjadi area teramai di dekatnya. Pasar itu tampak seperti stan-stan festival seperti di buku dongeng. Lizzy tidak bisa menahan diri lagi, dia menarik Hera melangkah menuju pasar tersebut. Hera tidak kaget, sudah menduga pasar akan menjadi tempat pertama yang dikunjungi oleh Lizzy. Sesaat setelah memasuki area pasar, Lizzy mulai berhati-hati agar tidak menabrak dan menyenggol orang lain. Berhubung sore ini pasar sungguh ramai dipenuhi pengunjung. Mata biru berlian Lizzy membulat mengamati setiap stan pedagang. Mulai dari stan buah, sayur, mainan, hewan peliharaan, makanan, dan lain sebagainya. Segalanya ada dengan harga murah. Benar-benar seperti yang tertulis di buku bacaan. “Hera, hera, itu sate barbeque!” seru Lizzy menoleh ke Hera, jarinya menunjuk stan barbeque yang cukup ramai. “Baik, ayo ke sana sebelum kehabisan,” sahut Hera membuat Lizzy langsung berlari kecil. Ah, nona benar-benar lengah pada sekitarnya, batin Hera mengamati Lizzy berlari menuju stan barbeque. Matanya menangkap orang-orang menatap nona ciliknya secara terang-terangan seolah ada yang aneh pada diri Lizzy. Hera berbisik ke belakang, “Caesar.” “Aku tahu,” sahut Caesar datar, lantas melangkah lebar menyusul Lizzy. Mengagetkan orang-orang karena kehadiran ksatria berseragam hitam, tak begitu dikenali. Sementara, Elizabeth de Gilbert asyik di dunianya. Dia mengantri. Walau dia tidak bisa diam pula, badannya bergerak kesana-kemari ingin melihat proses pembuatan sate barbeque. Sepenuhnya tenggelam dalam angannya tentang sate barbeque idamannya. Tidak menyadari bahwa kehadirannya benar-benar menarik perhatian seisi pasar. “Paman, aku ingin lima tusuk barbeque,” pesan Lizzy sesaat setelah salah satu pengunjung menerima pesanannya. Hera kaget, menoleh. “Nona, bukankah itu terlalu banyak?” “Bukan untukku semua, aku hanya satu tusuk. Sisanya untuk kakak-kakak,” jawab Lizzy polos membuat Hera bernapas lega. Hera menoleh ke penjual barbeque. “Lima tusuk.” Selama menunggu pesanan selesai, Lizzy sudah sibuk mencari stan lain untuk dikunjungi. Sangat tidak sabar dan penuh antusias. Dalam waktu satu jam, Lizzy harus mengunjungi semua stan menarik di pasar. Dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Belum tentu Lizzy bisa pergi berkeliling kota lagi dalam waktu dekat. Mata Lizzy berhenti di stan burung. Beragam kandang burung warna-warni yang tergantung di sana benar-benar mencolok. Selama ini Lizzy belum pernah melihat burung beserta kandangnya. Di kediaman Gilbert hanya ada burung elang dan burung hantu yang berkeliaran bebas tanpa kandang. Tidak ada burung-burung kecil manis yang lazim menjadi peliharaan. Ya, sudah diputuskan. “Caesar, temani aku ke stan burung peliharaan,” pinta Lizzy sambil menarik lengan pakaian Caesar. Tidak lupa memasang wajah memelas. Pasalnya pesanan barbeque-nya masih belum selesai. “Makanan Anda masih disiapkan, nona,” sahut Caesar menolak secara tersirat membuat wajah Lizzy semakin memelas. “Hera bisa menyusul kita setelah selesai,” Lizzy menoleh ke Hera, “benar, bukan, Hera?” Hera menoleh, sedikit kaget merasakan lengan jaketnya ditarik tiba-tiba oleh Lizzy. “Huh? Ada apa, nona?” “Aku ingin pergi ke stan burung di sana,” jawab Lizzy mulai merajuk membuat Caesar menghela napas berat. Hera sedikit tersenyum canggung. Hera ingin meminimalisir terjadi perpecahan semacam ini. Dalam situasi apa pun, di mana pun, kapan pun, Hera harus selalu berada di dekat Lizzy. Jadi, dia melirik Caesar, meminta bantuan. Sayangnya, Caesar tidak banyak membantu. Lelaki itu tampaknya menyerah duluan karena nona mereka mulai merajuk. Hera mengembuskan napas pelan, kembali menatap Lizzy. Dia memaksakan senyum. “Baiklah, nona boleh pergi lebih dulu bersama Tuan Caesar. Saya akan langsung menyusul Anda setelah selesai.” “Yeay! Baiklah, aku pergi dulu, Hera!” sorak Lizzy riang, langsung melangkah menjauh dari stan barbeque diikuti Caesar. Tidak menyadari tatapan dan lirikan orang-orang tertuju padanya berulang kali, terlebih saat Lizzy bersorak riang barusan. Mau bagaimana lagi? Penampilan Lizzy sangat mencolok. Hanya seorang wanita bangsawan yang mengenakan gaun, syal, jubah, coat, dan sepatu berkualitas di perkotaan. Dibandingkan pakaian orang lain, pakaian Lizzy benar-benar mencolok. Ditambah pula jubah hitam dengan lambang besar terjahit di bagian punggungnya. Lambang yang sedari awal diamati oleh orang-orang. “Wah, lihat, Caesar! Burung-burung ini menggemaskan sekali,” ujar Lizzy tepat saat sampai di stan burung. Dia sedikit memajukan kepalanya ke kandang berisi burung berwarna putih. “Dibandingkan elang dan burung hantu, ini sangat menggemaskan.” Si penjual tersenyum. “Yang ini merupakan burung merpati. Bila dilatih dengan baik, dapat menjadi burung pos.” Lizzy semakin berbinar menatap merpati tersebut. “Wah, kau pun juga pintar.” “Bila nona berkenan, masih ada banyak burung-burung lainnya di dalam,” tawar si penjual mengundang keantusiasan Lizzy. “Boleh? Baiklah, aku akan melihat-lihat dengan senang hati.” Caesar hanya bisa menghela napas. Sangat paham sekarang tidak ada satu pun yang bisa menghentikan keantusiasan Lizzy. Jadi, dia berdiri menunggu di depan stan, mengamati sang nona dari kejauhan saja. Lagipula stan burung itu tidak begitu luas. Pemilik stan-lah yang pintar menata tempatnya sehingga tampak seperti toko yang bisa dikelilingi secara luas. Lizzy melepas tudung kepalanya sesaat setelah sampai di deretan kandang burung bagian dalam stan. Dia tersenyum mengamati tiap jenis burung dalam sangkar. Ada beberapa yang langsung dikenali oleh Lizzy, ada banyak pula yang tidak dapat dia kenali. Bagi Lizzy, hal ini cukup bermanfaat sebagai pengalaman observasi secara langsung. Lizzy harus menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Arthur karena mengizinkannya berkeliling di perkotaan. Lizzy berhenti di depan sangkar burung parkit. Dia terkekeh geli mendengar burung itu bersuara seolah berkata “halo” padanya. Lizzy tahu burung itu, dia sering membayangkannya sebagai burung yang bisa berbicara. Kini bisa melihatnya secara langsung rasanya sungguh menyenangkan. “Hai, kau benar-benar bisa berbicara, ya? Coba bilang “halo” lagi,” pinta Lizzy dengan kekehan geli. “Haaaloook!” sahut burung parkit tersebut membuat Lizzy tertawa senang. “Pintar sekali,” puji Lizzy seraya menjulurkan tangannya hendak menyentuh sangkar. “Jangan menyentuhnya.” Lizzy terlonjak kaget, spontan menoleh ke kiri. Matanya membelalak, wajahnya syok, merasakan jantungnya nyaris meloncat keluar karena teguran tiba-tiba. Wajah kagetnya mengendur setelah menemukan figur seorang anak laki-laki di sampingnya. Orang yang menegurnya. “Eh?” sahut Lizzy bingung sendiri usai kekagetannya terkikis. “Burung parkit yang itu masih sedikit suka menggigit apa pun yang mendekati sangkarnya. Jika kau menyentuhnya barusan, kau akan tergigit paruhnya,” ujar anak itu menjawab kebingungan Lizzy. Lizzy mengerjap cepat, sadar dirinya tampak bodoh barusan. “Ah, terima kasih banyak. Saya terlalu antusias.” Anak itu mengangguk kecil, paham. “Aku tahu. Tampak jelas di wajahmu.” Lizzy terkekeh canggung menahan malu, Eh? Jadi sungguh wajahku barusan seperti orang bodoh?! “Saya baru tahu kalau ada burung parkit yang suka menggigit. Sekali lagi, terima kasih banyak…, em….” Anak lelaki yang tampak seusia Ian itu menipiskan bibir. Mata cokelatnya menatap Lizzy dengan maksud yang tidak bisa dibaca. “Peter.” ujarnya kemudian. Lizzy tersenyum manis. “Terima kasih banyak, Tuan Peter.” Saat itu Lizzy tidak tahu, pertemuan kecil di stan burung menjadi awal mula pertemuan-pertemuan tidak terduga lainnya. TO BE CONTINUED[Sekedar informasi kecil, ya, manusia albino belum ada di latar zaman The Queen Quality ini. Berhubung Pangeran Noah dideskripsikan lahir dengan rambut perak, mata abu-abu, dan kulit putih, hehe. Oh, ya. Sebenarnya mata merah / violet dan mata abu-abu itu benar-benar ada. Dan memang presentase terjadinya kecil banget. Mata langka ^^]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD