“Johan, aku sudah mengatakannnya padamu bahwa aku tidak akan bekerja sampai Elizabeth pulang ke Alterius.”
“Ya, Anda berkata demikian. Saya akan mengambil alih tugas Anda sampai waktu yang Anda tentukan. Tapi, Yang Mulia, apakah Anda yakin dengan Grand Duke Gilbert?”
Ian melengos lelah. “Aku tidak punya pilihan.”
“Tampaknya apa yang akan beliau bicarakan tidaklah baik untuk Anda.”
“Aku tahu.”
“Apakah Anda ingin Yang Mulia Raja dan Ratu untuk mengetahui hal ini?”
Ian keluar dari bathtub. Dia menatap pantulan bayangannya di cermin wastafel. Secara sengaja mendiamkan Johan agar benaknya fokus memikirkan permasalahan yang akan dia hadapi. Tanpa perlu diberitahu oleh Johan pun Ian sangat paham dengan apa yang akan dia hadapi.
Arthuria de Gilbert tidak pernah mendekati Ian dan Noah. Grand Duke of Alterius itu sepenuhnya mengabaikan eksistensi dua pangeran Ophelia. Kedatangannya ke istana hanya untuk menemui Raja, sesekali Ratu. Tidak ada yang tahu apa yang Arthur pikirkan tentang kerajaan, tidak ada pula yang bisa menebaknya. Ian sudah diberitahu seburuk apa karakter Arthur. Dan Ian bersyukur dirinya diabaikan oleh pria itu.
Sayangnya, kini Ian telah menjadi sasaran target Arthur.
Skenario terburuknya adalah dia memperingatkanku tentang adiknya. Hal terburuk yang mungkin dia lakukan adalah mengancamku untuk tidak ceroboh lagi ketika bersama Elizabeth. Selebihnya… entahlah, kembali lagi ke keberuntunganku hari ini, batin Ian tepat setelah selesai mengancingkan kemeja.
“Mereka tidak perlu tahu. Katakan saja kondisi Elizabeth kepada mereka,” ujar Ian seraya keluar dari balik sekat, siap didandani oleh para pelayan.
Johan mengangguk. “Baik, Yang Mulia.”
“Dia menunggu di kamarku, bukan?”
“Ya. Beliau duduk di sofa perapian.”
Ian menghela napas pendek. “Setelah aku bertemu dengan Grand Duke, tidak ada yang mengganggu kami. Kau pergilah ke Elizabeth untuk melihat kondisi terbarunya, jika aku belum keluar dari kamarku, tunggu di luar. Aku akan memakan sarapanku di kamar Elizabeth.”
“Dimengerti.”
Harus Ian akui, dia cukup gugup menemui Arthur. Jantungnya tidak kunjung melambat seiring para pelayan hampir menyelesaikan penampilannya. Ian sedikit takut. Ya, sedikit. Orang yang akan dia temui adalah Arthuria de Gilbert, Anjing Penjaga Kerajaan, siapa yang tidak terintimidasi olehnya? Bahkan Ian, Pangeran Mahkota Kerajaan, sedikit terintimidasi walau Arthur tidak melakukan apa pun kepadanya.
Dahulu ketika Ian masih berusia tiga tahun, dia bertemu Arthur untuk pertama kalinya. Saat itu Arthur datang bersama Eugene. Usianya masih sebelas tahun. Dibandingkan Eugene, aura Arthur sedikit lebih bersahabat, tidak segelap ayahnya. Saat itu, bagi Ian, Arthur tidak menyeramkan. Akan tetapi, Ian tahu suatu saat Arthur akan menjadi seperti Eugene, hewan buas yang siap menerkam.
Si kecil Ian bersyukur Arthur mengabaikannya. Namun ketika Ian memiliki ikatan dengan Elizabeth de Gilbert, Arthur mulai menatap Ian dengan tatapan tertajam yang tidak Ian duga. Saat itulah Ian sadar bahwa Arthur selalu siap menghunuskan pedang kepadanya walaupun Ian seorang Pangeran Mahkota.
Usai menyampirkan jas panjang berwarna merah—jas yang selalu Ian kenakan—di pundaknya, Ian keluar dari kamar mandi. Johan beserta para pelayan melangkah keluar dari kamar tidur Ian. Menyisakan Arthur sebagai satu-satunya orang yang bersama sang pangeran.
Arthur duduk di sofa perapian sesuai kata Johan. Pria itu duduk dengan tenang ditemani cocktail, brendi, dan gyoza. Bibir tipisnya menggigit pipa cerutu. Hidungnya mengembuskan asap cerutu tanpa repot-repot memikirkan tindakan tidak hormatnya kepada Ian.
Ian tidak heran, tidak kaget pula.
“Oh, kau sudah selesai. Duduklah,” ujar Arthur kasual seolah-olah dialah yang memiliki kamar.
Tanpa membalas, Ian duduk di hadapan Arthur. Dia langsung menyandarkan punggung, melipat kaki, dan bersedekap. Mau tidak mau harus siap menerima apa pun yang akan Arthur lakukan kepadanya.
“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Ian tenang kala Arthur menyesap sisa cocktail.
“Aku tidak menyukaimu,” ujar Arthur tanpa basa-basi seraya memainkan gelas cocktail yang telah kosong. Mengantarkan hawa dingin yang mampu menggelitik bulu kuduk Ian. “Kau adalah Pangeran Mahkota. Tahta selanjutnya telah menjadi milikmu. Tapi, aku tidak akan mengakuinya. Setelah Marquis turun tahta, aku tidak akan menjadi anjingmu.”
“Apa niatmu?”
“Aku juga tidak akan menyerahkan Elizabeth kepadamu.”
Mata Ian nyaris membulat jika saja dia tidak tanggap mengendalikan diri. Sikap tenangnya pun hampir hancur. Arthur sangat tidak basa-basi hingga membuat Ian harus selalu siaga mengendalikan diri.
“Bukankah kau melewati batasmu, Grand Duke? Kau mencoba menimbulkan permusuhan dengan keluarga kerajaan?” tanya Ian tenang dengan sedikit mencantumkan nada mengancam.
Arthur menyeringai kecil, tangannya melempar gelas cocktail ke meja. Secara ajaib, gelas kaca itu jatuh dengan posisi berdiri sempurna di meja tanpa retak. Lagak intimidasi pertama. “Kalianlah yang mencoba bermain api duluan denganku.”
Ian mengernyit. “Apa maksudmu?”
“Ayahmu membunuh anjingnya sendiri.”
Seluruh tubuh Ian menegang dalam sekejap. Sikap tenangnya retak. Dia tidak memercayai apa yang telah didengarnya. “Apa katamu?”
Arthur mengembuskan asap dari bibirnya, seringainya melebar. “Ayahmu telah membunuh anjingnya sendiri alias Eugene de Gilbert. Aku tidak punya alasan untuk terus melayani pembunuh orang tuaku.”
“Grand Duke, kau berani melemparkan fitnah ke keluarga kerajaan. Jika kau tidak—“
“Jangan pikir itu sebagai fitnah, itu adalah kenyataannya, bocah,” Arthur menghisap pipa cerutu, mengabaikan wajah geram Ian. “Kenapa sampai sekarang aku masih meladeninya, kenapa aku tidak langsung menuduhnya, dan kenapa aku masih mematuhinya, kau tidak perlu tahu. Yang ingin kusampaikan adalah aku tidak akan menjadi anjingmu dan aku tidak akan menyerahkan Elizabeth.”
Ian berdiri, terkuasai amarah. “Kau kehilangan akal sehatmu!”
“Jangan kira aku tidak tahu. Aku mengetahui segalanya lebih dari yang kau kira. Kau memerlakukan adikku dengan tidak semestinya. Itu saja sudah cukup bagiku untuk tidak menyerahkannya padamu.”
Mata Ian melebar, kaget. Amarah yang sebelumnya siap melebur kini terkikis sirna karena terlalu kaget dengan pernyataan Arthur. Ian mati kutu, tertembak tepat sasaran.
Arthur mendecak remeh. “Ayah dan anak sama saja. Kau pikir aku sebodoh itu hingga tidak menyadari akting bodohmu? Kau pikir aku tidak memiliki nyali untuk menentangmu? Hah! Teruslah bermimpi, bocah. Seharusnya kau bersyukur karena aku membiarkanmu hidup.”
“Bukankah kau terlalu percaya diri? Katakan saja kau berhasil menentang kerajaan, lantas kau pikir hidup keluarga Gilbert akan berjalan tenang? Kau sungguh berpikir keputusanmu tidak akan mengancam keluargamu sendiri, huh?”
“Kaulah yang terlalu percaya diri. Untuk ukuran Pangeran Mahkota, ternyata kau tidak lebih dari sekedar bocah i***t yang memiliki gelar.”
Ian menahan decak. Harga dirinya diinjak habis-habisan oleh Arthur. Dia benar-benar dibuat bingung dan mati kutu oleh Arthur. Setelah melempar fitnah tidak masuk akal tentang Marquis, Arthur langsung menginjak harga diri Ian hingga Ian tidak sempat memikirkan balasan yang bagus. Arthur tidak membiarkannya untuk melawan sama sekali.
Sepanjang hidup Ian, baru kali ini Ian dipojokkan sedemikian rupa. Ini bukan perlakuan yang seharusnya Ian terima. Ian selalu memojokkan, bukan dipojokkan. Ian selalu mendominasi, bukan didominasi. Ian tidak terima. Sangat tidak terima.
“Daripada kau, adikku lebih pantas bersama Noah. Anak itu akan menjadi Duke of Ophele dan tidak tertarik pada tahta sama sekali. Dia jauh lebih baik daripada kau. Mendengarnya akan dijodohkan dengan Putri Douphens, sungguh disayangkan. Seharusnya kaulah yang dijodohkan dengan putri itu,” hujat Arthur tanpa ampun membuat Ian mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Kau melewati batasmu, Arthuria,” sahut Ian sangat tajam, tanpa gentar. “Aku tidak peduli apa masalahmu dengan ayahku maupun padaku. Kau tidak akan menjadi anjingku? Aku tidak peduli. Kau tidak akan mengakuiku sebagai rajamu? Aku tidak peduli. Tapi, Elizabeth tetap milikku. Tuhan telah memilihnya untukku bahkan sebelum dia lahir.”
Arthur berdiri, terkekeh sinis. “Bisa-bisanya kau membual kalimat semanis itu di hadapan orang yang telah mengetahui kelakuan busukmu kepada tunanganmu sendiri. Jika kau memang menerima keputusan Tuhan, kau tidak akan memerlakukannya seperti mesin penghasil keturunan, bocah idiot.”
“Aku tidak memerlakukannya seperti itu.”
Dalam sekejap mata, sebuah pisau menghunus tepat di samping wajah Ian. Pisau kecil itu menancap di dinding. Gores luka langsung tercipta di pipi kiri Ian. Darah merah mengucur keluar, perih menyerang. Namun Ian tidak gentar sama sekali. Raut wajahnya tidak berubah, tidak ada desis kesakitan seakan tidak menerima luka fisik apa pun.
“Ketika adikku menginjak umur delapan belas tahun, aku akan mengambilnya darimu. Sampai saat itu tiba, aku mengharapkan tidak ada derita yang menimpanya,” ujar Arthur dingin.
Arthur mengembuskan asap seraya melangkah pergi dari hadapan Ian. Ian tidak berubah posisi. Tidak menoleh ke belakang, tidak ingin menatap Arthur.
Sebelum Arthur meraih gagang pintu, dia melempar kalimat terakhirnya. “Ingatlah ini dalam kepalamu, suatu saat aku akan membunuh ayahmu. Nama Arthuria de Gilbert dan keluarga Gilbert akan masuk ke dalam catatan sejarah gelap kerajaan setelah Alfredo Weasley. Jika kau ingin ibu dan adikmu selamat dari pedangku, kau tahu apa yang harus kau lakukan.”
“Coba saja, Arthuria de Gilbert,” balas Ian lantang. “Coba saja. Akan kubuktikan betapa bodohnya kau dalam memilih musuh.”
Arthur menyeringai lebar, lantas keluar dari kamar Ian. Meninggalkan pangeran itu sendirian dengan seringai puas. Jauh dalam lubuk hatinya, Arthur mengakui keberanian Ian. Walau anak itu merasa takut, tatapannya tidak berpaling. Ian menunjukkan keberaniannya secara terang-terangan dengan memanggil nama Arthur, walau dikuasai takut.
“Ini akan menjadi lebih menarik,” ujar Arthur dalam langkahnya menjauhi kamar Ian.
TO BE CONTINUED
Ada yang pernah nebak-nebak kalau yang bunuh Eugene dan Ellie adalah Marquis? :>