BAB 8

1962 Words
“Yang Mulia, sudah hampir tiga minggu berlalu sejak saya mengabarkan pesan Tuhan kepada anda. Tidak terjadi apa-apa, apakah Yang Mulia berubah pikiran?” tanya Kepala Uskup Benedictus dengan wajah sedikit cemas. Marquis melengos pelan, bertopang rahang pada sandaran tangan kursi yang didudukinya. “Victorique-lah yang berubah pikiran.” Seisi meja yang diduduki oleh Marquis beserta enam pihak gereja St. Church diselimuti keterkejutan. Atmosfer yang tidak menyenangkan bertambah menjadi semakin ketat. Terlebih sang Kepala Uskup. Beliau yang masih bisa menunjukkan sedikit kecemasan, kini tidak mampu lagi. Rasa takut mulai memakannya karena menduga Raja dan Ratu tidak akan melaksanakan perintah dari Tuhan. “B—Bagaimana bisa Yang Mulia Ratu berubah pikiran? Bukankah beliau menyetujui untuk memertunangkan Pangeran Mahkota dengan Nona Gilbert?” tanya Victor, salah satu pendeta gereja St. Church. “Alasan pribadi yang tidak perlu kujelaskan,” dengus Marquis dengan nada ketidaksukaan, membuat enam pihak gereja di hadapannya tersentak takut merasa sudah menyinggung sang Raja. Kepala Uskup Benedictus berdehem, mencoba meluruskan masalah dengan tenang. “Jika begitu, izinkan saya menanyakan kapan tepatnya Yang Mulia Ratu berubah pikiran.” “Minggu lalu.” Enam petinggi gereja itu mengerjap kaget. “Lantas, dua minggu sebelum Yang Mulia Ratu berubah pikiran, apa yang sudah terjadi, Yang Mulia?” tanya Kepala Uskup. Marquis melengos lagi. Dia berhenti bertopang dagu, menegakkan punggung. Membuat enam petinggi gereja di hadapannya ikut membenarkan posisi duduk mereka, sama-sama merasa akan ada ‘kejutan’ untuk mereka. Mata hitam Marquis melirik Ronald yang berdiri di sampingnya. Menerima sinyal perintah dari Raja, Ronald menyerahkan sebuah amplop besar kepada Marquis. Tangan Marquis mengambil alih, lantas mengeluarkan sekian lembar berkas dari dalam amplop tersebut. Keenam petinggi gereja hanya mengamati, menunggu. Melihat Marquis dengan wajah datarnya memindai berkas tersebut sebelum tiba-tiba melemparnya ke atas. Seisi meja dibuat kaget melihat Marquis melempar berkas itu begitu saja. Kertas-kertas itu langsung menghujani meja tak beraturan. Satu klip berkas yang berisi kurang lebih empat puluh lembar kertas itu berserakan di mana-mana. Sang pelempar pun seolah tidak peduli dengan kembali bersandar dan menopang rahangnya. Sedangkan enam petinggi gereja mengambil beberapa lembar kertas untuk mengetahui apa yang sebenarnya tertulis di sana. “Ini nama-nama bangsawan di Ophelia,” ujar Victor menjadi pembuka suara. Helenina, satu-satunya wanita yang tergabung dalam petinggi gereja, menyahut. “Ini juga.” “Di sini tertera rincian yang menyebutkan alasan menentang pertunangan antara Pangeran Mahkota dan Nona Gilbert,” sahut George. Mulai memahami maksud dari berkas yang dilemparkan Marquis, enam petinggi gereja kompak menolehkan kepala ke Raja tersebut. Raut mempertanyakan bercampur bingung sama-sama terpasang di wajah mereka. Sedangkan sang Raja yang diminta penjelasan masih memberi kesan tidak peduli. Membuat atmosfer ruang pertemuan di istana kerajaan pada sore hari itu menegang. Memahami Marquis enggan menjelaskan, Ronald mewakilinya. “Seperti yang sudah tertera, berkas itu berisi pertentangan atas rencana pertunangan Pangeran Mahkota dan Nona Gilbert. Tertera enam belas keluarga bangsawan yang semuanya termasuk bangsawan tertinggi di Ophelia. Pertentangan ini tentu menjadi hal yang tidak menyenangkan bagi keluarga kerajaan, terlebih bagi Yang Mulia Raja.” Helenina mengangguk setuju. “Pertunangan dan pernikahan yang tidak diberkahi oleh sekitar memang masalah yang serius.” “Selama ini para bangsawan tertinggi Ophelia tidak memberikan pertentangan atas pasangan calon Raja dan Ratu. Tampaknya kali ini, mereka sangat tidak setuju hingga berani memberikan penolakan,” tandas George. “Jadi, inikah alasan Yang Mulia Ratu berubah pikiran?” tanya Victor kepada Ronald. Ronald menggeleng. “Alasan Yang Mulia Ratu berubah pikiran merupakan alasan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan bangsawan dan perpolitikan.” “Bagaimanapun juga, enam belas merupakan jumlah yang cukup besar,” ungkap Bernard seraya memeriksa kembali berkas di tangannya yang terisi rincian alasan penolakan dari keluarga Monique. Kite mengangguk. “Bahkan keluarga Gilbert termasuk ke dalam daftar ini.” Pernyataan Kite membuatnya menjadi pusat perhatian dalam sekejap. Mendapat tatapan sangsi pun membuat Kite memperlihatkan selembar kertas di tangannya. Tertera jelas nama Gilbert di sana yang membuat Kepala Uskup melotot kaku penuh keterkejutan. Bagaikan menginjak ratusan ranjau dalam tanah di medan perang, situasi semakin memburuk dari yang Kepala Uskup kira. Tidak hanya Ratu berubah pikiran, bahkan keluarga dari calon Ratu pilihan Tuhan pun menentang pertunangan. “Benar, bahkan keluarga Gilbert juga menentangnya,” sahut Ronald memecah keheningan, “berkas ini dikirim oleh Arthuria de Gilbert, Grand Duke of Alterius kedua. Satu-satunya tanggapan dari pihak Gilbert atas sepuluh surat perintah Yang Mulia Raja yang berisikan surat lamaran pertunangan dan penjelasan singkat alasan yang mendasari beliau mengajukan pertunangan. Dari sini pun, kalian bisa menyimpulkannya, bukan?” Victor mengernyit bingung. “Grand Duke of Alterius kedua?” Ronald mengambil napas sekilas. “Eugene de Gilbert telah tiada.” Enam petinggi gereja sontak terlonjak kaget. Sebuah hal yang wajar bagi mereka untuk mengetahui kabar itu belakangan karena pihak gereja mengisolasi diri dari hubungan sosial. Marquis pun sudah menduganya sejak enam petinggi gereja mengajukan pertemuan ini. Mereka tidak tahu apa-apa selain rencana pertunangan tidak kunjung dilaksanakan. “Eugene de Gilbert dan Elliana de Gilbert meninggal tiga minggu lalu, tepat pada hari dilahirkannya Elizabeth de Gilbert dan gereja mengumumkan pesan Tuhan. Keesokan harinya, Yang Mulia Raja mengirimkan surat perintah tanpa mengetahui kabar duka tersebut. Maka, secara otomatis yang menerima surat perintah adalah Arthuria de Gilbert, kepala keluarga Gilbert selanjutnya. “Surat perintah itu pasti sampai di hari pemakaman Tuan dan Nyonya Gilbert. Maka, tidak mengherankan melihat tuan muda Gilbert memberikan penolakan karena mendapatkan kesan ketidakwarasan terhadap Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu. Selama dua minggu, sepuluh surat perintah telah dikirimkan dan tidak mendapat tanggapan apa-apa. Berkas inilah tanggapan pihak Gilbert setelah sekian lama,” tutur Ronald menjelaskan dengan lebih detail. Kepala Uskup menghela napas berat. “Semua menjadi masuk akal. Keluarga Gilbert tidak termasuk ke dalam daftar jemaat gereja. Mereka bukanlah keluarga yang mempercayai keberadaan Tuhan. Bahkan jika Tuan dan Nyonya Gilbert masih hidup, mereka juga akan memberikan penolakan.” “Mengajukan surat lamaran pertunangan kepada bayi baru lahir memang cukup tabu, kita tidak bisa menyalahkannya,” tutur Helenina maklum, “mungkin akan lebih baik bila pertunangan dilaksanakan saat Pangeran Mahkota dan Nona Gilbert berusia lebih dewasa.” “Itulah niat Yang Mulia Raja,” tandas Ronald dengan helaan napas berat, “tapi, situasi dan kondisi saat ini mulai berbahaya. Dengan adanya penolakan dari lima belas bangsawan ini, dapat dipastikan salah satu atau beberapa dari mereka akan mulai menyusun rencana untuk menyinggung posisi calon Ratu. Seperti yang sudah kita ketahui sejak lama, keluarga Gilbert memiliki banyak musuh. Tidak ada yang menerima calon Ratu Ophelia merupakan keturunan Gilbert.” Marquis mendengus cukup kasar, menginterupsi. “Itulah masalahnya, bodoh. Sekarang kalian mengerti posisiku bagaimana, huh?” “Kami mengerti, Yang Mulia—“ “Aku menunjuk Ivander menjadi Pangeran Mahkota tepat setelah dia lahir demi menghindari konflik perebutan tahta. Sekarang mau tak mau aku juga harus segera memertunangkan Ivander dengan Elizabeth demi menghindari konflik dengan bangsawan-bangsawan bodoh yang tertera di berkas itu,” ungkap Marquis tajam, mengejutkan Kepala Uskup. Ronald menghela napas lelah. “Jadi, begitulah yang terjadi, Kepala Uskup. Ditambah pula dengan berubahnya pikiran Yang Mulia Ratu dan penolakan dari pihak Gilbert, rencana pertunangan ini mulai menjadi masalah serius.” Kepala Marquis mulai pening memikirkan masalah sepele yang tiba-tiba berubah menjadi besar ini. Ia salah memerhitungkan segalanya. Marquis kira rencana pertunangan atas dasar perintah Tuhan ini akan menjadi masalah sepele. Tiba-tiba saja sebuah skenario dilempar tepat ke mukanya, skenario asli yang akan terjadi terkait pertunangan ini. Skenario itu menertawakan Marquis sekarang. *** Victorique masih suka berada di taman bunga area Istana Ratu. Taman itu akan selalu menjadi tempat terfavoritnya untuk menghabiskan waktu. Kebiasaan itu pun menurun pada Ian, putra pertamanya. Setiap hari Ian selalu menyisihkan waktu untuk pergi ke taman itu, menemui Victorique. Ada kalanya Ian tidak bertemu Victorique di taman karena Victorique lebih memilih ke perpustakaan di Istana Ratu. Jika sudah begitu, Ian pun tidak beranjak, tetap berada di taman untuk beristirahat. Untuk hari ini, Ian lebih dulu sampai di taman. Pangeran Mahkota itu duduk di kursi gazebo beton, mengamati pemandangan sore yang kebetulan tidak bersalju. Ditemani empat pengawal pribadinya, Ian menunggu ibunya datang. “Kabarnya, Yang Mulia akan bertunangan.” “Jangan mengungkit itu, Dale.” Bocah tujuh tahun yang dipanggil Dale menoleh ke rekannya yang barusan menegurnya. “Kenapa, Ben? Apakah pertunangan itu dirahasiakan dari umum?” “Bila dirahasiakan dari umum, kau tidak akan mendengar kabar itu sembarangan,” dengus Ben sambil menjitak kepala Dale, membuatnya mengaduh kesakitan. Dale merengut kesal. “Ben, sakit tahu!” “Karena sudah jelas Yang Mulia tidak ingin membicarakannya,” celetuk Chloe, satu-satunya perempuan yang dipercaya menjadi salah satu pengawal pribadi Ian, “kalian ini benar-benar tidak peka.” Ben dan Dale serempak menoleh, melotot kesal pada Chloe. “Huh?!” protes mereka kompak. Chester tersenyum, melerai. “Sudah, sudah, jangan membuat keributan.” Ian hanya melengos melihat keempat pengawalnya. Dibanding pengawal, Ian lebih suka memanggil mereka teman. Perbedaan umur yang tidak jauh membuat mereka selayaknya teman. Terlebih, Ian tidak punya teman bangsawan dari luar istana. Kehadiran empat pengawal tersebut setidaknya mampu mengusir rasa sepi Ian. “Lagipula, dari mana kau mendengar kabar itu? Kita selalu bersama seharian ini berlatih di lapangan,” tanya Ben pada Dale yang masih merengut. “Seluruh ksatria dan pelayan membicarakannya sejak tiga minggu lalu. Kau ini benar-benar lambat mengetahui informasi,” jawab Dale diikuti ledekan membuat Ben ikut merengut kesal. Ben bersedekap, menantang Dale. “Oh? Lalu, kau juga tahu siapa calon tunangan Yang Mulia, huh?” “Tentu saja, namanya—“ “Elizabeth de Gilbert.” Empat pengawal cilik itu terlonjak kaget mendengar suara Ian. Secara otomatis mereka membenarkan posisi berdiri di belakang Ian, berbaris menyamping dengan sikap siap siaga. Walau begitu, tetap saja mereka masih anak-anak yang jahil. Terlihat dari Ben dan Dale saling sikut-menyikut dengan lirik melempar tuduhan dan kesalahan satu sama lain. “Calon tunangan anda berasal dari keluarga Gilbert yang terkenal itu?” tanya Chester dengan wajah syok kagum. Lebih tidak menyangka tuannya akan bertunangan dengan putri Eugene, sosok yang sangat ia kagumi. Ian melengos sembari membaca buku di tangannya, menyahut singkat. “Hm.” “Bukankah itu hal yang bagus, Yang Mulia? Grand Duke dan Grand Duchess of Alterius sangat rupawan dan memiliki reputasi yang tidak main-main. Nona Elizabeth pasti perempuan yang sangat cantik dan berbakat,” ujar Chloe, tanpa sadar membuat Ian mengernyit tidak suka. “Jika menurutmu bayi berumur tiga minggu sudah tampak cantik, aku tidak akan bisa memahami kondisi penglihatanmu,” tandas Ian dingin membuat keempat pengawalnya membulatkan mata tak paham. Ben mengerjap pertama kali. “Bayi?” Ian mendecak pelan, menutup buku di tangannya. “Ya, bayi. Elizabeth masih berumur tiga minggu.” “HUH?!” sahut keempat pengawal Ian kompak, tak bisa membendung kekagetan mereka. Benar-benar syok. “Apa yang sedang kalian bicarakan?” Empat pengawal Ian langsung membungkuk hormat kepada Victorique yang baru datang. Mereka segera menyingkir untuk memberikan ruang privasi kepada sang Ratu dan Pangeran Mahkota. Meskipun masih diterjang syok berat, mereka harus mengendalikan diri sebelum bisa menanyakan kejelasannya pada Ian. Victorique duduk di samping Ian. Seperti biasa ia mengelus puncak kepala Ian dan tersenyum simpul padanya. “Bagaimana kelasmu?” tanyanya, seperti biasa. “Baik-baik saja. Minggu depan aku akan mencoba mengajukan mereka untuk langsung mengajarkan materi sekelas profesor agar aku tidak bosan,” jawab Ian simpel. “Tidakkah terlalu cepat bagimu?” kekeh Victorique geli seolah menganggap ucapan Ian hanyalah bualan anak kecil. Padahal ia tahu betapa tidak normalnya kejeniusan putranya. Ian mendengus. “Aku benar-benar bosan memelajari semua materi dasar yang sudah kukuasai itu. Mau bagaimana lagi, bukan?” Victorique usil menyentil kening Ian kala Ian lengah membuat bocah cilik itu mengaduh protes. “Cepatlah tumbuh besar agar kau bisa mengikuti pelatihan berpedang.” “Omong-omong tumbuh dewasa,” Ian mengubah nada bicaranya, lebih serius, “ibu menyetujui pertunanganku dengan perempuan dari keluarga Anjing Penjaga?” Victorique tersentak, otomatis menegakkan punggung. Suasana pertemuan yang seharusnya diselimuti kegembiraan antara ibu dan anak, tiba-tiba berubah menjadi tegang nan cekam. Tanpa sadar, tangan Victorique mengepal kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin lari, tak mau membahasnya. Tapi ia pun tahu, cepat atau lambat ia harus membicarakan pertunangan ini dengan Ian. Tapi Victorique tidak siap sama sekali. Ian menoleh ke depan, tidak menatap Victorique. Menerawang menatap taman yang tertutupi salju. “Aku tidak tahu apa alasan ibu menyetujuinya, jujur saja aku terkejut sekali mendengarnya dari Ronald. Aku lebih terkejut mengetahui calon tunanganku adalah perempuan Gilbert, masih bayi baru lahir pula. Terlepas dari segala hal, bila memang ibu menginginkan aku bertunangan dengannya, akan kupenuhi.” Victorique menoleh dengan mata membulat. “Ian? Kau menyetujuinya?” “Ibu menyetujuinya, bukan? Apakah aku punya pilihan untuk menolak?” “Bukan itu maksud ibu—“ Ian menoleh, menyunggingkan senyum simpul. “Aku selalu mempercayaimu, ibu. Bila ibu memilih setuju, maka pilihan ibu tidak pernah salah.” Victorique melupakan satu hal penting. Ian sangat penurut dan mematuhi segala keinginan dan keputusan Victorique. Jika sudah begini, Victorique semakin terdesak. TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD