Bab 11

1028 Words
Sungguh menyenangkan bersama wanita yang ingin digauli oleh Jors. Pandangan matanya membulat disaat persiapan penyatuan pada wanita yang disukainya. Jors berada dihadapan wanita itu di taman bunga yang luas. Pemandangan yang hijau menyejukkan perasaan mereka, warna warni disekitar taman menambah warna dalam gejolak mereka, birunya langit membawa keinginan Jors bersama wanita itu dan hembusan angin menghantar hasrat Jors semakin menderu. Ya, wanita dihadapannya adalah Sharoon. Jors mendekap tubuh Sharoon dengan erat agar Sharoon tidak lepas dari lingkaran tangannya. Jors mulai menghipnotis Sharoon agar dapat menyentuh bibir manisnya. Dan tangannya sudah menuju ke bagian d**a Sharoon. Sharoon hanya mengikuti alunan aksi Jors. Lumatan Jors disambut hangat oleh bibir Sharoon. Tapi Sharoon menggigit kecil bibir Jors. Emm, Jors merasa kalau gigitan ini menjadi awal gejolak yang akan memuncak. Tidak hanya itu, Sharoon melancarkan gigitannya ke arah telinga Jors. Dia pun bergidik, "ough." Sharoon mulai membuka pakaian Jors dan terlihatlah d**a bidang Jors yang ditumbuhi bulu tipis. Bulu itu sangat menggoda bagi wanita yang melihatnya. Sharoon mengelus dan mengecup setiap inci d**a Jors. Jors terlihat pasrah, dia tak mampu menolak. Tubuhnya terasa digerayangi oleh wanita yang ahli dalam memuaskan wanita. Mereka tertutupi oleh bunga-bunga yang sedang mekar. Ini membuat Jors semakin aman dalam penyatuan ini. Sharoon mulai bermain pada bagian bawah Jors. benda Jors terlihat keras dan kokoh. Ini membuat Sharoon semakin ganas untuk mengolah junior yang ingin dimanja. Akh, Jors mengerang, menikmati apa yang dilakukan Sharoon. Sharoon telah sampai pada inti batang Jors. Jemarinya memainkan benda itu dengan lembut dan segera melumatnya. Ough, Jors mulai mendesah. "Sharoon." Jors menyebut nama wanita itu ketika juniornya telah basah akibat lumatan wanita itu. Jors yang tak tahan meremat rambut Sharoon, "hisap!" Jors minta yang lebih dalam. Sharoon mengangguk dan membulatkan matanya. "Tenang, ini untuk kepuasanmu!" Sharoon tersenyum nakal dengan benda yang sudah dirongga. "Aku sungguh tak tahan!" Protes Jors yang merasa kalau juniornya belum berada pada liang surga Sharoon. Tapi didalam tubuh Jors sudah ada aliran panas yang ingin keluar. Akh, Desahan itu kembali disertai dengan geliat tubuhnya. Jors mengangkat tubuh Sharoon dan membaringkan tubuh Sharoon. Ini kesempatan terakhir Jors untuk memuaskan dirinya. Jors terkejut kalau Sharoon sudah membuka pakaiannya, walaupun pakaian itu masih menempel. Jors tidak menunggu lagi dan langsung memusatkan juniornya pada liang surga Sharoon. Sharoon tersenyum disaat benda itu mulai masuk. Jors mengayunkan pinggulnya dengan sangat cepat membuat senyum diwajah Sharoon memudar seketika dan digantikan dengan wajah yang memerah disertai dengan desahan. Ough, Jors merasakan aliran panas yang akan keluar. "Aku mau keluar!" Nada berat Jors mengisahkan adanya lahar yang akan tumpah di tubuh Sharoon. Dan, Oh, Lahar panas itupun keluar dan membasahi celana Jors. Seketika Jors terbangun dari tidurnya dan melihat sekelilingnya. "Hanya mimpi!" Jors pun menatap ke Juniornya yang telah basah oleh cairan kental. Sangat kesalnya Jors mengetahui kalau sensasi bersama Sharoon hanya dalam mimpi. “Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu begitu masam?” Ya, kini Sharoon yang asli sudah berada di ambang pintu pria itu sambil melipat kedua tangannya. “Oh, tidak! Aku hanya kelelahan saja!” “Tapi kau mengerang dan mendesah!” mata Sharoon melihat Jors dengan tajam dan penuh dengan godaan. Perlahan wanita itu mendekat dengan pasti ke arah Jors dan pria itu berusaha menutupi celananya yang sudah basa karena lahar panas yang bukan main membuatnya menikmati mimpi di alami dirinya tadi. “A, aku…” “Kau apa?” Sharoon menggoda Jors dengan menyenggol bahunya. Sharoon duduk di atas ranjang yang sama dengan dirinya! Hati Jors semakin malu melihat keadaan dirinya yang kini sudah jelas bau s****a. “Sharoon lebih baik kau keluar sekarang! Kenapa masuk ke dalam kamarku seperti ini…?” Jors merasa kesal dan tak nyaman karena ingin menutupi malunya. Sharoon tersenyum simpul menatap pria yang terlihat sedikit linglung. “Aku mencium bau…” “Sharoon…” Jors melemparkan bantal ke tubuh wanita itu mengusirnya agar dia menjauh dari atas ranjangnya.  Brak, Jors menutup pintu kamar dengan rapat! Di balik pintu pun terdengar suara Sharoon yang tertawa terbahak-bahak. “Jors celanamu basah! Aku rasa kau sedang mimpi tadi! Ah… oh… Yes… Sharoon… oh Sharoon…” seru wanita itu yang membuat Jors akhirnya menutup mata karena malu yang menyelimuti dirinya saat ini. “kau sangat memalukan Jors…” ucapnya pada diri sendiri. Hampir dua jam, Sharoon tak melihat Jors keluar dari kamarnya sedangkan jam makan pagi sudah selesai. Dia berniat menyusul pria itu ke dalam kamarnya tapi di urungkan karena berpikir Jors bisa saja masih enggan melihat dirinya. "Kenapa tersenyum begitu? kau sangat tidak lucu, Sharoon," wajahnya terlihat kesal karena ulah Sharoon yang mempermainkan dirinya. "Aku tidak masalah jika kau marah," jawabnya sambil menarik kursi Jors untuk makan bersama. Jors pun duduk di kursinya dan menatap Sharoon yang sudah mulai memakan makanannya. "Sharoon, aku membaca sebuah pesan di group alumni, hari ini Romeo kembali ke Indonesia. Kami akan ada makan malam bersama, apakah kau ingin ikut,?" Pertanyaan tersebut sukses membuat Sharoon menjadi kesal. Diia tidak ingin melihat Romeo saat ini! mereka adalah saudara kembar tentu saja penuh dengan keterikatan. Tapi karena Romeo jugalah hidup Sharoon berantakan seperti ini. Bahkan dia tak memiliki satu pun kontak sang saudara karena tidak ingin semakin menderita. "Aku sedang sangat malas! jujur saja aku tak sempat untuk ke mana-mana karena harus banyak belajar undang-undang serta pasal untuk perusahaan kita." Jors menaiki kedua alisnya. "Apakah boleh memberi tahu bahwa kau tinggal di sini pada Romeo? dia akan mencarimu dan aku tahu kau juga sangat ingin bertemu dengannya." Sharoon terdiam sejenak sebelum kembali menunduk dan mengyilang sendoknya. "Lebih baik kau tak memberi tahu dia karena sudah pasti aku akan pulang, semua ini baru dimulai, apa kau mau kita berhenti di tengah jalan?" "Hahaha, kau bercanda! aku juga ingin kau tetap di sini! persetan dengan Romeo, aku tak akan melihat bahwa dia teman baikku," Sharoon mengembangkan senyum dan berakhir dengan tawa. " Kau boleh memilih mana yang baik Jors," Sharoon tak bisa menahan dirinya yang kini tertawa terbahak-bahak melihat wajah pria yang ini tampak cemas karena mainannya akan di ambil. "Tertawalah sepuas dirimu Sharoon karena saat ini aku enggan sekali melakukannya! Kau bisa saja tak ada di sini lagi jika Romeo mengetahui semuanya! wah aku tak ingin sendirian lagi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD