Bab 8

1122 Words
Jors melihat Sharoon yang pergi begitu saja dari kamar hotel tanpa melihat wajahnya sedikitpun. “Sharoon, adapa yang terjadi…?” panggilnya sambil mengejar Sharoon yang tak menghiraukan. Wanita tersbut terlihat sedang meneteskan air mata. Dan ini pertama kali Jors melihatnya. “Sharoon… Sharoon… Sharoon!” Jors menahan tubuh wanita tersebut dan membalikkannya. “Ada apa Sharoon…” Jors mengusap air mata yang jatuh di pipi wanita tersebut. “Biarkan aku yang membawanya!” Jors merebut kunci mobil tersebut dari tangan Sharoon. Selama di perjalanan tak ada yang Sharoon katakan, sedangkan Jors berusaha untuk menenangkan wanita tersebut dengan lagu-lagu harmoni di mobilnya. Sharoon tampak sedikit tenang! “Aku menangis bukan karena perbuatan mereka padaku! Semua ini terjadi karena aku takut Papi akan kecewa, Mami apalagi! Padahal mereka sudah mengharapkan aku!” Itulah suara yang pertama kali Jors dengar selama mereka di dalam mobil. "Apakah harus tetap bekerja di perusahaan Barones agar bisa menunjukkan jati diri? Apa kau lupa padaku yang sudah menawarkan pendirian perusahaan baru?" Sharoon tersentak dan baru mengingat bahwa dia bisa menunjukkan pentas di tempat lain. "Kapan kau akan mendirikannya?" "Aku sudah melakukan semua sejak dua tahun yang lalu. Mulai dari pembangunan dan semua fasilitas! sekarang tinggal kita mengisi beberapa bagian dengan orang-orang kepercayaan dan konsep utama perusahaan tersebut." "Tiba-tiba aku sangat bersemangat dengan ini! Sebaiknya aku menghapus air mata dan melanjutkan hidupku, bukan! Tapi mereka sungguh keterlaluan! Aku tak pernah berpikir mereka ada di balik ini semua.” ucap Sharoon kesal. “Aku akan keluar dari rumah! Bisakah aku tinggal denganmu?" tambahnya lagi dan itu membuat Jors terkejut. "Waw, Kau berani sekali Sharoon! Apa kau lupa bagaimana perasaanku padamu?” Wanita tersebut melipat tangannya di d**a sambil tersenyum kecut menatap kearah Jors. Mata yang bengkak membuat Sharoon terlihat aneh. "Apa kau lupa sudah berapa lama kita berteman? Lebih dari separuh umurku Jors! bahkan beberapa kali kau pernah masuk ke dalam asrana saat aku sedang menggunakan pakaian." "Kau tak tahu bagaimana menegangnya aku," Jawab Jors sambil terkekeh. "Sharoon yang tadinya menangis pun ikut tertawa! "Aku akan minta izin ke mami dan papi! Mereka tahu banget sama kamu 'kan! Jadi pasti dibolehin." "Kalaupun dibolehin itu bukan karena aku! tapi karena kamunya bisa dipercaya Sharoon! Mereka tahu anaknya seperti apa, mereka juga tahu gimana kamu orangnya," Sharoon termenung sejenak! "Aku punya masalah berat di rumah! Setelah kita selesai pindahan aku akan ceritain semua ke kamu… ada beberapa hal yang membuat aku tak bisa bertahan di rumah saat ini. AKU PIKIR INI AKAN BERAKIBAT PADA KEGILAAN PERMANEN.” Jors tertawa… “Hahahaa… dengan senang hati Nona," Mereka berdua pun akhirnya sampai di rumah keluarga Barones. Ternyata ada mobil Tuan Emos Barones dan Tuan Nyonya Emanuela di halaman. "Mereka sudah kembali ternyata, Ayo Jors," Jors mengetuk pintu dan menyapa! "Selamat malam om, Nyonya," "Jors," Teriak Nyonya Emanuela yang langsung memeluk pria tersebut. "Jors apa kabar, Kenalin ini Jors, kak Nyonya Fransisca! dia temannya Sharoon, juga pelindung anakku yang ganas ini," Ucapnya sambil terkekeh. "Wow kamu tampan sekali Jors," Nyonya Fransisca mengusap punggung pria tersebut sambil mengaguminya. "Di mana Eon Goroses? Kenapa kau pulang bersama Jors, Sharoon," "Oh masalah itu, aku ingin bicara pada Mami dan Papi di ruang kerja," Ucapnya sambil menatap Sofia dan Jors. Tuan Emos Barones yang sudah mengetahui duduk persoalan hanya mengangguk pelan dan menggapai tangan Nyonya Emanuela. Mereka berjalan menyusuri anak tangga menuju ruang Kerja Tuan Emos Barones. Pintu terbuka dan di sana mereka bertiga! "Ada apa Sharoon, Ceritakan sama papi, Kamu bukanlah orang yang lari dari pekerjaan," "Papi, Mami, Sharoon melakukan kesalahan dan memutuskan untuk mengundurkan diri." "Apa? Kesalahan? Kau tak pernah melakukannya Sharoon!" Wajah wanita itu berubah sendu melihat mami yang terkejut. Sambil mengerutkan kening Sharoon pun berkata. "Manusia tempatnya salah Mam, bukannya Mami sendiri yang sering mengatakannya padaku?" "Papi tak bisa seperti ini," Ucap Sharoon pada Maminya. "Mam aku tak harus berada di perusahaan Barones untuk terus bangkit! Aku beruntung berhenti dari pekerjaan ini dan bertemu dengan Jors. Lagi pula permasalahan tersebut amatlah fatal., aku tak bisa menampilkan bahan rapat perusahaan kita Dan hampir saja menghilangkan tender." "Sharoon," Ucap Nyonya Emanuela sendu dan Tuan Emos Barones hanya bisa mendengarkan walaupun dia sudah mengetahui semuanya. Sharoon menangkup kedua wajah Nyonya Emanuela. "Tidak masalah, Mam, Aku tidak apa-apa! Mami jangan sedih karena aku," "Jadi apa rencanamu selanjutnya Sharoon." Mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Tuan Emos Barones, sungguh membuat Sharoon bersemangat. "Aku akan keluar dari zona nyaman ini. Aku mohon izinkan aku keluar dari rumah dan tinggal bersama Jors," "Oke, keluar dari rumah, Papi setuju! Tapi tinggal dengan Jors? Kalian sama-sama masih muda!" Sharoon menatap mata Tuan Emos Barones, papinya. "Apa papi pikir kami akan melakukan kesalahan? Apa papi lebih setuju bila aku menginap di tempat lain atau menyewa apartemen sendirian?" "Tidak Sharoon, Itu adalah pilihan yang tepat. Mami percaya pada Jors! Mami bisa melihat jauh ke dalam matanya. Dia menyayangimu seperti menyayangi dirinya sendiri, Dengarkanlah Mami, Kamu pasti bisa Sharoon. Tak harus keluarga Barones! Tak harus perusahaan Barones! Kau anak Mami! Kepercayaan penuh mami padamu Sharoon. Jika papi tak setuju maka Mami yang mengizinkan," Jawab Nyonya Emanuela yang langsung menoleh dan menatap sinis kearah Tuan Emos Barones Pria tersebut mundur satu langkah. "Apa-apan mata itu? Apa kau akan membunuhku,? Atau kau berencana,?" "Yah, aku berencana tidak tidur dengan Tuan lagi jika tidak mendengarkan apa yang aku inginkan," Begitulah Nyonya Emanuela, dia akan memanggil Tuan Emos Barones dengan sebutan Tuan jika sedang kesal. "Baiklah," Also mengangkat kedua tangannya. "Sharoon tidak ada yang bisa menggantikan mamimu, Papi akan mengikuti apa yang kalian inginkan, Tapi ingat jangan dustai kepercayaan kami! Dan papi akan terus mengawasi dirimu," "Terima kasih papi… aku akan mengingat segalanya," Sharoon berlari memeluk Tuan Emos Barones dan Nyonya Emanuela. "Sayang, tolong bilangkan ke bibi untuk membereskan pakaian Sharoon," "Untuk apa?" Pertanyaan tersebut sukses membuat Tuan Emos Barones mengerutkan kening. "Bukankah tadi di kamu yang mengizinkannya untuk tinggal bersama seorang pria normal?" "Oh ASTAGA! Maafkan mami yang bodoh ini." Teriaknya sambil berlari menuruni anak tangga mencari pengurus rumah tangga mereka. "Jadi sekarang hanya kita berdua! papi ingin bertanya sesuatu yang sangat prinsip bagi perusahaan. Apa Eon Goroses yang memberhentikanmu?" Sharoon yang ragu awalnya menatap Tuan Emos Barones pun mengangkat wajah dan mengangguk. "Iya Pi," "Luar biasa sekali bodoh anak-anak itu! Bahkan dia tahu dasar-dasar perusahaan! Dan bagaimana menjadikan karyawan bagian dari perusahaan itu sendiri," "Kesalahan datang dariku," jawab Sharoon yang tak ingin semua permasalahan jadi sulit. Dia sudah berhasil keluar dari zona nyaman ini dan jangan sampai batal. "Papi, tolong janagn marah lagi dan biarkan saja aku pergi! aku sungguh tidak ingin mempedulikan apa yang di lakukan Eon Goroses!" Tuan Emos Barones mengusap rambut Sharoon. "Kamu harus hati-hati! papi tahu Jors pria yang baik. Tapi bagian bawah sangat sulit di kendalikan,"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD