Mario refleks membuka mata saat tangan mulus seseorang melingkar di pinggangnya. Pria itu menoleh sebentar, menghela napas, kemudian mengambil bantal dan melenggang keluar kamar. Menghindar? Mungkin. Mario hanya merasa tidak nyaman berada di dekat Anggia. Bukan apa-apa, setiap melihat wajah perempuan itu Mario selalu disergap rasa bersalah. Bukan pada Anggia, tetapi Bayu. Ucapan Tegar hari itu menamparnya kuat-kuat. Bagaimana bisa selama ini Mario begitu percaya pada Anggia dan membiarkan sang istri memperlakukan Bayu sesuka hati. Meskipun Bayu bukan putra biologisnya, Mario tetap menyayangi anak itu. Dan berhadapan dengan Anggia setiap saat membuatnya merasa telah turut menyiksa Bayu. "Pa, kenapa tidur di sini?" tanya Wil bingung ketika melihat papanya tengah mengatur posisi tidur di

