"Akhirnya Papa pulang juga. Air hangat sama makan malam udah Mama siapin. Papa mau mandi atau makan dulu?" "Tidur." Mario menjawab pendek. Ia sama sekali tak tertarik berbasa-basi dengan Anggia. "Makan dulu, Pa. Nanti sakit." Lelaki itu menoleh menatap sang istri, lalu tersenyum. Namun, bukan senyum ramah dan hangat seperti biasa, justru tampak meremehkan. "Kamu peduli kalau aku sakit? Anakmu yang jelas-jelas sakit parah aja kamu suruh pergi. Apa karena dia enggak punya apa-apa dan enggak bisa beliin barang mewah kayak aku?" "Jaga mulut kamu, Pa. Aku enggak matre. Aku benar-benar tulus sayang sama kamu dan Kakak." Mario sontak memutar tubuh hingga kini ia berhadapan tepat dengan sang istri. "Itu yang jadi pertanyaanku, Ma. Kamu bisa sayang sama kami, tapi kamu enggak bisa sayang sama

