Satu dua pengunjung cafe mulai berdatangan, bakda Magrib adalah aktifitas tersibuk di Cafe Marginalia. Entah mereka menyempatkan untuk menunaikan sholat dulu atau tidak sebelum bertandang sebagai prioritas. Terlihat seorang pemuda berbadan kekar sibuk merapikan motor yang selalu diparkir sembarang oleh pemiliknya saat setelah tiba. Tak jauh dari hiruk pikuk yang dilakukan oleh Cacing, di bawah pohon mangga depan Café nampak Mikail terbenam dengan kesunyiannya. Di kepala pemuda itu sudah terlihat bebat perban kemarin. Gelas kosong berisi ampas kopi ada di hadapan pemuda itu ditambah dua piring kotor yang bertumpuk dan dua buah ponsel meramaikan isi meja yang berantakan. Pandangan Mikail lurus ke depan, walaupun hanya sebuah tatapan kosong. Sebuah pelukan hangat membuyarkan lamunan Mika

