Raka akhirnya kembali ke rumah.
Setelah tau saat ini dia sudah tidak punya kontribusi apa pun di perusahaan.
Raka berjalan menuju meja makan.
"Ifah. Ifahh!" panggil raka.
"Iya Pak." ifah berjalan menghampiri raka dengan memnggeret sebuah koper kecil.
"Saya lapar. Tolong sediakan makanan." perintah raka.
"Maaf pak. Hanya ada mie instan di dapur. Apa Bapak mau?"
Raka menatap ifah tidak mengerti.
"Maksud kamu apa? Bukannya semalam saya masih lihat ada bahan makanan di dapur."
"Tadi Nyonya Ambar nelfon nyuruh Mang Yadi bawa semua bahan makanan ke rumahnya. Saya juga di kembalikan ke yayasan hari ini Pak."
"Apa?" Raka benar benar tak habis pikir.
Ibunya benar benar tega memperlakukannya seperti ini.
Saat raka tengah termenung tiba tiba ponselnya berbunyi.
"Hallo." jawab raka datar.
"Kosongkan rumahku sekarang juga. Dan jangan bawa barang apapun dari dalam rumahku. Bawa sekalian wanita jal4ng itu keluar."
Tut tut tut.
Tanpa memberi ksempatan untuk raka menjawab ambar langsung memutuskan panggilan itu.
Tega sekali ibunya pada raka.
Raka tidak tau apa yang membuat ibunya sampai harus berbuat seperti itu.
Meskipun raka gemar bermain ranjang dengan perempuan tapi raka juga sudah bekerja keras untuk membantu ibunya di perusahaan.
Apa tidak ada sedikit belas kasihan untuknya?
Raka tidak punya apapun sekarang.
Harta, jabatan semuanya lenyap hanya dalam hitungan jam.
Raka berjalan ke dalam ruang kerja mengambil sesuatu dari sana.
Lalu raka masuk ke dalam kamar pribadinya.
Semuanya masih utuh.
Raka memandang foto pernikahannya lama.
Setelah itu keluar menemui sella yang ada di kamar tamu.
"Sel, Kita harus pergi dari sini."
"Lho, kenapa sayang. Apa kamu sudah dapet tempat tinggal untuk Aku?"
Raka hanya diam tak menjawab.
Raka berjalan ke luar menuju mobilnya.
Meski raka di larang membawa barang dari rumah itu raka tetap membawa mobil itu keluar.
"Kita mau kemana sayang?" tanya sella saat sudah di dalam mobil.
Raka masih diam. Enggan untuk berkata kata
Raka sampai di villa yang pernah dia tinggali untuk melarikan diri waktu itu.
Villa itu di beli dengan atas namanya sehingga ibunya tidak mungkin menguasainya.
"Kita tinggal di sini untuk sementara." raka masih belum mau berbagi cerita tentang penderitaan yang kini alami kepada sella.
Sella pun belum tau jika raka sudah menikah.
Setelah mengantar sella ke villa raka langsung bergegas pergi lagi.
Tujuan nya adalah untuk mencari tika.
Entah di mana dia harus mencari keberadaan tika sekarang.
Raka tidak tau teman teman tika.
Raka Mampir ke sebuah dealer mobil.
Raka akan menjual mobil itu untuk modal hidup.
Setelah semua urusan jual beli selesai raka kembali ke rumah utamanya.
Raka mengambil motor yang biasa di pakai tika.
Raka tidak perduli dengan ucapan ibunya yang tak melarangnya membawa barang barang dari rumah itu.
Waktu sudah menunjukan hampir tengah malam.
Raka masih menyusuri jalanan di ibu kota dengan motor tika.
Namun raka masih belum juga menemukan istrinya.
Raka mengubah tujuannya.
Raka berniat pergi ke apartment alan.
Alan pasti tau di mana tika.
Ding dong ding dong.
Alan yang tengan menonton pertandingan bola merasa terusik.
"Siapa si? malem malem ganggu aja." gerutu alan.
Ketika alan membuka pintu, dahi alan mengernyit melihat laki laki yang biasanya berpakaian necis dan rapih.
Kini nampak berantakan dan lusuh.
"Belum juga sehari jadi gelandangan udah begini aja tampangnya." batin alan.
Ingin sekali alan tertawa melihat penderitaan raka saat ini.
"Ada perlu apa?" tanya alan dengan senyum mengejek.
"Di mana tika?" tanya raka nampak tak b*******h untuk hidup.
"Bukan kah kau itu suaminya? Kenapa kau tanya padaku?"
"Katakan saja di mana tika?"
"Aku tidak tau. Dan kalaupun aku tau aku tidak akan memberi tau kamu." ketus alan.
"Kenapa kau membela dan mendukung mereka melakukan ini padaku lan?"
"Ibu kamu melakukan semua ini pasti ada alasannya. Kau tanyakan saja padanya. Aku tidak membela siapa siapa di sini. Aku berdiri di pihak yang benar."
Alan menjeda perkata'annya.
"Tika memberi ksempatan waktu untuk kamu. Bekerja dengan baik dan mulailah berbisnis sendiri di atas kaki kamu sendiri atau kau bisa merayu ibumu untuk tidak melakukan hal ini pada kamu. Tika hanya memberi kamu waktu dua bulan. Setelah itu dia yang akan menggugat kamu di pengadilan."
Mau tidak mau alan harus memberi tahu pesan yang tika sampaikan padanya.
"Jadi kau tau di mana tika?" raka berkata dengan senyum mengejek.
"Dan satu lagi. Setelah gugatan itu di layangkan tika tidak akan mengambil apapun yang di berikan ibu kamu kepadanya. Tika mengembalikan semuanya. Bahkan saat ini pun dia tidak menjabat apapun di kantor seperti yang kau pikirkan. Dia tidak gila harta."
"Di mana tika sekarang?" tanya raka lagi dengan wajah menunduk lesu.
Mendengar penjelasan dari alan tentang istrinya.
Raka semakin merasa bersalah.
Raka pikir tika sedang bebahagia di atas penderitaannya.
Namun dugaannya salah.
"Kau tak perlu mencarinya. Perbaiki saja hidup kamu. Tika sudah terlalu lama menderita. Biarkan dia hidup dengan caranya. Pulanglah ini sudah malam."
Alan menutup pintu.
Bahkan alan tak sempat mengajak raka masuk ke dalam untuk sekedar duduk.
Ada perasaan bersalah juga dalam diri alan melihat sahabatnya kini nampak tak terurus.
Padahal belum genap sehari pria itu di beri pelajaran.