Miskin

806 Words
Raka sudah berpakaian rapih. Setelah merenungi kesalahannya pada tika di ruang kerja, raka belum juga turun ke lantai bawah. Raka tau di lantai bawah di kamar tamu masih ada sella. Raka bahagia bisa bertemu dengan sella lagi. Tapi kepergian tika membuat pikiran raka berkecamuk. Tok tok tok. Saat raka termenung memandangi gambar pernikahannya di dinding kamarnya, tiba tiba suara ketukan pintu terdengar. Raka beranjak membuka pintu. "Sella. Ada apa?" Ternyata sella yang datang dengan tubuh yang di bungkus selimut. "Aku mau pinjam baju kamu sayang. Baju aku pasti sedang di cuci sama pembantu kamu kan?" Raka terdiam. "Ya. Pembantu itu adalah istriku" batin raka. Raka tak mengijinkan sella masuk ke dalam kamarnya meski Sella sempat mendorong raka pelan untuk masuk ke dalam kamar raka. Sella mengernyitkan dahinya tak mengerti. "Ikut aku. Aku ambilkan baju untuk kamu." "Kenapa aku gak boleh masuk kamar kamu sayang?" "Kamar aku berantakan." jawab raka sekenanya. Raka membawa sella kembali ke kamar tamu. Setelah itu raka mengambil baju sella yang sudah di cuci oleh tika dan di setrika oleh ifah. "Ini baju kamu. Sudah di cuci." "Oleh istriku." batin raka lagi. "Makasih sayang." Raka hanya mengangguk. Ting tong ting tong Bell pintu berbunyi. Raka bergegas keluar dari kamar tamu hendak membuka pintu. "Alan." ucap raka. Ternyata alan yang datang. "Ada apa?" Raka merasa alan seperti sedang marah padanya. Apa karna tadi pagi dia tidak menjawab panggilannya? "Sedang apa kau di rumah? Lupa kalau kau itu bos di kantor kamu? Apa kau sudah bosan jadi bos? Apa kau ingin mencoba menjadi gelandangan?" Alan sengaja menekan kata gelandangan. Apakah laki laki gila ini akan tersinggung? "Bicara apa kau? Jangan melewati batasan kamu alan." "Wow. Rupanya cinta pertama mu sudah kembali?" Ucap alan saat melihat sella yang keluar dari kamar tamu. "Hai lan. Apa kabar?" tanya sella pada alan yang kini tengah menatap dingin pada raka. "Aku baik. Sangat baik." jawab alan yang masih menatap tajam pada raka. Sekarang alan tau alasan tika keluar dari rumah raka. "Apa kau sedang mencoba membakar dirimu sendiri raka?" tanya alan dengan mata memicing. Sella tidak mengerti dengan ucapan alan pada raka. "Pergilah dulu. Aku akan menemui kamu nanti." usir raka pada alan. Namun alan tak menggubris. Alan berjalan menghampiri sella. "Apa tujuan mu sella?" "Ap apa apa maksud kamu alan? Tujuanku datang un untuk menemui laki laki yang aku rindukan." sella tergagap. "Benarkah." Alan tersenyum mengejek. "Alan, jangan berlebihan. Pergilah. Aku akan datang ke perusahaan nanti." Raka merasa alan sudah melewati batas. "Tapi sepertinya kau tidak perlu lagi datang ke perusahaan itu Raka. Persiapkan diri kamu saja untuk sesuatu yang akan terjadi. Kau telah memulainya dan sebenarnya ini terlalu cepat." terdengar nada mengejek saat Alan berbicara. Alan keluar tanpa berniat mendengar jawaban yang akan di katakan raka. Raka sendiri tidak tau harus bagaimna sekarang. Bukan tentang kehilangan aset yang ada di pikiran raka saat ini. Tapi otaknya terus memikirkan di mana istrinya saat ini. "Raka ada apa? Kenapa alan bekata seperti itu?" "Sudahlah. Itu bukan urusan kamu. Lebih baik kamu pulang sekarang. Aku harus ke kantor." "Sayang aku sudah tidak punya rumah di sini. Aku datang ke sini untuk kamu. Aku mau tinggal sama kamu. Boleh kan?" "Kau tunggu dulu di sini. Aku akan mencarikan tempat tinggal untuk kamu. Kau tidak bisa tinggal di sini. Ini rumah ibu ku." "Aku bisa tinggal di paviliun belakang sayang. Biar aku bisa dekat sama kamu." ucap sella tanpa tau malu. Mendengar tentang paviliun. Bayangan tentang istrinya kembali menyayat perasaan raka. Tidak. Sella tidak boleh masuk apa lagi tinggal di paviliun. Di pavilliun lah selama ini tika tinggal. Raka tidak mau mengotori tempat itu dengan mengijinkan sella tinggal di sana. "Tidak. Mamah aku akan marah jika ada perempuan lain tinggal di sini." Raka beranjak pergi. Raka berniat menyewa sebuah apartment untuk sella. Saat ini raka ada di bagian administrasi untuk pembayaran sewa apartment. Raka mengeluarkan kartu kreditnya. Namun kartu itu di tolak. Hingga raka mencoba beberapa kartu lainnya yang ada di dompet pun hasilnya tetap sama. Di tolak. Entah alan atau ibunya yang sudah bergerak sekarang. Tapi yang pasti raka sudah di ambang kehancuran. Raka tersenyum miris mendapati kejutan ini. Miskin. Raka jatuh miskin sekarang. Akhirnya dengan sangat malu raka membatalkan sewa apartment itu. Raka bergegas menuju perusahaan. Raka berjalan memasuki ruang kerjanya. Begitu pintu di buka, sudah ada seorang laki laki yang tengah duduk dan di sibukan dengan berkas berkas. "Maaf ada keperluan apa?" tanya laki laki itu pada raka. Raka kembali tersenyum sinis. Tetnyata posisi di kantornya pun sudah di ganti. Raka tak menjawab. Dan segera berjalan ke ruangan alan. "Secepat itukah?" tanya raka pada alan. "Kau yang memulainya terlalu cepat." Jawab alan tanpa menoleh dan fokus pada berkas di hadapannya. "Di mana tika?" "Untuk apa kau mencari nya?" "Kenapa tidak boleh? Aku hanya ingin mengucapkan selamat. Karna sekarang dia adalah bos." Alan mendelik mendengar raka berbicara sarkas pada tika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD