Setelah raka melihat pakaiannya dan juga pakaian milik sella, raka bergegas menuju pavilliun berniat menemui tika.
Meski saat ini raka masih belum tau apa yang harus di katakan pada tika namun entah kenapa raka merasa ingin sekali melihat wajah istrinya.
Raka sadar sepenuhnya sadar dia telah melakukan kesalahan.
Dan harus siap dengan resiko yang harus di terima.
Tentu saja raka belum siap menerima resiko yang harus menjadi gelandangan.
Tapi rasa takut kehilangan istrinya lebih besar di banding takut kehilangan harta warisan dari ibunya.
Raka tidak tau perasaan apa yang raka miliki untuk tika.
Namun rasa takut kehilangan itu ada.
Tok tok tok.
Raka mengetuk pintu kamar tika.
Namun tak ada jawaban.
Hingga raka berulang kali mengetuk pintu itu berulang kali namun tetap saja tak ada jawaban.
Raka merasa khawatir, takut terjadi sesuatu di dalam sana.
"Tika." panggil raka sedikit berteriak.
Tetap tak ada jawaban.
Raka membuka pintu yang raka pikir pintu itu terkunci tapi ternyata pintu itu dapat terbuka dengan mudah.
Ruangan itu kosong. Selimut dan bantal yang tertata rapih.
Raka membuka pintu kamar mandi.
Kosong.
Raka mulai panik. Raka membuka pintu lemari pakaian tika. Kosong.
"Sial." desis raka yang mendapati ruangan tika dan pakaiannya sudah tak ada.
Raka berlari keluar menuju ke rumah utama.
"Ifah. Ifah." panggil raka berteriak.
"Kenapa Pak. Ada apa?" ifah tergopoh lari menghampiri majikannya yang lagi lagi berteriak entah ada apa.
"Kemana istri saya?" tanya raka yang masih panik karna tak menemukan istrinya.
"Lho. Memangnya ibu gak ada di pavilliun pak? Tadi saya dari garasi motor ibu juga ada di sana. Dari pagi saya belum ketemu ibu Pak." ifah menjelas kan pada raka. Memang sedari pagi ifah pun merasa heran yang tak melihat keberadaan majikannya.
Ifah pikir tika enggan keluar dari pavilliun karna masih ada perempuan lain.
Ifah pun sempat ingin membangunkan tika saat hari mulai siang namun tika tak kunjung keluar dari pavilliun.
Tapi ifah tidak berani karna takut.
Raka berlari ke ruang kerjanya setelah mendengar penjelasan dari ifah.
Raka mengecek CCTV di rumahnya.
Raka melihat tika yang pergi keluar membawa koper.
Raka melihat istrinya memebereskan bekas pergulatannya dengan sella di ruang tamu.
Raka menatap nanar gambar istrinya di dalam layar.
Tiba tiba raka merasakan sakit yang tidak raka mengerti.
Perasaan raka terkoyak saat melihat bagaimana istrinya terkejut melihat ruang tamu yang berantakan akibat ulahnya.
Raka telah melukai orang yang sudah dengan ikhlas menerima laki laki b***t sepertinya.
Di tempat lain.
Tika tengah berjalan di sebuah mall.
Mencari makan siang dan mencoba mencari pekerjaan.
Tika duduk dan memesan makanan di sebuah cafe.
Sambil menunggu pesanannya datang tika memainkan ponsel yang sudah dia ganti dengan nomor baru.
"Tika." panggil seorang laki laki yang tak lain tak bukan adalah alan. Teman sekaligus sekertaris suaminya.
"Hai." tika tersenyum.
"Sedang apa di sini? Apa kau bersama Raka ke sini?"
"Mas alan sendiri sedang apa di sini?"
"Aku baru saja meeting di cafe atas. Di mana Raka? Kenapa tidak menjawab panggilanku dia?"
"Dia di rumah."
Alan mengernyit mendengar setiap jawaban tika yang selalu menghindari pembahasan tentang raka.
Alan merasa ada tengah terjadi sesuatu lagi di antara mereka.
"Apa kalian sedang bertengkar?" tanya alan yang penasaran. Ada apa lagi dengan teman gilanya itu.
"Tidak." tika menjeda ucapannya.
Tika merasa membutuhkan bantuan alan saat ini.
"Mas Alan bisa bantu Saya?"
"Bantu apa?" alan semakin di buat tak mengerti.
"Saya minta tolong sama Mas Alan. Jangan pernah memberi tau Mas Raka kalau hari ini kita bertemu. Jangan tanya pada saya ada apa dan kenapa. Suatu saat nanti pasti mas alan tau alasannya. Dan mas Alan pasti tau tentang perjanjian antara saya, mas raka dan Nyonya Ambar. Mas raka harus keluar dari rumah dan tak akan mendapatkan apa pun dari Nyonya. Saya memberikan ksempatan untuk Mas Raka bekerja dan memulai bisnisnya sendiri atau mungkin merayu Nyonya Ambar untuk tidak mengusirnya. Saya hanya memberi waktu dua bulan. Silahkan Mas Alan bantu Mas Raka untuk terhindar jadi gelandangan. Setelah dua bulan saya yang akan menggugat Mas Raka di pengadilan."
Tika berbicara panjang lebar pada Alan.
Alan mulai paham.
Alan memang tidak tau apa pokok masalah yang sebenarnya.
Tapi alan yakin. Raka gila itu yang sudah mematik api untuk membakar dirinya sendiri.
"Apa yang sudah di lakukan laki laki itu padamu. Sampai kau berniat untuk berpisah darinya?"
Tika tersenyum sendu mendapat pertanyaan itu dari alan.
"Maaf mas. Boleh saya makan makanan saya? Saya lapar."
"Emh. Makan lah."
Alan melihat ekspresi tika yang menyedihkan.
Alan tau tika menyimpan masalah yang berat.
Setelah selesai makan tika hendak pamit dan segera pergi. Namun alan mencegahnya.
"Tunggu. Kamu bawa apa?" alan melihat amplop ccoklat yang di simpan di belakang punggungnya saat tika duduk sehingga alan baru melihat amplop itu saat tika berdiri dan hendak pergi.
"Ini berkas berkas Saya untuk mencari pekerjaan. Mas alan mau Periksa?" jujur tika.
Tika tidak mau menyembunyikan itu.
Tika takut alan mencurigainya itu adalah berkas perusahaan yang di berikan mertuanya.
"Kamu pergi dari rumah?" alan melotot terkejut.
Tidak mungkin ini masalah kecil.
Raka pasti sudah melakukan kesalahan fatal hingga membuat tika keluar dari rumah suaminya.
"Saya permisi mas."
"Tunggu. Apa Kau perlu bantuanku? Aku akan membantu kamu mencari pekerjaan." alan berniat membantu.
Alan tidak tega melihat tika yang seorang diri di ibu kota.
Alan tau tika hanya punya ibunya.
Namun ibunya kini pulang ke desa.
Alan benar benar murka sekarang dengan teman nya itu.
"Terimakasih mas. Saya tidak mau merepotkan. Biar saya cari pekerjaan sendiri saja."
"Kamu tinggal di mana sekarang? Berikan nomor ponsel kamu yang baru. Aku tau kau mengganti nomor kamu karna tadi pagi aku menghubungi kamu untuk menanyakan raka padamu."
Tika memberikan nomor barunya pada alan. Dan berpesan untuk tidak memberikan nya pada raka.