Selamat tinggal mas.

916 Words
Raka semakin terbuai dengan tubuh gadis yang saat ini ada di bawahnya. Raka terus menyesap pucuk buah melon milik sella dengan nafsu yang semakin membara. Tangan kanan raka turun ke bawan menuju ke pangkal paha sella. Raka menemukan yang dia cari. Raka mengusap lembut dan memutar bagian kecil itu. Sella yang merasakan serangan di pucuk buah melonnya dan pangkal pahanya secara bersamaan pun tidak bisa menahan suara des4hannya. "Emh, sayangh. Nikmat sekali sayang." "Shh, benarkah?" sahut raka yang masih terus menghisap pucuk itu dan terus memutar dan mengusap bagian sensitive di pangkal paha sella. Sela meremas rambut raka yang terus sibuk dengan dua buah melon miliknya. Sella tak bisa lagi menahan sesuatu yang ingin keluar dri inti tubuhnya. "Sayang aku, aku mau keluar argh." sella mencapai puncak yang di tuju. Raka membiarkan sella menikmati sisa sisa kenikmatan yang belum usai. Raka terus membelai dan meremas buah melon sella dengan lembut. Setelah di rasa cukup memberikan waktu pada sella raka mengarahkan miliknya ke lubang inti sella. Hanya dengan sekali hentakan pelan milik raka masuk menembus lubang inti sella dengan mudah. Raka mengernyitkan dahinya merasakan sesuatu yang raka yakini. Raka menatap wajah sella yang kini tengah terpejam menikmati milik raka yang kini tenggelam ke dalam lubang intinya. "Aku bukan yang pertama untuk kamu sella." batin raka. Merasakan lubang yang tak lagi sempit dan mudah di terjang. Namun raka mencoba menikmati apa yang sudah sella sajikan. Raka memompa miliknya pelan. Mencoba memancing gairahnya yang sempat redup. "Akh sayang. Lebih cepat sayang." perintah sella yang merasa raka hanya bermain pelan. Sedangkan sella ingin bermain dengan lebih b*******h. Raka memompa miliknya semakin cepat sesuai yang sella mau. Sella merasakan kenikmatan yang ia mau dari raka. Namun tidak dengan raka yang justru tidak begitu berkesan dengan yang dia lakukan dengan sella. Entah kenapa raka pun tak tau. "Akh sayang. Lebih cepat sayang. Aku mau keluar." "Shh, Akh." desis raka. akhirnya rakapun akan segera mencapai puncak. Raka memompa miliknya semakin cepat dan "Aaarrrr." teriak dua orang bersamaan saat sesuatu yang mereka nantikan akhirnya tercapai. Setelah melakukan itu raka membawa sella masuk ke dalam kamar tamu. Mereka tidur bersama di kamar itu. Pagi akhirnya datang. Tika yang tidak bisa tidur nyenyak semalam. Akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah suaminya lebih awal. Bahkan waktu masih menunjukan waktu subuh. Tika keluar membawa koper berisi barang barangnya menuju pintu keluar. Sebelum keluar tika menyempatkan diri masuk ke dalam rumah utama. Berniat untuk mengenang perjalanan hidupnya yang sejak bayi di dalam rumah itu. Tika terkejut melihat keadaan ruang tamu yang berantakan. Baju berserakan di lantai. Ya. Itu adalah baju raka dan sella semalam. Tika tersenyum sendu melihat baju suaminya tergeletak di lantai dan baju wanita special untuk suaminya pun tergeletak mengenaskan di lantai. Tika membereskan ruang tamu itu. Memunguti pakaian dua pasang manusia itu. Tika tersenyum getir membayangkan apa yang di lakukan suami dan perempuan itu. Tika membawa pakaian itu ke ruang laundry dan memasukkanya ke dalam mesin cuci. Setelahnya tika bergegas pergi keluar dari rumah raka. "Selamat tinggal mas. Aku harap semuanya baik baik saja." gumam tika. Saat di dalam taxi tika menghubungi ibunya. "Hallo bu. Apa kabar?" "Baik Nduk. Kamu apa kabar sayang? Kok di dalam mobil. Mau kemana pagi pagi begini?" "Tika mau ke pasar Bu. Mau ngajarin asisten rumah tangga yang baru di sini." kilah tika pada sang ibu. Tika tidak ingin membuat ibunya khawatir. "Owh sudah datang asisten rumah tangga barunya?" "Sudah Bu. Ibu betah gak di desa?" Tika berbicara banyak dengan ibunya di sambungan telfon. Hingga akhirnya tika sampai di tempat yang tika tuju. Tika turun dari taxi itu mengambil koper dari bagasi. Sebuah kos'san kecil yang sudah tika kontrak selama beberapa bulan melalui jejaring sosial media. Tika bertemu dengan pemilik kos'san itu untuk meminta kunci kos'san nya. Tika masuk ke dalam kamarnya untuk menata barang barangnya. Setelah siang hari tiba tika menyiapkan berkas berkas untuk mencari pekerjaan. Tika hanya punya modal ijazah lulusan SMA. Apapun pekerjaannya selama itu tidak merugikannya tika siap yang terpenting sekarang adalah bisa keluar dari rumah raka tanpa merepotkan ibunya dan siapapun. Tika berniat pergi keluar untuk mengurus keperluan untuk melamar pekerjaan dan mencari makan. Dari kemarin tika belum makan. Hanya air minum kemasan yang masuk ke dalam perutnya. Di rumah raka. Raka keluar dari kamar tamu berniat mengambik pakaian milik sella dan juga miliknya. Raka keluar hanya dengan memakai handuk di pinggangnya. Raka tidak menemukan pakaiannya. Ruang tamu pun sudah rapih. Raka berfikir ifah yang membereskan dan menyimpan pakaiannya. "Ifah. Ifah." teriak raka memanggil asisten rumah tangganya. "Iya pak. Ada apa?" tanya ifah yang buru buru lari dari arah dapur. "Di mana pakaian sella yang semalam di sini?" raka bertanya dan menunjuk ke arah ruang tamu. Namun yang di tanya justru nampak bingung. "Pakaian yang mana Pak? Tadi pagi saya ngepel lantai di sini gak ada pakaian siapa siapa." Raka mengernyitkan keningnya mendengar jawaban ifah. "Jangan Bohong kamu. Siapa yang beresin semuanya yang ada di ruang tamu ini tadi pagi?" "Saya gak bohong pak. Tadi pagi saya beresin di sini tapi gak ada apa apa. Semuanya masih rapih seperti keadaan kemarin." Ifah nampak berfikir dan melanjutkan ucapannya. "Apa Bapak tadi pagi nyuci baju? Tadi pas saya bangun di ruang laundry mesin cucinya nyala padahal saya belum nyuci. Apa itu ibu yang nyuci ya?" ifah nampak berfikir dan bertanya pada raka. Raka segera bergegas ke ruang laundry untuk melihat apakah betul tika yang membereskan pakaian milik sella dan juga pakainya? Jika iya. Berarti tika pasti tau apa yang sudah sella dan raka lakukan semalam di ruang tamu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD