Pengadilan

752 Words
Raka kembali ke villa dengan keadaan kacau. Dia sadar dia telah salah langkah. Benar apa kata alan, dia terlalu bodoh dan t***l karna di buta kan oleh cinta pertamanya. "Argh,bang54attt." raka menjambak rambutnya sendiri. Raka ingin menangis sekarang. Tapi apa dengan dia menangis itu bisa merubah keadaan? Tidak. Raka sudah terlalu bodoh selama ini. "Sayang, kamu kenapa tinggalin aku?" Sella datang menusul raka dengan tidak tau malunya. Setelah alan membuka kedoknya, sella masih harus meluluhkan hati raka. Dia belum mendapatkan apa yang dia mau. "Wanita jal4ng. Berani sekali kau kembali menginjakkan kakimu di rumahku." "Sayang aku bisa jelasin. Tidak semua yang alan katakan itu benar sayang. Dengerin aku dulu." bujuk sella. "Kalaupun benar alan berkata bohong padaku tentang kebusukkan kamu, aku lebih memilih percaya pada alan dari pada jal4ng seperti kamu." "Sayang kenapa kau berkata seperti itu? Hiks hiks hiks." sella menangis tersedu sedu. "Kau pikir aku akan luluh dengan air mata jal4ng sepertimu itu? Tidak akan sella. Aku tidak akan tertipu lagi untuk yang kesekian kali." Raka menjeda ucapannya. Berdiri di depan sella yang kini tengah memerankan sandiwaranya dengan apik. "Sella, dengarkan aku baik baik. Kalaupun alan tidak memberi tau aku tentang kebusukan kamu, kau tetap tidak akan mendapatkan apapun dariku. Aku tidak punya apapun. Semua aset yang aku miliki itu adalah milik mamah aku. Mamah aku tidak bodoh seperti aku, tidak ada satu pun aset milik mamah yang berganti nama kepemilikan atas nama aku. Bahkan motor yang saat ini ada di depan villa ini, itu atas nama pembantu aku. Bukan milik aku. Dan satu hal yang harus kau tau sella. Aku juga sudah menikah. Wanita yang menyiapkan makan malam saat kau baru datang itu adalah Istriku. Pembantu yang sudah mencuci pakaian kamu setelah kita tidur bersama untuk pertama kalinya itu adalah istri aku. Dan kau tau sella? Sekarang aku merasa menjadi laki laki paling b4jingan di muka bumi ini." raka menjelas kan panjang lebar pada sella. Sella hanya melongo. Seperti tak percaya pada apa yang di ucapkan raka barusan. "Sayang, kamu bohong kan?" Tanya sella lagi yang kini sudah berhenti dengan sandiwara tangisannya. "Aku tidak berbohong. Pulanglah ke tempat kau berasal. Aku laki laki miskin. Kau tidak akan mendapatkan apapun di sini." Setelah berbicara panjang lebar raka masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Sella pun keluar dari villa itu. Tidak ada gunanya jika ia tetap ada di sini. Tujuannya adalah uang. Tapi kini laki laki itu sudah miskin jadi untuk apa dia harus bertahan merayunya. Begitu lah pikir sella. ***** Waktu dua bulan yang tika berikan pada raka pun akhirnya tiba. Tika sudah ada di pengadilan. Hanya alan dan pengacara tika yang hadir. Sedangkan raka, entah kemana perginya laki laki itu. Setelah raka tau kebusukan sella dan keluarganya raka menghilang. Bahkan villa yang di tempati raka pun sudah di jual dan sudah berganti nama kepemilikan. Nomor ponsel raka pun tak bs lagi di hubungi. Alan menanyakan pada Ambar Ibunya pun tidak tau keberadaan raka. Tika bimbang dengan langkahnya yang ia ambil saat ini. Bagaimana pun raka majikan yang baik selama ia bekerja di rumahnya. Tika tinggal dengan raka sejak bayi. Membuat ada rasa yang tidak tika tidak mengerti. Sidang pertama berjalan lancar. Jadwal sidang mediasi adalah minggu depan. "Mas alan belum menemukan Mas Raka di mana?" tanya tika menunduk saat di dalam mobil setelah sidang perceraian. "Belum. Entah kemana laki laki bodoh itu." meski alan marah pada raka, tetapi alan khawatir dengan keadaan temannya itu. Raka tidak pernah hidup susah tapi entah apa yang sedang raka lakukan di luar sana. "Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Urusan raka biar aku yang urus. Setelah sidang ini selesai kau bebas melakukan apapun." ucap alan lagi. "Hik hiks hiks. Aku merasa khawatir dengan keadaan Mas Raka di luar sana. Bagaimana kalau dia melakukan hal bodoh. Dia tidak pernah hidup susah. Dia pasti sangat tersiksa. Hiks hiks." "Sudah Aku katakan, kau tak perlu khawatir, aku yang akan mengurusnya. Kau jalani saja hidup Kamu dengan baik. Kau akan segera bebas darinya." Tika semakin menunduk dan menangis. Entah apa yang tika pikirkan sekarang. ***** Di tempat lain. "Bangs4t. Aku bilang jangan mengganggu aku. Pergi kau. Hush hush hush." upat raka pada se ekor kambing yang ingin menyeruduk pantatnya. "Mbbeeee mbeeee mbeee." "Aku bilang menjauhlah, kau itu bau. Jangan mendekati aku." bentak raka pada kambing itu. Raka duduk di bawah pohon kelapa setelah ia mengikat tali kambing itu pada sebuah pohon kecil. "Dasar kambing gila." geram raka lagi. Raka menikmati semilirnya angin di bawah pohon kelapa sambil mengawasi kambing yang ia ikat di pohon kecil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD