Gendhis yang masih tertekan lantas segera beranjak pergi. Niatnya untuk kembali ke Pasuruan demi mengemasi barang untuk dibawa ke Mojokerto, berubah. Tekadnya sudah bulat. Ia akan kembali ke Malang. Usai mengemasi semua barang miliknya, Gendhis yang lelah sebab belum istirahat pun meluruh ke lantai. Kaca-kaca tipis di matanya kembali terlihat. Kenangan indah selama lima tahun bersama terus saja membayangi ke mana mata lentiknya memandang. Gendhis ingat betul saat kali pertama ia dibawa ke rumahnya. Meski dengan cara mencicil, setidaknya itu memberi kesan lebih pada awal hubungan mereka. "Kamu akan membawaku ke mana, Putra? Kenapa mataku ditutup serapat ini?" tanya Gendhis. Ia berjalan sembari dipeluk dari samping. "Tenanglah, Dhis. Kita akan segera sampai. Kamu hanya perlu diam dan men

