Demi melihat Abisatya, Gendhis harus memelotot. Sesekali, ia mengucek kedua mata. "A- tunggu, kenapa kamu ada di sini?" Abi tersenyum, lantas menunjukkan sebotol minuman dengan kadar alkohol rendah. "Minum." Gendhis yang merasa sial, menggeram dalam diam. Ia mengutuk dua hari belakangan sebab bertemu dengan Abisatya. Lekas, ia menuruni anak tangga. Tak pantas rasanya jika ia harus mengenang saat-saat indah bersama Putra, dibarengi dengan pria yang paling kerasa suaranya menuduh sang suami berselingkuh di belakangnya. Sayangnya, ia berhenti sekejap. Bukan untuk kembali, melainkan untuk melirik Abi penuh dendam. Ia berdecak saat melihat papan nama yang tersemat di d**a pilot. "Namamu bagus. Tapi tidak dengan akhlakmu. Istrimu baru saja meninggal semalam dan kamu bersikeras berangkat ke

