Kemarahan Abi belum juga reda. Ia masih duduk di lobby yang sama di mana ia dimaki atas kelancangannya menerima telepon dari ponsel Gendhis. Ia terlampau marah hingga harus menitikkan air mata.
Abi mengernyit saat melihat Puri mengempas pelukan Gendhis. Ia menyeringai sebentar, sebelum akhirnya terbahak di tengah ruang tunggu rumah sakit. Tak dihiraukannya banyak petugas kesehatan yang berlalu-lalang. Bahkan, tak sedikit yang menatap iba sembari geleng-geleng kepala.
"Sekarang. Kamu akan tahu, Gendhis. Kamu salah telah berhadapan denganku. Kamu ... Rania, suamimu, semua harus menerima akibatnya!"
Abi beranjak pergi dari rumah sakit tepat saat ia melihat Endra turun dari mobil. Tanpa basa-basi, ia melewati sang adik begitu saja dan masuk ke mobilnya sendiri.
Dua kakak beradik itu pergi dari rumah sakit secara beriringan. Sayangnya, Abi yang tengah menyetir dengan amarah yang memuncak tak mampu berkonsentrasi penuh. Banyak bayangan yang terus hadir di depan mata.
Abi mengetatkan rahang, lalu menggenggam kemudi mobil dengan erat. Lantas, ia mendengar tawa Rania. Abi mengedarkan pandang, tetapi tak menemukan apa pun.
Bayangan Rania kembali datang saat ia melewati Singhasari Resort. Pernikahan outdoor yang berlangsung di sana, berkelebat dalam kepalanya. Tentang tawa Rania yang ceria, tentang semua persiapan pernikahan yang mereka lakukan sendiri. Bahkan, tentang malam pertama mereka di sana.
Tiba-tiba Abi mendelik tak percaya. Ia ingat, saat malam pertama ada sesuatu yang janggal. Ia sama sekali tak melihat bekas darah di ranjangnya. Ia ... kembali menggeram penuh amarah saat ingat percakapan mereka seminggu silam.
"Rania ... apa aku menyakitimu?"
"Tentu tidak, Abi. Aku menikmatinya. Kamu ... luar biasa," jawab Rania. Ia tidur terlentang, menatap langit-langit resort yang temaram.
Abi yang gemas, lantas memeluk Rania yang masih tak terbalut sehelai benang pun. "Tapi, bolehkah aku menanyakan sesuatu, Sayang?"
Rania mengangguk, lantas menghadapkan tubuhnya ke arah Abi. Ia menenggelamkan dirinya pada d**a sang suami. "Tanyakan saja, Abi."
Melihat gelagat istrinya, Abi lantas makin memeluk Rania erat. Tangan kanannya membelai kepala Rania dengan pelan. "Kenapa aku tak melihat darah perawanmu tadi?"
Sontak, Rania terbatuk-batuk sebab terkejut. Ia tersedak air ludahnya sendiri.
Abi yang terkejut pun langsung mendudukkan diri, meraih segelas air putih yang berada di nakas samping ranjang. Ia membantu Rania untuk meminum airnya. "Pelan, Rania, pelan."
Rania terus meneguk air mineral yang disodorkan Abi hingga hampir tandas. Lantas, ia menelan ludahnya susah payah. "Ada kalanya, selaput dara itu kelewat elastis Abi. Biasanya, beberapa wanita akan pengalami pecah perawan saat akan melahirkan.
Sisanya lagi, terlalu rapuh. Hingga akhirnya harus kehilangan selaput dara tanpa berhubungan badan. Beberapa kasus, ada yang kehilangan selaput dara saat bermain sepeda. Tapi, aku pribadi tak tahu masuk ke kategori yang mana."
Abi mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, lalu kembali memeluk Rania dengan erat. "Maafkan aku, Rania. Aku tak bermaksud menuduhmu yang bukan-bukan. Aku ... kamu tau sendiri aku paling benci dengan pengkhianatan. Aku takut, Rania. Maafkan aku."
Rania menggeleng pelan, lalu membingkai wajah Abi dengan kedua telapak tangan. "Jangan meminta maaf padaku, Abi. Maaf aku sudah mengecewakanmu tentang ini."
Kilas balik ingatan Abi buyar bersamaan dengan klakson mobil yang saling bersahutan. Abi makin mengetatkan rahangnya dengan keras. Ia marah. Kecewa.
Abi mencoba mengembalikan kefokusannya pada jalanan. Namun, kaca cembung pada kabin depan malah seolah-olah memantulkan bayangan Rania yang tertawa, bergandengan dengan Putra.
Abi membeliak tak percaya. Lantas, ia memukul kemudi mobil dengan keras, sebelum akhirnya ia banting stir sampai harus menepikan mobil.
"Sialan!" Abi mengumpat, lantas ia segera keluar dari mobilnya.
Beruntung jarak mobil Endra berada tak jauh dari sang kakak. Melihat mobil Bai menepi, ia langsung menghentikan mobilnya tepat di depan kendaraan kakaknya.
"Kenapa, Kak?" tanya Endra setelah keluar dari mobil.
Abi menggeleng, lalu tak mengindahkan pertanyaan Endra. Ia langsung masuk ke kabin depan mobil adiknya.
"Ini sudah malam, En. Kita pulang sekarang. Aku akan menelepon montir langganan buat membawa mobilku," ucap Abi setelah Endra masuk ke mobil.
"Kenapa? Apa yang salah, Kak?" tanya Endra. Ia hanya ingin tahu kenapa mobil sang kakak harus ditinggalkan. Padahal, ia tahu betul itu mobil kesayangan Abi.
Abi yang tak tahan langsung mendamprat sang adik saat melihat bayangan Rania dan Putra pada kaca cembung di kabin mobil. "Semua salah, Endra! Semua! Ini semua salah Rania dan Putra!"
Melihat sang kakak yang terlanjur emosi, Endra yang tahu betul sikap sang kakak tak lagi bertanya. Keduanya membisu sepanjang perjalanan pulang. Abi dengan segala kegelisahannya terhadap bayangan Rania, sedangkan Endra yang memikirkan tentang bagaimana nasib sang kakak nantinya.
Di lain tempat, Puri masih marah pada kakak iparnya. Pada Gendhis ia menumpahkan semua amarah yang seharusnya ditujukan pada Putra.
"Karena kamu, Dhis! Karena kamu, aku dan ibu diabaikan oleh kakak! Karena kamu, kakak harus terus bekerja siang dan malam tanpa mau memperdulikan ibu dan adiknya! Karena kamu, ibu kehilangan anak laki-lakinya!"
Gendhis menggeleng pelan, ia menangis mendengar makian Puri. "Dengar, Puri. Aku tak meminta banyak pada Putra, aku hanya ingin hidup bersamanya sampai akhir waktu. Saling bahagia satu sama lain da--"
"Hentikan, Dhis! Hentikan! Jangan pura-pura bodoh untuk mengelabuiku seperti kamu mengelabui kakak! Aku bukan gadis naif!
Hidupmu yang mewah dan terus berpangku tangan pada kekayaan orang tuamu, tentu saja membuat kakakku menderita! Ia harus membahagiakanmu seolah-olah kamu adalah putri raja!
Itu sebabnya, kakak terus membanting tulang, kerja di sini demi membiayai hidupmu yang kelewat hedonis!"
Sontak, Gendhis tercekat. Tenggorokannya kering seketika. Ia bahkan tak pernah menyangka, adik iparnya memaki, menghakimi hidup yang telah diberikan kedua orang tuanya.
"Hentikan, Puri. Kamu harus berhenti membawa-bawa orang tuaku. Mereka tak bersalah saat ini. Mung-mungkin memang akulah yang terlalu memanjakan diriku sendiri, ta--"
"Aku akan membawa jasad kakak pulang ke rumah! Jadi lebih baik, kamu kembali ke Mojokerto, Dhis. Pulanglah ke rumah orang tuamu!"
Dengan kasar, Puri menarik lengan Gendhis, lalu menyeretnya hingga keluar dari rumah sakit. Derasnya hujan memang telah berhenti. Namun, gerimisnya masih menyisakan basah dan perih di hati Gendhis.
Ia baru saja kehilangan suami saat harus terusir oleh adik iparnya sendiri. Ia bahkan belum sekali pun mengucapkan selamat tinggal pada jasad Putra.
"Dengar, Dhis! Kamu adalah istri terburuk! Kamu hanya mencintai dirimu sendiri tanpa mau peduli tentang orang lain! Pantas saja jika kakak mencari kepedulian, perhatian dari wanita lain di luar status perkawinannya!"
Jeder!
Cahaya kilat yang menyambar-nyambar di langit malam Kota Batu, menjadi saksi bisu di mana Gendhis begitu terpukul. Ia yang percaya Putra masih setia, terus diterjang fakta-fakta yang dibeberkan banyak orang. Bahwa karenanya lah, Putra mendua. Memilih orang lain sebagai pasangan berbagi duka. Pasangan selingkuh.