10. Ditolaknya Abi Oleh Direktur Operasional

1002 Words
Mobil yang dikendarai Endra baru saja pergi dari bandara saat Abi memasuki wilayah khusus para pegawai bandara. Beberapa pegawai tampak memasang raut wajah penuh kebingungan. Namun, Abi masih enggan mengacuhkan. Abi hampir saja menekan ibu jarinya pada alat pendeteksi sidik saat seseorang menepuk bahunya. Sontak saja, ia terkejut meski dengan gurat wajah biasa. "Kamu sudah mau kerja? Kenapa enggak istirahat dulu?" L"Ada apa denganku? Aku tak sedang sakit dana sebagainya. Ayas tahes, kok!" seru Abi. Kedua tangannya membentang sembari merenggangkan jemari. Seolah-olah tengah menunjukkan betapa gagah dirinya kini. "Iya, tau! Maksudku, harusnya kamu masih dalam suasana berduka. Akan lebih baik kalau kamu mengambil cuti. Jam terbangmu sudah tinggi." "Masih belum. Kamu tidak perlu khawatir," pungkas Abi. Ia menepuk bahu kawannya dengan pelan. "Bukan karena khawatir tentang psikismu, tapi juga bisa jadi kamu bakal kena sangsi! Hitung aja jam terbangmu bulan ini. Udah 107!" Mendengar itu, Abi mengernyit. Lantas, segera membubuhkan sidik jari. Ia menggeleng, lantas meninggalkan sang kawan sembari kembali ke meja di mana schedule dipampang. Lantas, ia membuka loker dengan nama Abisatya Mahawira. Logbook diambil, lalu dibuka pada halaman jauh ke belakang. Telunjuknya mengacung pada daftar jam terbang, sedang mulutnya komat-kamit menghitung barisan angka secara vertikal. Sadar ia melakukan kekeliruan, lantas Abi menepuk dahinya pelan. "Benar!" Saat hendak berbalik menemui direktur maskapai, betapa terkejutnya Abi saat sosok yang hendak dituju sudah berada di depannya. Setelah memberi hormat, ia buka suara. "Pak, a--" "Aku turut berduka cita, Abi." Sontak saja, senyum yang tadinya dikembangkan Abi lesap. Gurat wajah cerianya berubah masam seketika. Ia geram, tetapi sekuat mungkin ditahan. "Lupakan itu, Pak. Aku ingin mengatakan sesuatu. Ini ten--" "Iya, aku tahu." Direktur Operasional itu memeluk pundak Abi, lantas membawanya duduk dekat dengan jendela yang mengarah pada landasan terbang. "Aku akan memberimu waktu." Abi yang sudah duduk, masih tak mengerti ke mana arah pembicaraan sang Dirops. Ia hanya mengangguk paham. "Ya. Jam terbangku memang sudah maksimal." Dirops pun menepuk-nepuk bahu Abi pelan. "Sebab itu, Bi. Kuberi kamu banyak wkatu untuk menenangkan diri. Setidaknya, dua sampai tiga bulan. Enam tahun kamu bekerja di sini, tetapi tak pernah sekali pun mengambil jatah cuti." Sadar Dirops membicarakan hal lain, tentu saja Abi gelagapan. Ia menggeleng pelan, berusaha memberi penjelasan. "Bukan, bukan itu masalahnya. A--" "Sekarang pulanglah. Setelah cutimu usai, kamu bisa kembali kemari dan terbangkan kapal terbangmu selama yang kamu mau," ungkap Dirops. Tanpa mau mendengar penjelasan, ia terus saja memotong pembicaraan Abi. "Pak, dengar. Aku tak bu--" "Bahkan, aku belum sempat takziyah dan kamu sudah datang untuk bekerja karena kewajiban, Bi. Kamu benar-benar mencintai pekerjaanmu ini, kan?" Abi yang mulai muak dengan ocehan Dirops pun beranjak. Tangannya mulai mengepal. Namun, sekuat tenaga ia menahan amarahnya. Ia menghela napas panjang, berulang-ulang. "Pak. Dengarkan, aku. Sebentar saja. Aku tak butuh cuti. Kita bisa lanjut terbang, hanya saja jam terbangku bulan ini sudah 107. Aku hanya ingin mengatakan, penerbangan kali ini tak akan kuhandle. Dua hari lagi, aku akan kembali terbang. Terima gaji!" Tanpa menunggu jawaban, Abi bergegas pergi. Ia meninggalkan Dirops yang terlongong-longong sebab salah mengartikan apa yang diinginkan. Namun, tak lama bahu Abi dicengkeram kuat dari arah belakang. Sontak saja langkahnya terhenti. Ia menoleh, terkejut mendapati Dirops dengan gurat wajahnya yang menegang. "Apa aku punya salah, Pak?" tanya Abi. "Tentu saja. Kamu salah karena terus menerus mengambil jam terbang milik orang. Bahkan, saban tahun, jam terbangmu ditutup dengan angka maksimal. Aku bangga. Tetapi, untuk kali ini saja. Kumohon, berikan sisanya pada pilot lain. Ambil jatah cutimu. Istirahatlah. Kamu perlu waktu sendirian untuk memulihkan apa yang telah terjadi semalam." Sontak saja, Abi menggeram. Kedua tangannya mengepal erat. "Pak, tak ada yang terjadi semalam. Aku masih bisa terbang." "Jangan pura-pura tegar, Abi! Kamu kehilangan teman, kawan, cinta, hati, dan hidupmu! Jangan memaksa untuk menerbangkan pesawat dengan banyak penumpang hanya demi ambisimu! Pikirkan keselamatan orang lain!" Dibentak sedemikian rupa tentu saja membuat Abi menjadi pusat perhatian para pegawai bandara. Untuk sekejap, ia merasa begitu susah menelan air liurnya sendiri. "Aku sudah menegaskannya. Dua kali. Aku baik-baik, saja." Kali ini, Dirops merasa frustrasi. Ia meraup wajahnya dengan kasar, lalu mulai berkacak pinggang. "Kamu mungkin baik-baik saja di luar, Abi. Tapi di sini, di dalam sini, kamu sedang tersesat. Kehilangan pelita hidup akan membuatmu kembali terpenjara dalam gelap!" bentak Dirops. Sesekali tangannya mengepal dan memukulkannya pada d**a. Abi yang mulai habis kesabaran, lantas mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah Dirops. "Sudah kukatakan bahwa aku baik-baik, saja! Aku mampu mengendalikan pesawat!" Dimaki sedemikian rupa, alih-alih marah, Dirops malah terbahak. Ia kembali duduk pada kursi tak jauh dari tempat Abi terpaku. "Lihat? Kamu bahkan tak setenang biasanya. Mana mungkin kami mengizinkan pilot yang tengah terguncang untuk membawa ratusan penumpang?" Abi memelotot. Ia mengetatkan rahangnya. Terlebih saat banyak pegawai yang mulai memperhatikan mereka. Kasak-kusuk tentang kejiwaannya yang terganggu pun mulai terdengar. Ia memejam sebentar. Ia berusaha untuk menekan egonya agar tak terjadi hal-hal yang tak ia inginkan. Perlahan, setelah menelan ludahnya susah payah, akhirnya senyum terbit di wajah rupawan Abisatya. "Aku bisa memastikan, bahwa aku tidak sedang terguncang, Pak. Aku baik-baik saja, dan bisa kembali terbang dua hari kemudian. Di awal bulan." Dirops menatap Abi frustrasi. Ia yakin, Abisatya butuh waktu untuk menenangkan diri. Buktinya, selama enam tahun mengabdi, hari ini ia melihat sendiri bagaimana Abi marah untuk yang pertama kali. Pria seusia Hadinata itu meraup wajha dengan kasar, lantas berkacak pinggang di depan Abisatya. Ia hendak mengacungkan telunjuk, tetapi urung dilakukan. "Baiklah, begini saja. Kita lihat tanggal satu nanti. Kamu harus sadar diri jika tak mampu mengendalikan pesawat lagi. Sebagai gantinya, kuberi cuti lebih panjang. Enam bulan! Sebagai hukuman atas kebebalanmu sekarang!" Usai mengatakan hal itu, Dirops pun berllau pergi dari hadapan Abisatya. Ia bersungut-sungut sembari berjalan cepat menuju ruangannya. Sementara itu, Abi menganggukkan kepalanya pelan. "Baiklah. Menyetir mobil berbeda dengan pesawat. Bisa kupastikan, aku mampu mengendalikan kapal terbang seperti sebelumnya." Abisatya mencebik sebentar, sebelum akhirnya berlalu pergi dari bandara. Menggunakan taksi khusus, ia kembali pulang ke arah Soehat. Sayangnya, saat mengingat masih banyak kerabat, akhirnya Abi memilih untuk pergi ke tempat wisata. "Puter balik, Pak. Antar aku ke Lawang. Aku butuh udara segar."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD