BAB 14: HARI TERAKHIR MARIO KERJA

1214 Words
“Sudahlah, kita pulang saja. Sepertinya otak kalian sudah hang karena terlalu banyak bekerja,” kata Jackson pada akhirnya setelah merasa kedua asistennya mulai ngelantur. Dan setelah ucapan itu terlontar, mereka membereskan berkas masing-masing dan bersiap untuk pulang. Ali langsung pamit begitu dia selesai membereskan barang, sedangkan Mario dan Jackson masih berada di ruangan Jackson, toh memang mereka pulang bersama. Ali memesan taksi online sambil menunggu di lobby kantor dan langsung masuk ke taksi onlinenya yang datang tidak lama kemudian. Sepanjang perjalanan itu, Ali mencoba untuk menganalisa percakapan mereka bertiga di ruangan Jackson tadi. Mario adalah tipe orang yang ceria dan mudah bergaul, karena itulah mereka dekat dengan cepat. Berbeda dengan Jackson yang sepertinya agak kaku. Apakah tadi Jackson menyuruhnya pulang karena cemburu saat Mario mengatakan kalau pria itu mungkin bisa tertarik pada dirinya? Ditambah dirinya yang juga dengan sengaja semakin mengompori Mario dengan mengatakan kalau dia juga mungkin bisa tertarik pada pria itu. Perkataan Mario seperti mengatakan kalau pria itu selama ini normal, hanya dirinya yang mungkin bisa membuatnya berubah haluan. Nah, dia malah jadi bingung sekarang. Begitu juga dengan ekspresi Jackson yang tidak terlihat marah, pria itu hanya terlihat bingung dan tidak mengerti pada pembicaraan dia dan Mario yang tidak bermutu itu. Kalau dia tidak tahu kalau kedua orang itu adalah pasangan, dia pasti berpikir kalau reaksi Jackson itu normal. Tau ah gelap. Pusing mikir yang berat-berat, kerjaan tadi saja sudah berat. Pokoknya dia jalankan saja tugas dari sahabatnya. Di mobil lain, Jackson dan Mario sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen mereka. “Kurasa kau akan menyukai Ali. Dia tidak sedatar kelihatannya, tahu,” kata Mario memulai pembicaraan sambil mengemudikan mobil itu. “Kurasa tidak, dia aneh,” jawab Jackson. “Itu karena selera humormu minim. Dia memiliki selera humor yang bagus dan kurasa dia memang memilih untuk berwajah datar. Kuyakin dia pintar, kau tahu, kan, sangat sulit membuat ekspresi wajah yang tidak bisa ditebak oleh lawan bicara. Pantas saja bisa menjadi asistennya Darius Hartadi.” “Kalau yang itu aku sependapat denganmu. Dia teliti. Pekerjaannya juga rapi, malah mirip wanita yang pintar mengorganisir.” “Besok adalah hari terakhirku bekerja, jadi kau harus mencocokkan diri dengan Ali. kelihatannya dia cukup tahan banting, dia tidak mengeluh sama sekali sejak kemarin. Kau cukup memberitahu sekali dan dia akan langsung mengerti. Ingat, kalau bicara apapun dengan Ali, kau harus to the point.” saran Mario. “Kenapa sejak tadi kau mengatakan hal itu terus?” tanya Jackson. “Karena Ali unik dan walaupun kelihatannya diam, tapi kepribadiannya keras. Dia tidak mengindahkan strata kedudukan, jadi jangan berharap dia akan sopan dan menunduk padamu atau mungkin pada siapapun. Prinsipnya, dia harus bekerja dengan baik sesuai dengan pekerjaannya.” “Maksudmu, dia tidak tahu sopan santun?” “Bukan begitu. Ali bicara dengan sopan, tapi dia tidak akan bersikap manis padamu hanya karena kau bosnya. Baginya, yang penting dia kerja dengan baik.” “Aku juga hanya perlu dia bekerja dengan baik.” “Yah, semoga kalian cocok,” Mereka masuk ke unit apartemen mereka masing-masing begitu mereka sampai di apartemen mereka. Mereka sudah terlalu lelah dan ingin segera beristirahat. **** Hari berlalu dengan cepat dan sekarang sudah sore, dan itu artinya Jackson sudah harus berpisah dengan Mario yang sudah membantunya di kantor selama lebih dari lima tahun. Seperti dugaannya, Mario mengembalikan kartu akses unit apartemen yang diberikan Jackson sebagai fasilitas kantor. “Kulihat Ali sudah bisa mengikuti cara kerjamu. Untung saja ada dia, kalau tidak, aku tidak tenang meninggalkanmu bekerja sendirian.” kata Mario. “Tetap saja aku lebih ingin kau yang menjadi asistenku. Tapi apa boleh buat, ini kebodohanku sendiri yang tidak memikirkan resikonya saat itu.” kata Jackson. Pada akhirnya dia juga tidak bisa menyalahkan Sisilia, karena seharusnya dia sendiri tahu kalau wanita semacam itu pasti suka bergosip. Dianya yang bodoh karena tidak berpikir panjang. Kedua pria itu berpelukan sebelum akhirnya mereka harus berpisah. Bahkan untuk bertemu lagi saja setelah ini, mereka membutuhkan ijin Fenny dan itu juga harus ada Fenny bersama mereka. Walau Jackson sudah mengenal Fenny sejak sekolah, tapi tetap saja terkadang obrolan pria akan tidak cocok dengan telinga wanita. Terkadang ada candaan v****r atau u*****n yang mungkin akan membuat wanita melotot saat mendengarnya. Ali masuk tanpa mengetuk pintu karena melihat tadi Mario masuk ke dalam ruangan bos. Dia tidak menyangka kalau akan melihat pemandangan di depannya dimana dua pria saling berpelukan erat. Jijik? Tidak. Dia sendiri biasa berpelukan dengan pacarnya yang perempuan atau berciuman dengan mereka. Jadi dia tidak menganggap pemandangan di depannya itu menjijikkan. Dia hanya berpikir kalau seharusnya dua orang itu tidak membuat orang lain menderita kerugian karena perilaku seksual mereka yang menyimpang. Jackson yang lebih dulu melihat Ali. Dia melepas pelukan itu dengan canggung namun juga penasaran dengan ekspresi wajah Ali yang tetap datar. Dia tahu dia dan Mario terlihat mencurigakan, tapi ekspresi Ali seakan itu hal yang biasa. “Saya membawakan laporan yang sudah bisa Anda tanda tangani. Silahkan diperiksa.” kata Ali yang sekarang berjalan ke arah Jackson dan Mario, lalu meletakkan dokumen itu di meja dan keluar dari ruangan itu tanpa mengatakan apapun. Mario menatap horor pada pintu yang ditutup. Dia sangat takut Fenny salah paham lagi. “Di-dia tidak akan bicara pada Fenny, kan?” kata Mario panik, padahal sudah jelas Ali tidak mengenal Fenny. “Kurasa dia cukup tahu untuk segala hal yang dilihatnya disini itu hanya untuk disimpan sendiri.” jawab Jackson. “Sialan kau! Kenapa aku jadi merasa kita memang seperti yang dituduhkan Fenny!” kesal Mario sambil meninju lengan atas Jackson dan Jackson meringis karena merasa kalau apa yang dikatakan sahabatnya memang benar. Sepertinya mereka memang terlalu dekat. Setelahnya Mario pamit pada Ali sambil mengatakan pada penggantinya itu untuk tidak sungkan bertanya padanya jika ada yang tidak dimengerti di kemudian hari. Mereka berjabat tangan sebelum Mario keluar dari ruangan yang sekarang hanya dihuni Ali berdua dengan sekertaris Jackson. Ali diam memperhatikan Mario hingga pria itu keluar dari ruangannya. Menurutnya, dari beberapa hari dia bersama dengan Mario, dia tidak merasa pria itu tidak seperti gay. Di Amerika yang memang bebas, dia sudah sering melihat pasangan gay dan ada beberapa temannya juga yang gay, jadi dia bisa merasakan perbedaan sikap dan cara mereka melihat sesamanya. Dia tidak melihat hal itu pada Mario ataupun Jackson, tapi pelukan yang baru saja dia lihat sepertinya membenarnya apa yang dikatakan Sissy. Tidak lama Ali masuk lagi ke ruangan bosnya setelah pria itu memanggilnya lewat interkom. “Kau ikut aku malam ini. Bawa kontrak dari PT. LUNAR agar kita bisa mempelajarinya nanti.” kata Jackson pada Ali. “Baik,” jawab Ali. Jackson menatap penasaran kepergian Ali dari ruangannya. Asisten barunya itu benar-benar tidak bertanya apapun, seperti robot yang hanya menerima perintah. Saat dia meminta pria itu ikut seperti tadi saja, pria itu tidak bertanya tujuan mereka. Padahal acara pertunangannya tidak ada di jadwal yang dipegang Ali dan sekarang juga sudah lewat jam kerja. Dia mengangkat bahunya cuek. Dia berpikir mungkin seperti itu cara kerja asisten Darius Hartadi. Hanya menjalankan perintah tanpa boleh bertanya. Dan hal itu menurutnya cukup menyenangkan, jadi dia tidak perlu banyak menjelaskan. Ali keluar dari ruangan itu sambil tersenyum miring. Dia kembali ke mejanya dan mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu Sissy dan Jisoo kalau Jackson mengajaknya ke acara pertunangan pria itu dengan sahabatnya. Sebentar lagi dia akan masuk ke dalam kehidupan Jackson Martinez. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD