BAB 15: JARI KAKI

1104 Words
Ali mengemudikan mobil menuju MM Hotel, sesuai dengan tempat yang telah disebutkan Jackson tadi. Dia awalnya agak terkejut saat Jackson duduk di kursi depan, bukan di kursi belakang seperti bos pada umumnya, namun dia tetap dengan ekspresi datarnya. Perjalanan itu ditempuh dalam waktu hampir satu setengah jam karena lalu lintas yang padat. Setelah sampai, dia memarkirkan mobil itu di tempat parkir VIP yang ada di lobby setelah menurunkan Jackson tadi. Dia kembali terkejut saat melihat Jackson yang masih menunggunya di lobby hingga dia menghampiri pria itu dan mereka berjalan beriringan lagi, tidak seperti bos-bos pada umumnya yang berjalan di depan asisten dan sekertarisnya. Staf hotel mengantar mereka menuju sebuah ruangan VIP, lalu membukakan pintu ruangan itu. Jackson meminta Ali menunggu di ruang sebelah sambil makan dulu, hingga dia menyuruhnya masuk nanti. Ali mengangkat kedua alisnya saat masuk ke ruangan sebelah saat melihat menu prasmanan yang disajikan di meja. Dia pikir staff hotel akan bertanya apa yang ingin dia makan, tapi ternyata sudah disiapkan menu prasmanan disini, walau hanya untuk dirinya sendiri yang makan. Sepertinya Jackson adalah bos yang baik, walau tidak banyak bicara, tapi pria itu ternyata memperhatikan dirinya yang hanya asisten baru yang tidak pernah dikenal pria itu sebelumnya. Dia kembali teringat saat Jackson menunggunya dan jalan bersebelahan dengannya, disaat pria itu bisa menelepon untuk memberitahunya harus menunggu dimana. Dia tersenyum karena menyukai sikap Jackson, pria itu tidak merasa dirinya harus dihormati karena bos. Dengan senang dia mengambil piring dan mulai mengisi piring itu dengan makanan yang banyak. Kalau makannya model prasmanan seperti ini, dia pasti kenyang. Jackson masuk ke dalam ruangan itu dengan sangat berat hati, namun tidak menunjukkan perasaannya itu di wajahnya. Dia menghampiri orang tuanya untuk memberi salam dan kemudian menghampiri keluarga calon tunangannya. Dia menyapa Om Andreas dan Tante Maya, lalu menyapa calon tunangannya, Sisilia Hartanto, yang lalu memperkenalkan temannya, Joana Lucas, istri Gavin Lucas, yang ikut datang ke acara ini, kemudian dia berbasa-basi sebentar dengan kedua saudara Sisilia. “Karena ini hanya formalitas semata dan pernikahannya yang akan dirayakan tiga bulan lagi, jadi sekarang acara pertunangannya hanya bersifat kekeluargaan saja,” kata Christian memberitahu Jackson dan pria itu hanya mengangguk pasrah. Memang apa lagi yang bisa dia lakukan? Tiba-tiba menolak pertunangan ini, bisa-bisa Ibunya kena serangan jantung disini. Sekali lagi dia berharap Ronan berhasil membuat Sisilia jatuh cinta pada sepupunya itu. Dia melirik sepupunya yang sekarang sedang memperhatikan Sisilia yang sedang mengobrol dengan Joana Lucas. Acara pertunangan itu hanya berupa makan malam setelah acara pemasangan cincin, jadi sekarang Jackson dan Sissy sedang berdiri bersebelahan, dengan sebuah cincin yang dipegang Jackson. “Mana tanganmu?” pinta Jackson pada Sisilia saat dia sudah memegang cincin pertunangannya yang entah dipilihkan siapa. “Boleh jari kaki saja, gak?” kata Sissy sambil cemberut. “Hah?” Jackson merasa salah mendengar. Belum sempat dia bertanya, gadis itu sudah meletakkan tangan di atas tangannya yang mengadah. Sampai sekarang, Jackson masih tidak tahu kalau Sisilia juga terpaksa bertunangan dengan dia. Dengan sangat terpaksa Sissy memberikan tangannya untuk dipakaikan cincin oleh Jackson. Dia menggerutu dalam hati saat menyerahkan tangannya untuk dipakaikan cincin oleh Jackson. Mau tidak mau dia menyerahkan tangannya setelah melihat pelototan Ayah dan Ibunya. Dia sangat tidak rela saat tangannya dipasangkan cincin yang bukan dari Garry. Walau tidak ada kabar dari pria yang dicintainya itu, dia tetap menunggu. Setiap malam dia berdoa agar Garry datang untuk membawanya pergi. Dia rela meninggalkan semuanya asal Garry memang datang untuknya. Dan akhirnya, mereka berdua sekarang sudah terikat pertunangan yang dipaksakan kedua orang tua mereka. Setelah mereka semua berfoto untuk mengabadikan pertunangan itu, mereka mulai makan malam. Setelah selesai makan, Sisilia langsung melenggang ke arah temannya, begitu juga Jackson yang berjalan keluar dan tidak lama dia masuk lagi bersama Ali. Ali berjalan mengikuti Jackson untuk masuk ke ruang acara pertunangan pria itu dengan Sissy. Dia menghampiri dan menyapa Christian Martinez, Ayah Jackson, Julinda Martinez, Ibu Jackson dan Ronan Nelson, sepupu Jackson. Setelahnya, dia mengikuti Jackson yang mengenalkannya pada keluarga Sisilia Hartanto alias Sissy, sahabatnya yang telah membuatnya kembali ke Jakarta. Dia sedikit pucat saat melihat Ayah dan Ibu Sissy, dia takut kedua orang itu mengenalinya dan rencananya dengan Sissy akan berantakan, belum ditambah, dia pasti akan menerima hukuman dari Om Andreas. Walau Sissy mengatakan kalau orang tuanya tidak akan mengenalinya, tetap ada kekhawatiran dalam dirinya, biar bagaimanapun, kedua orang tua Sissy mengenalnya sejak dia masih kecil dan melihatnya tumbuh bersama Sissy. Lalu ada Kakak Sissy, Sella Hartanto dan suaminya, Richard Warrens, serta putrinya, dan yang terakhir, adik Sissy, Albert Hartanto. Dalam hati Ali menghembuskan nafas lega saat sepertinya tidak ada seorangpun dari keluarga Hartanto yang mengenalinya. Hanya Albert yang sampai sekarang masih memperhatikan dirinya dengan alis berkerut. Adik Sissy yang suka menjadi tumbal dalam keisengan mereka sewaktu sekolah itu sepertinya mengenalinya, tapi dia yakin Albert tidak akan membuka mulut tentang jati dirinya, karena pria itu pada akhirnya tidak akan tega membuat mereka dihukum. Saat dulu dia berangkat ke Amerika, rambutnya masih panjang dan terlihat seperti gadis tomboy. Setelah tiba di Amerika, dia langsung memotong rambutnya pendek dan menggunakan pakaian laki-laki. Dia juga minta saudara kembarnya, Alex, untuk memperkenalkan dia disana sebagai adik laki-laki. Jackson membawa Ali untuk duduk di meja yang berada di sudut. Tugasnya pada orang tuanya sudah selesai dan lebih baik dia mengisi waktunya sekarang dengan bekerja. Christian Martinez terkejut saat mengetahui kalau Mario sudah tidak menjadi asisten putranya lagi. Jackson mengatakan kalau Mario ingin fokus membuka usaha sendiri, sehingga dia tidak bisa menahan pria itu bersamanya lagi. Berbeda dengan Jackson yang bekerja, Sissy dan Jisoo bergosip di sudut, tepatnya menggosipkan Ali dan Jackson yang baru saja terlihat bersama, tapi acara gosip mereka tidak berlangsung lama karena Ronan berjalan mendekati mereka. Wajah Sissy langsung berubah saat melihat Ronan menghampirinya. Rasanya dia sudah menjadi barbar jika itu menyangkut Ronan Nelson. Sekarang yang berputar di otaknya hanyalah cara menghajar Ronan Nelson hingga pria itu tidak bisa menggunakan tangannya sementara waktu untuk mengirimkan pesan-pesan tak penting ataupun barang apapun yang tidak akan disukainya. Dia tidak menyukai semua barang itu karena dia tidak menyukai pengirimnya. “Selamat malam, Nyonya Lucas,” sapa Ronan manis pada Jisoo. Dia tidak menyangka istri rekan bisnisnya, Gavin Lucas, adalah teman baik wanita incarannya. Dia beranggapan seperti itu karena hanya Joana Lucas yang sekarang menemani Sisilia, berarti wanita itu mengundang Joana Lucas ke acara pertunangannya dengan Jackson. “Selamat malam, Pak Ronan. Saya tidak menyangka akan bertemu Anda disini.” balas Jisoo. “Aku tentu saja tidak akan melewatkan pertunangan sepupuku, apalagi dengan wanita semenarik Nona Sisilia,” kata Nelson sambil mengedipkan sebelah matanya pada Sissy yang hanya diam tak menanggapi gombalannya “Sepertinya Pak Ronan menyukai Sissy.” kata Jisoo dengan kalimat ambigu. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD