BAB16: APARTEMEN

1054 Words
“Jisoo!” pekik Sissy tidak suka kalimat Jisoo yang seakan mendorong Ronan mendekatinya. “Ah, ternyata nama panggilan Anda adalah Sissy. Nama yang semanis wajah Anda.” rayu Ronan yang membuat Sissy memelototi pria itu. Kemarin nama Susiana Angel dibilang cantik, sekarang nama Sissy dibilang manis, sekalian nama Suzanna Martha dibilang menggoda, menggoda orang masuk dalam kubur, tepatnya menggodanya untuk memasukkan pria itu ke dalam kubur. “Sissy memang manis. Dia sahabat saya yang sangat baik dan saya berharap Jackson bisa menyadari kelebihan sahabat saya ini dan menghargainya.” jawab Jisoo mengompor. Tugas yang diberikan Morin kepadanya bukan hanya mengirimkan foto pertunangan Sissy pada sahabatnya itu, yang akan digunakan oleh Morin untuk mengompori Garry agar segera datang ke Jakarta untuk menjemput Sissy, tapi juga membuat Ronan merayu Sissy, agar kompornya kalau bisa meledak. “Tentu saja. Jika Jackson tidak bisa menghargai wanita seluar biasa Sissy, aku akan merebutnya, walau itu berarti aku akan melawan sepupuku sendiri,” gombal Ronan yang membuat Jisoo tertawa dan Sissy menyikut temannya itu untuk berhenti bicara. “Bisakah kau menjauh?” tanya Sissy mengusir tanpa sungkan. “Sayangnya tidak, manis. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku.” jawab Ronan blak-blakan yang bahkan membuat Jisoo bengong dan Sissy meradang. “Aku tunangan sepupumu!” desis Sissy. “Selama janur kuning belum melengkung, berarti masih ada kesempatan untukku.” kata Ronan dengan senyum menggodanya dan sekali lagi mengedipkan sebelah matanya. “Kurasa betul katamu. Suamiku juga pernah mengatakan itu padaku saat dia menculikku agar tidak menikah dengan ayah mertuaku,” kata Jisoo seakan menyemangati Ronan. “Jisoo!” desis Sissy yang sudah hampir habis kesabaran. “Sepertinya kisah cinta Anda sangat menarik, Nyonya Lucas.” kata Ronan penasaran. “Tentu saja. Suamiku bisa membuktikan kalau dia benar-benar mencintaiku. Karena itulah akhirnya aku memilihnya,” jawab Jisoo dengan raut bahagia. Tidak ada yang menyadari kalau sebenarnya dia sedang mendorong Ronan untuk melakukan hal serupa dengan suaminya. Jisoo itu sangat polos, tapi dia masih bisa diajarkan oleh teman-temannya, dan kali ini tentu saja Morin yang mengajarinya. “Kurasa itu yang harus kulakukan. Membuktikan kesungguhan cintaku agar Sissy mau menerimaku,” kata Ronan sambil menatap dalam pada Sissy yang membuat wanita itu menjadi salah tingkah. Ditatap intens oleh pria tampan yang menampakkan wajah bersungguh-sungguh membuat Sissy merona dan jantungnya berdebar. Ayolah, dia bukan terbuat dari batu, lagipula Ronan Nelson memang tampan, walau tidak setampan Garry. “Aku menunggu usahamu,” kata Jisoo sambil tertawa. Dia senang karena berhasil menjalankan tugas yang diberikan kepadanya dengan baik. “Aku senang sekali memiliki pendukung yang dekat dengan wanita impianku,” balas Ronan yang membuat Jisoo terus tertawa dan Sissy kembali merona. “Aku mendukung pria manapun yang bisa membuat sahabatku bahagia.” balas Jisoo. **** Ali terkejut walau wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun saat Jackson menyuruhnya memarkirkan mobil dan ikut masuk ke dalam bangunan apartemen mewah tempat tinggal bosnya itu. Dia khawatir kalau rencananya akan berantakan kalau Jackson memintanya menjadi teman gulat pria itu di ranjang. Sudah pasti itu tidak bisa dia lakukan karena itu berarti jenis kelaminnya yang sebenarnya akan ketahuan. Dia berpenampilan seperti pria bukan karena orientasinya seksualnya yang menginginkan pasangan wanita, tapi agar dia tidak didekati pria secara romantis dan dia suka kebebasan hidup sebagai pria. Dengan berpenampilan seperti pria, maka pria lain tidak akan mendekatinya selain untuk menjadi teman. Dia selalu merasa lebih nyaman berada dekat dengan wanita, dan dia perlu memiliki pacar agar tidak dicurigai sebagai gay dan lalu didekati pria gay, itu lebih menyebalkan lagi. Dia menganggap pacar-pacarnya itu hanya sebagai teman wanita, sedikit tidak nyaman saat dia harus berciuman panas dengan sesama wanita, tapi dia menganggap ada harga yang harus dia bayar untuk keputusannya. Dia tahu semaskulin apapun dia berusaha tampak seperti pria, wajah mulus dan fitur wajahnya tidak bisa membuatnya semaskulin pria asli, karenanya dia harus bersikap sangat pria. Ali terus mengikuti Jackson tanpa mengatakan apapun. Mereka berhenti di depan sebuah pintu unit apartemen yang dipikir Ali adalah unit apartemen Jackson. Dia melihat Jackson menekan sandi di layar monitornya. “Masukan sandi yang kau inginkan.” perintah Jackson yang membuat alis Ali berkerut bingung. “Untuk apa, Bos?” tanya Ali. untuk pertama kalinya dia menanyakan perintah Jackson dan membuat pria itu tersenyum karena akhirnya Ali bertanya padanya. Hal itu disalahartikan oleh Ali yang sekarang mulai waswas dengan niat Jackson. “Kau akan tinggal disini. Sebelumnya Mario yang tinggal disini. Sebagai asistenku, kau harus selalu siap saat aku membutuhkanmu.” jawab Jackson yang malah membuat Ali semakin takut. Dia tidak mau tinggal bersama dengan Jackson! “Bos, saya memiliki kekasih. Saya tidak bisa tinggal bersama dengan Anda. Saya akan berada disini setiap pagi untuk menjemput Anda,” kilah Ali berusaha untuk bernegosiasi. “Saya tinggal di sebelah. Kau bebas membawa kekasihmu tinggal disini selama dia tidak menggangguku sama sekali.” kata Jackson sambil menunjuk pintu sebelah unitnya. Dia tidak peduli pada kehidupan pribadi asistennya selama pria itu bekerja dengan baik. “Baik, Bos. Terima kasih atas kemurahan hati Anda,” jawab Ali. Dia langsung memasukkan sandi baru di layar, dalam hati dia menghela nafas lega karena rencananya tetap bisa berjalan. Setelah pintu terbuka, Jackson masuk dan melihat kalau apartemen yang ditinggali Mario sekian lama akhirnya kosong juga. Sebenarnya dia ingin memberikan apartemen ini sebagai hadiah pernikahan Mario dan Fenny, tapi dia yakin sekarang Fenny pasti akan menolaknya, karena itu dia akan memberikan pasangan itu hadiah lain. Keterdiaman Jackson diartikan berbeda oleh Ali yang berpikir kalau Jackson sedang bernostalgia dengan kenangan pria itu bersama Mario. “Baiklah, kau nyamankan dirimu disini. Aku akan kembali ke unitku.” kata Jackson sambil berjalan keluar unit Ali. Ali mengikuti Jackson hingga pria itu membuka unit apartemennya sendiri. “Mengapa kau masih berdiri disana?” tanya Jackson bingung saat melihat Ali hanya berdiri di depan unit apartemennya sendiri sambil melihat padanya. “Saya hanya menunggu Anda masuk ke dalam unit Anda.” jawab Ali. “Untuk?” tanya Jackson semakin bingung. “Memastikan Anda aman,” jawab Ali. “Terima kasih,” jawab Jackson sambil tersenyum sebelum dia masuk ke unit apartemennya. Ali masih diam di tempatnya hingga pintu itu tertutup. Ada desir aneh di dadanya saat melihat senyum Jackson tadi. Dia belum pernah melihat senyum seperti itu di wajah bosnya. Dia sudah beberapa kali melihat pria itu tersenyum dan tertawa, tapi berbeda dengan senyum yang tadi, senyum barusan itu terlihat tulus. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD