Alisandra berbalik dan mengabaikan pemikirannya barusan. Itu bukan urusannya. Sekarang dia harus ke hotel untuk mengambil barang-barangnya. Dia memang belum menyewa apartemen dan tidak kembali ke rumah keluarga Permana. Syukurlah sekarang dia bisa tinggal di sebelah unit pria itu, jadi lebih muda baginya mendekati pria itu.
Lisa menghela nafas kasar. Dia belum pernah sekalipun mencium pria selama ini dan memikirkannya saja membuatnya tidak nyaman. Trauma masa kecilnya karena perilaku ibunya yang kawin cerai untuk mencari cinta sejati membuatnya takut kalau dia akan tumbuh menjadi seperti ibunya. Dia bahkan takut untuk jatuh cinta, sekali saja merasakan manisnya percintaan dan dia akan seperti Ibunya yang tidak pernah puas dengan satu cinta saja.
Ibunya sekarang sudah dalam proses perceraian dengan suami kelimanya dan setelahnya mau menikah lagi dengan pria yang katanya cinta sejatinya, lagi. Ibunya itu benar-benar perwujudan arjuna mencari cinta sejati yang tidak kunjung ditemukan versi wanita.
Ketakutannya itulah awal dia ingin merubah dirinya untuk menjadi pria. Dia tidak berencana menikah karena dia takut kalau dia nanti akan seperti ibunya yang sibuk kawin cerai dengan anak yang ditelantarkan ke suami yang diceraikannya. Eh, adik tirinya dirawat oleh Ibunya dink, mungkin suaminya ketiganya tidak ingin mengurus anak itu, tidak seperti Ayahnya yang sangat menyayanginya dan Alex.
****
Esok paginya Ali sudah bangun di jam enam pagi untuk bersiap karena semalam Jackson mengirimkannya pesan kalau dia sudah harus siap di depan unit apartemen pria itu di jam tujuh pagi.
Setelah mandi dan berganti pakaian, dia memanaskan makanan yang semalam dia beli untuk sarapan. Kalau kemarin-kemarin di hotel, dia bisa sarapan di hotel, tapi disini tidak ada, restoran semua adanya di lantai bawah dan akan merepotkan untuknya naik turun, jadi dia membeli makanan yang bisa dipanaskan pagi ini.
Nanti dia harus mencari waktu untuk berbelanja agar bisa memasak sarapan pagi untuknya makan. Dia bisa mati lemas jika hanya makan sepotong atau dua potong roti yang diantarkan Jana, apalagi pekerjaannya sangat berat.
Dia memikirkan Jackson dan Mario, pantas saja dua pria itu juga agak kurus, kerja banyak tapi kurang makan. Itu pemikiran Ali yang memang porsi makannya jauh lebih besar daripada orang kebanyakan.
Tepat jam tujuh, Jackson keluar dari pintu apartemennya dan menemukan Ali sudah berdiri disana.
“Selamat pagi, Bos,” sapa Ali.
“Pagi,” jawab Jackson dan mereka berjalan beriringan menuju lift.
Perjalanan menuju kantor diisi dengan pembicaraan mereka tentang pekerjaan yang akan mereka lakukan nanti setelah sampai di kantor.
Mereka sampai di kantor jam setengah delapan dan mereka langsung menuju meja masing-masing untuk membereskan pekerjaan yang masih menumpuk. Seharusnya laporan ini akan selesai satu minggu lagi jika mereka mengerjakannya berdua, andai saja Mario masih ada, maka pekerjaan ini akan selesai dalam waktu tiga hari.
Jana datang di jam delapan dan dengan sigap langsung menyiapkan sarapan untuk Ali dan Jackson. Dan tentu saja Ali juga makan sarapan yang diantarkan Jana walau dia sudah sarapan di apartemennya.
Hari-hari selanjutnya berjalan dengan baik untuk rencana yang dijalankan Ali. Dengan kepintarannya dan pengalamannya membantu Ayahnya di Amerika , dia bisa mengimbangi kecepatan kerja Jackson tanpa melakukan kesalahan sama sekali dan itu membuat pria itu menyukainya. Dalam beberapa hari mereka sudah menjadi akrab dan bisa mengobrol santai.
Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini mereka juga masih berada di kantor walau sekarang sudah jam sembilan malam. Setelah memastikan laporan yang dibuatnya sudah benar, dia masuk ke ruangan Jackson tanpa mengetuk pintu, toh memang hanya mereka berdua yang masih ada disana.
Dia melangkah tanpa suara saat melihat Jackson sedang bersandar di kursi kebesarannya dengan mata tertutup. Apakah pria itu ketiduran? Memang beberapa hari ini mereka seperti kerja rodi dari pagi sampai malam. Saat dia baru masuk dia juga melihat kalau Jackson dan Mario terus lembur untuk menyelesaikan laporan yang seakan tidak ada akhirnya ini. Dia memutari meja pria itu setelah meletakkan berkas yang harus ditandatangani Jackson di atas meja.
Dia memperhatikan wajah tampan pria itu yang kelelahan. Sayang sekali pria setampan ini menjadi gay karena trauma ditinggalkan tunangannya. Padahal dia pasti akan merestui pria ini dengan Sissy jika pria ini bukan gay. Menurutnya, Jackson adalah pria yang bertanggung jawab. Lihat saja sekarang pria itu sampai kelelahan karena mengurus laporan perusahaannya.
Padahal tidak semua wanita itu sama seperti si mantan, dia yakin Sissy jauh lebih baik daripada si mantan.
Ali terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari kalau perlahan Jackson membuka matanya dan balas menatapnya.
“Lisa..”
Lisa tersentak kaget saat mendengar Jackson memanggilnya dengan nama ‘Lisa’.
“Ma-maaf. Tadi saya melihat Anda tertidur. Jadi saya berniat membangunkan Anda.” kata Ali gugup karena tadi dia mendengar Jackson memanggilnya Lisa.
Sekarang Jackson masih menatapnya dalam, seakan sedang mencari sesuatu di matanya. Dia langsung menjauh dari bosnya itu dengan jantung berdebar. Jati dirinya tidak boleh ketahuan sekarang!
“Tidak apa. Aku yang salah karena tertidur.” jawab Jackson sambil terus memperhatikan Ali.
“Saya akan membuatkan Anda kopi,” jawab Ali yang langsung keluar dari ruangan Jackson dari sana tanpa menunggu jawaban bosnya itu.
Jackson menggelengkan kepala karena ingatan yang tiba-tiba datang. Sudah lama dia tidak teringat pada gadis itu. Biasanya dia akan mengingat gadis itu saat dia mendapatkan serangan dari musuh-musuhnya.
Tidak lama kemudian, Ali masuk lagi ke ruangannya sambil membawa segelas kopi dan meletakkannya di mejanya.
“Apakah kau memiliki saudara?” tanya Jackson tiba-tiba. Dia mulai merasakan ada kemiripan antara Ali dengan Lisa, terutama mata Ali. Mungkin saja Ali memiliki saudari yang selama ini dia cari. Namun dia harus menelan kekecewaan lagi saat mendengar jawaban Ali.
“Saya memiliki Kakak laki-laki yang tinggal di Amerika, Pak,” jawab Ali. Dia yang sudah khawatir sejak tadi semakin merasa tidak nyaman dengan cara Jackson menatapnya sekarang.
Jackson hanya berdehem sebagai jawaban. Jadi Ali memutuskan untuk segera keluar dari ruangan itu untuk menghindari kecanggungan dan dia sedang merasa tidak tenang jika berada dekat dengan atasannya itu.
Malam itu, Jackson berdiri di balkon kamarnya sambil memikirkan seorang gadis. Gadis yang begitu melekat di hatinya, cinta pertamanya yang telah menyelamatkan nyawanya lebih dari sepuluh tahun silam.
Saat itu Jackson baru berusia tujuh belas tahun dan dia dalam perjalanan untuk menginap di vila kakeknya yang ada di puncak untuk mengisi libur sekolahnya. Dia tidak menyangka kalau akan ada yang akan menyergap mobil yang sedang membawanya itu di jalan sepi yang sudah dekat dengan vila kakeknya.
Sebuah mobil minivan menyalip mobilnya dan berhenti melintang di depan mobilnya. Di belakangnya juga tiba-tiba berhenti sebuah mobil minivan lain. Sepuluh orang keluar dari kedua mobil itu, Supir dan pengawalnya memintanya menunggu di mobil karena mereka tahu kalau Jackson adalah target dari kedua mobil itu.
Saat melihat supir dan pengawalnya tidak mampu melawan kesepuluh orang itu, Jackson keluar dari mobil untuk membantu. Dia tidak bisa membiarkan kedua orang itu mati karenanya dan pada akhirnya, dia juga tetap akan tertangkap dan mungkin dibunuh setelah kedua orangnya itu berhasil dilumpuhkan.
Dia berusaha melawan mereka, tapi dia tidak bisa berbuat banyak, karena dia hanya sendiri dan lawannya ada sepuluh. Dia sudah terdesak saat beberapa orang datang membantunya.
Seorang gadis memukul pria yang berusaha menusuknya dengan pisau hingga tersungkur. Gadis itu selalu berada di sebelahnya sambil terus melawan musuh yang secara perlahan berkurang jumlahnya karena mereka melumpuhkannya bersamaan. Gadis itu dan kedua pria lainnya bergerak sangat gesit untuk melawan para musuh. Tidak lama kemudian, para musuh itu melarikan diri dengan kedua mobil yang tadi mereka bawa.
“Kau tidak apa-apa?” tanya gadis cantik dengan kuncir kuda itu.
“Iya. aku baik-baik saja.” jawab Jackson dan dia melihat kedua pria yang membantunya tadi sekarang sedang membantu supir dan pengawalnya untuk masuk ke mobilnya.
“Terima kasih atas bantuannya. Namaku Jackson,” kata Jackson memperkenalkan diri sambil berterima kasih. Dia yakin kedua pria yang sekarang sudah berdiri di belakang gadis itu adalah pengawal gadis itu.
“Lisa,” jawab gadis itu menyambut tangan Jackson yang terulur padanya.
Setelahnya, gadis itu berlalu bersama kedua pengawalnya.
****